
Sementara itu Mbak Devi dan kawan-kawan yang sudah berencana untuk membuatku tidak betah, mereka pun sengaja membuat ku kesal agar Aku tidak bekerja di perusahaan Mr. Alva lagi. Aku yang saat itu sedang duduk di kursi, tiba-tiba saja Aku mendengar suara Rini dan Mbak Devi, Aku mendengar jika Mbak Devi tengah memarahi Rini.
Aku pun beranjak berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Rini dan Mbak Devi, Aku lihat Mbak Devi menunjuk-nunjuk wajah Rini, sementara Rini terlihat diam saja diperlakukan seperti itu, Aku merasa tak terima Rini diperlakukan seperti itu, meskipun itu bukan urusanku, tapi apa yang dilakukan oleh Mbak Devi kelihatannya itu sangat mempermalukan Rini.
"Kamu dari dulu memang nggak becus banget sih kerjanya, Kalau gini terus lama-lama Aku stress lihat karyawan tollol seperti mu, lihat nih hampir saja Aku terpeleset gara-gara kamu!" hardik Mbak Devi kepada Rini.
"Ma-maaf Mbak Devi, Saya ndak tahu jika Mbak Devi lewat, Saya pikir tidak ada orang, nggak tahunya ada Mbak Devi dibelakang Saya." balas Rini sembari menundukkan wajahnya.
"Makanya dong! Kalau punya mata itu dipake, masih untung Mr. Alvaro nggak pecat kamu, coba kamu pikir jika saja tadi Mr. Alva yang kayak gini, bisa-bisa kena tilang kamu." Mbak Devi berkata dengan menunjuk wajah Rini.
Aku pun datang menghampiri mereka, bukannya Aku sok pahlawan, tapi Aku kurang suka saja dengan sifat Mbak Devi yang sombong itu. Aku menengahi mereka berdua.
"Cukup Mbak Devi! Tidak seharusnya Mbak Devi berkata seperti itu, jika Rini memang salah, dan dia sudah minta maaf, apa salahnya sih memaafkan, nggak perlu pakai acara ngata-ngatain segala, kami tahu kami hanya cleaning servis di sini, tapi posisi kita di perusahaan ini sama, kita sama-sama karyawan dan kita sama-sama digaji oleh Mr. Alvaro, dan yang berhak berkata seperti itu hanya Mr. Alvaro saja, sok sekali Mbak Devi berkata seolah-olah pemilik perusahaan ini, bukan Mbak Devi yang gaji kami, jadi nggak usah ngomong gitu lagi." kataku sembari menatap wajah Mbak Devi yang terlihat kesal menatapku.
"Nur! Kamu sudah berani sekali berkata seperti itu kepadaku, jangan mentang-mentang Mr. Alvaro sering bersamamu, kamu bisa berkata seperti itu, jangan pikir Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan selama ini bersama Mr. Alva, dasar murahan!"
__ADS_1
Seketika tanganku bergerak reflek dan Aku melihat sebuah bak berisi air pel-pelan, Aku siramkan air dalam bak itu ke muka Mbak Devi, sungguh Aku gemas sekali dengan ucapannya, seenaknya mengatakan Aku murahan, rasain tuh muka ku siram dengan air bekas pel-pelan, biar sekalian mukanya dipel juga, biar bersih dan nggak ngomel lagi, huffftt amit-amit jabang bayi. Aku usap perut ku berharap anak dalam kandungan ku tidak memiliki sifat seperti Mbak Devi, yang mulutnya pedas melebihi sambal cabe dengan level 10.
"Aduh Mbak Nur! Sudah Mbak Nur, tuh bulu matanya jadi berantakan toh Mbak Nur, waduh bedaknya juga luntur tuh Mbak Nur!" Rini terlihat tertawa kecil melihat ekspresi Mbak Devi dan makeup yang dipakai nya tentu saja luntur.
"Biar tahu rasa dia, mentang-mentang kedudukannya lebih tinggi dari kita, seenaknya saja suka ngerendahin kita, sukurin!" Aku pun merasa puas melihat Mbak Devi yang mendapat balasan yang setimpal, kalau dibiarin bisa ngelunjak dia, sekali-kali biar kapok tuh orang.
"Aaaaaaaaaa Nurrrrr .... sialan kamu!"
Mbak Devi terlihat basah kuyup karena Aku siram dengan air kotor, Ia terlihat melihat kondisinya yang sudah kotor oleh air pel-pelan itu, seketika Ia mencoba mendekati ku dan ingin mendorong ku. Aku tahu jika Mbak Devi ingin mendorong ku, spontan dong Aku menghindarinya, dan tiba-tiba saja Aku tidak bisa mengimbangi diriku sendiri, alhasil Aku pun hampir terjatuh. Tapi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menangkap tubuhku.
Aduh Gusti! Aku melihat Mr. Alvaro menatapku begitu dalam, apa mungkin dia masih kepikiran kejadian tadi ya, hmm pastinya dia masih ingin melanjutkannya, Aku yakin itu.
"Kamu tidak apa-apa!" katanya sembari menatap mata ini. Aku pun menggelengkan kepalaku dan berkata, "Tidak apa-apa."
"Ingat! Kamu masih punya hutang kepada ku?" seketika Aku membelalakkan mataku dan beranjak menjauh dari tubuh Mr. Alvaro.
__ADS_1
Aduh Mr. Alva ini, masih ingat saja tentang hal itu, Aku berdiri di depannya dengan bola mata yang bergerak-gerak bebas, gugup iya, deg-degan iya. Padahal Mr. Alva itu suamiku sendiri, tapi kok Aku masih gemetaran sih saat didekatnya.
Sementara itu Mbak Devi terlihat memperhatikan kami dengan tatapan yang sinis, melihat Mbak Devi yang basah kuyup seperti itu Mr. Alvaro mencoba bertanya kepadanya.
"Kenapa kamu bisa basah kuyup seperti itu?" tanya Mr. Alva.
"Ini semua gara-gara Nur, Mister! Dia sudah membuat Saya seperti ini." kata Mbak Devi sambil menunjuk ke arah ku.
"Oh ya! Benarkah itu?"
"Iya Mister! Saya mohon beri dia hukuman Mister." ucap Mbak Devi seraya terus menunjuk ke arah ku, Mr. Alvaro tampak melirik ke arah ku dan menaikkan kedua alisnya.
"Baiklah, Aku akan memberikan hukuman kepada Nur. Nur! Setelah makan siang kamu datang ke ruangan ku, tidak ada kata menolak, mengerti!" setelah mengatakan hal itu Mr. Alva pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Hmm bisa ditebak dong hukuman nya apa? Rini menatapku dengan tersenyum, seakan dia tahu hukuman apa yang Mr. Alva berikan kepada ku.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...