AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Ke apotek


__ADS_3

Jam pulang kantor pun telah tiba, Aku dan Rini pulang dengan mengendarai sepeda motor, Rini mengambil motornya dari parkiran, sementara Aku menunggunya di jalan depan kantor, hingga akhirnya mobil Mr. Alvaro melintas di depanku, sejenak Ia berhenti dan membuka kaca mobilnya, kemudian Ia berkata kepadaku, "Nur! Aku antar pulang, yuk!" katanya sembari tersenyum. Aku tuh benar-benar ndak ngerti dengan jalan pikiran Mr. Alvaro. Katanya dia akan menikah, tapi dia masih saja mencoba mendekatiku, dasar buaya.


"Nur! Ayo!" katanya sekali lagi. Aku pun ndak mau disebut sebagai Pelakor dalam hubungan Mr. Alvaro dengan calon istrinya, tentu saja Aku menolak ajakan Mr. Alva, lagipula Aku masih sakit hati Mas Tejo tega menduakan Aku.


"Ndak usah Mister! Mister pulang saja sendiri, biar Saya pulang bareng Rini saja." jawabku menolaknya.


"Beneran nih! Ya sudah, Aku pergi dulu, ya!" Dia pun mulai melajukan mobilnya ke jalan raya, seperti tidak punya dosa, begitu mudahnya Mr. Alva pergi saja tanpa memikirkan bagaimana sakitnya hatiku ini, dasar buaya. Menyesal Aku sudah menolong buayanya yang kecepit dulu, tahu dia akan menikah dengan wanita lain tak biarin aja tuh buayanya buntung, biar kapok! Eh kalau buayanya beneran buntung, Aku juga ndak bisa dong merasakan goyangan buaya Mas Tejo yang enak itu. Aduh Nur ... kok ya sempet-sempetnya Aku mikirin buaya Mas Tejo. Dasar Aku!


Tak berselang lama Rini datang dengan membawa motor nya, dan kami pun pulang bersama. Hingga akhirnya Aku menyuruh Rini untuk berhenti di sebuah apotek.

__ADS_1


"Stop Rin!"


Rini pun menghentikan motornya di depan apotek itu, kemudian Aku turun dari motor Rini, Aku berharap Rini tidak melihatku membeli alat tes kehamilan, hari ini Aku benar-benar ingin membuktikan jika Aku memang benar-benar hamil.


Aku menghampiri Mbak apoteker, dengan memperhatikan sekeliling Aku bicara dengan sedikit berbisik. "Mbak ada testpack?" tanyaku sambil melihat ke kanan dan kesamping berharap Rini tidak mendengarkan ku, Aku lihat Rini sedang sibuk dengan ponselnya, Syukurlah.


"Apa Mbak? Saya tidak kedengaran?" rupanya suaraku terlalu lemah, sehingga Mbak apoteker tidak jelas mendengarnya. Aduh sepertinya Aku harus mengulang kembali kata-kataku, semoga saja Rini benar-benar tidak mendengarkannya, karena Rini berada cukup dekat denganku, meskipun Ia sedang duduk di kursi tunggu, setidaknya dia bisa mendengarkan suaraku meskipun Ia sedang duduk.


"Apa Mbak? Mbak mau beli testpack?" tanyanya yang memaksaku tersenyum paksa sembari menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Oh beli testpack, bilang dong dari tadi, maaf ya Mbak! Kuping Saya sedikit terganggu, jadi jika Mbak bicara kurang keras, Saya tidak bisa mendengarnya dengan baik." ujar Mbak apoteker itu, kemudian si embaknya pergi mencari testpack yang dimaksud. Aku pun mulai gugup, benar-benar berharap tidak ada yang tahu jika Aku sedang memberi testpack, terutama Rini.


"Ini testpack nya, semuanya jadi dua puluh lima ribu." kata Mbak apoteker. Aku pun segera mengambil uang dalam dompet ku dan Aku berikan pada Embak nya. Kemudian Aku segera memasukkan testpack itu ke dalam tas ku dan Aku segera pergi, tapi tiba-tiba saja Rini berdiri di belakang ku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Mbak Nur buat apa beli testpack? Mbak Nur hamil?"


"Deg"


Aduh Gusti! Rini jadi tahu kalau Aku sedang membeli testpack.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2