AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Makan di warteg


__ADS_3

Kemudian Mbak Devi pergi lewat di depan ku sembari berkata, "Awas saja kamu, Nur!" dia berkata dengan ekspresi wajah kesal dan tentu saja Ia juga malu, bagaimana tidak malu, semua orang melihatnya seperti itu, baju Mbak Devi basah kuyup dan makeup nya luntur karena terkena air pel-pelan yang tentunya sangat kotor.


"Mbak Nur hebat, bisa membuat Mbak Devi seperti itu, hmm dia belum tahu saja siapa sebenarnya Mbak Nur, kalau saja mereka tahu Mbak Nur ini istrinya Mr. Alvaro, Aku yakin mereka tidak akan berani bersikap seperti ini kepada Mbak Nur." tegas Rini.


"Sssttt! Jangan keras-keras, Rin! Aku ndak mau dianggap istimewa sama mereka, meskipun Aku ini istrinya Mr. Alvaro, tapi Aku ndak pingin nunjukin sama mereka, apalagi Mr. Alva masih pura-pura nggak ingat, Aku tuh ya punya rencana buat ngerjain balik Mr. Alva, dikira enak apa dibohongi gitu, dia bilang masih belum ingat, hmm padahal sebenarnya dia ingat banget, Aku sendiri juga nggak ngerti kenapa dia melakukan semua itu." kataku kepada Rini, dan Rini pun berusaha menghibur ku, "Bisa jadi Mr. Alva menyiapkan kejutan untuk Mbak Nur, entahlah Aku ngerasa jika Mr. Alvaro pasti mengumumkan dalam acara ulang tahunnya nanti jika Mbak Nur adalah istri satu-satunya, huuuhh biar mati berdiri tuh Mbak Devi dan yang lainnya."

__ADS_1


"Sudahlah Rin, kita lihat saja nanti, Aku mau makan, udah laper nih perut." Aku pun mengajak Rini untuk makan siang. Seperti biasa Aku dan Rini makan siang di tempat biasa, yaitu warteg di samping kantor, warteg yang menyajikan makanan desa yang sangat Aku suka, ada nasi pecel, nasi campur, rawon, pecel lele, dan yang Aku suka ada sambal terasi nya.


Anakku dalam perut udah ndak sabar ingin segera menyantap makanan di warung itu, Aku dan Rini segera duduk di bangku kayu yang berbentuk memanjang, Aku melihat Bu warteg nya ramah dan murah senyum, sembari Aku melihat caranya mengambilkan nasi kepada kami, Aku melihat wajah Bu warteg kok semakin aneh saja, Ia terlihat manggut-manggut dan tersenyum lebar ketika ada seseorang yang sedang memesan makanan di belakang ku.


"Oh injih-injih Pak, MasyaAllah senenge di tukoni bos gede." (Oh iya iya, Pak, MasyaAllah senangnya di beli bos besar)

__ADS_1


Dia terlihat tersenyum menatapku, Aku tahu sebenarnya dia sengaja ngintilin Aku terus, bukannya apa-apa sih, Aku pun sebenarnya senang dia ngikutin Aku, dan pastinya dia masih terus menagih Aku untuk datang ke ruangannya, hmm Aku sudah tahu itu.


Mr. Alvaro bersama Pak Giman tiba-tiba duduk di samping kami, bangku panjang itu diisi oleh kami berempat, Mr. Alvaro di samping ku, sementara Pak Giman di samping Rini, walah ini sebenarnya kebetulan atau sengaja Mr. Alva ngikutin Aku, biasanya suamiku makan siang di restoran mahal, lah kok mendadak dia makan di warteg pinggir jalan.


"Loh loh Mr. Alva ngapain duduk di sini?" kataku sembari melihat wajah suamiku yang terlihat cuek, seperti biasa begitulah ekspresi wajahnya yang terlihat cuek tapi sebenarnya dia memperhatikan ku.

__ADS_1


"Memangnya kamu yang punya warung, pakai nanya segala, ya Aku mau makanlah! Tiba-tiba saja Aku pingin makan di sini, kenapa? Nggak boleh, memangnya kamu saja yang boleh makan, dasar egois! Ingat ya kamu masih punya tanggungan, makan yang banyak Aku tidak mau kamu lemas dan kelelahan." katanya yang begitu dekat dengan telinga ku.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2