
"Nur, Pergi?" Pak Hartawan tampak begitu kaget begitu juga dengan Bapak dan si Mbok, sementara Suamiku terlihat kalang kabut saat tahu jika Aku sudah pergi. Ia pun segera pergi mencari keberadaan ku, Ia juga memerintahkan Pak Giman untuk mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan ku di sudut kota tanpa terkecuali, Aku yakin saat ini Mas Tejo pasti pusing memikirkan keberadaan ku, Aku lihat ponsel ku yang terus berdering, dan itu adalah telepon dari Mr. Alva yang sedari tadi terus menghubungi ku, Aku biarkan ponselku berdering, Aku tidak mengangkat sama sekali telepon dari Mr. Alva, Aku memang sengaja membuatnya bingung dulu, hmm salah sendiri pernah bikin Aku kayak gitu.
"Nur! Cepat angkat teleponnya Nur! Aku mohon!" Mr. Alva terus berharap agar Aku mengangkat teleponnya, Ia terlihat begitu cemas dan tidak menyangka jika Aku nekad melakukan hal itu. "Kenapa kamu tinggalkan Aku, Nur! Kenapa? Aku tak bisa hidup tanpa mu Nur, kembali lah padaku, Nur! Kau bisa membuatku gila jika Aku tidak bertemu dengan mu, Nur!" gumam Mr. Alva yang seolah-olah dirinya paling menderita di dunia ini, sungguh suamiku begitu bersedih dengan kepergian ku yang tiba-tiba itu, padahal besok adalah hari besar ulang tahunnya dimana Ia akan memperkenalkan Aku sebagai istri sahnya.
Karena Mr. Alva tidak jua mendapatkan balasan dariku, Ia pun mengirimkan pesan singkat pada WhatsApp, "Nur! Aku tahu kamu pasti marah karena Aku tidak berkata terus terang, Aku minta maaf Nur! Aku benar-benar menyesal, Aku hanya ingin memberikan kejutan untuk mu, Nur! Aku akan mengumumkan kepada semua orang jika kamu adalah istriku, tapi kenapa sekarang kamu justru pergi meninggalkan Aku? Kamu tidak boleh pergi Nur! Tidak boleh. Siapa nanti yang akan menemani ku, siapa nanti yang akan mengelus buayaku kalau bukan kamu, Nur! Cuma kamu yang mampu menjinakkan buaya milikku, kalau kamu pergi, apa Kamu nggak kasihan, dan apa Kamu juga nggak rindu dengan ku, Nur! Munafik kalau kamu tidak rindu, Aku tahu kamu sangat menyukainya, ayolah Nur! Kamu dimana sekarang? Aku akan menjemputmu sekarang juga."
Aduh Gusti! Kenapa sih Mas Tejo menyinggung masalah buaya miliknya, ya pasti lah Aku sangat merindukannya, orang buaya nya itu bikin Aku nagih kok, apalagi ekornya itu loh, ya ampun! Bikin Aku kegelian setengah mati, sampai-sampai Aku lupa diri.
Aku hanya baca pesan WhatsApp itu tanpa membalasnya, Aku biarkan dulu biarkan dia panik mencariku, sementara Aku duduk santai sambil melihat ke arah jendela siapa tahu mobil suamiku datang ke rumah Rini dan sedang mencariku. Benar saja tak berselang lama mobil Mr. Alvaro tiba di depan rumah Bi Rodiah, langsung bangkit lah Aku dari tempat dudukku, tentu saja suamiku tidak melihat Aku yang sedang bersembunyi di rumah di sudut jalan yang berhadapan dengan rumah Bi Rodiah, Aku melihat suamiku turun dari mobilnya dengan wajah yang hmm bisa dibayangkan bagaimana sedihnya dia.
Dia memang gercep, baru saja beberapa saat Aku menyuruh Rini untuk mengabari suamiku jika Aku sudah pergi, dan secepat itu Mas Tejo datang langsung ke rumah Bi Rodiah untuk memastikan kenapa Aku bisa sampai pergi, Sementara Evan Aku tinggal bersama Bu Rodiah. Aku sengaja menuliskan pesan kepada Mr. Tejo pada secarik kertas.
"Mr. Alvaro! Terima kasih untuk semuanya, maafkan Saya, jika kepergian saya yang tiba-tiba ini akan membuat Anda cemas, Anda tidak usah khawatir, Saya tidak akan mengganggu hidup Anda lagi, karena sebentar lagi Anda akan menikahi wanita lain, jadi buat apa Saya berada di sini, Evan! Akan tetap berada bersama Bi Rodiah, dia tidak mau ikut dengan Saya, dia ingin ikut bersama Anda, entahlah Evan begitu menyayangi Anda, sedangkan bayi ini, biar Saya yang membawa nya, Saya akan melahirkannya, Anda tidak usah khawatir. Selamat tinggal Mister! Saya tidak akan pernah melupakan hari-hari bersama Anda, apalagi buaya Anda yang nakal itu, akan selalu saya ingat sepanjang hidup Saya. Selamat tinggal Mister, salam Nur!" Aku melihat Suamiku membaca surat yang ku tulis dan ku suruh Rini untuk memberikannya kepada Mr. Alvaro, seketika suamiku jatuh terkulai, seolah dirinya tidak memiliki daya apapun, Ia terlihat duduk di atas tanah di depan rumah Bi Rodiah, Astaga! Kok Aku ndak tega ya lihat dia seperti itu, Mr. Alva menangis beneran. Ya ampun! Sejahat itu kah Aku?
"Nur ... kenapa kamu tega meninggalkan Aku? Aku suamimu, Nur. Aku adalah Ayah Evan dan anak-anak kita, Aku Suamimu Nur, tahukah kamu Aku ini Mas Tejo mu Nurrrrrrrr ....!" Akhirnya Aku mendengar teriakan suamiku yang tanpa sengaja dirinya mengakui jika Ia adalah Mas Tejo ku, antara kasihan dan senang Aku mendengar teriakan suara Suamiku yang terlihat begitu terpukul atas kepergian ku, Pak Giman pun mencoba merayu Bos nya agar bersabar menghadapi kenyataan jika Aku telah pergi jauh dari kota ini.
__ADS_1
"Mister! Mister yang sabar, jika Mister dan Nur berjodoh, suatu saat pasti akan bertemu." seru Pak Giman yang membuat Rini senyum-senyum, Pak Giman pun melihat ekspresi wajah Rini yang tidak bersedih sama sekali atas hal yang menimpa Bos mereka, Pak Giman pun curiga jika ini adalah sebuah kompromi.
Pak Giman kemudian mendekati Rini dan mendesak gadis itu untuk berbicara jujur dimana Aku berada sekarang.
"Eh sini kamu!" ajak Pak Giman sembari menarik tangan Rini agar sedikit menjauh dari posisi Mr. Alvaro yang masih duduk bersimpuh di depan rumah Bi Rodiah.
"Ada apa sih, Pak?" tanya Rini penasaran.
"Rin! Kamu jujur sama Aku! Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?" desak Pak Giman kepada Rini.
"Kamu pasti bohong, Aku tahu kamu sedang menyembunyikan keberadaan Nur, iya kan?"
"Hah enggak kok, Pak! Saya beneran nggak tahu dimana Mbak Nur!" Rini terus menutupi keberadaan diriku, karena Aku menyuruh Rini untuk berjanji untuk tidak mengatakan apapun tentang dimana diriku berada sekarang.
"Rin! Coba kamu lihat Mr. Alvaro, apa kamu ndak kasihan melihatnya seperti itu, dia nangis beneran loh, lihat tuh ingusnya sampai panjang gitu."
__ADS_1
"Diih Pak Giman, namanya juga nangis, ya pasti ingusan lah Pak. Tapi, kasihan juga ya! Baru kali ini loh Saya lihat Mr. Alva nangis-nangis kayak gitu, ya ampun! Aku yakin Mbak Nur juga sedih dan kasihan melihat suaminya kayak gini, meskipun sebenarnya ini adalah prank ... eh uppss!" seketika Pak Giman mengerutkan keningnya saat Rini berkata seperti itu. Sementara Rini langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat sadar ternyata Ia keceplosan.
"Maksud mu apa Rin? Prank?"
Rini tidak bisa menyembunyikan lagi rahasia Nur, karena dirinya terlanjur keceplosan dan terlihat kasihan melihat Mr. Alvaro yang sedang menangis meratapi kepergian Nur.
"Sebenarnya Mbak Nur tidak pergi."
"Apa?"
Karena Rini kasihan melihat Mr. Alvaro yang terlihat begitu menderita, akhirnya Rini terpaksa memberi tahukan dimana tempat persembunyian ku sekarang. Yaitu sebuah rumah di ujung jalan berjarak lima rumah dari rumah Rini.
Setelah Pak Giman mengetahui semuanya, Ia pun segera memberitahukan kepada Bos nya tentang keberadaan ku sekarang. Seketika Mr. Alvaro langsung berdiri dan mengusap air matanya, wajahnya kembali tersenyum dan setelah itu Ia pergi meninggalkan rumah Rini, entahlah mau kemana dia?
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1