AMNESIA BRINGS LOVE

AMNESIA BRINGS LOVE
Hutan belantara


__ADS_3

Aku pun duduk sedikit menjauh dari Mr. Alva dengan menggeser posisiku sedikit ke kiri, eh lah kok si Mister juga ikut menggeser posisi duduknya.


"Duuh Mister ngapain sih ikut geser?" kataku sembari melihat jarak duduk kami yang masih berdekatan.


"Ya nggak apa-apa lah, Nur! Biar bayi kita tuh seneng duduk berdekatan dengan Ayahnya, kamu nggak boleh loh menjauhkan anak dengan Ayahnya." alasan Mr. Alva saja yang selalu ingin berdekatan dengan ku.


"Gitu ya! Jadi, jika nanti Ibunya yang pergi berarti ndak apa-apa dong! Biar saat lahir anak ini Mister bawa saja, Saya mau pulang ke kampung halaman." spontan Mr. Alvaro menatapku dengan tajam sembari berkata, "Nggak bisa gitu dong! Kamu harus tetap di sini nggak boleh pergi kemana-mana, karena setelah anak ini lahir, Aku akan mengisinya lagi dengan menanamkan benih-benih ku kembali. Jadi, kamu nggak bisa kemana-mana. Buayaku terlalu suka berada di dalam sana, faham!"


"Diiih si Mister! Dasar bule gila! Emangnya Saya mesin pencetak anak." kataku sembari melotot ke arah Mr. Alva yang kali ini senang sekali menggodaku.


"Jangan melotot gitu dong, Nur! Makin cantik saja kamu seperti itu."

__ADS_1


Aduh-aduh ku tepuk jidatku sendiri, bagaimana bisa Aku dapat suami seperti ini, eh biarpun suamiku sedikit somplak, tapi Aku suka sekali, bukan hanya sekedar tampan, onderdilnya juga tampan dan besar, bersih dan mulus, bedalah sama punyaku yang masih asri dan rimbun. Tapi, meskipun begitu Mr. Alvaro suka banget dengan hutan belantara milikku, candu katanya. Dia bilang diluar memang rimbun, tapi semakin ke dalam semakin hangat katanya, nggak tahu juga apa sih yang hangat itu, perasaan di dalamnya nggak ada tungku kompor, bisa-bisanya Mr. Alvaro bilang enak dan hangat. Hmm ada-ada saja ya! 😁


Setelah beberapa saat Bu Warteg pun memberikan piring nasi kami, Aku memesan nasi pecel lauk telur dadar, sementara Mr. Alvaro Aku lihat dia pesan banyak sekali, nasi saja dua piring, belum lagi aneka lauk yang bermacam-macam, satu meja penuh dengan menu makanan pesanan suamiku. Aku, Rini dan juga Pak Giman terlihat membulatkan mata saat melihat pesanan Mr. Alvaro.


Seketika Pak Giman berkata kepada Bos-nya. "Mister! Apa ini tidak salah, makanan sebanyak ini Mister mau menghabiskan nya?"


"Aku itu harus makan banyak, biar strong dan selalu fit, karena mulai sekarang hari-hariku pasti sering keluar masuk hutan belantara, supaya badan nggak loyo, iyakan Nur!" kata kata Mr. Alvaro sembari melihat ke arah ku.


Sejenak apa yang dikatakan oleh suamiku membuat telinga perawan Rini seketika tercengang.


"Tanya tuh sama Giman, dia pasti tahu!" jawab Mr. Alva sembari menunjuk ke arah sang asisten yang juga ikut garuk-garuk kepala.

__ADS_1


"Ha? Kok Saya Mister?" Pak Giman pun tak kalah seru ekspresi nya, kedua orang itu rupanya masih sama-sama belum mengerti apa arti hutan belantara itu.


"Pak Giman! Hutan belantara itu apa toh? Dimana tempatnya? Kok jauh banget Mr. Alva pergi ke hutan belantara?" tanya Rini dengan polosnya sambil menatap wajah Pak Giman yang terlihat nyengir.


"Hehehe, hutan belantara itu adalah sebuah tempat ...?!" rupanya Pak Giman tidak melanjutkan kata-katanya karena sepertinya dia canggung untuk mengatakannya.


"Tempat apa Pak Giman? Yang jelas dong!" desak Rini yang semakin penasaran dengan ucapan Pak Giman.


"Aduuhh Aku nggak bisa ngomong sekarang, kamu kan punya, pasti masih asri dan rindang, nanti deh kalau kamu mau menikah dengan ku, pasti Aku kasih tahu dimana tempatnya." seketika Rini terperanjat saat Pak Giman mengatakan hal itu kepadanya..


"Apa? Menikah dengan Pak Giman? Emang Pak Giman tahu kalau Saya punya hutan belantara?"

__ADS_1


Aduh-aduh kedua orang ini membuat ku tidak konsentrasi untuk makan, belum lagi Mr. Alva yang senyum-senyum melihat ku, duh kelihatan banget dia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ku nanti di ruang kerjanya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2