
Spontan Mr. Alva menarik kerah sang asisten, seketika Pak Giman ketakutan dengan wajah yang terlihat gugup dan masih bercucuran keringat dingin itu, ya ampun! Ndak bisa kebayang gimana ekspresi wajah Pak Giman saat ini.
"Ngomong apa kamu!" seru Mr. Alvaro yang terlihat melototkan matanya kearah Pak Giman.
"Sa-saya, Sa-saya min-minta maaf Mister! Sa-saya cuma ...!" Pak Giman tidak melanjutkan kata-katanya karena Suamiku melepaskan tangannya dari kerah sang asisten.
Mr. Alva terlihat merapikan dasinya dan merenggangkan otot-otot lehernya, sementara itu Pak Giman terlihat gemetaran saat dirinya baru saja terlepas dari genggaman tangan sang Bos yang sedang ngamuk.
Setelah itu Mister Alva menghampiri sang asisten yang terlihat gemetaran karena takut dengan dirinya.
"A-ampun Mister! Saya tidak bermaksud berkata seperti itu, ampun Mister!" Pak Giman terlihat memohon ampun kepada Mr. Alva, sementara itu Mr. Alva tampak tertawa melihat ekspresi wajah asistennya yang terlihat ketakutan itu.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Mister Alva membuat Pak Giman heran dan terkejut.
__ADS_1
"Widih kenapa Mister malah ketawa sih, dasar bule aneh!" batin Pak Giman sambil garuk-garuk kepalanya.
"Man! Bisa nggak sih kamu datang ke sini nanti saja, lima belas atau dua puluh menit lagi, jangan sekarang. Baru saja goyang sebentar, kamu udah ganggu." kata Mr. Alva sembari duduk di kursi kebesarannya. Pak Giman terlihat menaikkan kedua alisnya sembari mengira-ngira goyangan apa yang dimaksud oleh Bos-nya itu.
"Maksud Mister? Goyangan, goyangan seperti apa? Goyang melongo pasti? Hehehe canda Mister!" rupanya ucapan Pak Giman spontan membuat Mr. Alva tertawa kecil.
"Hehehe bener ya, Mister? Pasti goyang melongo, kelihatan banget tuh." seru Pak Giman sambil senyum-senyum.
"Nah udah tahu seperti itu, terus ngapain juga kamu ketuk-ketuk pintu, nggak bisa lihat orang seneng aja, Nur jadi pergi tuh gara-gara kamu, mana baru masuk lagi." mendengar penuturan dari sang Bos, Pak Giman terlihat garuk-garuk kepalanya dan meminta maaf.
"Ya sudah! Lupakan, kamu tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana pusing nya kepalaku saat tiba-tiba berhenti di tengah jalan." ungkap Mr. Alvaro yang membuat Pak Giman senyum-senyum sendiri.
"Pusing ya, Mister! Saya ambilkan obat ya! Biar tidak pusing lagi." Pak Giman berinisiatif untuk mengambilkan obat untuk Bos-nya, Ia pikir jika Mr. Alvaro benar-benar pusing kepala.
__ADS_1
"Eh eh eh mau kemana kamu?"
"Ambilkan obat untuk Mister!"
"Nggak usah! Bukan kepala ini yang pusing." rupanya pengakuan sang Bos seketika membuat Pak Giman mengerutkan keningnya, jika bukan kepala nya yang sakit terus apanya dong yang pusing? Apa jangan-jangan kepala yang disana yang sedang pusing, seketika Pak Giman tertawa kecil saat membayangkan kepala lain Bos-nya yang pastinya sedang menderita karena gagal masuk ke dalam sarangnya.
"Man! Malah senyum-senyum, kamu ngeledek Aku, ya! Sekarang tunjukkan padaku proposal yang kemarin, Aku mau memeriksanya sekarang!" pintu Mr. Alva.
"Ba-baik Mister! Saya nggak bermaksud ngeledekin Mister kok, cuma Saya nggak bisa bayangin bagaimana menderita nya kepala Mister yang lainnya, tentunya si gundul pacul pusing tujuh keliling ya, Mister! Hmmm kasihan sekali." seketika sebuah pulpen melayang pada kepala Pak Giman saat Ia berkata seperti itu. Rupanya Mr. Alva yang melayangkan pulpen itu pada kepala sang asisten.
"Awwww ... sakit Mister! Gimana sih Mister, kan emang gitu kenyataannya kok saya yang kena?"
"Bukan pusing tujuh keliling lagi, kamu salah. Tapi, si gundul pusing berkali-kali dan nggak ada obatnya, kecuali jika Aku bertemu dengan Nur." balas Mr. Alva yang membuat Pak Giman memutar bola matanya.
__ADS_1
"Heleh sudah ku dugong, Mister Mister! Bilang aja kalo mau ngandang lagi, pantesan aja kata Rini, kalau Nur sedang hamil. Nggak ada matinya tuh si gundul punya Mister. Eh ... kok aku jadi pingin, ya? Apa Aku harus nikah dulu? Tapi, sama siapa?" batin Pak Giman membayangkan dirinya akan menikah dengan siapa.
...BERSAMBUNG ...