
Sudah 30 menit berlalu..
Karina dan Agung terus saja berjalan tanpa berhenti sedikitpun, menyusuri jalanan di pagi hari yang terlihat padat oleh kendaraan yang lalu lalang di sekitar mereka.
Karina berhenti sejenak
"kamu kenapa nak?" tanya agung yang melihat Karina tiba tiba saja berhenti.
"Capek pah, kita duduk dulu ya pah" Ucap karina ngos ngosan sambil mengatur nafasnya yang naik turun.
"Baiklah, kita duduk sebentar" kata agung setuju.
Karina dan agung duduk di halte bus yang ada di pinggir jalan.
Tanpa mereka sadari, mobil sport bewarna merah tadi terus saja mengikuti keduanya, siapa lagi kalau bukan mobil milik Sarah, meskipun papanya menolak tapi Sarah begitu menghawatirkan keduanya dan akhirnya mengikuti kemana mereka pergi.
Dia hanya ingin memastikan papa dan kakaknya baik - baik saja, dari kejauhan Sarah bisa melihat kalau Karina sedang kelelahan di sana.
"Pah, kita naik taksi saja ya, karin capek nih jalan terus dari tadi gak ada berhentinya" Keluh Karina.
Agung menghela nafasnya
Kalo saja dia ada uang, sudah pasti naik taksi dari tadi, tapi mau bagaimana lagi, semenjak di penjara agung tak memiliki uang lagi, uang nya sudah habis untuk membayar pengacaranya dan utang piutang di bank.
Harusnya tadi dia terima saja tawaran Sarah, tapi gengsinya lebih tinggi, menolak niat baik Sarah, agung juga sudah lelah, dia rasa kakinya juga sudah tidak kuat untuk berjalan.
Ponsel mewahnya juga sudah di jual untuk menutupi semua hutang hutangnya. agung tak memiliki apapun sekarang, jalan satu satunya untuk mendapatkan uang dia harus bekerja, apalagi dia dan Karina belum makan sejak tadi pagi,
"uang papa sudah tidak ada karin...." Ucap agung sendu.
__ADS_1
Betapa menyedihkan nasibnya kini,dulu kekayaannya senantiasa melimpah ruah tak akan habis 7 turunan, setelah keluar dari penjara malah hidupnya seperti gelandangan.
"Terus apa yang harus kita lakukan pah?" tanya karina sedih.
"Entahlah nak, Papa juga bingung"
"Pah, apa sebaiknya kita terima saja tawaran Sarah tadi" Ucap Karina berubah pikiran.
"Jangan...., kita sudah banyak membuatnya menderita, tidak baik jika kita mendapatkan pertolongannya"
"Tapi pah...."
"Sudah lah Karina, terima saja nasib kita sekarang" Ucap agung pasrah.
Saat ini dia tak tahu apa yang harus dilakukan selain pasrah menerima semuanya, mungkin ini karma atas kesalahan pada Sarah.
Kemudian keduanya termenung meratapi nasib yang kini tak lebih seperti gelandangan.
Sementara Sarah masih saja memperhatikan keduanya dari jarak jauh, maksud hati ingin menghampiri keduanya, akan tetapi dalam waktu uang bersamaan ponselnya berdering adanya panggilan masuk.
Sarah meraih tas di sampingnya, dan membuka isi tasnya untuk mengambil benda pipih yang ada di dalamnya.
Di layar ponselnya jelas tertera nama suaminya ,
Suamiku
Itulah nama yang tersimpan di kontaknya.
Dengan cepat Sarah menjawab telponnya
__ADS_1
"Assalammualaikum..." salam Sarah di seberang telpon.
"Walaikumssalam ..." jawab juna
"Kamu sudah pulang sayang?" Tanya juna di sebrang sana.
"Belum mas, Sarah masih ngikuti papa sama kak karina "
"kalau mereka tidak mau jangan di paksa sayang, biarkan saja, kan sudah aku bilang tidak usah lagi peduli pada mereka" Jawab Juna kesal.
"masss.....Jangan ngomong seperti itu, bagaimanapun keduanya adalah keluargaku" jawab Sarah membantah.
"Hah.....terbuat dari apa hatimu itu sayang, masih saja berbaik hati pada orang yang sudah hampir membunuhmu" jawab juna tak hbais pikir dengan istrinya.
"Sudahlah.mas, nanti kita bahas saja di rumah ya, Sarah harus tau kemana papa dan kak karina pergi"
"Hemm, baiklah kalo itu sudah keputusanmu, mas tutup telponnya"
"Iya"
Panggilan pun telah berakhir, lalu kembali meletakkan ponselnya kedalam tas.
Kemudian pandangannya beralih menatap ke halte bus dimana kakak dan Papanya duduk di sana, akan tetapi Sarah tak melihatnya lagi.
"Kemana perginya Papa dan kak karina"
Dan sialnya Sarah tak dapat menemukan jejak keduanya, Sarah telah kehilangan jejak keluarganya.
Bersambung.....
__ADS_1