Apa Salah Ku

Apa Salah Ku
BAB 47 Masih kesal


__ADS_3

Di dalam mobil.....


Sarah menangis di samping Maya dan menyandarkan kepalanya di bahu Maya, Maya semakin merapat kan tubuhnya ke tubuh Sarah.


Sambil mengelus elus punggung Sarah.


"Menangis lah Sepuasnya untuk hari ini, setelah itu kau tidak boleh menangisi lelaki brengsek tadi" Ucap Maya berusaha menenangkan Sarah.


Pak Mamat baru saja masuk ke dalam mobil, kemudian melirik ke arah Sarah, sungguh dia dapat merasakan apa yang dirasa oleh Sarah.


Sarah menatap Pak Mamat....


"Pak Mamat, Aku mohon jangan adukan masalah ini ke buk Sonia" Ucap Sarah parau.


"Iya pak Mamat" Maya menimpali setuju dengan Sarah.


Tampak pak Mamat menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


"Baiklah" katanya berat hati.


padahal dia sudah niat ingin sekali mengadukan masalah ini ke buk Sonia, setelah pulang nanti, mungkin Sarah tidak ingin menambah masalah, pikir Pak mamat.


***********


Sementara itu di kantornya.....


"Aarrrrrrrghhhhh" teriak Agung frustasi sambil meremas rambut di kepalanya.


kedua Scurity itu diam di tempat, tak berani keluar melihat tuan besarnya penuh dengan kemarahan.


"Tunggu apa lagi kalian, Tunggu di pecat baru kalian Pergi"

__ADS_1


"KELUAR!" Bentak Agung meninggi,


dengan buru buru kedua Scurity itu keluar dan sangat ketakutan melihatnya,.


Scurity yang tak tahu menahu permasalahannya ikut menjadi pelampiasan kemarahan Agung.


Dan kedua Scurity itu heran melihat Agung marah besar, sebelumnya mereka tak pernah melihat bos nya semarah itu. apa yang sebenarnya terjadi, pikiran kedua Scurity itu bertanya tanya dalam hati, dan mereka berpas pasan dengan Karina sepertinya ingin menemui Papanya, pikir mereka berdua.


"Brengseeek!" Kata Agung meninju meja meeting di depannya, dan mengacak acak ruangan itu ,ruangan yang semula rapi berubah menjadi kapal pecah.


Karina Masuk dan terkejut melihat ruangan yang sudah berantakan akibat ulah Papanya.


"Pah, Are you oke" Tanya Karina panik sambil mendekati Papanya.


Agung melirik sekilas ke arah Karina, sedetik kemudian memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan. mengatur nafas yang sedikit sesak di dadanya, Karena kekesalannya tidak dapat tersalurkan dengan baik, Agung justru melampiaskannya di dalam ruangan meeting yang akan mengadakan pertemuan penting dengan perusahaan besar, lebih besar dari perusahaannya.


"Pah, kendalikan dirimu, kalau tidak bisa merugikan diri Papa sendiri" Karina berusaha menenangkan Papanya.


Karina terkejut mendengar bentakan dari Papanya, Tak pernah melihat Papanya sekasar ini kepadanya, Apa yang telah membuat Papanya begitu Marah.


Melihat Karina yang diam Saja, Agung tersadar telah membentak putri kesayangan itu.


"Maaf" lirih Agung bersalah.


Karina menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembuskan dengan Kasar.


"Sebenarnya apa yang terjadi pa?" Tanya Karina lembut.


"Siang ini kita ada meeting dengan perusahaan wiranata group Pah, lihatlah ruangan ini jadi berantakan" Sambung Karina tak percaya semua itu ulah Papanya.


"Tadi Sarah ada di sini"

__ADS_1


"What?, Serius pah" Karina terkejut mendengarnya.


"Kok bisa sih, ada di sini?" Tanya Karina heran.


"Ya mana Papa tau, tapi dia datang mengantarkan makanan pesanan kita"


"Ya, ya, Karina baru ingat sekarang, dia bekerja di sana pah"


"Kenapa gak bilang sama Papa" Agung terlihat kesal.


"Maaf pah, Karina lupa" Karina nyengir kuda.


"Terus apa yang membuat papa terlihat semarah ini"


"Bagaimana tidak marah, anak pembawa sial itu sudah berani memanggil sebutan Papa di hadapan sekretaris dan di hadapan kedua Scurity yang bekerja di kantor kita ini" Jelas Agung masih kesal.


"Sarah memang tidak kapok membuat masalah terus menerus"


"Jangan sebut namanya, aku benci mendengarnya" Ucap Agung lagi mulai tersulut emosi mendengar namanya.


"Oke pah, oke, sekarang Papa tenangkan diri dulu yah, kita 3 jam lagi ada meeting penting dengan klien kita" Karina kembali mengingatkan Agung,


"Ya, kamu benar nak"


"Perintahkan kepada OB untuk membereskan semua kekacauan ini" Pinta Agung setelah mengatakan itu, agung lekas pergi menenangkan hatinya.


Karina hanya menatap kepergian Papanya dan menggeleng gelengkan kepalanya. kemudian Karina memanggil OB melalui telepon yang ada di ruangan itu, agar membereskan semuanya.


Bersambung......


jangan lupa like, komen, vote, dan tambahkan di favorit kalian ya readers, salam sayang dari Author

__ADS_1


__ADS_2