
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, dan mematikan mesin mobilnya, Agung turun bersama Karina dan memasuki sebuah Restoran berbintang lima.
Kemudian memilih duduk di ruang Khusus VIP. yang berada di ujung sudut ruangan itu.
Tak berapa lama seorang pelayan datang menghampiri mereka, tanpa banyak bicara Agung langsung memesan makanan untuk dirinya dan putri kesayangannya itu.
Setelah selesai mencatat pesanan mereka, Pelayan tadi pamit dan berlalu di hadapan mereka.
Sementara sambil menunggu pesanan mereka datang, baik Agung maupun Karina sama - sama sibuk dengan ponselnya masing - masing.
Tidak ada percakapan diantara keduanya...
Sementara itu dengan waktu yang bersamaan, Juna dan Sarah baru saja memasuki restauran yang sama dimana Agung dan Karina berada..
Dan memilih Ruangan khusus seperti Agung dan Karina, namun Juna dan Sarah lebih memilih duduk di baris pertama yang paling depan.
Tak berapa lama pesanan Agung dan Karina datang, setelah kepergian pelayan, tampak mereka menikmati makanannya.
Setelah duduk, tak berapa lama datanglah seorang pelayan, akan tetapi juna hanya memesan minuman untuk dirinya dan Sarah, karena sebelum kesini, Juna dan Sarah sudah makan siang tadi saat dirumah mamanya, sebenarnya Juna kesini juga atas permintaan klien nya, yang ingin membahas persoalan pekerjaan dan membahas kerja sama, jadi membuat janji untuk bertemu di restauran mewah ini.
Sambil menunggu klien dan pesanan mereka datang, Juna malah membahas persoalan hubungannya dengan Sarah.
"Setelah kebersamaan kita tadi siang bersama mamaku, apa pendapatmu?" Tanya Juna memulai percakapannya.
Sarah yang sejak tadi diam dengan dunianya, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, kemudian mendongakkan wajahnya menatap pria tampan yang ada di hadapannya saat begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Pendapat" beo Sarah.
"Iya, pendapatmu, lalu apa kamu akan menerima ku sebagai calon suamimu?" Tanya Juna serius menatap wajah Sarah.
Sarah menelan salivanya, guna membasahi kerongkongannya yang terasa kering saat ini.
ia tak tau harus menjawab apa, sungguh ini terlalu cepat baginya, dan tidak bisa memutuskan terlalu cepat, bagaimanpun Sarah masih membutuhkan waktu lebih lama untuk memikirkan hal ini secara matang, agar tidak salah dalam mengambil keputusan nantinya.
Sarah menghela nafasnya, merasa sesak dengan pertanyaan Juna tadi.
"Jadi?" Tanya Juna lagi memperhatikan reaksi Sarah.
"Entahlah mas, Sarah belum bisa menjawabnya sekarang" Jawab Sarah bingung.
tampak Juna menghela nafasnya berat.
"Ya sudah, mas akan menunggumu" kata Juna pasrah.
Sarah hanya tersenyum menanggapinya.
Sementara itu tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak gerik keduanya, Ya Karina seperti mengenal wanita yang duduk paling depan itu, ingatannya terbayang wajah Sarah, namun terlihat berbeda, karena Sarah di make up sedemikian rupa, membuat Karina ragu apakah dugaannya benar atau salah.
Ah, mungkin perasaan Karina saja, mana mungkin Sarah bisa berubah secantik itu, sementara dia tidak pernah berdandan atau bergaya sedikitpun, dan karina memilih abai tak ingin terlalu memikirkan semuanya. barang kali hanya mirip tapi tak serupa, Karina bermonolog sendiri.
Sarah merasakan kantong kemihnya terasa penuh, tiba - tiba saja keinginan membuang air kecil tak bisa ia tahan, iya terasa sudah di ujung, karena tak ingin kencing dalam celana, tanpa pamit pada Juna, Sarah langsung berlari tergesa gesa ke belakang.
Juna kaget sekaligus binggung melihat Sarah seperti itu, Lalu menoleh kebelakang melihat Sarah yang berlari tergesa- gesa.
"Saraahh" Teriak Juna padanya, tentu membuat Karina mendengar cukup jelas nama yang di sebutkan oleh pria itu, dan mengalihkan pandangannya menatap Sarah yang berhenti tepat di tengah tengah ruangan itu,
Sarah menoleh " sebentar mas, mau kebelakang" Ucap Sarah terburu - buru, lalu melanjutkan langkahnya menuju ke belakang untuk mencari toilet. Sarah sama sekali tak menyadari kehadiran Karina dan Papanya di sana, karena memang Sarah tak tahu dan tidak menyadarinya, bahkan Sarah melewati meja Karina dan Papanya saat pergi kebelakang. akibat kantong kemihnya yang terlalu sesak tidak membuat Sarah fokus dengan sekitar ruangan di restauran itu.
Deg...
__ADS_1
Karina melihatnya secara dekat, dan semua wajahnya sangat jelas, Ya, gadis yang di teriaki oleh pria tadi adalah Sarah adik kandungnya, Karina tak mungkin Salah, Karina sudah hafal dengan bentuk wajah Sarah. tapi bagaimana bisa dia berubah secantik itu, dan siapa pria yang datang bersama Sarah itu?, apakah pacarnya Pikir Karina yang mulai terusik. sementara Karina sibuk dengan pikirannya sendiri, tak menyadari bahwa Sarah telah selesai membuang air kecil, dan kembali melewatinya dan duduk di samping Juna lagi.
Agung yang melihat putrinya termenung, mengerutkan dahinya. "ada Apa?" Tanya Agung mengagetkan Karina,
Karina tersadar..
Dan kembali menoleh kebelakang, ingin memastikan Sarah akan melewatinya kembali, tanpa mengalihkan pandangannya, Karina terus melihat kebelakang tanpa melihat ke arah lain.
"Kamu kenapa nak?" Tanya Agung heran melihat karina menoleh kebelakang, dan ikut melihat kebelakang dimana Karina memfokuskan matanya, akan tetapi sudah 10 menit berlalu namun tidak melihat batang hidungnya muncul di sana.
"Ada apasih" Tanya Agung penasaran, dan membuat Karina terpaksa menoleh ke arah Agung, sebelum itu menatap sekilas ke arah tempat dimana meja Sarah dan Juna.
"Hah, cepat sekali dia, bukannya tadi dia kebelakang, kenapa sekarang sudah ada di sana" Batin Karina merasa kecolongan.
"Kamu kenapa sih karina" Ucap Papanya kesal, tak kunjung mendapatkan jawaban dari putrinya itu.
"Maaf pah" Lirih Karina.
Agung menghela nafasnya.
"Sarah disini pa" Kata Karina lagi.
"Ha?, yang benar kamu kalau ngomong" Ucap Agung tak percaya.
"iya Pah, tuh" Karina menunjuk kearah meja Sarah dan Juna.
Agung otomatis mengikuti melihat arahan tangan Karina.
Agung menyipitkan pandangannya, tak percaya mana mungkin Sarah, bisa berdandan seperti itu, apa lagi memakai dress selutut seperti itu.
Saat Agung ingin mengatakan sesuatu, Karina menarik tangan Agung menghampiri meja mereka di sana.
lagi asyik menyedot minumannya, Sarah di buat kaget. Mendengar namanya di sebut Sarah menoleh ke sumber suara yang ada di belakang mereka,
"Ka- ak, Ka- karina, Pa- Pa" jawab Sarah Gugup setelah menoleh kebelakang.
Juna mengikuti pandangannya kebelakang menoleh di sana.
Dia mengerutkan Keningnya tanda binggung, bukankah ini adalah rekan bisnisnya tempo hari yang mengajukan kerjasama pada Juna.
Namun Sayangnya Agung maupun Karina tak menyadarinya Karina begitu emosi melihat Sarah.
Entah mengapa tiba - tiba saja membuat Karina marah, mungkin merasa tersaingi dengan Sarah yang terlihat berkelas darinya, apalagi make up natural di poles wajah manisnya semakin membuat Sarah semakin cantik dan menyaingi sang kakak.
Begitu juga dengan Agung, menatap benci ke arah Sarah, setelah dilihatnya dengan jelas, benar itu adalah Sarah pembawa petaka dalam keluarganya. melihat itu darah Agung mendidih.
"Hei pembawa sial, kau tidak pantas berada di sini" Kata Karina ketus.
"Apa?, pembawa sial" batin Juna tak percaya
Lidah Sarah terasa kelu, tak sanggup untuk menjawab perkataan Karina.
"pergi kau dari sini!" Kata Karina benci dan mengusirnya.
"A- aku..."
Namun belum sempat Sarah berbicara Sudah di potong oleh Agung...
"Menjauhlah dari kami, Aku tidak ingin mendapatkan kesialan setelah bertemu dengan kau!" Suara Agung meninggi, membuat para pengunjung di sana tertuju pada mereka berempat.
__ADS_1
BUGHHH...
Sarah terjatuh ke atas lantai dan punggungnya terbentur keras di meja yang terbuat dari kayu Jati itu.
"Aaaawwww" Pekik Sarah sakit.
Ya, Karina telah mendorong Sarah dengan begitu kuatnya, sehingga punggungnya membentur meja.
Juna tersentak kaget sekaligus Marah, atas perbuatan mereka terhadap Sarah, beraninya mereka mendorong Sarah Juna berjongkok membantu Sarah bangun dari posisinya.
Agung dan Karina menatap tak suka adegan yang terjadi secara langsung itu.
Setelah berhasil membantu Sarah.
Kini Juna menatap kedua orang yang berdiri tepat di hadapannya.
"Kalian tak punya hati!" Cecar Juna marah.
"Siapa kau?, jangan ikut campur!" Jawab Agung tajam penuh emosi.
Tampak Juna mengepalkan kedua tangannya.
"tentu menjadi urusanku" Kata Juna tegas.
"Hahaha, lebih baik kau menjauhlah darinya, sebelum mendapatkan kesialan darinya, Karena setelah dekat dengannya kau akan menjadi SIAL, memang nya kau siapa?, kau tak berhak ikut campur?" cecar Karina tajam, merendahkan Sarah.
Mendengar itu, Juna sangat Marah hendak menampar wajah Karina, tangan nya menggantung di udara, rupanya Sarah yang menahannya, agar Juna tak menampar Karina.
Melihat itu bukannya takut, " Apa, Ayo tampar!" Tantang Karina tajam.
"Beraninya, kau pada putriku ha!, kalau kau ingin menyakiti putriku, langkahi dulu mayatku, heh ternyata lelaki simpananmu oke Juga" kata Agung emosi dan mengejek merendahkan Sarah.
Sarah hanya bisa menangis mendengar hinaan yang dilontarkan kedua keluarganya itu terhadap dirinya.
"KALIAN!" Juna menggertak kan giginya begitu geram pada kedua orang tersebut, ia hedak melayangkan tinju pada wajah Agung, namun lagi - lagi Sarah menahannya agar tak membuat keributan di sana, " mas jangan!, Sudah Ayo kita pergi saja dari sini" Ajak Sarah memelas.
"Tidak Sarah!, biar ku bungkam dulu mulut kedua orang ini, yang tak punya sopan satun" Kata Juna marah menahan emosinya.
"Cih" Karina merasa jijik dan meludah ke bawah lantai, jijik mendengar perkataan Sarah.
"Pergi kalian dari sini!" bentak Agung.
"Ayo mas!, kita pergi" Sarah menarik tubuh Juna keluar.
"Tapi Sar.."
"Sudahlah mas, Ayo!, lebih baik kita pergi saja, jangan membuat keributan" Kata Sarah lagi berusaha menenangkan amarah Juna.
"Tapi mereka..."
"Sarah mohon mas, Ayo" Kata Sarah memelas, matanya kembali berembun di sana, Juna tak tega melihat Sarah. " Baiklah" jawabnya Pasrah, sebelum benar- benar keluar dari sana, Juna tampak menatap tajam kepada dua orang tadi.
"DASAR PEMBAWA SIAL" teriak Karina saat mereka sudah menjauh namun masih bisa di dengar oleh Juna dan Sarah.
Juna mengepalkan kedua tangannya, menahan emosinys, seandainya saja iya di izinkan untuk menghajar kedua orang tadi, pastilah akan membuatnya tak bisa berbicara lagi.
Sayangnya Sarah tak ingin itu terjadi, ia tak ingin terlibat masalah hukum, Karena juna akan terkena masalah karenanya.
Bersambung......
__ADS_1