
"Makasih buat hari ini ya, Va?" ujar Tari dari dalam mobil
"Iya, sama-sama" Ivana membalas ramah
Mobil itu melaju menjauh meninggalkan area sekolah setelah Ivana melambai pelan ke arah Tari, hari ini cukup melelahkan dan membuat pikiran jadi agak tidak tenang
Siapa lagi kalau bukan Athaya?
Athaya, Athaya, Athaya lagi anak itu benar-benar meracuni pikirannya, dari tadi bisa-bisanya ia tidak makan padahal sehari saja tanpa makan pop mie dari kios nya mbak Ratih itu rasanya benar-benar hampa
"Eh, besok bukannya ulangan bahasa indo ya? waduh buku catatan gue ketinggalan di laci meja, udah dikunci belom ya kelasnya?"
Iva tiba-tiba kelupaan buku catatan bahasanya padahal besok dia ulangan, Iva menepuk dahinya pelan dan langsung setengah berlari—kembali memasuki area sekolah
"Yes, belum dikunci,"
Ivana masuk perlahan ke dalam kelas, pandangannya mengedar di setiap penjuru kelas saat ia tak menemukan bukunya di laci mejanya
"Kemana ya?"
Iva sanggup memutari seisi kelas, memeriksa laci satu per satu barang kali aja ada yang sengaja menyembunyikannya
"Lo nyari ini?"
Suara dari depan kelas membuatnya menoleh, dan seperti yang sudah-sudah, Ivana dibuat tak habis pikir dengan kemampuan yang dimiliki cowok itu, kemarin kunci mobil sekarang buku catatan bahasanya
"Kok bisa di lo sih?"
"Tadi gue nemu di laci lo, sekalian kan gue anak baru jadi gak punya catatan dan gue mau pinjem punya lo"
"Ya kalo lo pinjem punya gue, gue belajar pake apa?"
Ivana berusaha meraihnya namun dengan sengaja Athaya mengangkat buku itu tinggi yang tak bisa diraih Ivana
"Jangan bercanda," ucap Iva datar
"Lo gak mau kenalan sama gue?" Athaya memalingkan wajahnya ke sembarang arah
"Ngapain? gue udah kenal kok sama lo," Ivana bersedekap tangan
"Oh gitu? terus kenapa lo tadi seakan-akan gak kenal sama gue?, heran ya masih aja sombong kayak dul-"
"Gue gak sombong ya, lo aja yang rese waktu itu gue juga oke-oke aja tuh deketan sama lo, lo aja yang mudah kebawa perasaan,"
"Kenapa lo jadi bawa yang dulu dulu?"
"Lo yang mulai, udah bawa sini bukunya,"
Ivana kembali ingin merebut tapi kembali ditepis oleh laki-laki itu
"Coba tebak kocaknya ekspresi lo waktu gue pertama kali menginjakkan kaki disini,"
"Ath-"
"Eh btw lo langgeng juga ya sama Mentari, salut gue gak kebayang yang bakal jadi calon lo besok, wah pasti sampai sehidup semati ya,"
"Lo ngomong apasih, gak jelas tau gak, udah intinya lo mau gue ngapain, tiba-tiba lo masuk kelas gue tanpa ada angin apapun, dan mempermasalahkan soal gue yang gak nyapa lo tadi,"
"Ya gue pengen aja di akuin kalau lo itu pernah jadi temen gue,"
__ADS_1
"Dih! bagus lo begitu?"
"Ini semua se-"
"Athaya?"
Suara seseorang merebut atensi mereka, dari arah pintu masuk sudah berdiri seorang Iqbal dengan tas hitamnya yang menatap tajam mereka berdua
"Kalian ngapain?"
"Mau kenalan untuk kedua kalinya, dia kan temen sekolah aku waktu dulu, ya ngga, Va?"
Athaya menyenggol tangan Iva sedikit yang hanya ditatap tajam oleh gadis itu, saat Athaya lemah ia langsung cepat-cepat mengambil buku bahasanya dan langsung berlari ke arah luar kelas
"Ada apa Bal?" tanya Athaya pada Iqbal yang masih termenung menatap punggung Ivana yang sudah mulai menghilang
"Tadi pagi gue kan udah bilang, kalau gue mau kenalin lo sama temen-temen gue,"
"Oh itu, iya soalnya dari istirahat tadi udah gue tungguin tapi lo nya gak dateng-dateng,"
Iqbal mendekat, "sori deh, soalnya akhir-akhir ini sering sibuk jadi gak ada waktu buat sekedar istirahat, dan baru sempet sekarang, ini juga udah rada telat, ya udah ayo sekarang,"
...--...
"Asomasow, asomasow, asomasow
Emeresker, emeresker, emeresker
Masker asker asker atchu..."
"Lo nyanyi lagu apa ogeb! kagak jelas tau nggak?" Don Don menegur suara sumbang Langit yang menurutnya aneh untuk didengar
"Udah lah Don, dia emang suka gitu, suka gesrek orangnya apalagi abis diselingkuhin sama Okta,"
"Gak usah gitu lo, enaknya membuka luka baru gue," ujar Langit tak terima
"Itulah gunanya teman apa Don?!" Damar memekik
"Menjatuhkaaaaannn~~" Don Don membalasnya dengan nyanyian sumbang yang membuat Langit merengut kesal
Baru saja tadi pagi Langit memergoki pacarnya Okta sedang bersuap suapan mesra dengan lelaki lain di belakang kelas, sungguh hati Langit bagai di remas-remas dan saat itu juga Langit langsung menjatuhkan kata putus
"Lo bayangin si Athaya itu kek gimana ya?" Tiba-tiba saja Damar bertanya dengan tatapan yang cukup serius
"Kalo kata gue sih ngikut aja lah sama si Asep, kalo masalah apapun yang di tanganin dia pasti oke deh," Langit menyahut
"Tapi kalau kata lo kemarin gendutnya melebihi gue, bakal susah gak sih?" Don Don iku berasumsi
"Emm...bener juga. Tapi, ah gatau lah gue mah ngikut aja, dari pada sama Vino kayaknya gak bakal kelar tuh masalah anggota,"
"Kenapa jadi bahas gue nih," Vino muncul dari arah pintu indoor sambil bersedekap tangan, sudah dari kapan ia ada di sana?
"Canda Vin aelah jangan dibawa serius, kan fakta," Langit membalas pertanyaan Vino sebelum orang itu bergabung bersama mereka
"Tapi lo tau gak sih, kabar soal anak dari pertukaran pelajar itu, gue jadi curiga deh tuh anak yang bakal gabung di tim kita," Vino menghampiri sambil berbisik
"Ohh, pantesan itu tadi rame yang bicarain, gue cuma nguping sebentar aja sih," Langit ikut-ikutan berbisik
"Terus, terus, gimana?"
__ADS_1
"Yak gak tau pasti sih gue, tapi kalo kita denger kata Asep dia itu gede badannya tapi kata cewek-cewek kelas gue tadi, dia gagah dan ganteng,"
Semua menyipitkan kata, siapa yang harus di percaya? Apakah Iqbal, seorang agen kebenaran terpercaya? atau omongan orang lain?
"Tapi gak mungkin lah Asep bohong ke kita?" Damar membuka obrolan setelah hening beberapa saat
"Eh, tapi jangan meragukan cewek-cewek kelas gue lu, mereka itu calon bibit ibu-ibu tukang gosip, gak mungkin lah bohong," bela Langit
"Ini semua gara-gara elo Lang," Vino berujar
"Lah kok gua?"
"Ya kalo gak masalah lo tadi diselingkuhin dan ngajak kita ngegalau di samping parkiran belakang tadi mungkin kita udah tau info nih,"
"Yaa, malah nyalahin gue, lo juga ikut galau kan tadi"
"Shuuuttt...udah kayaknya si Asep udah kesini," Don Don menengahi perbincangan mereka saat ia samar-samar mendengar suara langkah kaki dari kejauhan
Lantas mereka pun langsung berpura-pura sibuk sendiri, supaya tak terlihat kalau dari tadi Asep jadi bahan omongan di grupnya sendiri, kan ngeri ada grup dalam grup!
Dua cowok itu melangkah beriringan ke dalam ruangan indoor SMA Dharma Bhakti, dan demi apapun! kali ini Damar percaya bahwa kaum perempuan kelasnya Langit adalah calon ibu-ibu komplek gosip terpercaya
Yang dilihat benar-benar tak sesuai yang dikatakan Iqbal, dia tidak gendut, tak memakai kacamata kotak, tak memakai tas punggung berukuran besar
Dia seperti siswa pada umumnya, tak terlihat goodboy dan tak terlihat badboy alias netral
"Biasa aja lo natapnya," Iqbal membuka suara saat mereka sampai di depan Vino
"Gue gak percaya lo tega bohongin kita, Sep," mendengar penuturan Don Don Iqbal mengernyitkan dahinya
"Lo gak salah bawa orang kan?" Vino bertanya tepat disamping telinga Iqbal
"Apaan sih lo pada, nih gue bawa orangnya,"
Iqbal menarik pelan tangan Athaya untuk sedikit lebih maju
"Ath, ini temen-temen gue, dan mereka pengen ngajak lo buat gabung sama tim basket kita,
"Yang ini namanya Vino, ketua OSIS disini, yang lagi garuk kepala itu namanya Damar, di sebelahnya yang agak gendut itu namanya Brandon atau lo panggil Don Don juga gak masalah terus yang terakhir itu Langit," Iqbal memperkenalkan teman-temannya pada Athaya
Athaya diam sejenak sebelum akhirnya berbicara, "salam kenal ya, gue Athaya Richard, baru pindah dari Semarang,"
"Gimana lo mau ikut kan?" Iqbal mengulang pertanyaannya
"Oh, oke aja kalau gue itung-itung nambah kenalan," Athaya membalas dengan anggukan
"Btw, lo masuk kelas berapa?"
"Gue, 11 IPA 2"
Hal itu sontak membuat Damar meremas dadanya hampa, itu artinya ia sekelas dengan ayang Tari?
Vino setengah melotot mendengar nama kelas yang disebutkan Athaya barusan, itu berarti setelah Damar ia akan punya saingan lagi, tidak bisa! Dia harus punya tak tik baru
"Ya yaudah deh welcome bro," Langit berdiri dari duduknya dan menepuk pundak Athaya pelan, "Lo resmi gabung ke tim kita. Tapi, btw nama lo tadi siapa?"
Athaya tersenyum, "Athaya Richard, pindahan dari Semarang."
...--...
__ADS_1