
Anggi dan Vito merenung mendengar cerita Iqbal, ternyata seperti itu. Rasa marah yang meluap di dada Vito tak jadi ia keluarkan, Risa mendekat ke arah Iqbal—menatap lamat luka lebam yang di pelipis wajah anaknya.
"Itu sakit Bal?" ucapnya pelan.
"Mama pake nanya," Iqbal menjawab tak kalah pelan, "mama pegang boleh gak?" Anggi berujar sambil mengulurkan tangannya.
Iqbal reflek menghindar, "nggak ma, sakit nanti,"
"Ya udah mama obatin ya?"
"Iqbal ada obat di kamar, biar Iqbal sendiri aja yang ngobatin," kilahnya.
"Iya, ma...udahlah, lagian dia juga udah gede kok,"
Anggi mendengus, "ya udah, terus Langit dimana sekarang,"
"Iqbal gak tau ma, yang pasti Iqbal bakal cari orang itu," sedikit emosi terdengar saat ia mengucapkannya, matanya tiba-tiba menajam seakan menahan dendam.
"Bal, mama gak mau ya kamu berantem, kalau ada masalah itu coba selesaikan baik-baik dong, jangan sama kekerasan," ujar Anggi tenang.
"Iya Bal, lagian kamu gak inget kalo dia itu sahabat kamu? kalian sering main bareng kan?" Vito berargumen.
Sementara di tempat duduknya Iqbal merenung. Kenapa ia susah-susah menyalahkan Mentari tentang tidak percayanya dia terhadap Tari?
Kalau seperti ini, bahkan Iqbal tak ada bedanya dengan orang-orang itu—yang lebih memilih kisah kasih asmara ketimbang embel-embel persahabatan yang sudah berjalan bertahun-tahun!
Sama sepertinya, yang lebih memilih memukul temannya sendiri dari pada menahan diri untuk berfikir lebih dingin sebagai lelaki dewasa.
Namun, jelas beda! saat ia melihat wajah Ivana yang memelas minta dibela ditengah fitnah yang menghantamnya, ia rasa ia benar. Iqbal tak akan menyesali perbuatanya barusan.
"Kayaknya Iqbal harus bersih-bersih badan ma," Iqbal berdiri.
"Ya udah deh kalo kamu maunya gitu,"
Saat ia melangkah ia baru mengingat sesuatu. Ia membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah surat, lalu ia mendekati ayahnya dan memberikannya.
"Surat apa ini Bal?"
"Iqbal baru inget, karena kejadian tadi Iqbal di skors sebulan," ujar Iqbal lesu.
"Sebulan Iqbal?" Iqbal mampu melihat jelas pancaran kekecewaan dari mata orang tuanya. Ia kembali duduk—menggenggam tangan kedua orang tuanya.
"Iqbal minta maaf udah ngecewain papa sama mama. Soalnya tadi Iqbal udah kebawa emosi, jadi Iqbal minta maaf dan tolong buat hadir besok ya?"
__ADS_1
Vito menatap wajah istrinya, lalu tersenyum tipis, wajarkah kalau mereka tak marah anaknya diskors?
"Papa sama mama bakal hadir, ya kan pa?" Anggi mencoba meyakinkan Vito, berbicara lewat mata seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Oke, besok mama sama papa datang. Tapi, Iqbal. Perbuatan kamu itu memang baik, kamu membela orang yang benar, tapi lain kali coba berpikir dingin dulu, jangan sampai nyakitin orang lain bahkan diri kamu sendiri kayak gini, ya?" ujar Vito bijak.
"Pasti, pa. Makasih udah ngertiin,"
Iqbal menaiki anak tangga satu persatu, sekarang yang ia pikirkan ialah apa hubungan Athaya dengan Langit? masalah apa sebenarnya yang terjadi?
"Gua pengen Athaya hancur," Langit mulai bicara, dengan tegas Iqbal melepaskan cengkeramannya—menunggu Langit bicara.
"Gua sakit nyokap gue mati!" pekik Langit.
"Dan lo Athaya Richard. Seseorang yang udah gue curigai pas pertama kali lo masuk sini,"
Athaya membalas tatapan Langit saat netranya bertemu, "bokap lo ninggalin nyokap gue untuk nikah sama nyokap lo,"
"Mereka punya ayah yang sama," lirih Iqbal pelan.
...--...
"Ck!"
Ia mencoba memberanikan diri untuk menghubungi Vino dan lainnya, tapi ia terlalu malu, karena masalah inilah yang membuat mereka renggang.
Lalu bagaimana dengan Ivana? bahkan ia sendiri seakan tak peduli dengan kondisinya. Mentalnya terlalu pengecut dan bodo amat, sialan!
Ia meninggalkan ranjangnya, berjalan ke dapur dan menemui ibunya yang sedang memasak. Haruskah ia bertanya masalah ini? terakhir dia bertanya tentang ayahnya, ia malah diceramahi di ruang tengah rumahnya di Semarang sana—untuk tidak membahas itu lagi.
"Mama sibuk?" tanya Athaya pelan.
"Nggak sih, kenapa Ath?" jawabnya sambil menengok ke arah Athaya.
"Mau tanya soal ayah," Athaya to the point.
"Mama sudah bilang berkali-kali kamu nggak usah bahas papa lagi ya Ath? biar papa tenang disana," ucap Zahra dengan senyum yang sangat tipis.
"Mama tau nggak? tadi di sekolah ada kejadian besar dimana ada seorang siswi yang hampir dilecehin temannya sendiri," Athaya duduk di ruang makan.
"Gimana ceritanya?" tanya Zahra.
"Panjang ma. Tapi, poin utamanya bukan soal pelecehan itu. Tapi, ini soal papa yang dulunya pernah menikah dengan orang lain sebelum menikah dengan mama,"
__ADS_1
Saat itu juga Zahra menoleh, "apa yang kamu maksud?"
"Athaya cuma pengen tau ma, plis...sebenarnya apa yang terjadi? soalnya gara-gara orang itu dendam sama Athaya, yang kena imbas malah temen Athaya sendiri,"
Zahra ikut duduk berhadapan dengan Athaya, lalu mulai membuka mulutnya.
"Rahsya datang tiba-tiba pas malam hari, mama gak tau apa-apa. Kota emang sudah dekat dari lama, kita juga sering bales-bales SMS waktu itu, dia bilangnya mau datang ke Semarang dan nikahin mama,"
Ternyata sikapnya tak seperti yang Athaya bayangkan, ia kira ibunya akan bersikap tak peduli dan kembali menceramahi Athaya soal ini. Namun, ternyata tidak.
"Terus gimana?" ucap Athaya.
"Siapa yang kamu maksud ada hubungannya sama papa kamu itu?" Zahra tak menjawab pertanyaan Athaya. Ia menelisik, rautnya tiba-tiba sedih.
"Dia Langit, temen Athaya ma,"
"Terus gi-"
Ting!
Athaya melirik sebentar ke arah ponsel. Ternyata yang baru saja ada pesan masuk dari Langit, ia buru-buru berdiri, membuat Zahra melakukan hal yang sama.
"Ada apa nak?"
"Athaya keatas dulu ma, ada urusan,"
Belum sempat Zahra menjawab, Athaya sudah terlebih dahulu pergi, sepeninggalnya Zahra terduduk kembali, pikirannya kembali kacau.
Setelah mengunci pintu Athaya langsung menghubungi Langit kembali, ia harus segera berbicara panjang lebar dengannya tentang masalah yang terjadi.
"Halo?"
Suara dari seberang ikut menyapa, tanpa basa-basi apapun Langit langsung memerintah, "besok malam temuin gue di jalan Remanggi, gue mau ngomong empat mata sama lo, berdua aja,"
"Tunggu dulu, Lang. Gue masih belum bisa mengerti sebenarnya apa yang terjadi sekarang," ucap Athaya.
"Gue udah kasih jawaban untuk sementara ini, Ath. Besok." ujar Langit dari seberang.
"Tapi-"
Telepon dimatikan oleh Langit, panggilan terputus. Athaya menatap lurus ke depan. Kira-kira apa yang akan mengejutkannya besok?
"Ada apa sih sebenernya?"
__ADS_1