
Istirahat pertama, Athaya diajak Vino dan teman-temannya untuk makan bersama di kantin, sebenarnya bukan hanya hari ini saja tapi hari-hari sebelumnya juga. Vino hanya ingin mereka berkumpul bersama agar saling lebih dekat
Menyantap makanannya masing-masing, serta sedikit diselingi Senda gurau tak sedikit warga kantin yang melirik ke arah mereka, beberapa kakak kelas yang sekedar menegur sapa—ramah
"Lo udah move on ke Tari?" Damar maju beberapa senti ke arah muka Vino disertai pelototan sedikit dari Damar, membuat Vino memalingkan wajahnya
"Pelan-pelan bego!" Vino melempar satu biji chiki yang sedang dimakan Don Don
"Apa sih, Vin? jangan buang-buang makanan," ujar Don Don tak terima
"Satu biji doang, sedekah buat semut," mendengar pembelaan dari Vino membuat Don Don memutar bola matanya. Ya sudahlah anggap saja sedekah!
"Kenapa? parah lu, giliran gue udah melepaskan lo malah ikut-ikutan melepas," ujar Damar sambil berbisik
"Kagak gitu, gue cuman udah pindah ke lain hati doang, et! tapi bukannya gue benci sama Tari ya?"
"Eh, Dam? gimane sama Dara? cocok kan?" Don Don menyenggol tangan Damar pelan sambil menaik turunkan alisnya
Damar senyum matahari, ya iyalah lancar! "Gue bakal atur jadwal buat nembak dia,"
"Kalo nggak suka gimana?" setelah meminum minumannya Iqbal tiba-tiba saja berujar yang membuat Damar melotot
"Mampus lo kalo Dara gak suka, udah capek-capek deketin juga," kata Langit
"Diem lo monyet,"
"Asep ye! gak pernah ngomong, sekalinya ngomong nyakitin hati bener deh!" Damar menepuk dadanya sakit, bisa-bisanya Iqbal ngomong begitu saat Damar sedang berharap penuh
"Iya kan Dam? pacaran seseorang itu harus dilihat dari seberapa banyak orang itu mencintai, kalau yang satunya nggak kan kasihan," Athaya tiba-tiba menyelutuk
"Ya tuhan, nih dua orang perangainya sama aja, sama-sama nyakitin," Athaya terkikik sejenak sebelum kembali berujar, "bercanda bro, sori. Jangan ambil hati ya,"
"Untung gue orangnya sabar,"
Athaya dan Iqbal saling melempar tos satu sama lain, puas dengan candaan yang dilontarkan keduanya
Sepuluh menit berlalu, saat semua masih membicarakan hal yang nggak penting-penting banget dari arah yang berlawanan dari Athaya, ia melihat Ivana yang sedang menenteng satu buah plastik yang entah apa isinya
"Gue duluan ya? ada urusan," kelompok itu menatap kepergian Athaya, namun setelahnya mereka bersama-sama melirik arah Iqbal, karena tahu kalau hati cowok itu sedang panas
"Sep? mau minum lagi? nih gue ada es" Vino dengan tampang yang ngeselin mencoba menawari Iqbal es nya yang tinggal setengah, mungkin menurutnya Iqbal sedang kepanasan sekarang karena melihat adegan barusan
"Diam lo semua, lo kira gue masih suka sama dia?" Iqbal menyeruput es nya hingga tandas
"What! Jadi selama ini lo juga udah nggak suka lagi sama Ivana?" Damar mulai bicara
"Ya ampun Asep! sumpah gue kasian banget sama lo, gini ya, lo bahkan belum berjuang buat dapetin cinta Ivana, masa udah menyerah,"
"Iya nih, lo itu bagaikan ksatria yang belum perang aja udah nyerah," Don Don ikut mengompori
"Makannya Sep, lo jujur aja sama Athaya kalo lo itu udah suka sama Ivana sejak lama, apa gue yang ngasih tau Athaya? kurang baik apa gue sama lo Sep?" Vino menepuk-nepuk dadanya dramatis
"Nggak, jangan ada yang ngasih tau dia," jawab Iqbal datar
"Sep? ayolah, gue kasian sumpah sama lo, harusnya lo yang dapetin hati Ivana kalau lo mau berusaha,"
__ADS_1
"Tapi gue gak mau berusaha, biarin Athaya kayak gitu, kalian jangan ngebenci dia cuman karena ini,"
"Ya nggak lah gila! kalo gue benci sama dia buat apa gue ngajak dia ngumpul sama kita-kita disini, kita juga gak bodoh kok kan lo yang gak mau berterus terang, andai lo udah ngomong ke dia soal perasaan lo, gue yakin dia pasti jaga jarak kok," Vino berkata panjang lebar
"Kalian mau tau satu fakta gak?"
Ucapan dari Iqbal membuat keempatnya merapatkan duduk dan mulai mendekat, apa? ada fakta apa?
"Ada apa woy?"
"Iya, fakta apaan?"
"Gue ketinggalan apa woy? cepet lah cerita,"
Iqbal ikut mendekatkan kursinya, "sebenarnya..."
Keempatnya menatap Iqbal penasaran
"sebenarnya..." Iqbal mengulang perkataannya
"sebenarnya..."
"Anjing lo Sep!" Vino menggebrak meja kantin gemas karena Iqbal tak kunjung mengatakan fakta itu
"Iya lo setan! bukan waktunya ngelawak ya," Langit ikut-ikutan emosi
"Woi Sep, kesabaran gue ini setipis tisu dibagi tujuh kena aer ya? jangan sampe gue tempeleng muka lo,"
Iqbal selalu senang melihat mimik wajah teman-temannya begini, terlihat lucu dan kompak!
"Ape?" Langit mendekat
"Athaya itu temen Ivana dan Tari waktu SMP,"
Ketiganya melongo untuk beberapa saat, sebelum akhirnya terkejut karena Iqbal mencipratkan air mineralnya ke wajah mereka
"Yang bener lo Sep?" Don Don memastikan
"Hm,"
"Dunia ini sempit banget ya bro?" Damar menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melihat ke langit-langit kantin
"Lo tau dari mana?"
"Athaya sendiri yang cerita,"
"Lo cepet akrab sama orang baru ya?" Iqbal dan Athaya berjalan menelusuri koridor menuju kawasan indoor SMA Dharma Bhakti
"Nggak sih sebenarnya,"
"Itu namanya cepet beradaptasi, orang-orang baru kadang kan butuh waktu berhari-hari bahkan satu minggu lamanya buat adaptasi tapi lo langsung bisa akrab, sama cewe pula,"
"Iya, gue akrab sama dia karena dia itu temen gue pas SMP,"
Iqbal menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Athaya, Athaya otomatis ikut berhenti, "ada apa?"
__ADS_1
Pertanyaan dari Athaya membuat Iqbal tersadar dan memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing
"Nggak Ath, itu...kaget aja, cuman...ya nggak apa-apa sih,"
"Gue juga pernah pacaran sama dia,"
Deg!
Fakta baru lagi!
"Tapi gue ragu dia waktu itu nganggep kita pacaran atau enggak kan masih cinta monyet waktu itu, haha...masih terlalu bocah untuk ngomong soal pacaran, apalagi mantan,"
Dan saat itu Iqbal dibuat over thingking dengan apa yang baru diketahuinya
"Anjir sampe pacaran," ungkap Langit tak percaya
"Gak pasti, katanya Ivana yakin gak yakin waktu itu,"
"Sabar deh lo Sep, gue turut prihatin,"
Iqbal memutar bola matanya, ternyata ia tak se-lebay itu, nyatanya teman-temannya juga kaget waktu dikasih tau
...--...
"Ivana?"
Di waktu yang sama, Athaya menghampiri Ivana yang tengah berjalan keluar dari kantin. Gadis itu menatap dari atas sampai bawah Athaya
"Ada apa?"
"Sini gue bantuin," ucap Athaya sambil merebut halus plastik yang sedang di tenteng Iva
"Gak usah, Ath"
"Sssttt...udah diem," Ivana perlahan menanggalkan tangannya dari benda itu, setelahnya ia dibuat terkejut lagi dengan tangan Athaya yang sudah merangkul pundaknya hangat
"Nanti ada pasar malam loh," ucap Athaya sambil terus memandang jalanan di depan
"Terus?"
"Ya gue mau ngajak lo,"
"Dih! kalo gue gak mau gimana?"
"Ya kenapa kalo gak mau, sama gue, tenang gue gak bakal ngapa ngapain lo kok, sumpah!" Athaya mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya di udara—tanda ia serius
Ivana menatap lekat manik Athaya yang sialnya dibalas pula dengan tatapan yang begitu dalam. Hangat, mampu membuat jantung Iva berdegup kencang
"Mau ya?" pernyataan Athaya yang halus membuatnya tak berpikir dua kali untuk mengiyakan, Ivana mengangguk
"Nah gitu dong," Athaya mengacak rambut Iva pelan
Netra Ivana sedari tadi belum lepas dari Athaya, ia begitu memesona saat dilihat dari sisi ini. Mungkin Athaya sedikit demi sedikit sudah mulai memasuki hati Ivana
...--...
__ADS_1