ATHAYA?

ATHAYA?
66- Raungan Batin


__ADS_3

Kalau kata lagu, cinta itu buta dan tuli mereka tidak bisa melihat maupun mendengar. Sama seperti Iqbal rasakan sekarang, tadi saat dia dan teman-temannya di indah di rumah Iva, antara senang dan sungkan ia sempat bicara banyak dengan gadis itu.


Walaupun masih di selingi dengan kalimat tak bermutu dari Don Don, Damar dan Vino.


Tapi satu sisi lain mungkin tanpa mereka juga suasana tak akan mungkin secair itu.


Setelah orang tua Ivana memamitkan diri untuk urusan di luar sebentar, suasana mulai mencair.


"Jadi inget dulu kita tanding basket," kata Damar.


"Iya nih, gara-gara kakak kelas yang langsung melejit kita jadi gak banyak job haha..." timpal Don Don.


"Lo apaan? Jadi bola makannya gak banyak job, kita mah banyak ya Dam?"


Bahkan di sana Damar pun terheran-heran, pasalnya tak biasanya Iqbal bereaksi seperti ini. Yang bocahnya awalnya kaku pake banget sejak malam itu sering ceplas-ceplos hingga membuat Damar melongo.


"Efek ketemu gebetan emang gitu, Dam. Kek orang tantrum," kata Don Don waktu perjalanan pulang.


"Eh tapi sori ya Va. Setelah kami pikir-pikir lagi, ternyata emang Langit yang terlalu berlebihan. Bukan lo,"


Kata Don Don waktu itu yang seketika membuat suasana yang awalnya renyah menjadi canggung.


"Iya, gue juga minta maaf ya Va? Gue jadi gak enak sama lo," ucap Vino yang baru saja bergabung setelah menerima telepon.


"Iya, udah lalu juga kok semua udah gue maafin,"


Ivana menoleh ke arah Iqbal, matanya yang lembut langsung membuat Iqbal terpanah seketika.


"Gue juga mau ucapin terima kasih banget buat lo Bal. Karena waktu itu cuma lo yang ngertiin gue, cuma lo yang percaya kalo gue bukan pelakunya, makasih ya," ia berkata dengan lemah lembut sekali. Orang-orang di sekitar mereka terlihat menahan tawa atas adegan itu, apalagi melihat wajah Iqbal yang memerah padam akibat malu.


Itu puncaknya, Ivana masih orang yang sama seperti dulu. Orang yang pengertian dan pemaaf, baik dan cantik. Tak seorang pun yang mampu mengganti sosok Ivana dalam hati Iqbal. Sumpah! Itulah alasan Iqbal masih menyimpan rasa pada gadis itu.


Ia masih memikirkannya, bahkan sampai sekarang. Di malam ini, malam yang temaram di sertai hujan gerimis yang membasahi bumi, di kasur empuk sebuah hotel Iqbal berbaring membayangkan wajah gadis itu lebih lama.


Tadi dia sempat di telpon orang tuanya, tanya kapan pulang. Tapi, dia menolak dengan seribu alasan, ia masih ingin di sini dengan Ivana.


...--...


Setelah mengetahui itu semua, entah mengapa ia merasa makin terpuruk. Apalagi melihat jasad ayahnya yang berlumuran darah dan hancur seperti itu. Benar-benar membuat raganya seperti di tusuk ribuan anak panah.


Ia hanya melihat bulan bersinar malam ini. Hidupnya berubah banyak semenjak pindah ia sebenarnya tak mau, tapi rasa penasarannya begitu menggebu untuk di taklukkan.

__ADS_1


Siapa Abraham, aliansi seperti apa yang ia kelola, berapa anggotanya, berapa korbannya, semua berputar di otak Langit.


Kalau seandainya dia mendatangi markas itu apa yang terjadi?


Di dunia ini dia tidak punya siapapun kecuali anak-anak yang ia tolong beberapa bulan lalu. Ia bersyukur dengan adanya mereka setidaknya bisa mengisi sedikit kekosongan yang terjadi.


Setidaknya hingga waktu yang tak ditentukan.


"Itu yang mau gue kasih tau bos. Sisanya gue serahin ke lo, gue sama anak-anak akan selalu bantu dan dukung lo,"


Ucap Aji kemarin malam saat mereka baru saja keluar dari Teram. Langit masih dalam kondisi menangis, Aji memilih untuk istirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang, daripada di jalan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena kondisi Langit yang kurang baik.


"Makasih udah peduli, Ji." kata Langit sesenggukan


"Ini gak ada apa-apanya bos dibandingkan jasa lo dulu yang mau ngumpulin kami anak-anak jalanan yang gak punya rumah. Karena lo kita semua bisa jadi keluarga di sini dan sadar ternyata banyak orang yang bernasib sama seperti kita. Walaupun kita sering di cap buruk sama warga, itulah kerasnya dunia kalau kita gak bertindak maka dunia yang akan bunuh kita,"


Suara kendaraan berlalu lalang di belakang Langit, menghapus jejak obrolannya dengan Aji kemarin malam.


"Kita ini keluarga Lang. Kalo lo ada masalah sama nyokap lo datang aja sama kita, cerita apapun, kalo kita bisa bantu pasti bakal kami bantu," ujar Vino bijak.


"Iya nih Lang. Kek sama siapa aja lo. Kita itu sahabatan dan selamanya akan tetap jadi sahabat, percaya aja sama kita," saat itu giliran Damar yang bicara.


"Iya, kabarin aja, kalo ga percaya lo bisa kempesin si Don Don itu," Iqbal yang saat itu sibuk dengan ponselnya langsung bicara, suasana seketika menjadi cair.


"Enak aja lo Asep! Mendingan gue ada dagingnya gini, dari pada lo cungkring haha slebew!"


Tawa riang menyertai obrolan mereka kala itu, saat suatu permasalahan besar belum terjadi.


"Gue kangen lo semua anjir! Kalian masih sama-sama gak sih? Gue emang terlalu egois buat menyelesaikan masalah. Gue minta maaf udah bikin hubungan kalian merenggang,"


Suara jangkrik dan kendaraan mengurai bersama suara tangisnya yang pilu, ia rindu teman-temannya, rindu canda tawa mereka yang hangat. Sumpah! Langit rindu.


Tapi-


Bugh!


Langit tersungkur sepersekian detik setelah seseorang mencoba memukulnya dari belakang. Ia memegang erat kepala bagian belakangnya yang terasa sakit akibat pukulan benda kayu itu.


Tak sempat tersadar lama, mereka mulai melayangkan pukulan hingga mau tak mau Langit sendiri yang harus menghadapinya. Ada tiga orang pria di sana, beruntung badan mereka tak besar-besar banget.


Dua diantaranya sudah di robohkan dengan wajah yang dipenuhi luka. Kini di hadapannya berdiri sosok yang lebih besar badannya di bandingkan yang lain, mereka saling memukul dan membalas pukulan satu sama lain

__ADS_1


Namun, karena tiga lawan satu bukanlah perlawanan yang imbang, akhirnya Langit takluk juga ia jatuh tersungkur di tanah orang itu memukul wajah Langit hingga membabi buta. Tak ada perlawanan dari cowok itu.


Saat Langit sudah mulai melemah tiba-tiba ada orang yang menarik baju satu penjahat yang berduel dengan Langit, melihat ada bantuan tekadnya untuk melawan kembali ada, dua di hadapi Langit yang satunya orang misterius itu.


Tak banyak menit yang di butuhkan keduanya, tiba-tiba dari arah kejauhan terdengar sirine polisi bersahutan, satu dari tiga orang yang mendengarnya panik, dan langsung mengarahkan anggotanya untuk kabur.


"Ada polisi ayo kabur!" yang paling besar badannya yang berucap.


"Ga usah kabur lo!" Langit hendak mengejarnya namun di tahan oleh lelaki yang menolongnya. Tak lama kemudian polisi datang, melihat tiga pelaku itu kabur akhirnya mereka menyusul.


Nafas mereka berdua naik turun karena itu. Badan Langit membeku seketika saat melihat siapa yang menolongnya. Pun orang itu, pria misterius yang tergugah hatinya untuk menolong orang yang di keroyok.


"Athaya?"


Langit berulang kali memastikan saat orang itu sama kagetnya ia yakin betul bahwa orang yang menolongnya barusan adalah Athaya, temannya waktu SMA.


"Langit? Lo Langit?"


Athaya mendekat, dilihatnya Langit lekat-lekat, "Bener ini lo Lang,"


Tak puas sampai di situ Langit langsung di kejutkan dengan kehadiran seorang perempuan yang sangat dia kenali. Namun, seperti ada yang berubah, dia dulu cantik tapi sekarang makin sempurna.


"Ath?"


"Sini, Tari,"


"Aku tadi nelepon polisi,"


"Kamu pintar!"


Sejujurnya Mentari tak tahu siapa yang sedang di tolongnya sekarang. Namun, saat dia mencoba menyingkirkan rambut yang memanjang itu dan pipinya yang semakin tirus, ia sadar. Seolah kembali pada masa setahun lalu di mana semua di mulai hingga dirinya terjebak dalam kondisi seperti ini.


"Langit?"


Langit mundur beberapa langkah. Ia hendak kabur namun tindakannya barusan langsung di tahan Athaya.


"Langit? Lo mau kemana?"


Ia berhenti. Apa ini kenyataan yang sering muncul di lamunannya itu? Bertemu kembali dengan teman-temannya waktu masih sekolah. Kenapa di kesini? Apa ia sudah tau apa yang terjadi pada Rahsya sebenarnya?


Malam itu semakin larut, masih mencerna sebenarnya takdir apa yang membuat mereka bertemu malam ini. Sebagaimana pikiran Langit, perilakunya sungguh kacau. Bertemu sekarang, apa dia harus mengatakannya pada Athaya?

__ADS_1


__ADS_2