
Risa mengintip dari balik jendela ketika tiba-tiba ia mendengar deru motor mendekat ke rumahnya, saat pintu gerbang besar dibuka ia sedikit menautkan alisnya saat melihat Ivana tiba-tiba pulang.
"Loh? jam segini kok udah pulang?" tanyanya pada diri sendiri.
Sementara di luar sana Ivana dapat sedikit pencerahan hati dati Iqbal, cowok itu dengan sabar menenangkan dirinya yang tengah kacau balau, katanya, "mau gimanapun reaksinya, lo harus yakin bahwa lo gak bersalah, Va. Mereka pasti ngebelain lo kok,"
Dan dengan begitu saja, hati Iva yang semula panik menjadi sedikit lebih tenang, walau hatinya berangsur panik lagi karena ia melihat sang ibu yang menatap bingung dari balik jendela rumah.
"Loh? udah pulang Va jam segini? kamu kenapa nangis?"
Iva sedikit mengatur nafas, "Iva di skors ma,"
"Apa?" tanyanya memastikan.
"Iva dituduh yang nggak-nggak," gadis itu menautkan tangannya yang dingin bergetar, mencoba menjelaskan peristiwa yang dirasakan.
"Ma...kalo Iva cerita sama mama, pasti mama percaya kan?" saat gadisnya mengatakan hal itu, Risa menatap gelisah, apa yang menimpa anaknya hingga menjadi seperti ini?
Maka dengan segala isak tangisnya Iva menjelaskannya dari awal. Tentang Athaya, Langit, Mentari, kunci kamar, pelecehan, dituduh hingga di sidang di ruang kepala.
"Iva gak tau apa-apa ma...kenapa mereka nuduh Iva kayak gini? Mentari juga! dia tiba-tiba diemin Iva seolah-olah Iva salah...apa itu yang dimaksud sahabat ma?...itu yang dimaksud sahabat?..."
Risa ikut meneteskan air matanya, pikirannya ikut semrawut. Apalagi saat ia menerima surat pemanggilan orang tua, dan fakta bahwa anak semata wayangnya itu di skors di sekolah.
Ia menatap anaknya dengan perasaan hampa, Ivana bersikap seolah tak ada yang percaya sama sekali padanya, ia memeluk putrinya itu—pelukan hangat yang selalu Ivana ingat.
"Papa gak marah kan ma...?" Risa menoleh, mengelus surai Iva lembut lalu menggeleng pelan. "Mama percaya apa kata kamu,"
"Kenapa Mentari gak percaya Iva sih Ma? bukannya dia sahabat Iva ya? kenapa dia kayak gitu?" Ivana kembali meneteskan air matanya.
Iva memeluk hangat tubuh Risa, syukurlah ia mau mendengarkan penjelasan Iva, ia dari tadi sudah takut sekali kalau-kalau ia akan jadi bahan amukan di rumah.
"Nanti coba mama ngomong ke papa kamu ya?" kata Risa menenangkan.
...--...
Vino terus saja menelpon nomor Langit, pikirannya baru tenang ketika Arini datang untuk membuat hatinya tenang.
"Kamu gak mau masuk kelas," tanya Vino ketika panggilan untuk kesekian kalinya tak di jawab Langit.
"Aku gak bakal bisa belajar tenang kalo kamu masih kayak orang stres disini," Arini coba menghibur Vino dan hanya dibalas senyuman kecil olehnya.
"Makasih ya?" Vino menggenggam tangan Arini erat, dia sedikit merasa bersalah, karenanya Arini bolos pelajaran.
__ADS_1
"aku bakal selalu ada setiap kamu butuh, kamu yang tenang ya? semua pasti baik-baik aja, persahabatan kalian ini sedang diuji,"
Mendengarnya Vino tersenyum, ia mengalungkan tangannya ke bahu Arini, gadis itu membalas pelukan kecil dia menyenderkan kepalanya ke bahu Vino—mencari kenyamanan disana.
"Eh?" Vino reflek menoleh ke ponselnya ketika panggilannya baru saja dijawab oleh Langit, Vino segera menggeser ikon speaker agar Arini juga dapat mendengar.
"Lang? lo dimana?" tanya Vino sedikit tergesa.
"Jangan peduliin lagi gue," jawabnya dari seberang sana.
"Lo kenapa sih? kenapa tiba-tiba lo kayak gini? lo tiba-tiba ngelakuin hal itu, sampe lo ngajak ribut si As-"
"Vin?" Arini menjeda ucapan Vino untuk tidak melanjutkan. Ia menggeleng—ini bukan saatnya.
"Sori...sori Lang gue tau lo lagi gak baik-baik aja, gue-"
"Lo bener Vin, gue goblok. Lo sama teman-teman yang lain boleh ngebenci gue, karena gue emang salah," sahutnya.
"Tapi lo sekarang ada di mana?" sahut Vino cepat.
"Lo gak perlu tau, ada saatnya gue keluar dari zona nyaman gue, Vin. Abis ini tolong jangan cari gue lagi. Sampaikan ke temen-temen yang lain gue minta maaf. Jangan cari gue lagi,"
"Tapi Lang- halo?, Langit?" cowok itu mengakhiri panggilan. Vino kembali menunduk, "dia kenapa sih?" ucapnya sedih.
"Gue harus telpon si Iqbal," ucap nya semangat.
...--...
Iqbal perlahan melepas helm nya, bagian belakang kepalanya tadi terbentur sedikit di lantai gudang, hingga sedikit mengeluarkan darah.
Ia mengambil nafas dalam sebelum masuk ke rumah. Hari ini ayahnya sedang tidak bekerja, mungkin ia akan menerima omelan double
Dan benar saja. Vito—ayahnya, semenjak kedatangannya membuka pintu, dia sudah menautkan alis sebelum perlahan berdiri.
"Kamu habis ngapain Bal?" saat anaknya tak menjawab apapun, ia mendongakkan paksa wajah Iqbal, lalu menggosokkan tangannya ke wajahnya—berharap itu hanyalah riasan wajah.
"Sakit pa," ujarnya sangat pelan.
"Kamu habis berantem?" Iqbal tak menjawab, lelaki setengah baya itu memekik agak kencang memanggil Anggi—istrinya untuk menunjukkan perbuatan anaknya itu.
"Ada apa pah kok teriak-teriak di dalam rumah,"
"Kamu lihat anakmu ini," Vito menunjuk Iqbal menggunakan dagunya.
__ADS_1
"Iqbal kamu habis ngapain? berantem kamu?!" Anggi dengan nada marah.
"Iqbal bisa jelasin. Pa, Ma," Iqbal mundur beberapa langkah ketika ibunya hampir melakukan hal yang sama padanya.
"Jelasin cepat," ucap Vito tegas.
Iqbal membuang nafas singkat, "papa sama mama pernah ngomong kalau kita harus membedakan mana baik mana buruk kan?"
Anggi dan Vito memperhatikan seksama.
"Iqbal sampe bonyok kayak gini karena ngebelain orang yang di fitnah Pa...Ma..." jawabnya sedikit meringis.
"Di fitnah? gimana bisa Iqbal, siapa yang di fitnah?" tanya Anggi.
"Cewek. Namanya Ivana, dia di tuduh sekongkol sama seseorang buat jahatin sahabatnya sendiri," jelasnya.
"Dalam hal apa sampai dituduh?" tanya Vito semakin penasaran.
"Dituduh kalo dia ada rencana sama orang yang mau ngelecehin sahabatnya," melihat raut agak bingung dari keluarganya membuat Iqbal sedikit membuang nafas lalu kakinya berjalan menuju sofa ruang tamu.
Iqbal mendudukkan tubuhnya yang terasa sakit semua. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, Iqbal jarang bertengkar sebelumnya bahkan tak pernah, mungkin karena itu juga orang tuanya agak shock melihatnya sekarang.
"Jadi ceritanya gini..." Vito dan Risa mendekat, saat Iqbal mulai bercerita.
...--...
Akhirnya Mentari dibawa pulang.
Karena dari tadi ia hanya mampu menangis, masih kaget dan tak percaya atas apa yang Langit lakukan padanya.
Karena memang ia mengenal Langit sebagai pribadi yang baik, humoris dan ramah pada semua orang, pun ia tak pernah membuat onar dimanapun.
Lalu tiba-tiba saja entah datang dari mana, ia terjebak dalam gudang tua itu dan berakhir hampir dilecehkan olehnya.
"Ath? kalo gue nanya ke lo kejadian tadi lo gak papa?"
Setelah Mentari dibawa pergi, Arya bertanya perihal kejadian tadi pada Athaya, lelaki itu hanya melirik sebentar sebelum kembali melihat papan tulis.
"Besok ya Arya?"
Arya mengangguk mengerti, ia tak akan memaksa dia untuk bercerita. Athaya sendiri masih ragu—memilih Ivana atau perkataan dari Langit, ia berencana untuk menemui cowok itu, akan ia ajak berdiskusi dengan kepala dingin.
Apa maksudnya bahwa ayah Langit adalah ayah Athaya? dari mana Langit mendapatkan info itu?
__ADS_1
...--...