
Lapangan basket SMA Dharma Bhakti sudah mulai ramai dari jam 7 tadi, tim lawan dari SMA Nusantara juga sudah berada di dalam sekolah, karena hari ini pertandingan basket antar sekolah sudah akan dimulai
Kelas sepi saat waktu mulai memasuki jam setengah 8, mungkin orang-orang sudah berkerumun di sekitar lapangan basket dan Ivana masih belum beranjak dari duduknya karena tiba-tiba saja dia malas mengikuti acara ini
"Ayolah Va, kita kesana," Tari memohon
"Gue sih mau mau aja Tar, tapi apa nggak ketinggalan? pasti kursi kursi di sana udah ada yang nempatin," Ivana mulai menggolekkan kepalanya lagi di atas meja
"Satu bangku pasti ada kok, gue kan pake kursi roda,"
"Ck! jangan gitu lah Tar,"
"Apanya yang jangan gitu? udah ayo tandingnya mulai jam 8 kan? masih ada waktu loh ini,"
"Ntar kalo gak kebagian tempat duduk nggak tau ya,"
"Iya, ayo,"
Ivana mungkin tidak tahu kalau ia sudah meminta tolong pada Gina untuk mencarikan 1 tempat duduk di bagian pinggir, dan dia juga sudah mendapatkan pesan dari Gina dari 10 menit lalu kalau ia sudah dapat tempatnya
"Tuh kan Va, masih ada bangku kosong 1 dipinggir pula," Tari menunjuk di bagian bangku kosong sebelah Gina, saat kedua gadis itu mulai mendekat Gina melambaikan tangannya—agar mereka datang kesana
"Nih orang ngejelek-jelekin pemandangan banget ya?" seseorang disamping Gina berujar cukup keras saat Ivana dan Tari mulai datang, Gina yang mendengarnya pun tak segan untuk memukul bahu wanita itu, karena Gina tahu betul siapa yang tengah dibicarakan
"Hati-hati lo kalo ngomong! mau gue laporin ke guru supaya lo di panggil?," ucapnya tenang namun mengintimidasi
Gadis itu terdiam sebelum akhirnya mencibir pelan, Gina adalah orang yang perasa walaupun sering disebut pick me oleh beberapa orang, tapi tak bisa dipungkiri Gina adalah orang yang lumayan dekat dengan Tari dan Iva
"Sini gabung, bentar lagi mau mulai," Gina berkata ramah, sebelum kembali fokus pada ponsel di tangannya
"Lo disana gak apa apa ya Tar?" Tanya Ivana pada tari saat dirinya sudah mulai duduk, orang-orang disini sangat antusias sekali kelihatannya, bahkan dari golongan kelas 12 pun banyak yang ikut menonton walaupun didominasi oleh perempuan
Sementara di ruang ganti, Vino dan teman-teman mulai melakukan sedikit pemanasan, mereka juga sering mengatur strategi dalam nanti bermain
Saat sedang siap-siap tiba-tiba dari arah pintu masuk keluar sosok Don Don yang menggunakan baju sekolah sedang merekam keadaan menggunakan kamera ponselnya
"Ini gaess, keadaan di ruang ganti kita,"
Vino mendengus pelan sebelum akhirnya berujar, "lo ngapain sih Don?", "Diem lo, gue lagi bikin dokumentasi nih, supaya ntar kalo kita pisah gue bisa ingat kalo gue punya temen-temen yang jago basket kayak kalian,"
Vino sedikit tersentuh, permainan ini akan lebih seru saat Don Don bisa ikut, tapi mau bagaimana lagi? Don Don-nya saja tidak mau. Dan Vino juga tak bisa memaksa kan? bisa-bisa nanti timbul pertengkaran
"Halo gaes Welkom tu may mini vlog," Damar mencoba mencairkan suasana setelah beberapa saat hening, "sini, gue aja yang pidio in," Damar merebut paksa ponsel yang dipegang Don Don
"Halo guys, kita lagi mau tanding nih, ini lah keadaan di ruangan ganti," Vino berujar riang
"Ayo lah gas, Don Don jadi bolanya aja supaya tetep full team," Damar ikut-ikutan bercanda, "iya guys, aku nanti jadi bolanya ya? Pokoknya kalian semua stay tune tunggu aksi kita, kita pasti menang!" Don Don memekik semangat
Kamera diarahkan mengelilingi semua pemain yang ada di ruangan itu, semua senyum membalas kecuali Iqbal yang masih fokus pemanasan. Melihat itu Don Don tak tinggal diam ia langsung bercanda dengan menggelitiki pinggang Iqbal yang membuat sang empunya tak fokus
"Au aduh! Don lu ngapain! minggir jangan gini!" Iqbal berujar sambil sedikit menahan tawa
"Ketawa aja lah Sep, muka lo dah merah tuh," Damar yang memegang kamera ikut mengompori, "Don! lepasin," ujar Iqbal sambil sedikit tertawa dan berusaha melepaskan diri dari Don Don
"Aaahh! Athaya tolongin gua!" Iqbal mulai memekik dengan mukanya yang sedikit memerah karena digelitiki
"Udah Don," Athaya mulai menarik halus Don Don yang menggelitiki Iqbal, "kamu tak akan bisa menahanku hahaha!" Don Don memekik sombong
"Gelitikin dia balik Ath!" Iqbal memberikannya ide yang langsung dipakai Iqbal maka dengan begitu saja Iqbal langsung sedikit bisa bernafas lega karena tenaga Don Don yang mulai melemah
__ADS_1
"Rasain lo Don!" Iqbal memekik puas saat melihat wajah memerah Don Don, "iya! iya deh ampun Ath, udaaahh...hahahaha," ruangannya yang semula sepi menjadi berisik karena ulah Don Don, suasana yang tadinya tegang sekarang agak mencair, dan beruntungnya Don Don dapat mengabadikan ini semua yang ia rasa akan menjadi kenangan yang sangat manis saat mereka sudah berpisah nanti
Athaya membuka ponselnya lalu mulai mengetikkan sesuatu kepada seseorang, sudah saatnya ia mengabari Ivana untuk segera menontonnya bertanding
^^^Ivana^^^
^^^Ini Athaya, jadi nonton kan?^^^
...--...
Kedua tim sudah memasuki lapangan basket, para penonton bersorak riang saat kedua belah tim sudah memposisikan diri di bagian masing-masing. Athaya mengedarkan pandangan mencari keberadaan Iva, dirinya tersenyum sumringah saat melihat sosok Ivana yang duduk di pinggir lapangan bersama Tari, sahabatnya
Di tempat yang tak terlalu jauh, Iqbal menyadari keberadaan Ivana disana, tak biasanya ia ikut menonton pertandingan seperti ini. Namun, ia senang sekali karena melihat Ivana, ia menjadi lebih bersemangat sekarang
Ivana menyadari dari tadi ada dua orang yang menaruh mata padanya, ia tak fokus pertandingan, bahkan saat tim sekolahnya mencetak angka sekalipun, dia jarang berbicara dengan Iqbal tapi entah kenapa ia selalu merasa sungkan jika berada di dekatnya
Sementara Athaya? cowok itu selalu menghantui pikirannya semenjak di datang ke sekolah ini
'Tuh kan?' baru saja Ivana membatin Athaya sudah mengiriminya pesan, ia kembali menutup ponselnya, toh dia tidak akan membuka balasannya karena dia tahu kalau Athaya sudah mengintainya sejak tadi
"SMA Dharma Bhakti kembali mencetak angka!" suar komentator memekik dari sana Ivana ikut bertepuk tangan
"Ayo Iqbal, Vinoooo!"
"Anjir! ganteng banget tuh anak pindahan," ujar salah satu siswi
"Athaya masih menguasai bola teman-teman!" suara komentator kembali memekik
"Oh, SMA Dharma Bhakti kecolongan lagi dan yaaa! SMA Nusantara menambah angka!"
"Athaya!" Iqbal memanggil rekannya itu
"Hati-hati!"
"Anjir tuh orang siapa sih? dia anggota baru kan?" Salah satu tim dari SMA Nusantara membisik ke salah satu rekannya
"Iya, bisa bahaya nih kita harus cari cara supaya mereka nggak nambah angka terus," balas temannya
"Kalau udah mentok nanti, gue ada cara," setelah kalimat terakhirnya siswa itu langsung kembali bermain
Damar mengoper dari arah depan dan langsung sigap di tangkap oleh Iqbal, cowok itu sedikit men-dribble bola dan dan melakukan shooting yang langsung berbuah angka
Semua bersorak untuk Iqbal
Waktu sudah hampir habis dan SMA Nusantara tertinggal cukup jauh hal itu membuat Andika—kapten tim sedikit frustasi, hari ini mereka dipastikan kalah di kandang lawan
Detik-detik sebelum berakhir suasana makin seru, sekarang Athaya sedang men-dribble bolanya, melewati para pemain lawan
Athaya bersiap melompat untuk kembali menambah angka. Namun, tiba-tiba dari arah samping Andika menendang keras kaki Athaya hingga membuat dirinya jatuh
"Athaya!!"
semua memekik saat tubuh Athaya terjatuh tepat di bawah ring, Vino yang berada di dekatnya pun langsung menghampiri dan mengecek kondisi Athaya
Athaya sedikit mengerang sambil menggenggam erat pergelangan kakinya, "Athaya? lo gak apa apa?" tanya Vino yang sama sekali tak dijawab Athaya
"Pengecut lo!" Vino berdiri dan mendorong Andika yang menendang kaki Athaya tadi, tak ingin kalah Andika balik mendorong badan Vino kebelakang hingga terjadi perkelahian kecil disana
Para penonton bahkan Ivana menatap ngeri ke arah lapangan, Ivana tadi juga ikut berteriak tak bisa dipungkiri kalau dia juga khawatir melihat Athaya kesakitan seperti itu
__ADS_1
Iqbal dan Damar datang melerai Vino dan Andika, takut masalah akan bertambah serius Iqbal berteriak kepada tenaga kesehatan untuk segera mengamankan Athaya
"Udahlah jangan berantem,"
"Jangan jadi pengecut lo, berani main kasar!" Langit hampir tersulut emosi tapi segera ditahan Damar
"Minta tandu! Ath? lo gak papa kan?" Iqbal bertanya dan hanya di balas rintihan dari Athaya
"Pak cepet pak," para siswi meneriaki tenaga kesehatan, sementara Athaya yang masih memegangi kakinya langsung ditandu dan dibawa ke ruang UKS
"Lo kalau mau menang jangan sama kekerasan!" Vino melotot ke arah Andika yang langsung dibalas tajam pula olehnya
"Udah Vin, udah. Pertandingannya udah selesai!"
Vino keluar lapangan dengan hati dongkol, disusul rombongannya. Andika dan timnya tersenyum senang walaupun mereka kalah tapi dia bisa menumbangkan Athaya
Pertandingan dimenangkan oleh SMA Dharma Bhakti
Ivana memandang Athaya dari kejauhan, "Athaya? lo gak kenapa-napa kan?" cemas Ivana
...--...
"Aakh!"
Athaya menggigit tangannya saat tim kesehatan mencoba mengobati kakinya, tak lama setelahnya ia membuka matanya setelah lama terpejam ia melihat Iqbal dan teman-temannya menjenguknya
"Lo gak kenapa-napa kan?" tanya Vino khawatir
"Iya, gue gak kenapa-napa,"
"Huhhh...emang setan tuh si Andika, karena mereka kalah sama kita dia malah main curang,"
Setelah memasang tapping, tenaga kesehatan izin keluar, Athaya mencoba duduk dan mengecek kakinya, untung tak terjadi sesuatu yang serius
"Abis ini lo pulang jangan sendiri," Damar memberi usul
"Terus sama siapa kalau gak sendiri?" Athaya menjawab sambil memegangi kakinya
"Ya sama si-"
"Yaampun Athaya! lo kenapa anjir?, cedera nya gak serius kan?" dari arah pintu Don Don berkoar-koar memasuki UKS
"Tuh kudanya udah dateng" ujar Damar sambil cekikikan
"Enak aja lo, gue manusia kali, eh tapi lo gak kenapa-napa kan? aduh ngeri banget liat tuh kaki? udah nggak sakit kan Ath?"
"Nggak udah mendingan, udah ditanganin juga tadi, walaupun masih nyeri dikit,"
"Tapi, makasih bro, berkat lo tim kita unggul banyak tadi," Langit menepuk pundak Athaya dua kali
"Iya, lo keren kapan-kapan sabi kali ya kita menang lagi," Damar berujar
"Iya, siap" Athaya membalas
"Eh, tapi lo nanti dianterin kita-kita ya? kayaknya kaki lo masih sakit tuh, biar aman aja,"
"Ngrepotin nggak nih?"
"Aelah, kayak sama siapa aja sih, ya nggak Sep?"
__ADS_1
"Iya, ntar gue boncengin lo, kita ganti baju dulu sama ambil tas lo, ntar kita pulang, ya?"
Athaya mengangguk sekilas mendengar penuturan Iqbal sebelum akhirnya pasrah dengan teman-temannya yang akan mengantarkannya pulang kerumahnya