
"Lo gak ngajak Mentari?" Ivana bertanya pada salah satu teman yang ikut melayat ke rumah Langit.
"Nggak, kayaknya dia tadi nggak ikut deh," Ivana sedikit membuka mulutnya sebelum kembali berujar, "terus gak lo ajak? dia sama siapa sekarang?"
"Nggak tau tuh, paling masih di kelas, atau balik mungkin," setelah mengatakan kalimatnya orang itu langsung melenggang pergi, Ivana berdecak, bagaimana ia bisa lupa?.
Ia mengetikkan sebuah nama ke layar ponselnya, mencoba menghubungi Tari. Namun, hanya terdengar suara berdengung dari sana yang menandakan panggilan itu tak terjawab.
"Ngehubungi siapa sih?"salah satu siswi bertanya pada Ivana, "Mentari. Gak lo ajak ya tadi?" Ivana menjawab dengan nada yang agak menyalahkan.
"Loh? kenapa emang? gak gue ajak dia, lagian males juga kalo harus dorong sana sini, capek".
"Kok lo ngomong gitu sih?" Ivana agak tak terima dengan apa yang dibilang orang itu barusan.
"Kenapa emang? dia emang gitu kok, kalo emang bener-bener dia effort mau kesini dia gak bakal ngandalin siapapun kok, termasuk lo. Dia bisa ngehubungin sopir atau siapa buat kesini, dia kan orang punya" siswi itu bersedekap di depan dada.
"Lagian, Va. Lo gak capek apa, setiap hari dimanfaatin sama dia? harusnya lo bisa ngebiarin dia gimana supaya gak ketergantungan sama lo, lagian kalian gak selamanya bareng kan? lo harus biasain Va."
Kalimat itu membuat Iva merenung, siswi itu beranjak pergi. Meski begitu, ia tetap mencoba menghubungi Tari, 3 menit setelahnya panggilan itu tersambung membuat Iva bernafas lega.
"Tar? lo dimana? kok lama banget ngangkat telfon gue?".
Dari seberang sana Tari membuang nafas sebelum menjawab, "iya nggak kemana-mana kok, tadi ke toilet bentar,"
"Lo gak kesusahan apapun kan?"
"Ya nggak lah, lo kira gue bocil yang kalo ke kamar mandi perlu ditemenin? jangan ngira gue gak bisa apa-apa ya, Va"
Saat mendengar jawaban yang agak sarkas itu, Ivana seketika heran, tak biasanya Tari menjawab dengan nada seperti itu
"Oh, ya udah deh, sori Tar. Lo mau kesini gak? gue jemput sekarang ya?"
"Gak ga usah, Va. Ntar pulang sekolah gue kesana sendiri aja sama keluarga gue,"
"Ohh, ya udah deh kalo gitu, gue tutup ya?"
"Iya, makasih udah nanya,"
Panggilan terputus tak lama setelahnya. Heran, tak biasanya ia begitu. Ivana mengalihkan pandangannya dari ponsel, netra nya menangkap sosok Langit yang sedang tertunduk sedih di sana, dikelilingi teman-teman yang menyemangati.
Siang hari jenazah dikebumikan. Setelah pulang dari pemakaman, Vino mendatangi Langit, kembali mengucapkan semua akan baik-baik saja, ia hanya perlu berdamai dengan kondisi agar semua cepat pulih.
"Jangan sungkan ngehubungi gue sama anak-anak, Lang. Kalo lo ngerasa sepi disini, lo datang aja ke rumah gue atau yang lain, kita pasti terbuka kok," ujar Vino.
"Iya, anggep aja rumah lo sendiri Lang, jangan sungkan buat cerita-cerita ya bro?" Iqbal berujar.
"Thanks ya, udah nemenin dari semalem sampe sekarang, kalian pulang aja. Toh, gue juga udah biasa di tinggal pergi nyokap. Kalo ada apa-apa gue pasti ngomong ke kalian,"
"Iya udah, lo jangan sedih-sedih mulu lo, kayak gak Langit yang gue kenal tau gak?, intinya semangat ya? kalo lo laper dateng aja ke rumah gue" Don Don ikutan berbicara.
"Iya, paling kalo gue ke rumah lo, paling juga makanan udah abis semua lo makan," Langit mencoba mencairkan suasana.
"Apaan sih lo, anjir. Malah ngelawak, orang lagi serius juga dasar," balasan dari Don Don membuat semua orang disana tertawa.
__ADS_1
"Eh, btw makasih, Athaya sama Iva, kalau bukan karena kalian mungkin nyokap gue lama ketemunya, makasih ya? sori baru ngucapin,"
Langit menjabat tangan Athaya dan Iva, setelahnya Iva berujar "iya, sama-sama udah takdirnya kayak gini kok, lo yang sabar aja ya?"
"Pasti," jawab Langit.
"Kalo ada apa-apa hubungi gue gak masalah, kalo gue bisa bantu pasti gue bantu kok," balas Athaya.
"Ya udah kalian pada balik sana, udah hampir sore, mendung juga ntar hujan loh" ucap Langit.
Semua mengangguk "Gue pulang ya?" Damar bersalaman singkat pada Langit dilanjut yang lainnya, sebelum satu persatu diantaranya pulang ke rumah masing-masing.
...--...
Dua minggu setelahnya, keadaan berangsur normal, dukungan banyak berdatangan dari teman maupun keluarga jauh untuk Langit, biarpun sekarang sering murung dan tak sereceh biasanya.
Selesai mata pelajaran terakhir, Langit membereskan buku-bukunya dan bersiap pulang, saat ia memasuki lorong anak-anak IPA, dari arah depan ia melihat Athaya dan Ivana yang sedang berbincang-bincang di depan kelas.
Tak banyak waktu yang ia ambil untuk melihat adegan itu, ia hanya berfikir sejenak—pikiran yang hanya dia dan tuhan saja yang tahu, beberapa detik setelahnya ia berpaling mengambil jalan pulang lewat belakang.
Ia tak dendam pada siapapun, otaknya yang ia rasa kecil itu hanya mencerna, kejadian-kejadian yang runtut dan bersambung semenjak Athaya datang ke sini. Ia tak ingin terjerumus dalam pikiran bodohnya yang menuduh sana sini.
"Jadi gitu?"
"Iya, Ath. Aneh gak sih? gue gak ngerasa bikin salah apapun,"
Ivana menyandarkan punggungnya di tembok depan kelasnya, ia sibuk memikirkan sikap Mentari yang agak aneh, tak banyak memang, tapi itu cukup membuatnya kepikiran.
"Lo gak bilang kalo kita pacaran kan?"
"Jangan keras-keras, Ath." ucap Ivana berbisik.
"Iyaaa, lagian kagak ada orang kok," Athaya menepuk-nepuk bagian sepatunya pelan, sebelum kembali bicara, "ya udah sih, balik yuk" Athaya mengulurkan tangannya ke arah Ivana.
Gadis itu menengok kiri kanan sebelum dengan malu-malu membalas uluran Athaya.
Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang ada di sana, meski Ivana masih agak kaku dan gugup, Athaya yang pembawaannya humoris dan ramah membuatnya sedikit terhibur.
"Bisa gak?"
Athaya bertanya saat melihat Ivana yang agak kesusahan memakai helm nya, saat semua sudah terpasang rapi, Athaya meninggalkan area sekolah itu dengan motor yang ia kendarai pelan, sesekali bercerita dengan Ivana tentang hari ini.
...--...
"Kok gue kelihatan egois banget ya?" di kamarnya Mentari merenung, teringat akhir-akhir ini terlihat Mentari yang sedang kesal dengan Ivana.
Saat ia merenung, dari arah meja belajarnya, ponselnya berbunyi tertera jelas nama Langit disana, ia mengernyit, ada apa tiba-tiba ia menelpon malam-malam begini, tak biasanya.
"Halo?"
"Tari, ini Langit"
"Iya, Lang. Tumben nelpon gue, ada apa?"
__ADS_1
"Nggak, gue cuman mau nanya dikit ke lo, gak apa-apa kan?"
"Tentang apa?"
"Tentang Athaya sama... Ivana"
Mentari mengambil nafas panjang sebentar, kenapa tiba-tiba ia bertanya tentang mereka? bukannya Athaya sekarang malah dekat dengan Vino?.
"Iya, boleh, tanya apa?"
"Mereka akhir-akhir ini lagi deket ya?"
"Menurut gue sih kayak gitu, cuman gak tau deh, soalnya Ivana itu susah banget di deketin cowo,"
"Oh iya?"
"Iya, dari SMP malah, banyak yang suka dia tapi gak ada yang berani deketin. Gak tau deh, mungkin aura Ivana itu serem kali ya?"
Langit menyimak dari seberang, ia mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, sedikit tertawa saat Tari berbicara bagian itu, pantesan si Asep susah deketin Ivana! Batinnya menyimpulkan.
"Gitu ya? kok akhir-akhir ini mereka gue lihat sering deket?"
"Sebenarnya Lang, Ivana itu temen SMP nya Athaya, sampe pacaran malah katanya,"
Rupanya yang dikatakan Iqbal benar! Mereka pernah kenal dan dekat saat SMP oleh karena itulah, Athaya bisa langsung cepat berkomunikasi dengan Ivana.
"Kalo latar belakang keluarganya Athaya lo tau gak?"
"Waduh, kalo itu gue kurang tau ya, Lang. Tapi waktu SMP Iva pernah cerita ke gue kalau Athaya itu yatim,"
"Athaya? yatim?"
"Iya, bokapnya meninggal pas dia masih kecil, dulu gue dikasih tau Iva kayak gitu, cuman gak dari Athaya-nya langsung sih, gue mah percaya aja, biasanya kan orang kalo udah suka dan nyaman semua bakal diceritain kan?"
"Bener, bener. Eh, tapi lo tau gak nama bokapnya Athaya siapa? kali aja tau,"
"Lo gak lagi kenapa-napa kan, Lang?"
Langit agak gelagapan mendengar pertanyaan dari Tari, ia membenarkan posisi duduknya dan kembali bicara, "gak sih, ituuu...eehh...ciwi ciwi kelas gue fans berat Athaya, jadi gue pengen tau aja dari lo gitu,"
"Hahaha...lo lucu tau gak Lang, harusnya yang lebih tau itu lo sama temen-temen lo, kan kalian udah satu sirkel kan?" Mentari agak terkekeh dengan jawaban aneh Langit.
Di seberang sana Langit menepuk jidatnya keras, "lo jangan ngira gue gak normal ya? itu mah cewek-cewek di kelas gue yang nanya soal Athaya,"
"Haha... Iya Lang santai, gue gak serius kok. Tapi, kalau nama bokapnya Athaya sori ya? gue gak tau soal itu, atau gue tanyain ke Athaya besok gimana?"
"Eh, eh, eh gak usah, Tar. Biar gua aja yang tanya besok, thanks ya waktunya?"
"Iya, sama-sama,"
"Ya udah, gue tutup ya?"
"Oke."
__ADS_1
Saat sambungannya tertutup, Langit melemaskan tubuhnya, setelahnya meminum kopi hitam buatan Lina yang tinggal setengah. Beberapa detik kemudian ia menatap atas dan menidurkan tubuhnya di sofa ruang tamu, sepertinya ia akan tidur disana lagi malam ini.
...--...