ATHAYA?

ATHAYA?
69- Kembali Pada Halo Kedua


__ADS_3

"Gue dapat!"


Sore setelahnya. Langit tersenyum senang saat berhasil mendapatkan lokasi Iqbal, dia sengaja menghubungi Iqbal untuk tau dimana lokasi telepon itu terhubung. Biarpun dia tahu itu akan lebih mudah apabila bertanya langsung tapi Langit rasa itu akan menimbulkan pertanyaan yang susah untuk di jawab.


"Tempatnya cukup jauh," kata Langit.


Mereka sekarang berada di markas tempat Langit dan anak-anak buahnya biasa bermalam. Tujuannya tak muluk-muluk, ia hanya ingin menyampaikan sesuatu pada Iqbal, setelah itu Iqbal akan memanggil anak-anak yang lainnya dan pasti akan sangat hebat untuk rencana Langit selanjutnya.


"Kalau dia udah ketemu sama Iva, gue harus bilang apa ya?" ucap Tari tiba-tiba.


Langit menoleh. "Tari... Gue bener-bener minta maaf ya?"


Mungkin Langit teringat perbuatannya yang hampir gila itu, jujur saja setiap kali Tari melihat wajah Langit terdapat rasa takut tersendiri, karena kejadian itu benar-benar membuatnya trauma.


"Gue... Nyesel Tar, maaf."


Tari tersenyum tipis, walau di hatinya masih terselip rasa takut, ia tahu. Apalagi melihat mata Langit yang terlihat tulus itu, dia sangat yakin untuk benar-benar memaafkannya.


"Iya, gue maafin."


Langit tersenyum bahagia sebelum melanjutkan. "Makasih Tari,"


Sementara Athaya di sana terlihat memandang lamat-lamat komputer di depan Langit. "Kita bisa langsung nelpon Iqbal dan tanya posisi pastinya dia di mana kan Lang? Kenapa harus pake acara cari-cari lokasi gini?"


Langit menjawab santai. "Bukan karena apa-apa Ath, berhubung masih pagi ayo kita kesana."


Langit memimpin jalan, mereka keluar dari basecamp Langit sebelum dia menaiki motor pergi di susul belakangnya Tari dan Athaya.


...--...


Setelah malam-malam dicurhati Iqbal panjang lebar, Vino nampaknya merasa iba juga dengan laki-laki satu ini.


Terlihat dari nada bicaranya tadi malam sepertinya sudah pasrah dengan perasaannya yang belum apa-apa saja sudah di tolak itu. Iqbal memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta.


Tentu saja Damar dan Don Don menolak keras, tentu saja! Di sini mah enak, hotel bintang empat di bayarin Vino, makan selalu Vino yang bayarin, udaranya segar dan makanan murah plus enak. Vino serasa jadi bank berjalan bagi mereka berdua.


"Lah, masa udah mau nyerah sih Sep!" kata Damar saat dia tahu perjuangan Iqbal di tolak mentah-mentah oleh dunia. Di tempat parkir hotel, mereka mencoba meyakinkan kembali Iqbal.


"Coba lagi dong Sep! Orang batu aja bisa hancur sama air, masa lo ga bisa ngehancurin rasa suka Iva sama si Athaya?" giliran Don Don yang bicara.


"Ayo Sep! Semangat dong. Jangan letoy begitu... Lo kan mantan waketos, masa nyerahan?!"


"Iya nih, gue bantu deh Sep... Mau apa? Dinner romantis? Yauda deh, nanti kita-kita buat acaranya. Paling romantis deh sampe Iva ikutan melting ntar,"


Mau seluruh dunia mendukung Asep pun kalau dia udah nyerah ya nyerah aja! Itu prinsipnya dan bukan sekedar prinsip biasa.

__ADS_1


"Banyak ngomong lo berdua, kalo kalian mau tetep di sini ya di sini aja, tapi pake duit lo masing-masing," Vino ikutan nimbrung.


"Berisik lo semua tau gak?"


Ketiganya menoleh ke arah Iqbal yang sedang tertunduk lemas, betapa hancurnya hati Iqbal setelah semua pengorbanannya untuk bertemu Iva langsung patah begitu saja.


Vino, Don Don dan Damar menatap ngeri, lihatlah mata si Asep itu! Seperti orang tak pernah tidur selama dua minggu. Badannya letih, lesu, lemes, lunglai seperti tak punya tenaga untuk hidup. Badannya tercium aroma-aroma kegagalan yang semrawut, astaga Iqbal! Lo gak mandi?!


"Lo percaya cinta itu membunuh gak Vin?" tanya Don Don.


"Awalnya gue gak percaya tapi pas lihat kelakuan si Asep jadi begitu gue yakin seratus persen kalo itu bener,"


Barang sudah siap di angkut dan di bawa pulang. Tapi orang yang dari tadi pagi koar-koar di grub malah merenung seakan tak ingin beranjak. Untung saja Don Don dan Damar pinter.


"Tenang Vin, gue sama Damar udah ada rencana bagus kok,"


"Rencana apa?"


"Ntar juga lo tahu," Damar dan Don Don saling berbalas menaikkan alisnya, membuat Vino mengecap karena lagi-lagi tak tahu apa yang dia rencanakan.


"Nah, tuh orangnya datang,"


Mereka berempat menoleh hampir bersamaan ketika sebuah mobil melaju mendekati mereka. Apalagi Iqbal, gak usah di tanya, terkejutnya bukan main!


"Bal? Kalian mau balik?" sosok Ivana muncul setelahnya, dengan cepat menghampiri mereka yang sudah siap untuk pergi.


Vino menatap Damar dan Don Don bergantian sebelum menghadiahi mereka sebuah jempol tanda mengapresiasi.


"Lo kok bisa sampai sini?" Iqbal bertanya.


"Iya, lo mau balik pada gak bilang gue ya? Parah lo!"


Iqbal mengalihkan pandangan pada tiga orang di belakangnya, perasaannya mengatakan kalau tiga orang kampret di belakangnya ini adalah dalang dari datangnya Iva kesini.


"Emang harus balik cepet banget ya, Vin?" tanya Iva pada Vino.


"Kita-kita mah sebenarnya santai Va. Tuh orang di depan lo, ngebet banget pen pulang,"


Iva berganti menatap Iqbal. "Ada apa kok cepet banget Bal? Ada urusan mendadak ya?"


Iqbal mencoba membalasnya santai. "Nggak kok, cuman nyokap gue telfon terus dari kemarin,"


Jika berhubungan dengan orang tua, Iva tak berani berkomentar lebih, ia hanya menyayangkan saja. Tak bisa dipungkiri kalau Iva masih ingin melepas rindu dengan teman-temannya, tapi bagaimanapun juga dia tidak bisa egois untuk menginginkan mereka tetap tinggal.


"Oh, nyokap nyuruh pulang ya? Ya udah. Salam buat mereka ya?"

__ADS_1


Iva menatap satu persatu mereka. Entah kenapa dalam kondisi begini malah ia ingin Ivana menahannya untuk tidak pulang. Namun, pikirannya itu cepat-cepat dia tepis saat bayang-bayang ucapan Iva kemarin muncul kembali.


Ia harus sadar, bahwa bukan Iqbal yang Iva inginkan.


"Hati-hati ya?"


Bahkan Vino dan dua curutnya sekalipun, hilang sudah harapan terakhir mereka untuk tetap tinggal lebih lama, padahal Don Don dan Damar sudah seratus persen yakin kalau Iqbal nantinya akan luluh dengan Iva, namun nyatanya tidak. Sepertinya Iva sudah benar-benar dilupakan.


Saat suara mereka mengiyakan, dari arah berlawanan dari mereka berdiri, dua buah motor melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah mereka. Awalnya tak sadar tapi saat Vino melihat dua wajah yang tak asing pikirannya langsung bertanya-tanya siapa.


Meski begitu, sebuah pertemuan akan terasa manis ketika sudah pernah berada pada kondisi yang sulit. Kondisi dimana ego saling mengadu gagasan untuk saling memenangkan argumen masing-masing. Disaat semua berubah karena kesalahpahaman, ego, cinta buta, dan sifat plinplan yang katanya sering terjadi pada anak muda.


Langit, Athaya dan Tari yang membonceng pada Athaya terlebih dahulu terpaku. Ada banyak kejanggalan ketika Ivana pertama kali melihat ketiga orang itu.


Mereka tak asing. Hanya ada yang berubah. Ketika yang perempuan turun dari motor sang kekasih dan melihat seorang yang dulu sangat disayanginya berdiri di hadapannya, tak banyak hal yang di ucapkan.


Bahkan untuk sekedar bertegur sapa.


Pun begitu. Ketika seorang Iqbal, Vino, Brandon, dan Damar melihat kearah seorang lelaki tirus dan jangkung di hadapannya. Berbagai pertanyaan muncul tentang siapa gerangan orang yang mempunyai rambut agak panjang namun terlihat familiar itu.


Hati Ivana terasa bergetar. Apalagi dari arah belakang gadis itu berdiri. Suara yang dia yakini suara Vino itu memanggil nama yang sudah jarang ia ucapkan.


"Langit...?"


Yang di panggil mendekat. Pun sama seperti yang lain, ia tak menyangka kalau akan bertemu dengan Vino dan yang lain juga, karena dia tak tahu, tak tahu kalau sebenarnya semua sahabatnya berada satu kota dengannya.


"Lang! Ya ampun Lang!" Damar ikut mendekat pada Langit disusul Don Don dan Iqbal, awalnya mereka saling berhadapan, dan saat Langit tersenyum untuk beberapa detik saja sebelum berubah jadi tangisan, rasa hangat muncul antara keempatnya saat rindu yang telah lama terpendam mulai menguap perlahan.


Dia bukan seperti Langit yang dulu, sekarang kurus dan tirus. Mereka tak mengucap apapun lagi kecuali beberapa dari mereka mengelu-elukan nama Langit akibat lama tak jumpa.


Tiga orang setelahnya saling bertatap. Ivana mulai berfikir lebih jauh dari pada sebelum-sebelumnya. Pertama kali dalam satu tahun dia menghilang, ia melihat tangan yang bergandeng erat di depannya untuk waktu yang cukup lama.


Mentari lebih sempurna sekarang. Dia tinggi, cantik, lebih sempurna dan menawan ketimbang dirinya, dan lihatlah Athaya itu! Semakin tampan saat menghabiskan waktu bersama Mentari.


Iva membalikkan badan, rasa ingin bertemu seketika hilang saat melihat pemandangan yang ada. Dua langkah setelahnya, dia sedikit oleng ketika suatu pelukan menjalar di tubuhnya sebelum suara tangisan seseorang membuat hatinya ikut sesak.


"Va... Maafin gue,"


Tari memeluk erat Ivana. Gadis itu meneteskan air mata bingung, tak tahu apa yang harus di lakukan, semua terjadi begitu cepat.


Semua kenangannya bersama Tari dan semua mimpi buruknya bersama Tari. Dia yang merebut Athaya dari pelukan Ivana. Dia yang membuat Athaya meninggalkannya, Tari yang telah mengkhianatinya hingga membuat Ivana hancur sehancur hancurnya.


"Maafin gue,"


Iva, apa kau tak ingin balas memeluk?

__ADS_1


__ADS_2