ATHAYA?

ATHAYA?
37-Satu Waktu


__ADS_3

"Gue ngajak kesini cuma mau minta tolong lo buat nyimpen ini," dari saku celananya Langit mengeluarkan sebuah kunci ruangan berwarna silver yang sudah agak berkarat. Ivana mengerutkan dahi sebelum perlahan menerimanya


"Kunci apa nih?"


"Kamar nyokap gue, Va. Gue minta tolong ya, buat jaga kunci itu, karena setiap hari gue gak mau terus-terusan bolak-balik ke kamar nyokap, itu malah bikin gua susah lupa, Va."


Ivana menatap kunci itu lekat-lekat, setelahnya Langit melanjutkan "gue bakal seneng banget kalau gue bisa sedikit demi sedikit ngelupain kejadian ini dengan nggak masuk kamarnya terus, nanti kalau gue udah terbiasa, gue ambil kunci itu lagi,"


Ivana tersenyum "oh, ya udah gak apa-apa kok Lang, kalo itu bikin lo terbiasa sama keadaan, gue bakal jaga kunci ini baik-baik,"


"Jadi soal kunci itu?" Ivana membalas dengan nada tak percaya. Ia tak akan mau terjebak dalam permainan busuk Langit.


"Apa yang lo harap dari gue? masalah kunci itu gak akan bisa bikin mereka percaya. Jangan fitnah gue!" Ivana sedikit membentak.


"Kunci apa sih Va?" Athaya bertanya dengan nada agak kasar, saat Iva menoleh ia melihat mata Athaya yang seakan memiliki amarah yang berkobar.


"Itu...yang Langit bilang-, nggak Ath! dulu Langit pernah nitipin kunci ke gue dan bilang kalo itu kunci rumah di kamar nyokapnya, dia suruh gue buat simpen itu,"


"Dimana benda itu sekarang?" tanya Athaya.


"Di tas gue." Ivana menatap yakin.


"Ambil Don," Don Don yang biasanya ogah-ogahan kalau disuruh Vino berubah menjadi penurut. Ini bukan waktunya untuk berdebat, maka ia langsung mengambil langkah cepat meninggalkan gudang itu.


"Haha...Va...Va...lo ngomong kayak gitu sama aja lo membenarkan tuduhan gue," Langit masih memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Kalo seandainya kunci itu bisa membuka pintu itu," Langit menunjuk pintu yang sudah rusak akibat ulah Athaya tadi, "berarti gue bener dong? karena gue juga punya bukti lagi,"


Langit membuka ponselnya yang ia kantongi dari tadi, kacanya hampir pecah karena bentrokan tadi.


Ia sedikit mengotak-atik sebelum lagi-lagi foto terpampang jelas disana.


"Ini lo pas janjian sama gue buat rencana ini," semua yang ada di ruangan itu menatapnya serius. Dan benar saja, disana terlihat Ivana dan Langit yang tengah berhadapan seperti merencanakan sesuatu.


"Lo pikir gue bakal percaya sama foto bodoh kayak gini?" Iqbal berucap dengan nada dingin.


Langit memiringkan mulutnya sinis, sebelum kembali menunjukkan sesuatu.

__ADS_1


"Oke, gue bakal ikut cara lo. Gue benci banget sama Mentari, dia udah rebut Athaya dari gue, dan sekarang gue pengen bales dendam sama dia,"


Rekaman suara menunjukkan semua, pegangan tangan erat dari Ivana ke Tari perlahan dilepas, kini Tari menatapnya tajam.


"See? Gua gak bohong," Iva menggeleng, itu bukan ia yang berbicara, memang dari caranya berbicara, nada dan suara sangat mirip. Ia hanya mampu menggeleng.


"Demi tuhan! gue gak pernah ngomong sampah kayak gitu!"


"Terus ini apa? udah lah Va...gak usah sok lugu dan gak peduli apa yang kita lakuin...biar mereka semua tau, sifat asli lo itu kayak gimana," Langit berbicara santai


"Plis Tar...jangan percaya, itu semua bohong...gue gak mungkin ngelakuin itu ke lo, kita sahabatan kan?"


Tari sama sekali tak menjawab, saat Iva berusaha melakukan pembelaan dari arah luar Don Don yang membawa tas milik Ivana, memandang tak percaya.


Dua detik setelah kedatangannya ia merogoh salah satu tempat di tas itu dan menemukan kunci perak yang berkarat. Don Don mendekati pintu rusak—memasukkan ujung kunci itu di tempatnya. Tak lama setelahnya terdengar bunyi klik! yang menandakan bahwa Langit sedang tak berbohong.


"Gue difitnah Tar! gue gak mungkin ngelakuin itu...percaya sama gue, ini cuma akal-akalannya Langit doang," Iva mencoba membela diri.


"Tapi tadi gue lihat dengan mata kepala gue sendiri lo sendiri yang ngunciin gue disini, Va." mata Tari berkaca-kaca, menatap sahabatnya tak percaya.


"Lo nggak percaya sama gue? kita sahabatan lama Tar! dan lo lebih memilih orang itu dari pada gue?" Iva menunjuk dirinya sendiri, "gue difitnah..."


"Apa rencana lo bangsat!"


"Gua pengen lo hancur! sama kayak gue! karena lo nyokap gua mati..." Langit agak terisak. Ia mundur perlahan, sementara Ivana terus saja melontarkan kalimat demi kalimat pembelaannya—tandanya tak bersalah.


Langit punya rasa dendam tinggi. Sama seperti namanya. Tinggi. Ia harus bisa menguasai semuanya, dan saat dia tahu kebenaran masa lalu keluarganya ia punya kemauan tinggi untuk bisa membalaskan perasaan yang sama pada orang yang telah menyakitinya.


Athaya adalah orang yang mencintai dua wanita sekaligus, dan Tari adalah sasaran empuk penghancur mental Athaya, apalagi saat ia tahu kalau kekasih yang begitu ia sayangi terlibat didalamnya.


Ini baru permulaan, akan ia buat Athaya merasakan hebatnya rasa bersalah dalam hidup. Karena sekali lagi Langit tak main-main untuk urusan begini.


"Apa yang lo mau?"


Membuat orang sekitar terpecah belah seperti keluarganya adalah kemauan terkuatnya, dengan ini ia tahu—mungkin pertemanannya dengan Vino dan teman-temannya sudah lenyap, tapu ia juga tahu pertemanan diantara kelimanya juga ikut lenyap.


Suara tamparan memecah keheningan dari dalam gudang, amarah Tari meluap, orang yang ia percaya sebagai sahabatnya ternyata punya maksud licik didalamnya.

__ADS_1


"Cuma karena Athaya lo gini ke gue," ucap Tari tenang namun mengintimidasi.


"Apa yang lo maksud tentang Athaya? kurang baik apa gue sama lo Tari?!" Ivana memekik dengan rasa panas yang menjalar di wajahnya.


"Lo terlibat disini!"


"Gua gak terlibat apapun!"


"Semua bukti jelas Va!"


"Jangan bodoh Tar!"


Dara dan Arini menengahi. Disana Langit maju beberapa langkah—mendekati Ivana yang tertunduk, ia mencengkram bahunya keras, lalu memekik.


"Rencana kita berhasil Va!"


"Kurang ajar lo!" Iqbal menendang punggung belakang Langit yang membuatnya terjengkang, perkelahian antara Iqbal dan Langit tak dapat dihindari.


Ia tak sudi Ivana dipegang oleh Langit, banyak pukulan terjadi, luka lebam di tubuh keduanya tak terasa apapun, begitupun mereka yang meneriaki—tak ada ucapan yang digubris.


"Jauhin tangan lo dari Ivana!" pekik Iqbal.


"Jangan goblok! Ivana bukan punya lo!" Langit menyambung, "jangan terlalu besar mencintai seseorang! lo buta njing! harusnya yang gak terima itu Athaya, bukan lo!"


"Cukup!"


Teriakan seseorang menghentikan pertikaian kedua orang itu. Seorang guru bertubuh tegap berdiri di ambang pintu, dibelakangnya para siswa-siswi SMA Dharma Bhakti menyaksikan pertengkaran mereka.


Iqbal melepaskan cekalan tangannya pada Langit. Suara heboh terdengar dari arah luar—beberapa berteriak atas kekacauan yang terjadi. Iqbal yang biasanya terlihat rapi kini berpenampilan ugal-ugalan, pun yang lainnya.


Guru itu menarik krah baju masing-masing dan menampar Iqbal dan Langit dengan keras, semua menahan nafas ketika suara tamparan itu terdengar di ruang hening.


"Mau jadi preman kalian?! ke kantor kepsek sekarang!" guru mendorong kasar Iqbal dan Langit—menyuruh mereka pergi di ruang guru.


Mereka menurut, sebelum Iqbal benar-benar pergi ia sempat melirik ke arah Ivana, ia terkejut melihat ekspresi wajahnya yang ketakutan melihatnya.


Iqbal baru saja menyadari sesuatu. Ia hilang kendali. Semua memandangnya takut, lebam yang tersebar di area wajah, hidungnya yang sedikit mengeluarkan darah. Mereka berjalan pincang melewati puluhan siswa-siswi yang menyaksikan dari luar gudang.

__ADS_1


Kali ini ia tak mampu mengendalikan emosinya.


__ADS_2