
Damar yang baru masuk kelas langsung menyenderkan dirinya ke badan Don Don, membuat orang itu menyipitkan matanya—pagi pagi udah lemes.
"Gue kemarin chat Vino tapi kagak ada balesan gimana ya?" ujar Damar lesu.
"Ya elah, lo kayak gak tau dia aja kalo lagi kepikiran sesuatu cuek nya kayak apa," jawab Don Don.
"Gue sebenarnya mau hubungin Langit, tapi gue takut," Damar menutup matanya pelan.
"Dih, kenapa lo takut coba?" Damar yang semula menyender langsung menegakkan punggungnya mendengar pernyataan Don Don.
"Lo gak kaget lihat dia begitu kemaren? sumpah Langit beda banget ***, kenapa dia tiba-tiba kepikiran kayak gitu coba? dia bukan Langit yang kita kenal," Damar bercerita dengan nada meyakinkan.
"Iya juga sih, kemaren gue denger-denger dia mau dikeluarin dari sekolah?" Don Don berujar lesu.
"Jujur, Dam. Gue kemaren chat dia, tapi gak dibales sama dia, gue kaget banget sikapnya begitu ke gua, padahal gue gak ada sangkut pautnya sama masalah ini kan?" Don Don melirik Damar.
"Dia bermasalah sama Athaya. Ternyata dia ada hubungan darah sama Langit," ujar Damar
"Gue belum pasti tau apa masalahnya secara detail. Tapi, gue yakin pasti ada titik terang nya,"
"Kita temuin mereka aja gimana? mulai dari Vino,"
Don Don menatap tak yakin Damar, hatinya bergejolak, mengapa harus ada masalah seperti ini yang membuat mereka saling menjauh tanpa alasan yang jelas?
...--...
"Vino?"
Vino yang sedang berjalan dengan Arini di kejutkan dengan suara seorang perempuan, orang itu adalah Anggi—ibu Iqbal.
"Tante Anggi? apa kabar tante?" sapa Vino balik.
"Tante baik, siapa ini cantik banget?" Anggi tersenyum melihat Arini, cewek itu menyalami Anggi seperti Vino, gadis itu mengangguk singkat lalu berucap terima kasih.
"Haha...sayangnya Vino tante hehe... namanya Arini" Vino menjawab dengan sedikit tertawa, membuat Arini menyikut tangan Vino malu.
"Wah cantik banget, kenalin saya ibunya Iqbal, panggil aja tante Anggi," perempuan itu tersenyum kembali, dia memang sangat ramah kepada siapapun.
"Iqbal gimana tante?" tanya Vino hati-hati.
"Dia diskors, ini tante mau menghadap kepala sekolah dulu, semoga aja semua baik-baik aja ya?" jawab Anggi tenang.
"Iya tante, semoga ya," Arini menjawab halus. Setelahnya mereka pamit untuk untuk ke kelas.
"Lihat apa ma?" dari belakang Vito menyahut Anggi yang sedang menatap kepergian Vino dan Arini.
"Kenapa Iqbal gak pernah bawa pacarnya ke rumah ya pa?" Vito tertawa singkat, "anakmu itu gengsinya gede, sama kayak kamu haha..."
Anggi mencabik sebelum meninggalkan Vito menuju ruang kepala sekolah sambil tertawa kecil.
Setelah sampai di depan kelas Arini, Vino berhenti sejenak untuk menyisir rambut Arini, gadis itu agak melotot karena malu dilihat siswi lain.
"Apa sih Vin, malu," katanya.
"Hehe... hati-hati ya dikelas," balas Vino, "okay, kamu juga hati-hati ya dikelas," Arini membalas.
"Siap, saya akan selalu hati-hati tuan putri, sana gih masuk kelas,"
Arini melambaikan tangannya sambil melangkahkan kakinya menjauh, saat ia sudah sampai ke dalam kelas, Vino mendengar suara langkah.
Ia menoleh dan menemukan Athaya dengan tas yang bertengger di punggungnya, Athaya juga diam saat Vino menatapnya tajam.
Entah mengapa Vino sekarang menjadi kurang nyaman terhadap Athaya, ia mengalihkan pandangan, namun netranya tidak sengaja menemukan sosok Mentari yang sedang duduk sendirian di kursi rodanya.
__ADS_1
Gadis itu membaca novel seperti biasa, persis seperti saat ia masih mengejar-ngejar dia beberapa waktu lalu.
Ia berhenti membatin lalu dengan langkah cepat berjalan menuju kelasnya sendirian.
Kelas sudah agak ramai, Vino mendudukkan dirinya ke bangku, hari ini ia sendirian karena Iqbal dalam masa diskors, ia tiba-tiba terpikirkan untuk menghubungi Iqbal—menanyai kabarnya mungkin.
Dari kemarin dia sudah ingin menghubungi teman-temannya satu per satu namun dihatinya masih ada rasa kecewa yang memuncak—jadi ia tahan.
"Kabar lo gimana Bal?" Vino mengirim chat singkat pada Iqbal. Hatinya sedih, tak menyangka kalau akan terjadi kejadian seperti ini.
Kalau saja semua baik-baik saja, mungkin saat ini ia sudah duduk bersebelahan dengan Iqbal dan bercerita panjang lebar tentang hubungan asmaranya dengan Arini, sementara Iqbal hanya membahas seadanya, mungkin sekedar, "ohh...", atau "hm,"
Ting!
Mendengar suara notifikasi, Vino sempat berharap itu balasan dari Iqbal. Namun, ternyata itu adalah pesan dari Don Don.
"Nanti istirahat pertama ngumpul lagi ditempat biasanya ya?"
Vino tersenyum tipis, ia baru ingat kalau ia juga punya teman yang lain, yaitu Damar dan Don Don.
"Oke, nanti gua kesana," ia membalas singkat, bagaimanapun juga mereka adalah sahabat Vino.
...--...
Mentari sebenarnya malu, dari tadi ia hanya membolak balik halaman novelnya, padahal tak ada yang ia baca.
Dari tadi orang-orang yang ada di kelas sibuk menanyainya soal kejadian kemarin, seolah pertanyaan dari mereka itu tak melukai perasaan.
"Tar?" gadis itu menoleh dan menemukan sosok Athaya, ia balik membaca novel—tak peduli.
Athaya tak kehilangan akal, ia duduk di bangku milik Ivana yang kosong, "ini semua salah gue, Tar. Gua seharusnya bisa urus masalah gue sendiri, karena gue lo malah ikut jadi korbannya,"
Tari tak menjawab, "maaf Tar, gue janji bakal usut tuntas masalah ini. Gue tau lo trauma, maaf ya?"
"Tapi-"
"Pergi atau gue koar-koar ke teman-teman yang lain kalau lo juga ada sangkut pautnya sama kejadian ini?" Tari melirik tajam yang mampu membuat nyali Athaya menciut.
Ia berdiri kecewa, lalu melangkahkan kaki nya menuju bangkunya sendiri.
"Besok malam temuin gue di jalan Remanggi, gue mau ngomong empat mata sama lo, berdua aja,"
Kata-kata Langit semalam jelas terngiang di kepalanya, ia tidak sabar akan fakta apa yang akan cowok itu jelaskan padanya nanti malam.
...--...
Beberapa tahun yang lalu.
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang, tengah membelah jalanan ibu kota, saat itu usia athaya baru menginjak satu tahun, dan mereka baru saja beberapa hari berada di Jakarta.
"Jakarta ramai ya mas?" ibu muda bernama Zahra itu berbinar matanya melihat cahaya lampu di sepanjang jalan. Suasana saat itu ramai lancar, Rahsya mengeraskan musik di mobilnya—menikmati musik yang ada.
"Mas, kenapa kamu gak pernah bilang kalo disini indah banget? kalau gitu kenapa nggak dari kita menikah aja pindah ke Jakarta?"
"Kita tunggu waktu yang tepat sayang, lagi pula kalo kayak gini kan kita bisa enak bertiga, ada aku, kamu dan anak kita Athaya," Rahsya mengelus kepala Athaya kecil yang tertidur di pelukan ibunya.
"Kita disini beneran gak ada saudara mas," Zahra melirik ke arah Rahsya.
Pria itu menggeleng, "aku nggak punya siapapun dijakarta. Jadi, bener kan? kemarin kalau kita kesini setelah menikah, nanti kalau aku lembur gimana? kamu bisa sendirian gak ada temennya," balas Rahsya.
"Ohh...jadi itu alasannya?"
"Iya dong,"
__ADS_1
Mobil silver itu masih melaju. Zahra dari beberapa menit lalu juga sudah terlihat terlelap, Rahsya mengecilkan volume musiknya, supaya mereka tak terlalu bising.
Namun, tak lerlu waktu lama, Rahsya menegakkan punggungnya ketika ia melihat dari belakang ada segerombolan orang-orang mengejarnya dengan motor masing-masing.
Rahsya sempat panik, ialu menekan laju mobilnya, ia panik. Mobilnya yak sengaja memasuki sebuah arah yang ia sendiri tak tahu dimana.
Ia sudah lama tak kesini, bebebrapa ia sudah lupa dengan rute perjalanan, namun ia masih yakin bahwa rute ini adalah jalan yang benar menuju keramaian kembali.
"Turun lo!"
Mobil Rahsya dilempar sebuah balok kayu besar dari samping hingga membuat Zahra dan putranya bangun.
"Ada apa mas?"
"Preman ngejar-ngejar kita," ucap Rahsya dengan nada bergetar.
"Mas aku takut," Zahra melirih ketakutan sambil memeluk Athaya erat. Rahsya tak menjawab ia mencoba fokus untuk jalanan di depannya.
Namun, tidak semudah itu baginya untuk melarikan diri. Segerombolan orang bermotor itu memberhentikan paksa mobil yang ditunggangi Rahsya, mereka memaksa Rahsya untuk turun.
"Turun kau Rahsya! atau kami bakar mobilmu ini bersama kau dan anak istrimu!"
Pekikan dari luar sontak membuat Rahsya gemetaran, ia tidak ingin keluarganya kena imbasnya.
"Jangan keluar mas..." tangis Zahra sudah tak terbendung lagi, ia menahan tangan suaminya agar tidak mendengarkan mereka.
"Kami akan benar-benar membakar mobil ini jika kau nggak segera keluar Rahsya! ingat janji-janji dan sumpah-sumpahmu!" pekik salah satu rombongan itu.
"Aku harus keluar sayang,"
"Jangan!"
Rahsya memberanikan diri untuk keluar dari mobil, bagaimanapun juga dosa-dosa di masa lalunya harus ia tunaikan—setidaknya tidak sekarang.
"Tunggu kalian, kita bisa bicara baik-baik," Rahsya mencoba menawar.
"Kau sudah keterlaluan, kami dan bos sudah tidak perlu janji-janji mu itu lagi. Hajar dia!"
Rombongan itu menghajar Rahsya dengan membabi buta, istrinya menangis meminta tolong disana, walaupun sudah pasti tak akan ada yang mendengar.
Anak di gendongannya pun menangis juga, Zahra berteriak ketakutan, disana—ditengah tengah perkumpulan itu suaminya tak lagi kelihatan, sampai ia lemas sendiri saat melihat balok kayu terpental jauh dengan noda darah yang banyak disana.
"Mas Rahsya!" Dia mencari bantuan dengan mengklakson mobil itu berkali-kali—berharap ada yang mendengar.
"Mas Rahsya..." ia makin terisak ketika netranya melihat tubuh Rahsya tergeletak mengenaskan di jalanan dengan luka-luka parah.
Bahkan ia mencoba untuk turun dari mobil, tapi ia urungkan karena saat ini Athaya dalam gendongannya, jangan sampai dia juga terkena amukan itu.
Salah satu orang menghampiri mobil Zahra, lantas wanita itu segera menguncinya, ia menghubungi nomor darurat segera, sambil terus berdoa semoga ia dan anaknya baik saja.
"Buka pintunya! atau mau gue pecahin ini!" teriaknya dari luar. Zahra menangis sambil terus menghubungi nomor yang ada.
Dan berakhirlah beberapa menit ia terkurung disana sebelum kepolisian datang menyergap, rombongan itu berhasil kabur dan dalam kejaran polisi, mereka masuk ke hutan entah sampai dimana.
Dan Rahsya, ia mati. Meninggalkan istri dan anaknya seorang, motif dari pengeroyokan ini belum diketahui. Lama kelamaan hilang ditelan waktu, sesuatu yang diingat Zahra hanya pekikan dari salah satu rombongan itu.
"Ingat janji-janji dan sumpah-sumpahmu!"
Zahra menutup mini album peninggalan suaminya pelan, kembali meneteskan air mata.
"Janji dan sumpah apa yang kamu buat mas?" lirih Zahra.
...--...
__ADS_1