
Awalnya Vino hanya menganggap bahwa pernyataan yang ia lontarkan hanya sebatas pemberitahuan yang fifty fifty pentingnya. Tapi, saat Vino mulai menceritakan satu per satu rentetan kejadian dua hari lepas, satu persatu pula bulir bening membanjiri pipi Don Don serta Damar.
"Gue bukan lagi cerita sedih-sedih ya?" Vino mencoba menenangkan mereka dengan caranya sendiri.
Damar menormalkan nafasnya yang tersengal lalu menepuk pundak Vino tegas, "Respect bro,"
Sebetulnya bukan dari gaya bercerita Vino yang membuat mereka berdua sedih, tapi kisahnya itu lho, bikin mewek! Ternyata Iqbal masih se-setia itu dengan Ivana, walau gadis itu sadar atau tidak.
"Sedih anjir..." Don Don mengusap air matanya haru.
"Dih, ngapain lu?" Vino yang baru saja menyeruput kopi putihnya menatap aneh Don Don, yang tak di jawab oleh pria itu.
"Harusnya kita sebagai sahabat bisa peka, eh... ternyata selama ini si Asep masih nyari keberadaan Iva, gitu,"
Sumpah! Vino berani jamin, jika Iqbal alias Asep itu tahu perangai teman-temannya yang super lebay ini, ia yakin Asep bakal muntah di tempat.
"Kenapa Asep gak bilang kita ya?" Don Don ikutan menarik ke dalam ingusnya yang hampir keluar.
"Buat apa ngasih tau, dia kan sok sokan mau nyari sendiri, feeling gue dia gak punya partner buat nyari Iva, tuh anak pinter tapi bloon. Dia kira kota segede ini sekolah cuma satu?"
"Terus habis ini kita ngapain Vin?" tanya Damar lagi.
"Nyari hotel," ucap Vino sembari berdiri.
Damar menaikkan satu alisnya, "wah wah wah jangan macem macem lo, mau apa?"
Tau apa yang di maksud Damar, pria bertubuh jangkung itu langsung menoyor kepala Damar hingga membuatnya oleng, "Pikiran lo di bersihin noh! Najis!"
Damar mengecap keras di sana, hellooo dia bercanda kali!
"Ayo cepetan, nanti gue kasih tau lagi."
...--...
Tengah hari...
Mereka memutuskan untuk perlahan-lahan mengungkap tapi pasti. Di sana, di tempat makan hotel yang mereka tinggali Tari hanya fokus pada makanannya. Hal itu tak luput dari perhatian Athaya yang notabene adalah kekasihnya.
Awalnya Athaya mengira bahwa itu adalah reaksinya ketika merindukan seseorang. Ia tahu betul akhir-akhir ini dia di bayang bayangi kerinduan terhadap sahabatnya Ivana yang sudah lama lost contact.
"Kamu kenapa sih?"
"Cerita sama aku," Athaya menyambung kalimatnya barusan.
"Aku ga papa," balas Tari lemah.
"Bohong. Tari jujur sama aku, sabar... kita pasti bisa ketemu Ivana,"
__ADS_1
Tari selanjutnya menyapu pandangan Athaya terhadap dirinya. Di tataplah manik coklat yang penuh rasa tulus itu sambil ia ragu ragu mau untuk menyampaikan beberapa kata yang ia yakini akan sedikit melukai perasaannya.
"Athaya inget sama perkataan Langit satu tahun lalu?"
Athaya menaikkan satu alisnya, ia menelan makanannya sebelum menatap hangat mata Tari— seakan tahu ada hal penting yang akan ia katakan.
"Aku gak tau Athaya, intinya masalah yang nimpa kamu setahun lalu, tentang... maaf ayah kamu itu Ath,"
Athaya sudah pernah membahas ini berulang kali di kepalanya, dan berulang kali juga ia bertindak seolah tak ada suatu kejadian yang menimpa.
"Apa kamu gak ada rasa penasaran sama cerita itu? Lalu soal jawaban dari ibu kamu itu, apa kamu gak penasaran siapa yang bikin ayah kamu sampai dia, maaf... dibunuh?"
"Nanti kita bahas lagi ya Tar? Kita makan dulu aja,"
Seketika Mentari merasakan sesuatu yang mengganjal pikirannya semakin menjadi. Tetapi saat ia melihat wajah Athaya yang seperti berubah nelangsa ia langsung tunduk.
Tak seharusnya membahas pertanyaan yang terlalu berbobot untuk siang hari yang panas ini.
Mereka melanjutkan kembali makan dengan hikmat.
...--...
Dalam sebuah gudang yang penuh debu, ada banyak rahasia yang tersimpan, seorang berbadan jangkung nan kurus terlihat membuka satu persatu berkas yang ada di sana.
Matanya yang satu tak dapat berfungsi baik. Namun, ia cukup jeli dengan mata yang satunya untuk mencari tulisan-tulisan kecil di dalam beberapa dokumen.
"Ada apa bos,"
"Di mana teman-teman lo itu? Jangan sampai mereka kabur karena gagal melaksanakan tugas,"
Pasalnya dari tadi pagi, rombongan yang mengejar Langit dan Aji belum kembali, padahal ada sepuluh orang lebih yang mengejarnya. Namun, sampai sekarang tak kunjung datang juga.
"Cari mereka," jawab orang itu ketus.
"Banyak yang sudah mencarinya bos, mungkin sebentar lagi juga akan pulang,"
Yang di panggil bos itu menoleh dengan mata yang tajam, seakan menembus jantung Kampo (anak buahnya) dalam.
"Cepat bawa mereka,"
"Ta-tapi,"
Bruk!
Keduanya menoleh saat pintu ruang itu terbuka dan menampilkan sepuluh orang yang sama-sama kekar badannya berdiri dengan menunduk.
Tanpa mengucapkan kata lagi, 'bos' itu menghampiri mereka satu persatu, lalu dengan keras memukul mereka. Tanpa terkecuali.
__ADS_1
Beberapa dari mereka langsung mengalami memar di wajah, walau orang itu memukulnya tak terlalu keras, ini membuat mereka jera.
"Menghadap sama saya, jangan kerena kalian gagal, kalian langsung menghilang tanpa alasan jelas. Pengecut."
Mereka hanya diam tak membalas apapun, karena tahu walau proporsi badan mereka tak sepadan, bahkan melebihi 'bos' itu sendiri. Mereka tetap tunduk.
"Salah satu dari pemuda tadi punya wajah yang mirip dengan korban kita kemarin bos,"
Bos tertawa licik, "Kom, Kom... Banyak korban yang berjatuhan di tangan kita, ayolah,"
"Mirip Rahsya Kurniawan Bos,"
Bos itu agak menimang sebentar, "Rahsya Kurniawan..."
Hening menyelimuti selama 10 detik, sebelum bos mengangkat wajahnya angkuh, "Hahaha... siapa dia? Berani beraninya menginjakkan kaki di sini?"
"Kalau mirip, bisa jadi itu anaknya bos," kata Kampo.
"Bawa dia untukku, Rahsya,"
"Gue janji akan bawa dia ke lo,"
"Gue benar-benar cinta sama dia, Rahsya?"
"Akan gue kasih dia buat lo,"
"Orang itu..." bos berbalik badan, mengambil salah satu berkas di sana, bisa-bisanya dia lupa dengan pengkhianat itu.
Kalau benar itu anaknya, berarti...
...--...
Athaya berusaha untuk bersikap biasa saja untuk bisa berfikir lebih baik. Namun, kata-kata yang beberapa jam lalu di lontarkan Mentari membuatnya berfikir keras.
Tak banyak yang di lakukan akhir-akhir ini. Apa mungkin Athaya secuek itu?
"...Yang nimpa kamu setahun lalu, tentang... maaf ayah kamu itu Ath,"
"Apa kamu gak ada rasa penasaran sama cerita itu? Lalu soal jawaban dari ibu kamu itu, apa kamu gak penasaran siapa yang bikin ayah kamu sampai dia, maaf... dibunuh?"
Malam itu adalah malam yang tenang, suara kendaraan berlalu lalang terdengar di bawah sana, sementara ia menghadap laptop untuk mencari tahu sesuatu itu.
Ya, sambil memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut Tari. Tapi memang benar, bukankah duku langit juga sudah pernah bilang kalau ini ada sangkut pautnya dengan Athaya? Apalagi Ayahnya.
Sekarang Athaya benar-benar merasa bodoh, mengapa ia baru memikirkan itu sekarang? Harusnya ia tidak berfikir bodoh begini, karena itu banyak yang jadi korbannya.
Langit?
__ADS_1
Iva?
Tapi yakin mereka korban? Bukankah mereka yang menciptakan kesialan sendiri?