ATHAYA?

ATHAYA?
11-Sedikit Saja


__ADS_3

"Nanti balik sekolah langsung ke lapangan ya?"


Hari ke-2 Athaya bersekolah disini. Sepertinya ia akan lebih bisa beradaptasi lebih cepat dari pada sekolah sebelumnya, apalagi ia ditawari buat ikut main basket dengan klub disini


Hari masih terhitung pagi sejak Athaya datang, masih belum banyak siswa-siswi yang datang, langkahnya perlahan melewati koridor sekolah, sebelum akhirnya berhenti di kelasnya—11 IPA 2


Ia berdiri di ambang pintu tatkala melihat seorang perempuan seusianya sedang duduk sendiri di bangku paling depan, Athaya itu menatap Mentari balik saat gadis itu mengetahui kedatangannya


"Lo Mentari kan?" ucap Athaya masih dengan senyumnya


Yang ditanyai mengangguk sekilas dan membalas senyum, "mau kenalan lagi gak?"


Athaya mendekat dan menjulurkan tangannya pada Tari, "Athaya," lelaki itu memperkenalkan diri padahal dia juga sudah tau kalau Mentari mengenalnya


"Mentari panggil aja Tari," gadis itu membalas uluran tangan Athaya, memang perlu Tari akui bahwa Athaya sekarang berbeda dengan yang dulu, sekarang ia lebih murah senyum dan mempunyai aura yang berwarna, itu menurut Tari


"Kok masih sendiri, Iva belum datang ya?" Athaya menarik kursi di seberang meja Tari. Gadis itu menggeleng sebentar sebelum manjawab  "belum,"


"Lo pindah dari kapan?" Tari membuka obrolan


"Emm...kemarin lusa sih,"


"Nggak capek emang baru balik kesini tapi udah masuk sekolah?"


"Capek lah pasti, tapi ya bagaimana lagi, gue juga gak mau ketinggalan pelajaran disini kan? apalagi sekolah disini beda sama sekolah gue dulu, pasti materinya juga beda kan?"


Tari hanya mengangguk sebelum kembali berujar, "tapi kata Iva kemarin dia ketemu sama lo waktu acara reuni kemarin, emang kamu dateng?"


Athaya mengangguk, "dateng kok, gue juga lihat dia sama lo,"


"Oh pantesan dia waktu itu cerita,"


"Cerita apa?," Athaya menaikkan alisnya sebelah


"Yaah, cerita aja sih kalau katanya dia ketemu sama lo,"


"Dia udah punya gandengan belum sih," Athaya bertanya ragu


"Hm? gandengan? pacar maksudnya? Haha..." Tari agak sedikit terkikik dengan pertanyaan Athaya, sudah pasti Athaya masih menyukai Ivana kalau begini, Tari sangat yakin


"Kenapa lo ketawa?"


"Boro-boro mau punya pacar, Ath. Orang ada cowok yang deketin aja udah mundur duluan karena Ivana tuh mukanya jutek banget," Tari membalas masih dengan terkikik pelan


"Jutek? Orang kayak gitu dibilang jutek?"


"Iya, nggak habis pikir kan lo? makannya jarang ada yang deketin dia. Tapi, kalo lo mau deketin jangan khawatir gue bantu,"


"Ah bisa aja lo,"


"Udahlah gak usah nyembunyiin gitu, jangan lupa gue itu temen Iva dari SD bahkan waktu SMP yang tukang lapor ke guru soal Ivana yang bolak balik ke toilet itu gue, padahal kan ketemuan sama lo,"


"Oh, btw makasih buat yang itu,"


"It's oke. Kalo lo butuh apa-apa apalagi soal gebetin Iva dateng ke gue aja, jalur orang dalam itu jarang gagal," Tari menepuk dadanya pelan agar Athaya percaya pada omongannya

__ADS_1


"Iya deh, tapi jangan bilang-bilang ya?"


Mentari langsung membuat gerakan seolah-olah menutup mulutnya menggunakan raslating—tanda bahwa ia akan menjaga gosip ini matang-matang


Athaya berdiri dari duduknya saat teman-teman sekelasnya mulai berdatangan. Ia duduk di kursinya sendiri sambil bermain ponsel sejenak sebelum teman sebangkunya Arya datang


"Pagi bro,"


Pagi itu mulai terasa cerah


...--...


Ivana memfokuskan matanya ke arah papan tulis, sibuk memikirkan dari mana asal jawaban dari soal matematika yang ditulis bu Dea di papan tulis


"Kenapa bisa gitu ya jawabannya?" tanyanya pada diri sendiri sembari menggaruk kulit kepalanya


"Lo bisa nggak soal itu?"


Mentari menggeleng lemah tanda tak tahu, pikiran Iva sudah pusing dan sudah ingin segera mengakhiri semua derita ini—karena mungkin salah satu penyebabnya adalah perutnya yang keroncongan ingin di beri makan


"Untuk soal nomor 32, silakan dipahami soalnya dan nanti ibu acak maju ke depan buat ngisi jawabannya" kata bu Dea yang santai namun mampu membuat satu kelas tremor tak karuan


"Sumpah ini gue bener-bener gak bisa mikir, tuhaaaan!" Ivana membatin tak karuan, sementara waktu terus berlalu tapi lembar jawaban gadis itu hanya dipenuhi corat coret yang tak berguna sama sekali


Ivana memijat pelipisnya yang terasa pusing. Ah entahlah! begitu katanya. Namun, saat guru matematika itu tiba-tiba berdiri dan langsung berjalan ke arahnya, Ivana benar-benar pasrah setengah mati


"Kamu? apa jawaban kamu?" tanya bu Dea


Ivana terbelalak sejenak sebelum matanya menelusuri buku catatan Tari. Syukurlah! bocah itu sudah selesai, maka dengan pede dia berujar


"Akar dua puluh lima," ucapnya sambil berbinar


Jantung Iva mendadak berhenti sejenak, apa? apa jawabannya salah? gadis itu melirik ke arah Tari dengan tatapan seakan-akan bertanya 'kenapa jawabannya bisa salah?!'


Tari hanya nyengir sambil mengucap kata, "soriii," Ivana menghembuskan nafas pasrah, "Ayo Ivana, tunggu apa lagi kamu?"


Maka dengan berat hati, gadis itu bangun, seisi kelas hanya berani meliriknya, karena ia tahu betul kalau ada yang kontak mata sedikit saja atau bahkan hanya tersenyum, insyaallah dialah korban selanjutnya


"Anak-anak adalah jawaban yang sama dengan Ivana tadi? akar dari dua lima?" bu Dea bersuara ditengah keheningan kelas


Tak ada yang menyahut, kelas hening sekali, bahkan bu Dea berani jamin seolah-olah suara nafas pun luput terdengar


"Ivana coba tuliskan cara-cara kamu tadi kenapa bisa jawabannya akar dua lima?"


Ivana melirik Tari, gak mungkin kan dia memberi tahu bu Dea kalau jawaban itu berasal darinya? malah nanti akan berdampak makin buruk untuk keduanya


Ivana meraih spidol bersiap menulis tapi tak tahu harus menulis apa, setelah hening beberapa saat bu Dea kembali berujar


"Kamu bakal duduk kalau salah satu diantara teman kamu mau ke depan dan membantu kamu,"


Mustahil! kelas ini sangat lemah kalau berurusan dengan matematika dan Ivana hanya bisa berdoa dalam hati semoga hari ini ia diberi keajaiban untuk bisa menyelesaikan soal-soal keramat in-


"Saya bu," satu kelas reflek menatap Athaya, anak baru itu memang membawa keberuntungan, karena memang Athaya adalah siswa pertukaran pelajar jadi sudah pasti dia cerdas


"Ayo maju," dengan tenang kaki nya mengarah ke tempat Ivana berdiri, dan tanpa basa-basi ia langsung berdiri tepat dibelakang Ivana dan mengarahkan tangannya yang masih memegang spidol ke papan tulis

__ADS_1


"Dicari dulu nilai F kuadrat-nya,"


Athaya mengerjakan dengan tenang dan tanpa beban apapun. Sementara jantung Ivana sudah berdetak tidak karuan, tangannya yang menganggur meremas kuat rok nya, gugupnya benar-benar tak bisa ia sembunyikan


Athaya menelan saliva susah payah, Athaya sebenarnya tak handal melakukan ini, tapi hasratnya untuk kembali mendekati Ivana berkoar begitu saja. Dan suatu saat nanti Athaya akan melanjutkan kembali kisahnya dulu yang sempat terputus


"Sudah bu," Athaya berujar di keheningan


bu Dea meneliti sejenak sebelum mengangguk tanda membenarkan jawaban Athaya, "benar jawabannya akar lima belas, lain kali belajar giat Ivana. Kalian boleh duduk,"


Ivana berjalan mendahului Athaya sambil menunduk. Saat ia sampai di bangkunya tangannya bergerak menahan tangan Athaya


Sontak Athaya menoleh ke arah Ivana seolah mengatakan 'ada apa?'


Gadis itu mengangguk sekali sebelum mengucapkan terima kasih


"Makasih, Ath." suaranya kecil dan tenang


"Sama-sama," Athaya membalas sebentar disusul terlepasnya genggaman Ivana di tangannya. Mereka kembali duduk di bangku masing-masing


Ivana tersenyum tipis, anak itu masih baik sama seperti dulu, tak ada yang berubah darinya. Hati Iva menghangat, perasaan itu perlahan muncul kembali


...--...


Pulang sekolah masih ada beberapa siswa-siswi yang beraktivitas di area sekolah, mulai dari les hingga ekskul, dan tak sedikit juga yang hanya singgah sebentar untuk melihat para cowok-cowok tampan sedang berlatih basket untuk laga beberapa hari lagi


"Tuh anak baru emang hoki banget sih," seorang siswi berujar dari arah depan ruang laboratorium


"Oh si Athaya itu ya? gila anjir cakep banget tau gak?" temannya merespon. Athaya memang sekarang jadi bahan omongan setiap pelajar di SMA Dharma Bhakti, Karen selain tampan dia juga dikabarkan teman baik Iqbal karena menurut cerita yang beredar, Iqbal itu orangnya susah diajak komunikasi


Selain itu, Iqbal dikenal sebagai anak yang dingin, hanya beberapa orang yang pernah diajak ngomong dengannya. Untuk itu, ini tiba-tiba ada anak baru yang bisa langsung akrab dengan Iqbal dan gengnya, bisa masuk tim basketnya pula. Kan aneh!


"Lihat tuh dia, keringetan aja cakep banget, ini sih the real beauty privilege itu nyata," kata temanya lagi dengan bijak


"Beauty? dia kan cowok, bukannya bahasanya jadi handsome privilege gitu ya?"


"Ah nggak tau lah, intinya tuh anak baru beruntung banget, pengen banget deh disana terus ngelapin keringatnya, haha...kayaknya gue mu oleng nih dari Vino ke Athaya,"


"Apaan sih lo, gue juga mau kali."


Dua siswi itu tertawa bersama sebelum kembali berjalan riang


"Shoot!" Vino memekik dari pojok lapangan disusul gemuruh tepuk tangan saat Athaya kembali mencetak angka


"Lo main bagus banget, nggak sia-sia gabung sama kita," ujar Damar sambil mengusap keringat di dahinya


"Iya, lo keren bro" Athaya tersenyum senang mendengar pujian dari teman-teman barunya itu


"Makasih, gue juga banyak belajar dari kalian," ungkap Athaya


"Lo disekolah sana juga ikut main basket ya? kayak udah jago?" tanya Vino


"Iya, sering ngewakilin sekolah juga. Jadi, yaa lumayan bisa lah," balas Athaya


"Udah mulai sore nih, udahan yuk?" Langit berujar pelan, kemudian setelahnya teman-temannya mengangguk menyetujui, karena memang suasana sudah mulai sore

__ADS_1


Hari ini lumayan melelahkan.


...--...


__ADS_2