
Karena di sana waktu terasa berjalan lebih cepat, ketika mereka baru saja mengucap salam perpisahan pada Langit, tiba-tiba Vino menyadari sikapnya yang lemah.
"Kenapa gue gak coba nenangin dia terus ngajak dia pulang ya?" Vino dengan tatapan kosong mulai bicara dengan nada lemah.
"Kalian gak ada yang mau ngejar dia?" Vino memandang satu persatu temannya di sana, saat tak menemukan jawaban dari pertanyaannya ia mulai menunjukkan aksi.
"Kalo kalian gak mau ngejar dia biar gue yang kejar," cowok itu mulai berjalan mendekati motor Damar, sebelum tangan Iqbal yang semula menganggur menahannya.
"Lo mau ngapain?" tanya Iqbal.
"Minggir gue mau ngejar dia," jawab Vino lemah.
"Gak usah bodoh Vin!" Iqbal mulai membentak di sana, sementara dalam genggaman Iqbal di bahunya, Vino berujar keras, "gue mau nyusul dia! kalo lo semua gak mau ikut gue, biar gue aja yang jemput dia!"
"Siapa yang lo jemput? Langit? Vino! biarin dia pergi! itu pilihan dia, dengan ngebiarin dia pergi bukan berarti kita gak perhatian ke dia!" balas Iqbal cepat.
"Terus kalian mau ketawa-ketawa di sini? sementara di lain tempat ada teman lo yang butuh perhatian?!" Vino membalas.
"Dia yang memutuskan begitu Vin, kita sebagai temen harus mendukung setiap keputusan dia! lagipula Langit itu udah besar! dia tau apa yang dia lakuin. Tolong kali ini biarin dia milih," Damar menyambung.
"Iya, Vin. Lagipula dia juga udah pamitan sama kita kan? dia juga udah mengakui kesalahannya. Jadi, apa yang kita cari? soal masalahnya, biar dia sendiri yang selesain masalah, bener kata Damar, dia udah gede Vin, dia tau," Don Don menyambung.
"Ayo, pulang..." kata-kata Iqbal barusan menyadarkan kembali Vino, ia menjadi lebih tenang. Mungkin benar, ini adalah keputusan yang tepat. Karena seperti yang dikatakan satu tahun lalu, mau cari jati diri katanya.
Mereka pulang dengan perasaan berkecamuk, memang harus begini, dari pada nantinya Langit kembali dan membawa kecanggungan yang luar biasa pada pertemanan mereka.
...--...
Kini Ivana benar-benar yakin akan satu hal, kalau memang Athaya menyukainya. Karena kata orang itu dia akan membawa Ivana kembali pada pasar malam yang dulu pernah mereka kunjungi yang akhirnya membuat mereka pacaran.
"Kami suka kan aku bawa lagi ke sini?" Ivana mengangguk di posisi paling tinggi bianglala.
"Aku minta maaf kalau memang sikapku akhir-akhir ini kurang. Tapi, Va... gue pengen ngomong sesuatu yang penting,"
Kali ini perasaan Ivana mulai tak enak, lalu apa? penting bagaimana hingga Athaya kembali membawanya kemari?
Athaya menggenggam tangan Ivana hangat, "sikap aku ke kamu memang gak selalu baik, bahkan aku sadar Va, kalau kita di sini seperti orang yang gak pacaran,"
__ADS_1
Ivana mengernyitkan dahi, Athaya melanjutkan, "aku mau kita udahan aja, Va."
Reflek Ivana melepas genggamannya dari tangan Athaya, "putus?" Ivana menatap nanar mata Athaya. Bahkan suara bising dari bawah tak terdengar olehnya.
"Kita gak ada kemajuan apapun Va, dan kayaknya kamu juga gak terlalu suka sama aku,"
"Aku suka sama kamu, Ath. Aku cinta sama kamu!" Iva mulai meneteskan air matanya. "Kamu kira perhatian aku akhir-akhir ini cuma candaan doang?" suara Iva bergetar.
"Aku minta maaf, Va-"
"Karena Tari kan?" Ivana tersenyum pedih, sebelum terisak hebat. "Kenapa waktu gue udah jatuh cinta sama lo...lo giniin gue Ath?..."
"Jangan bawa-bawa Tari, Va. Dia gak salah apa-apa...aku emang udah gak bisa ngelanjutin hubungan ini..."
Ivana terisak di sana. Ocehan Athaya yang terus-menerus mencari alasan yang pasti mengapa mereka putus tak ia dengar.
Secepat inikah hubungannya berakhir? bahkan untuk menyela ucapan Athaya dia benar-benar tak mampu.
"Untuk itu...untuk itu lo ngajak gue kesini ha?...untuk mengucap kata putus?..." dia tertawa hambar, "konyol lo...lawak tau gak?"
Saat bianglala itu turun, Ivana tak peduli tatapan orang-orang terhadap dirinya. Ia benci! sangat benci dengan orang yang mengikutinya saat ini dan terus-menerus mengucap maaf.
Ekspektasi memang tak seindah realita yang dialami Ivana, ia kira cowok itu akan setia mengejarnya lalu kemudian berucap, "Va? itu cuma bercanda...aku gak mau putus sama kamu...aku sayang banget sama kamu,"
Namun, ia berhenti. Berhenti mengejar dan memanggilnya, berakhir ia yang duduk linglung di halte bus layaknya wanita haus belaian.
Athaya memperhatikan dari jauh, ia benar-benar sudah tak bisa melanjutkan hubungan ini. Karena, baginya apa yang ia lakukan akhir-akhir ini bahkan suatu hari yang akan datang, itu sama saja menyakiti hati Ivana.
Ia tak betul-betul menyukai gadis itu, dan ia tahu gadis itu juga tak benar-benar mencintainya, lalu? apa yang akan dikejar bila seperti ini? tak akan bisa bertahan jauh. Karena hati mereka bukan untuk masing-masing.
Tanpa kau ketahui Athaya. Ivana benar-benar menyukaimu, lalu jika kau hanya akan membawa kepedihan bagi Ivana berlarut-larut, lantas mengapa kau sangat ingin memiliki hatinya walau ia berkali-kali menolak?
Taksi tak lama datang setelah Ivana melambaikan tangan. Kejadian ini terasa lebih cepat. Athaya mengambil segera motornya lalu mengikuti taksi itu.
Hubungan mereka berhenti malam ini, di tempat yang sama kala Athaya menyatakan perasaannya.
...--...
__ADS_1
Deru motor Langit membelah jalanan malam hari yang sunyi, saat ia berhenti untuk menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan, ia sejenak berfikir, apa ia benar-benar akan pergi.
Di trotoar jalan yang tak terlalu ramai pengendara, ia kembali menangisi sesuatu yang telah ia tinggalkan. Apakah ia benar-benar meninggalkan teman-temannya setelah sekian lama bersama?
"Maafin gue, semua..." dadanya sesak sendiri, teringat semua peristiwa di masa kejayaan ia dan teman-temannya, "gue gak bisa kayak gini terus. Gue mau nenangin diri gue sendirian."
Pada malam yang sama dan tempat yang berbeda, ada Mentari yang meneteskan air matanya karena baru saja ia diberitahu penanganan lebih lanjut soal kakinya oleh ayahnya.
"Tari bakal bisa jalan lagi ya, Pa?" saat ayahnya mengangguk ia tersenyum sumringah—akhirnya penantian yang samar menjadi jelas juga.
"Penindakan akan dilakukan secepatnya, pasti!" jawab Ayahnya.
"Makasih, Ma...Pa..." ucap Tari dengan haru.
Yang Tari ingat malam itu lebih baik dari malam-malam biasanya. Tuhan...sebentar lagi Mentari bisa berjalan normal seperti yang lainnya.
...--...
Tadi malam Tari sudah memantapkan hatinya untuk berbaikan dengan Ivana. Ya! entah itu akan diterima baik atau tidak olehnya ia akan tetap melakukan.
Pagi sekali saat dia sudah sampai di kelas sendirian, ia berulang kali melirik ke arah pintu masuk—berharap Ivana segera datang, ia akan memberitahu kabar ini padanya terlebih dulu.
"Gue harap lo juga ikut bahagia kayak gue, Va." ucapnya pada diri sendiri. Lalu dari arah luar di mendengar bunyi langkah kaki seseorang.
Dan benar saja, Ivana muncul beberapa saat setelahnya. Namun, nyalinya perlahan menciut ketika yang ia dapatkan adalah tatapan marah dari wanita itu.
Ia mengurungkan niat. Perlahan para siswa-siswi berdatangan, membuatnya semakin susah bercakap. Ia kembali diam— menunggu saat yang tepat.
"Aku mau kita udahan aja, Va."
Kata-kata itu masih terngiang di kepalanya. Kenapa bisa seperti ini,? semua itu karena Mentari. Kalau bukan saja dia tak menebar pesona ke Athaya dan menuduhnya, mereka pasti tak akan begini.
Untuk itu Ivana tahu diri, saat Athaya datang, ia sama sekali tak memandang ke arahnya. Hanya dianggap angin lalu.
"Lo ada masalah apa sih? kok diam-diaman kayak gitu?" tanya Arini.
"Gue udah putus." final Ivana. Arini menganga lebar, "kok bisa?" Ivana tak membalas apapun, ia hanya diam. Tak ingin membahas lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Nanti kita ke kantin bareng ya?" Ivana tersenyum tipis pada Arini. Sebelum melanjutkan lamunan.
...--...