
Seandainya ia punya nyali yang baik untuk bisa mendekati Ivana, mungkin ia tak akan sesakit ini. Tidak, ia tak benci pada Athaya, ia tak akan membuat pernyataan tak berbobot seolah Athaya merenggut cintanya
Karena sudah jelas ia yang terlalu pengecut untuk mengutarakan perasaan bahkan untuk sekedar pesan singkat sekalipun
"Kalo gue jadi lo juga sakit sih, Sep. Tapi, di sisi lain lo juga gak bisa nyalahin Athaya karena ini," Don Don berujar bijak
"Iya deng, salah dia sendiri yang gak mau terus terang aja sama Ivana, jadi di tikung kan,"
"Eh, Sep-" Vino menutup mulutnya rapat—ia tak jadi bicara karena melihat muka Iqbal yang memerah seperti menahan amarah
"Sssttt..." Vino meletakkan telunjuknya di depan bibir—memberi tahu Don Don dan Damar untuk berhenti bicara
Jangan diganggu kalau Iqbal dalam posisi seperti itu kalau tidak ingin diterkam dan di bentak-bentak
"Aduh, gue kek nya belom ngerjain pr inggris deh, gue pulang kelas dulu ya guys," Don Don meninggalkan gazebo yang biasa dijadikan ia dan teman-temannya ngumpul
Vino mencabik, ia tahu itu hanyalah alasan Don Don untuk mencoba kabur dari Iqbal yang sedang badmood
"Sep, lo gak kenapa-napa kan?, sori nih, gue sebagai orang yang berpengalaman dalam soal percintaan mau kok membimbing lo kalau lo mau, ya siapa tau kan lo-"
"Vin gue ke kelas dulu ya? makasih"
"Oh, iya"
Belum juga menyelesaikan kalimatnya Iqbal sudah duluan pergi. Vino menghembuskan nafas panjang, untung ia tidak di terkam tadi. Tapi kalau dirasa-rasa pasti sakit
"Ya kan , salah dia sendiri siapa suruh gak mau deketin duluan," ucap Vino tak kepada siapa-siapa
Suasana sepi, karena tempat itu berada di belakang kantin, tapi kalau ada bel masuk pasti dengar sampai sini, jadi ia tak perlu khawatir untuk ketinggalan pelajarannya
Setelah ia meluapkan semua emosinya ke Arini kemarin, ia merasa tenang. Ia menemukan sosok yang pengertian di mata Arini. Tidak, ia tak seperti Arini di sekolah yang selalu ceria dan banyak tingkah
Mungkin bagi orang-orang—mereka tak menyangka kalau ada sisi tenang dan positif dari tubuh gadis itu, hingga mampu membuat orang seperti Vino memikirkannya
"Kok gue kepikirannya di lo ya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri, lalu tersenyum simetris. "Arini, gue pengen ngomong banyak ke lo,"
...--...
Langit sendirian di kelasnya, beberapa kali pesan masuk ke ponselnya, pesan itu dari teman-temannya yang sepertinya mencarinya, tak biasanya Langit tak ikut ngumpul seperti ini
Ia hanya banyak pikiran, tak ada yang tau masalah Langit—bahkan sahabat-sahabatnya sekalipun, tapi bukan salah mereka karena tak tahu, tapi Langit sengaja menyembunyikannya
"Mbak, tolong kasih tau Langit, sebenarnya apa sih yang terjadi di keluarga kita," Langit berujar sampai berkaca-kaca
"Maafin mbak, mas Langit, tapi mbak udah janji buat nggak ngasih tau ini,"
"Mbak janji ke siapa? mama? mbak nggak usah takut sama dia, ada Langit yang bakal bela mbak kalau nanti ada apa-apa"
__ADS_1
"Maaf, tapi,"
Langit duduk di ruang makan rumahnya malam itu, pikirannya kalut, ia seakan menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini karena tak tau kejadian seperti apa yang menimpa keluarganya
"Mbak...yang mbak kasih tau ke Langit itu seakan nggak menjelaskan apapun, mbak cuma kasih foto seseorang yang Langit aja nggak tau itu siapa..." Langit sedikit terisak disana, sementara mbak Lina hanya berdiri di sana menatap tuannya dengan tatapan kasihan
"Maaf mas Langit," Lina meninggalkan dapur dengan perasaan campur aduk
Langit menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya di kelas yang sepi itu
...--...
"Jadi itu alasannya?"
Ivana membuang muka, ia baru saja cerita segalanya pada Mentari, jujur hingga saat ini ia masih malu, apalagi waktu di rumah tadi, sudah kelihatan sekali kalau ia terlihat sangat salah tingkah di depan ibunya
"Dia masih suka sama lo, Va," Mentari membisik
"Ngaco! mana ada baru ketemu udah suka," Ivana mencoba berkilah
"Va? coba gue tanya deh, lo apa nggak ada rasa sama dia, secara nih ya, kalau boleh jujur dia itu ganteng, pinter, pengertian pake banget lagi, gue aja kagum sama dia," Tari mencoba serius
"Ya udah sama lo aja sono," Ivana menyilangkan tangan di depan dada
"Dia itu pengen sama lo, Va. Kok malah ngajuin gue, lagian gue juga gak bakal kali kalo sampe nikah secara kan gue gak normal, masa iya suami gue selalu dorong kursi rodanya gue," Mentari menundukkan sedikit kepalanya
"Ga tau, itu masih rencana Va, persiapan harus banyak, lagi pula kalau gue belum bisa jalan gak apa-apa kok, lulus SMA mungkin jadi pengangguran di rumah,"
"Ngomong apaan sih?" Ivana reflek memeluk tubuh Mentari, ia tidak bisa kalau harus berbicara masalah ini, lagian! kenapa bisa tadi ngelantur sih? bukannya tadi lagi bahas masalah Athaya ya?
"Intinya kita harus bersyukur masih dianggap, Va. Banyak orang di luar sana yang ada tapi kurang diperhatikan, yahh...intinya bersyukur banyak-banyak sih, semua orang kan punya kelemahan dan kelebihan masing-masing,"
"Betul." Ivana mantap menyetujui
...--...
Terkadang Damar dan Don Don merasa berdosa apabila dihadapkan dengan pelajaran bahasa Indonesia, bagaimana tidak? walaupun itu jadi dialek sehari-hari tapi nilai ulangan tak ada yang lebih dari 70
Tak harus menyalahkan semua juga, karena pak Budi—guru bahasa SMA Dharma Bhakti sangat senang apabila bercerita tentang kehidupannya, dan para murid hanya punya dua pilihan: tidur atau pura-pura mendengarkan padahal pikiran ke kantin
"Dulu bapak itu kalau mau ke sekolah harus nyebrang sungai yang dalamnya 2 meter dan sejauh 10 kilo, bapak harus berangkat pagi sekali habis subuh, lah kalian? pukul 6.45 aja masih ada yang telat,"
"Melewati lembah hutan gak pak," salah satu siswa yang sadar berujar
"Lhoo! bapak ini setiap hari ketemu sama yang namanya ular, singa, anjing bahkan monyet pun ada," ucap pak Budi ber api-api
"Don?" sapa Damar yang menggolekkan kepalanya di meja malas
__ADS_1
"Hm?" balas Don Don di sela-sela kegiatan menggambar nya
"Gue lelah mengejar cinta Mentari tau gak, kayak capeek gitu," ujar Damar putus asa
"Terus?" singkat Don Don
"Ya lo kasih saran kek, semangat, atau jangan nyerah gitu, lagian gue juga ganteng kok," Damar menyugar rambutnya ke belakang yang agak lepek karena keringat
"Lo yang harus pindah hati Dam! kalau kita gak diterima di tempat itu berarti kita harus berkunjung ke tempat lain yang mau nerima kita," Don Don mengusap dagunya, pintar kan gue?
"Hatinya siapa tapi?" Tanya Damar lagi
"Gak tau," balas Don Don singkat
Pak Budi masih mendongeng di depan sana, beruntung bangku Don Don dan Damar berada di belakang jadi kalau ngobrol pun akan jarang kelihatan
"Ha! gue tau,"
"Apaan tuh?"
"Lo tau bendahara OSIS yang biasanya diajak ngobrol sama Asep? nah itu cocok tuh sama lo, orangnya lembut hampir sama perangainya kayak Mentari,"
"Iya sih, kalo gue perhatiin juga gitu, cuman gue perhatiin aja deh,"
"Kalau saran gue sih itu aja, lo deketin siapa namanya? Dara bukan?" Damar mengangguk
"Nah, itu, cuman kalau lo masih mau sama Mentari terus saingan sama Vino gak tau deh," Damar mengangkat kepalanya tegak
"Iya juga ya, prediksi gue juga kayak bakal kalah kalo saingan sama Vino,"
"Nah kan?"
Damar tersenyum simetris, sepertinya dia akan memasuki hati baru, walaupun pasti susah melupakan senyuman Mentari yang cerah itu
...--...
"Udah kelar semua kan Dar?" Iqbal mengecek kembali proposal yang diberikan Dara
"Iya Bal, itu udah kedata semua tinggal nunggu tanda tangan dari kepsek, insyaallah nanti dana nya gak akan kurang," balas Dara senang
"Oke lah, makasih, Dara"
"Sama-sama, Bal"
Iqbal menaruh kertas itu ke meja lalu mengambil ponsel nya, tak salah ia memilih Dara sebagai bendahara OSIS, sangat pintar mengatur keuangan dan sangat konsisten apapun tugasnya
"Gue ke kelas dulu ya Bal?" ucap Dara ramah sebelum di angguki oleh Iqbal
__ADS_1
...--...