ATHAYA?

ATHAYA?
32-Kemarin


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu.


Ivana tak menemukan keganjalan apapun dari tiap-tiap orang yang ia temui, bahkan saat ia masuk kelas pun dan melihat Mentari yang duduk bersebelahan dengan Athaya walau membuatnya sedikit tersinggung.


Walau tak lebih, ia hanya tersenyum dan mengatakan seolah itu bukan perkara yang perlu dipermasalahkan.


"Va, sori gue tadi cuman tanya-tanya aja sama Athaya, plis jangan ngira macem-macem ya?" ujar Tari kala itu.


"Oh, iya santai Tar. Btw lagi ngomongin apa?" balas Iva mencoba santai.


Saat itu ia begitu yakin saat melihat tatapan Athaya yang masih sama padanya, tatapan yang hangat khusus untuknya. Ia rasa Athaya masih sama seperti sebelumnya, dia yang mencintai Ivana dengan tulus hati.


"Hari ini lo anter gue pulang kan?" Ivana yang masih duduk di bangkunya mendongak saat Athaya datang menghampiri.


"Iya, ntar mampir ke tokonya Aidan dulu yuk? mau beli sesuatu?" tanya Athaya.


"Mau deh, toko yang ada banyak aksesoris itu kan?" mata Iva berbinar.


Athaya mengangguk, "iya, ntar gue beliin deh,"


Saat pulang sekolah mereka benar-benar mampir di toko itu. Segala aksesoris, perlengkapan sekolah, pernak-pernik lucu ada di sana.


Saat Iva melihat suatu yang berbinar, ia mendekat. Kalung berwarna perak ini berkilau dan cantik. Athaya mendekat mengalungkan tangannya ke bahu Ivana.


"Lo suka itu?" Iva menjawab dengan mengangguk.


"Katanya mau lo beliin?" Athaya mengeluarkan dompetnya, lalu menangguk, sebelum Iva benar-benar membawa kalung itu ke meja kasir, pernyataan dari Athaya seolah membuatnya overthingking.


"Gak sekalian beli buat Tari?" mendengarnya membuat Iva berbalik. "Tari?" Iva memastikan kata yang diucap Athaya.


"Dia sahabat lo kan? kenapa gak sekalian dibeliin?" Ivana memandang sekejap kalung perak itu, lalu apa salahnya Athaya menyinggung Tari, lagipula Iva tak perlu merasa cemburu hanya karena hal sepele seperti itu.


"Ya udah deh, beli juga buat Tari,"


Athaya menyunggingkan senyum, mengusap surai Iva lembut, kemudian mengambil sebuah kalung dengan motif yang sama.


Hadiah itu disambut riang oleh Mentari. Hingga didepan Ivana langsung ia mengeratkan tangan pada Athaya, lagi-lagi ia tak ingin terpengaruh. Ia tak ingin menjadi pacar yang pencemburu apalagi dengan sahabat sendiri.


Walau berbagai kejadian yang membuatnya sakit selalu menghantui, karena ia tahu sikap yang ditunjukkan Iva pada kekasihnya seperti sikap seseorang yang jatuh cinta.

__ADS_1


Iva bukan pakarnya. Tapi, ia yakin betul setiap tatapan yang ia lihat dari mata seseorang, maka dari itu ia mulai merasa seperti memperjuangkan Athaya—padahal sudah jelas-jelas kalau Athaya itu miliknya.


"Terima kasih, Athaya?" saat Tari berhasil menemukan jawaban dari kolom kosong lembar jawaban pr matematika yang diajari Athaya, ia mulai merasa muak.


Setelahnya saat ia mendorong kursi roda milik Tari saat selesai mencari referensi dari perpustakaan . Iva mengelus perutnya yang terasa mulas, ia meminta izin pada Tari untuk pergi ke kamar belakang.


Dan pada saat ia kembali ia melihat adegan itu, didukung keadaan sepi karena tiba-tiba saja bel pulang lebih pagi terdengar bersahutan dengan sorak-sorai siswa-siswi yang senang.


...--...


Athaya adalah orang yang bertanggung jawab. Walau ia terlibat sedikit perkelahian dengan kekasihnya ia tetap ingin memberi pengertian yang lebih.


Namun, saat ia sudah masuk pekarangan rumah Iva terlihat baru saja keluar ada Iva dan Iqbal yang sedang berboncengan.


Ia sempat menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas, dan ia tahu sekali orang itu adalah Iqbal.


Seperti halnya Athaya, saat Iva pertama kali datang ke sekolah, sorak-sorai siswi terdengar—kemarin ia berboncengan dengan Athaya dan sekarang Iqbal.


"Gak usah peduliin mereka," Iva mengangguk lalu beriringan dengan Iqbal untuk masuk kawasan sekolah.


Athaya yang juga baru saja sampai langsung mengikuti dari belakang, belum banyak orang yang masuk—hanya beberapa.


Saat melihatnya, Tari cepat-cepat menutup novelnya, "Va?" pandangannya berubah saat tak lama setelahnya Athaya masuk.


"Lo kenapa tadi boncengan sama Iqbal?" Athaya berkata sarkas.


"Kenapa emang?" bukannya duduk di samping samping Tari, ia malah duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Membuat Tari menunduk—merasa bersalah.


"Gue ini pacar lo, jadi gue berhak nanya lo. Lo tau gak? gue udah jemput lo tadi, dan lo malah-"


"Gue gak sengaja, puas?"


"Lo mau balas dendam sama gue? karena kemaren gue pelukan sama Tari?" Athaya menatap Iva serius.


"Lo tuh aneh tau gak? lo kira gue gak cemburu?" Iva balas menatap Athaya.


"Va? dengerin gue dulu, gue gak bermaksud kayak gitu, plis jangan kayak gini. Kasihan Athaya,"


Iva hanya menatap Tari sekilas lalu merogoh ponsel di dalam tasnya. Mencari ikon galeri dan memencet salah satu gambar disana. Dengan gerakan cepat menyodorkannya pada Tari .

__ADS_1


"Itu foto waktu gue gak masuk kan? kalian deket banget disana,"


"Gue udah bilang itu gak sengaja," Athaya bersuara, Iva sedikit melirik sebelum duduk.


"Gue gak masalah kalau itu terjadi sekali dua kali. Tapi masalahnya kalian hampir setiap hari dekat. Gue tau Tar, lo itu sahabat gue, Athaya itu temen lo juga pas SMP, tapi apa iya lo gak ngerasa bersalah sama sekali?" suara Iva mulai bergetar.


"Gue akan lebih menjauh dari Athaya, Va. Sori kalau gue bikin lo gak nyaman,"


Iva membuang nafas kasar, sebelum menggolekkan kepalanya di meja. Ponsel Iva ditaruh kembali di sampingnya, sebelum siswa-siswi berangsur datang.


Mereka hentikan pembicaraan itu, beberapa dari mereka sedikit berbisik karena Iva dan Tari yang biasanya duduk bersebelahan kini mulai menjauh.


Athaya memijat pelipisnya, entah merasa bersalah atau kasihan, atau apalah itu, ia akan menyelesaikannya perlahan.


...--...


Mulut Iqbal sudah gatal dan ingin sekali memberi tahu teman-temannya masalah apa yang terjadi, sebenarnya ia tak terlalu ingin tapi saat Vino menanyainya dengan beberapa pertanyaan konyol tentang hubungan Athaya ia jadi ingin buka mulut.


"Mereka gak putus kan?" Don Don memastikan.


"Gak lah, masa semudah itu mereka putus sih," Vino menjawab.


"Kalo gue jadi Iva sakit hati sih, digituin sama sahabat sendiri," Langit berpendapat sambil menggaruk dagu.


"Itu tuh yang bahaya, dia bisa saja berkhianat walau kita udah seratus persen percaya ke dia," Damar berujar.


"Terus mereka gimana, Sep?" tanya Langit.


"Gue tadi sempet ngintip, kayaknya Iva sama Tari lagi musuhan. Sampe tempat duduknya pisah," jawab Iqbal.


"Serem ya? sebab cowok malah jadi gini," Don Don meminum es nya.


"Gue malah kasihan sama Tari, dia ke kantin gak ya?"


"Ngomong ape lu, ohh...gue kasih tau Dara ya?" perkataan Don Don yang langsung membuat Damar melonjak.


"Jangan dong, aelah cuman bilang gitu doang,"


"Udahlah, kita doain yang terbaik aja ke mereka. Lagi pula mereka udah gede kan? yang penting marahannya gak sampe main tangan." final Langit yang diangguki oleh teman-temannya.

__ADS_1


Semoga saja begitu.


__ADS_2