ATHAYA?

ATHAYA?
44-Athaya dan Langit


__ADS_3

"Nggak ada orang!" Vino memekik dari kejauhan, setelah selesai sekolah mereka langsung meluncur ke rumah Langit. Namun, tak ada tanda-tanda orang disana.


"Lo udah cari bener-bener?" Damar yang dari tadi duduk saja di motornya langsung ikutan turun—membantu mengecek.


"Bukannya Langit punya ART ya?" Don Don menaikkan sebelah alisnya. Vino kembali menengok kedalam—masih tak temukan apapun.


"Ya udah ayo ke rumah Asep," Don Don memakai helm-nya kembali disusul Damar dan Vino, kemudian segera menuju ke kediaman Iqbal.


Dari arah rumah Langit, Lina mengintip dari balik gorden ruang tamu. Dirinya diberi pesan oleh Langit untuk tidak membuka pintu untuk siapapun.


"Gimana mbak?" tanya Langit.


"Mereka sudah pergi mas," Langit mengangguk mendengar jawaban Lina, sementara Langit merenung untuk memikirkan hal yang tidak pasti, Lina memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf mas Langit kalau mbak terkesan ikut campur. Sebenarnya mas Langit ada masalah apa sama temen-temen mas Langit?" Lina menunduk dalam-dalam, ia takut apabila Langit marah.


"Cuma masalah sedikit. Mbak kalau lihat mereka kesini jangan dibukain mbak, rumah ini nggak boleh ada yang menginjak kecuali seizin Langit."


Setelah mengatakan kalimatnya ia berbalik badan untuk masuk ke kamarnya, sebenarnya ada rasa bersalah yang besar sedang ia pendam, apalagi ini menyangkut teman-temannya yang tidak bersalah.


Namun, entah mengapa perasaannya untuk dendam dengan Athaya begitu besar. Ia memang bodoh, karena mengambil korban yang salah.


Nanti malam ia akan bertemu Athaya dan mengatakan semua yang ia tahu


...--...


Ponsel Ivana masih hilang.


Sementara ia tau tau harus menghubungi siapa sekarang, seakan di dunia ini tak ada yang peduli lagi dengannya.


Hari-harinya di rumah hanya diisi dengan kekosongan seolah telah berakhir masa kebahagiannya, dia tak melapor ke siapapun atas hilangnya ponselnya, mungkin karena terlalu lelah dengan berbagai lontaran pertanyaan yang itu-itu saja.


"Mungkin dari kemaren dia udah hubungin gue," dia tiba-tiba saja teringat kata itu, bahwa Iqbal akan menghubunginya, kalau memang sudah, siapa yang membawa ponselnya itu?


"Cowok itu, dia siapa?" Ivana mengingat cowok yang menyuruhnya ke ruang guru, "harusnya kemaren gue ngomong ke pihak sekolah kalau ada yang nyuruh gue ke ruang guru,"


Ivana membuang jauh-jauh pikirannya barusan, ia masih butuh ketenangan diri.


...--...


"Permisi,"


Vino, Damar dan Don Don berakhir berkunjung ke rumah Iqbal, ia menemui Anggi terlebih dahulu.


"Mau ketemu Iqbal tante, boleh nggak?" tanya Vino sopan.


"Boleh dong, Iqbal lagi ada di atas, kalian ke sana aja, mau dibikinin apa nih?" tanya Anggi ramah.


"Ah, tante bisa aja. Terserah kalau Don Don mah...yang penting gak ngerepotin."


"Ah... Don Don bisa aja nih, tante...maaf Don Don emang gitu anaknya,"


"Iya, gak papa...kalian ke atas aja, Iqbal disana kok,"


"Makasih tante," setelahnya mereka menaiki tangga untuk bertemu Iqbal, saat masuk ke kamarnya ia melihat Iqbal yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya.


"Ya ampun...enak banget hidup bocah ini, udah gak belajar, gak sekolah, kamar berantakan...ck...ck..." Damar menggeleng heran.


"Kita kagetin Vin," Don Don memberi ide. Saat sedang enak-enaknya mendengkur halus tiba-tiba saja ranjang Iqbal seperti diombang ambing gempa.


"Gempa! gempa! Asep! bangun ada gempa!" teriak Don Don disusul Vino yang membuat suara-suara seakan ada gempa sungguhan.


Iqbal bangun kalang kabut, matanya masih memerah mengantuk ketika memandang cengiran tak berdosa dari teman-temannya.

__ADS_1


"Gempa...gempa..."


"Hahhaha...it's a prank baby" ucap Don Don puas.


Setelah Iqbal sadar sepenuhnya ia melempar segala perbantal-gulingannya pada teman-temannya secara emosi.


"Anjir lo pada!"


"Makannya jangan molor terus lo, mentang-mentang gak sekolah, belajar kagak, bantuin orang tua ngurus rumah juga kagak!"


Iqbal mengucek matanya malas, lalu kembali menggulingkan badannya ke kasur.


"Kebo! bangun napa? ada temennya juga,"


"Mau ngapain lo kesini?" Iqbal dengan suara seraknya mencoba bicara.


"Kita mau nanya-nanya nih, kemaren gimana kata kepsek?" tanya Vino.


"Lo gak lihat gue di skors?" ucap Iqbal singkat dan padat.


"Gak gitu juga, kita cuma kepo aja, kata Langit gimana kemaren?" Don Don memutar bola matanya gemas.


"Susah ngejelasinnya," jawab Iqbal.


"Lo gimana sih? gak asik lo,"


"Gua lagi gak nafsu bahas masalah ini. Gini aja, gimana kalo kita pergi ke rumah Langit? buat mastiin, karena gue juga ngerasa bersalah udah mukul dia kemaren, gue kehilangan kendali," kata Iqbal.


"Percuma, tuh rumah kayak udah gak ditempati bertahun-tahun tau gak? sepi banget kek kuburan," shut Vino.


"Ya udah ntar malem deh, gue jelasin sekalian kesana, pasti dia udah di rumah," sahut Iqbal.


"Lo gak bisa jelasin sekarang ya? sumpah gak asik lo!" hardik Damar yang di angguki semuanya


"Gue gak tau masalah itu, cuman ada beberapa yang bisa gue tangkep kemaren,"


"Apa?"


"Tapi nanti malam kita ke rumah Langit ya?" peringat Iqbal lagi.


"Iya udah santai. Cepetan!"


Maka sore itu mereka habiskan untuk mendengar cerita Iqbal, mereka ngobrol hingga senja menjemput, sambil mengisi perut dengan berbagai camilan yang dibawa Anggi.


Bercerita tentang kemarin, sekolah hari ini, dan beberapa yang lainnya.


...--...


Sesuai janji, Vino dan teman-temannya pergi untuk menemui Langit.


Namun, saat mereka akan sampai di depan rumah Langit, tiba-tiba saja Vino memberhentikan laju motornya-ketika mereka baru saja melihat anak itu pergi entah kemana.


"Langit pergi Vin," ujar Damar.


"Iya, kita harus gimana?" Vino membalas sambil melihat kepergian Langit menggunakan motornya.


"Kita ikutin dia," final Iqbal. Cowok itu langsung tancap gas dan mengikuti arah motor Athaya diikuti Damar, Don Don, dan Vino.


Mereka masuk ke gang sempit, butuh jarak saat mengikuti arah Langit, jangan sampai anak itu tau.


Vino dan rombongan berhenti beberapa meter dari arah Langit. Saat mereka mendekat dan berjalan kaki ke arah sana supaya tak menimbulkan suara, mereka terkejut dalam diam.


Rupanya Langit tengah menemui Athaya.

__ADS_1


Mereka sembunyi di belakang tembok yang sudah lusuh-sebisa mungkin tak menimbulkan suara.


"Apa yang mau lo omongin?" ucap Athaya to the point.


"Lo bodoh Athaya, karena udah ninggalin orang setulus Ivana," ucap Langit sambil tersenyum miring, lalu menyalakan rokok untuk ia hisap


"Apa maksud lo?" Athaya menautkan alisnya.


"Harusnya lo sebagai siswa paling pintar bisa bedain mana jujur dan mana bohong," dia menghembuskan asap rokoknya.


"Apa maksud lo?"


"Ternyata lo lebih bodoh dari gue, haha..." dia menghadap lurus ke arah Athaya, "lo ketemu sama Ivana di kantor ruang guru kan? sementara lo dengan pede nya bilang kalo lo percaya bahwa yang ngunciin di gudang itu Ivana padahal jelas-jelas Ivana ada sama lo,"


Athaya menunduk, memikirkan kembali kejadian itu. Langit memutari tubuh Athaya, kini Langit membelakangi tubuhnya.


"Tapi ternyata lo bersikap seolah tak percaya,"


"Gue cuma-"


"Gue tau lo suka Mentari, gak perlu lo sembunyiin dari gue, kalo emang lo tulus sama Iva, harusnya lo ngebela dia, tapi ternyata apa? lo lebih belain Mentari dan tutup telinga setiap kali Ivana ingin menjelaskan,"


Kini Athaya benar-benar diam, dia tak akan menyangka kalau akan dicerca kata-kata dari Langit hingga seperti ini.


"Itu urusan lo," Langit kembali menghadap Athaya, "disini gue mau bilang soal keluarga kita, bahwa bokap lo khianati nyokap gue, dia ditinggal dan langsung menuju Semarang dan nemuin nyokap lo buat diajak nikah. Tapi, sekarang dia udah mati karena ulahnya sendiri,"


"Kenapa?"


"Lo gak perlu tau, intinya Rahsya udah mati ditangan orang yang tepat karena perbuatannya sendiri. Dan gua...pasti lo dan yang lainnya gak bisa lagi nerima gue sebagai teman," Langit menjeda sebentar.


"Dimana Rahsya mati?" tanya Athaya lagi.


"Mungkin banyak yang belum gue tau, dan bakal gue cari tau, hidup gue sebagai cowok baik-baik udah tamat, Athaya. Gue gak akan dendam lagi sama lo, atau entah nanti...kita gak tau bakal kayak apa endingnya," sambung Langit.


"Oh...gitu ceritanya? berarti lo yang lebih bodoh dari gue, karena lo udah menyelakai orang yang salah," tukas Athaya.


"Lalu? semudah itu gue nyelakai lo? tanpa membuat orang-orang di sekitar lo kena imbasnya?" Langit kembali menegakkan diri setelah sekian detik menunduk.


"Gue masih belum paham apa yang lo maksud disini, Lang."


"Yang salah Rahsya karena telah menghadirkan kita di dunia yang jahat ini Ath, cukup itu yang lo tahu. Kalau lo mau tau sebuah fakta lagi, lo bisa mulai dari orang sekeliling lo,"


"Siapa orang itu?"


"Nyokap lo." tegas Langit.


Athaya terdiam. Ibunya? namun setiap kali ia bertanya hanya dijawab oleh ibunya sebagai sebuah candaan anak biasa!


"Lalu kenapa lo bikin Iqbal dan yang lainnya begini, mereka gak ada salah," ucap Athaya dingin.


"Benar, benar banget, bahkan gue harus sungkem dan bersujud di depan mereka karena telah baik hati mempertemukan gue sama lo. Tapi bukan itu yang gua cari, jangan buta Athaya, mereka sekarang baik-baik aja...kecuali" Langit menjeda ucapannya.


Athaya memandang tajam ke arah Langit sebelum dia melanjutkan.


"Kecuali Iqbal, dia...suka... Ivana, cewek lo, bodoh!" Langit menebalkan nada di setiap katanya. Pandangan Athaya kosong, ternyata selama ini...


"Gak usah bohong sama gue lo," Athaya menekan perkataannya.


"Buat apa gue bercanda? dibanding lo cowok yang kurang bersyukur bisa dapetin hati Ivana, Iqbal jauh lebih peduli dibandingkan lo waktu di gudang kemarin, dia membela sampai dia sendiri di skors, demi apa...? Ivana."


Langit melanjutkan perkataannya, "mereka harusnya berterima kasih kembali ke gue karena udah membongkar topeng kalian semua, yang bikin persahabatan hancur itu kalian sendiri bukan gua,"


Iqbal mencengkram rerumputan di bawah mendengar perkataan Langit. Vino menyenderkan bahunya di tembok lusuh di sana, sementara yang lain saling menunduk mendengar celotehan panjang lebar dari Langit.

__ADS_1


Lalu sebenarnya apa yang di cari dalam sebuh persahabatan?


__ADS_2