
Iqbal baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah Zahra, cowok itu menyugar rambutnya ke belakang sebentar sebelum memasuki rumah Zahra
"Wah yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, yuk masuk dulu," belum sempat Iqbal mengetuk pintu Zahra sudah terlebih dahulu muncul, Iqbal menyalami punggung tangan wanita itu sebelum dipersilakan masuk
"Tante apa kabar?"
"Alhamdulillah, Tante baik-baik aja kok, kamu udah sarapan belum? Tante tadi beli bubur ayam di depan, kamu mau?"
"Makasih tante Iqbal tadi udah sarapan kok dirumah"
"Ya udah tunggu dulu ya?, Athaya mungkin lagi siap-siap dulu, biar tante panggil,"
"Nggak usah tante, santai aja ini masih pagi banget kok," Iqbal menjawab sopan
Tak sampai 5 menit, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas Iqbal yakin sekali kalau itu adalah Athaya, sudah lama sekali Iqbal tidak bertemu dia, karena terhitung hanya sampai SD saja mereka bertemu
Waktu SMP mereka berpisah sekolah, sehingga membuat keduanya jarang bertemu, terakhir kali ia mengingat Athaya dia adalah seseorang yang baik, dan suka menolong dia yang selalu mengajak Iqbal jajan kue-kue di pasar saat jam istirahat dulu
Dan hari ini saat Iqbal bertemu dia lagi, ia akui ia terkesan karena butuh waktu lama baginya terkesan dengan perubahan 180 derajat Athaya
"Ath?"
"Iya gue," mereka bersalaman sejenak sebelum berpeluk singkat
"Ini beneran lu?"
"Udah gue duga dari awal lo pasti tanya hal begituan ke gue," Athaya menaikkan tasnya yang dirasa agak melorot
"Tapi lo hebat Ath, temen-temen gue pasti seneng,"
"Seneng kenapa emang?"
"Enggak yuk berangkat sekarang"
Niatnya menggabungkan Athaya dengan tim basketnya pasti akan terlaksana, iya! Iqbal berani jamin
...--...
Baru saja sampai di gerbang sekolah Athaya dan Iqbal sudah mendengar desas-desus yang datang dari para siswa-siswi di SMA Dharma Bhakti, padahal ini masih terhitung pagi
"Gede ya sekolahnya?"
Iqbal tak menanggapi, sesaat setelahnya dia mendengarkan teriakan salah seorang siswi yang baru saja melewatinya memasuki area sekolah
"Iqbaaaaal!"
Suara yang sangat lumrah di dengar di sekolah ini, namun bagi anak baru macam Athaya hal itu menumbuhkan tanda tanya, memang benar sekali kalau ingin di hargai maka jadilah orang yang tampan, atau? cantik
__ADS_1
Walau banyak orang yang mengatakan sesuatu yang dinilai adalah attitude nya tapi apakah saat orang pertama kali bertemu akan langsung tahu sifat orang itu? pastilah fisik yang jadi nomor satu
Tiba-tiba saja pikirannya berkelana pada memori 4 tahun lalu, disaat ada seorang temannya yang tampan memberi tahu jawaban ulangan pada temannya yang lain, padahal jawaban itu berasal dari Athaya
Kenapa waktu itu temannya tak jujur saja kalau jawaban itu berasal darinya? dan berakhir kepura-puraan bahwa Athaya adalah bagian orang yang mencontek jawabannya sendiri
"Mas wakil ini gak capek apa ganteng mulu?" seorang siswi berkata dari kejauhan yang suaranya masih bisa di dengar Athaya dan Iqbal
"Wakil?" Athaya berkata pelan
Oh benar, ketenaran Iqbal makin menjadi-jadi saat ia diberi kesempatan menjadi wakil ketua OSIS di sekolah ini, bagaimana Athaya bisa lupa? padahal tante Anggi sempat membicarakan itu kemarin?
"Ini ruang kepala sekolah Ath, lo tunggu aja disini, atau mau gua temenin?"
"Nggak usah, lo pergi aja dulu biar gue yang tunggu disini"
Iqbal menepuk pundak Athaya dua kali sebelum Iqbal berjalan santai menyusuri koridor untuk memasuki kelasnya sendiri
Ruangan itu tak dikunci, memang sudah direncanakan sebelumnya, Athaya hanya sedikit menyayangkan kenapa hanya dia yang lolos mengikuti pertukaran pelajar disini, padahal kata Danang kemarin Agung juga pintar kan? harusnya ia bisa ikut kesini
Athaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan banyak foto-foto, sertifikat, medali dan piala yang sangat banyak dan dengan nama dan prestasi yang berbeda-beda
Kenapa ya kalau siswa atau siswi yang menang pialanya diambil sekolah? padahal yang berjuang kan pesertanya?
Bruk!
Suara ribut dari luar ruangan menghentikan lamunan Athaya, jadi dari tadi dia sudah diikuti?
"Dia masuk kelas mana ya?"
Suara salah satu siswi disana dibalas bersahut-sahutan, entah! dia merasa canggung sendiri jika begini, tak ingin mendengar suara-suara itu lagi, Athaya lebih memilih untuk mengeluarkan earphone nya dan mendengarkan musik—menunggu sampai kepala sekolah datang
...--...
"Mereka ribut di ruang kepala ada apa sih?" dari arah lorong selatan, Tari yang sedang di dorong menggunakan kursi roda oleh Iva melirik serius
"Berantem mungkin," Iva coba menebak
"Masa pagi-pagi udah berantem?"
Percakapan mereka berhenti sampai sana, Iva kembali fokus melihat jalanan depan sambil sesekali bersenandung pelan
Sampai di depan kelas mereka ternyata sudah ada seorang Vino yang sepertinya menunggu seseorang, dan Iva tahu betul seseorang itu bernama Mentari
"Vino ngapain pagi-pagi udah disitu?"
"Nungguin lo lah apa lagi?"
__ADS_1
"Ih, ke ge-er an"
"Dih nggak percaya liat aja ntar, lagian lo juga terima aja kenapa sih?"
"Terima jadi apa? pacar maksudnya? sori nggak, takut sakit hati gue,"
"Atau mau yang sama temen satu geng nya itu, si Damar kutukupret?" Suara tawa Iva menggelegar setelah berujar, membuat Vino yang tadinya selenderan santai di dinding depan kelasnya menoleh
Cowok itu memperbaiki posisi berdirinya, lalu berjalan pelan menghampiri Tari dengan sekuntum bunga mawar di tangannya
"Neng Tari, senyummu bagai mentari yang bersinar di lubuk hati, hahaha hasikk!"
"Apa sih ,Vin?" Ivana menyambar dengan nada datar
"Pagi-pagi gini enaknya dikasih kembang ya?" Ucapnya sambil menyurai rambutnya ke belakang
"Enak ya sarapan bukan dikasih kembang, emang lo pikir Tari apa? dukun?"
"Ish! udahlah Va, makasih ya Vin" Tari menerima uluran bunga mawar itu dari tangan Vino
"Sama-sama Mentari, oh iya tau gak ka-"
Omongan Vino terhenti ketika ia merasa sebuah tepukan mendarat di pundaknya, setelah ia menoleh untuk memastikan rupanya itu adalah Iqbal
Jujur saja, ia sangat gugup apalagi semenjak kedatangannya mata Ivana tak bergerak sedikitpun memandang dirinya, hingga saat ia sadar Iqbal hanya menemukan dirinya seakan jadi orang bodoh karena tak kunjung bicara tujuannya
"Ikut gue, ada hal penting," singkatnya yang membuat Vino agak murung, tugas apa lagi ini?
"Tari? sepertinya ada tugas memanggil, Vino pergi dulu ya? itu bunganya masih seger kok, kalo Tari mau lagi besok Vino bawain banyak"
"Ayo," Iqbal berkata sambil menarik dasi Vino agar segera menjauhi tempat itu
"Iqbal!"
Suara nyaring dari belakang membuatnya agak terdiam kaku, ia tahu betul suara Ivana, apalagi setelahnya ia mendengar derap langkah kaki mendekati dirinya
Saat Ivana menepuk pundaknya tiga kali yang membuatnya menoleh, Iva tersenyum simetris sambil menyerahkan sebuah kotak bekal padanya
Hal itu jujur membuatnya agak sedikit berkeringat dingin, pasalnya ia sama sekali jarang berkomunikasi dengan Ivana tapi hari ini ia membawa bekal kotak makan untuknya
"Sori, Bal. Tadi Tari kelupaan ngomong ke si Vino mau nitip ini, bekal makan punya Damar, lo satu tongkrongan sama dia kan? boleh nitip?"
Sialan! harusnya Iqbal tak berharap lebih, rupanya ini ulah Damar kutukupret itu
"Oh, iya gak apa apa." Jawab Iqbal datar sambil menerima uluran bekal dari Iva, gadis itu tersenyum sekali lagi pada Iqbal
Bahkan saat Ivana berbalik aroma shampo vanila itu hampir membuatnya gagal fokus, kapan ia bisa menyentuhnya sambil bersandar di bahu Ivana? dan sedikit bercerita tentang hari ini?
__ADS_1
...--...