
Saat dia berjalan, banyak pelajar yang menaruh perhatian padanya bahkan tak segan-segan dari mereka yang menengok langsung dari balik jendela kelas padahal jam pelajaran sedang berlangsung
Athaya mengerti itu adalah tatapan biasa seorang murid apabila ada seorang murid baru yang pertama kali datang di sekolahnya, karena dulu juga saat ia baru pindah di Semarang orang-orang juga melihatnya begitu, hanya saja tatapan dan suara bisik-bisik mereka berbeda
Dulu saat di Semarang Athaya mendengar beberapa dari mereka membicarakan tentang fisik Athaya, namun orang-orang sana tak terlalu memperdulikan hal ini secara berlarut-larut, tak butuh waktu lama baginya untuk cepat bersosialisasi
Tapi pagi ini, saat kepala sekolah langsung turun tangan mengantarnya di kelas 11 IPA 2, sebagian dari mereka malah memuji-muji Athaya entah karena kondisi fisik atau malah kebanggaan lain yaitu dikenal sebagai 'siswa satu-satunya yang terpilih menjadi peserta pertukaran pelajar'
"Va? Pengganti April siapa ya?" tanya Tari dengan suara bisik-bisik
"Kenapa?"
"Ya berarti ada anak baru dong, kan April dari kelas ini. Jadi, orang baru itu juga kesini"
"Nggak tahu siapa tau ditaroh di kelas lain, di IPA satu mungkin"
Tari manggut-manggut setelah Ivana menyelesaikan kalimatnya, kemudian kembali menulis materi dari papan tulis
"Tapi, Va. Lo inget nggak sama Anin? yang suka ngejelek-jelekin gue dulu"
"Inget, tuh anak kan emang rempong makanya waktu acara kemarin gue sapa aja kagak"
Tari menyenderkan bahunya dengan tenang di kursi roda, sudahlah! kenapa juga dia memikirkan mak lampir itu, membuat otak tumpul
"Mentari? ada masalah?"
Lamunannya buyar saat tiba-tiba saja bu Eni memanggilnya, dengan gerakan reflek Tari menegakkan tubuhnya dan menjawab bahwa tak terjadi apa-apa
"Fokus Mentari, kalau ada masalah selesaikan nanti saja ya, ini waktunya kita belajar. Ayo fokus semua"
Ivana memutar bola matanya, untuk Bu Eni sedang berbaik hati, guru itu memang terkenal tegas, kalian boleh saja bercanda atau bersantai tapi itu ada waktunya
Kalau biasanya teman-teman boleh menyenderkan punggungnya di kursi maka kalau Bu Eni otomatis tidak diperbolehkan, selama waktu jam pelajarannya pun tak boleh ada yang keluar kelas
Apalagi kalau tidur, jangan coba-coba! atau kalian akan dilahap mentah-mentah dan kejadian ini akan selalu di bahas sampai bulan depan
Di tengah-tengah pelajaran seseorang mengetuk pintu dari arah luar kelas, maka dengan juteknya bu Eni pergi menghampiri membuat anak-anak di dalam kelas bisa meregangkan otot walau hanya beberapa detik
"Iya pak kepala?"
Iva sedikit melirik ke arah luar, sepertinya guru itu sedang berbincang sebentar dengan kepala sekolah. Setengah menit berlalu pembicaraan mereka berhenti membuat guru itu kembali masuk ke kelas dan membuat para siswa-siswi menegakkan punggungnya kembali
Namun ada yang berbeda, Iva menipiskan matanya melihat seorang cowok yang mengekori bu Eni saat mulai memasuki kelas
Mata bu Eni tajam mengikuti arah pandang muridnya itu, tak salah lagi anak baru ini sudah mencuri perhatian mereka maka dengan suara yang tegas, guru itu langsung membuka suara untuk memperkenalkan siapa cowok di sampingnya ini
Dan apakah Ivana tak salah lihat? bukannya itu adalah Athaya? orang yang ia temui waktu acara reuni kemarin
__ADS_1
Dan saat Athaya mulai menyadarinya, ia tak melepaskan pandangan sedikitpun pada bangku meja mereka. Saat kedua sahabat itu memandangnya dengan tatapan yang teduh, Athaya ingat betul...
Gadis rambut sebahu itu namanya Ivana, dan yang satunya lagi gadis disabilitas berkursi roda yang menjadi sahabat keduanya setelah Iva, Mentari namanya
Dan ia sudah bertemu si rambut sebahu itu kemarin, pandangannya terlepas saat guru disampingnya ini tiba-tiba saja berbicara
"Perkenalkan diri kamu,"
Athaya tersenyum sekilas dan menatap calon teman-temannya satu persatu
"Saya Athaya Richard, peserta pertukaran pelajar dari SMA Semarang, semoga kita bisa berteman baik kedepannya. Terima kasih,"
Ivana merasakan sentuhan di lengannya, sepertinya sahabatnya ini juga menyadari hal konyol yang akhir-akhir ini sering hinggap di pikiran Ivana
"Gue kayak pernah lihat dia"
"Dia Athaya temen kita pas SMP dulu, Tar"
"Bukan, Va. Athaya bukan kayak gini"
"Iya dia Athaya, namanya sama 'Athaya Richard' tetangga kelas kita dulu, dan kemarin waktu acara gue juga ketemu dia,"
"Lo serius?"
"Buat apa gue bohong?"
"Berarti dia-"
Mulut Tari terbuka dan membentuk huruf O sempurna, bahkan Tari saja hampir tidak mempercayainya, Ivana kembali menyibukkan dirinya yaitu mencatat materi dari papan tulis
Jadi mulai sekarang dia adalah teman sekelas Iva.
"Athaya duduk di samping Arya ya?" tutur Bu Eni pelan
Yang bernama Arya mengacungkan tangannya, setelah memohon ijin pada guru untuk duduk Athaya mulai berjalan melewati kursinya
Dia sempat menaruh kertas diam-diam hingga membuat Iva menoleh ke belakang untuk memastikan ia tak salah sasaran
"Hai Athaya, gue Gina."
"Kenalin nama gue Natalia"
"Dia ganteng banget anjir, kalo ini mah gue rela masuk sekolah terus tiap hari"
Suara dari para siswi membuat bu Eni menoleh dan sedikit mengantuk papan tulis, sehingga kondisi kembali kondusif. Letak bangkunya dengan bangku yang di duduki Athaya hanya berjarak satu bangku, Iva kembali menoleh ke depan—kembali memperhatikan penjelasan bu Eni di depan
Saat suasana normal ia mulai membuka pelan kertas yang ditinggalkan Athaya tadi, sangat pelan sampai satupun tak ada yang menyadari
__ADS_1
Saat kertas itu berhasil dibuka, Ivana berkedip sekali lalu memberanikan diri kembali menoleh kebelakang dimana Athaya duduk. Saat netra keduanya bertemu Athaya menaikan sedikit dagunya tanda menyapa lalu sepersekian detik berikutnya tersenyum hangat
Ivana kembali menghadap depan lalu memasukkan kertas tadi ke saku seragamnya, kembali menulis
Ini yang dimaksud 'semoga kita bisa ketemu lagi' itu?
Surprise! Ivanaaa
...--...
Sejak Athaya datang pagi tadi, mood Ivana jadi tak karuan, dia tiba-tiba merasa malu dengan kejadian beberapa tahun lalu, rasanya dadanya berdebar tak normal dan tangannya selalu mengeluarkan keringat dingin
Apalagi saat jam pelajaran berganti ke jam istirahat tadi Athaya menatapnya dengan tatapan intimidasi, ah! anak itu memang meresahkan, dirinya jadi gak selera makan dan memilih untuk pergi ke kantin untuk membeli air sendiri, karena Tari tadi juga nitip
Waktu istirahat tadi dia langsung dikerumuni oleh anak-anak cewek dari dalam kelas maupun beda kelas, dan karena itulah para cowok langsung mengajaknya ke kantin untuk mencegah hal-hal yang kurang nyaman apalagi Athaya anak baru
"Mbak aqua dua ya?" Ivana mulai memesan
"Tumben gak sama mbak Tari makan pop mie disini" ujar mbak Ratih
"Iya mbak, sekali-kali mau berhenti makan mie, nggak sehat," bohongnya
"Wah kalau gitu mbak punya solusi supaya mbak Tari sama mbak Iva tetep kenyang perutnya. Nih, mbak ada roti gandum yang asli dari Australia, langsung diimpor dari luar negeri,"
"Nggak deh mbak, Saya lagi gak laper"
"Itu buat mbak Ivana nya yang gak laper, tapi kalau buat mbak Tari? kalau dia laper gimana?"
Benar juga! Mungkin Tari lagi laper tapi karena gak enak dengan Iva dia jadi gak berani bilang buat titip lebih banyak lagi!
"Ya-ya udah mbak saya beli itu dua ya?"
"Nah! mbak Ivana memang sahabat yang baik banget, Monggo mbak"
Setelah selesai membayar Ivana langsung kembali ke kelas, saat melewati meja-meja kantin ia melihat Athaya dikerubungi anak-anak cowok kelasnya dan bahkan tetangga kelasnya juga
"Bahkan ada kakak kelas?" Ivana bertanya pada dirinya sendiri. Demi apapun! Athaya yang ini beda dari Athaya yang dulu, jika dulu dia adalah sosok yang pemalu dan selalu menghindar dari kerumunan maka Athaya yang sekarang jadi mudah beradaptasi dan friendly
...--...
Tadi pagi saat akan berangkat sekolah, Iqbal sempat memberitahunya kalau ia akan dikenalkan dengan seseorang, tapi hingga istirahat kedua ini tak ada tanda-tanda kehadiran orang itu
Sedang dia sendiri tak terlalu mempermasalahkan hal itu karena sejujurnya ia sangat ingin berbicara dengan Ivana. Ya! orang itu bahkan tak pernah menyapanya saat pertama kali menginjak sekolah ini, seakan akan emang antara dia dan Iva tak pernah kenal
Kena mental kali ya? kemarin gue ngomong gitu?
Athaya mulai mengingat peristiwa kemarin waktu bertemu dengan Iva, dia banyak bicara tapi saat disini jadi diam seribu bahasa
__ADS_1
Athaya menyenderkan punggungnya, matanya lamat menatap depan memperhatikan sosok Ivana dan Tari dengan seksama, persahabatan mereka sangat awet, dari zamannya dia mendekati Iva dulu sampai sekarang, itulah yang membuat Athaya jatuh hati pada Iva, sederhana, baik, dan berteman dengan siapapun
...--...