
Banyak warga sekolah mengintip dari luar ruangan, kini orang-orang yang ada di gudang itu sudah berkumpul ke ruang kepsek.
Kasus ini sempat heboh, karena ada beberapa orang yang mengatakan kalau hampir terjadi kasus pelecehan seksual kepada Mentari dan yang membuat lebih mencengangkan adalah pelakunya bernama Langit dan Ivana—sahabatnya sendiri.
"Itu yang dikatakan Langit Ivana, saya juga sudah mendengarkan bukti-bukti yang diberi Langit, dan memang benar bukti itu menjurus kearah kamu,"
Bahkan Iva sudah tak tahu lagi akan jadi seperti apa nasibnya. Dan disaat ia menengok ke arah Mentari untuk berharap dia diberikan pembelaan, hasilnya nihil. Ia seperti punya prasangka buruk dan berdampak kalau persahabatan yang sudah ia jalin lama dengan Tari hanya sia-sia belaka.
"Saya mengaku pak, saya berniat melecehkan Mentari," kata Langit.
"Apa alasan kamu berbuat begitu? apa kamu tidak sadar? kalau perbuatan kamu itu dapat mencoreng nama baik sekolah? itu perbuatan memalukan Langit!" nada suara kepsek meninggi.
"Saya lelaki pak, punya nafsu," ia berkilah, sungguh! dengan cara ini ia bisa berprilaku seperti pria hidung belang penikmat tubuh ibundanya dulu dan Tari adalah sasaran empuk setelah beberapa hari lalu dia, Iva dan Athaya terlibat pertengkaran.
"Kamu gak mau mengaku Ivana?" gadis itu menggeleng, bukannya tak mau mengaku namun, apa yang dituduhkan itu benar-benar salah.
"Baiklah. Ivana, Iqbal, Langit. Besok orang tua kalian saya harapkan bisa menemui saya, saya akan segera memberi kalian surat pemanggilan orang tua unt-"
"Saya gak punya orang tua," sahut Langit cepat.
Iqbal tiba-tiba saja memikirkan peristiwa yang menimpa keluarga Langit beberapa bulan lalu. Saat dia menoleh ke arah Langit, ia menemukan suatu aura yang berbeda.
Bahkan ia tak sadar kalau yang ia ajak bertengkar tadi adalah sahabatnya sendiri. Pasti Langit berada dalam keterpurukan besar, bahkan urusannya dengan Athaya yang ia baru tahu pagi ini—walau tak semua.
"Baiklah, saya akan mengirim surat pemanggilan ini pada orang tua Iqbal dan Ivana, kalian berdua saya skors satu bulan, besok saya akan bicara pada orang tua kalian terlebih dahulu,"
Iqbal menghembuskan nafas beras, ibunya pasti akan kecewa, sangat kecewa! perbuatannya memang keterlaluan, bagaimana ia nanti memberitahu kedua orang tuanya?
Iva menatap bersalah pada Iqbal, cowok yang membelanya saat tiada seorang pun yang peduli. Apa yang kau lakukan Ivana? kamu merusak segalanya! sekarang kau membawa nama baik seorang wakil ketua OSIS yang tak pernah berbuat neko-neko tercoreng.
"Perbuatan kamu diluar batas, Langit. kamu tau ini sekolah elit, tak sembarang orang bisa masuk di sekolah sini, dan peristiwa yang kamu lakukan itu sangat sangat memalukan,"
Hening sebentar.
"Kamu saya keluarkan dari sekolah."
Beberapa detik nafas Langit tercekat, sebelum ia berdiri secara tiba-tiba.
"Tunggu dulu, Langit. Bawa wali kamu besok kesini, bapak akan berbicara sama dia,"
Ia mendengarkan sebentar sebelum dengan langkah sedikit terseok ia keluar. Orang-orang yang sedang mengintip perlahan memundurkan langkahnya. Namun, tidak untuk Vino, Damar, dan Don Don.
__ADS_1
Mereka menatap miris Langit yang mereka lihat jelas berbeda dari biasanya, "Lang?" Vino memanggil saat Langit melewatinya.
Cowok itu berhenti, sedikit menengok belakang, melihat tatapan antara khawatir, kasihan, marah dan tak percaya.
Ia menyayangi teman-temannya melebihi apapun. Namun, hasrat nya untuk membalas dendam untuk keluarganya jauh lebih besar di banding mereka.
Vino menatap nanar kepergian Langit, sebelum beberapa detik setelahnya Iqbal, Tari, dan Ivana keluar. Sama. Tak memberikan komentar apapun.
"Ada apa ini tuhan?" baru kali ini Vino merasa jadi sahabat tak berguna, tanpa mengatakan apapun lagi ia pergi meninggalkan Damar dan Don Don dalam kebingungan.
"Vino? kamu mau kemana?!" Arini agak berteriak saat Vino pergi, setelahnya ia mengejar—menemuinya lalu menenangkannya.
"Persahabatan kita gak hancur kan Don?" tanya Damar lesu. "Kenapa semua jadi gini dah?" jawab Don Don lemah.
"Langit, gue gak nyangka dia jadi begitu, kenapa dia gak pernah cerita kalo ada masalah Dam?" tanya Don Don heran.
"Gua gak tau, dia pinter banget nutupin masalah, kan kita ngiranya dia udah oke, makannya kita juga bersikap biasa aja kan? supaya dia gak terkesan gimana-gimana," sahut Damar.
Mereka berjalan menjauhi kantor kepsek, saat ada satu guru tiba-tiba membubarkan kumpulan mereka.
"Lo yakin Ivana begitu?" tanya Damar dan hanya dijawab gelengan oleh Don Don.
"Balik kayak dulu?" Don Don tiba-tiba berhenti melangkah, ia gak terkikik saat Damar mengatakan hal itu.
"Lo lihat ekspresi mereka tadi kayak apa? Asep, Langit, Vino sekarang kita juga gak tau Athaya ada di mana. Gua tau mereka semua temen kita, tapi kalo kayak gini, siapa yang mau lo samperin dulu?" ucap Don Don serius.
"Ayo kita ke Langit," Damar memberi saran.
"Gak."
"Kenapa?"
"Jangan bela dia, apalagi sampai baikin dia, dia hampir ngelecehin cewek," Don Don berargumen.
"Kenapa lo tiba-tiba gini sih?"
"Gue gak tau Dam, pikiran gue juga lagi bingung. Sebaiknya kita gak usah tanya-tanya mereka dulu, biar mereka menyendiri, soal hukuman yang mereka dapet mungkin kita gak tau, tapi nanti kalau ada waktunya kita tanya. Kepala mereka sama-sama panas sekarang, jadi jangan diganggu dulu,"
Setelah mengucap kalimatnya yang cukup panjang, ia pergi mendahului Damar. Ia sekarang sendiri, teman-temannya sedang kacau, sekolah sedang kacau, perasaannya sedang kacau.
Saat ia melihat sebuah bangku, disana ia menyendiri, memikirkan peristiwa ini berlarut.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi padanya dan teman-temannya?
...--...
Iqbal dan Iva berjalan beriringan, karena mereka berdua harus memulai masa skors nya hari itu juga.
Koridor sepi setelah beberapa saat lalu ramai karena ulah mereka, suasana tertib saat guru mapel mulai datang di kelas pada jamnya masing-masing.
"Iqbal?"
Di dekat tempat parkir, Ivana memanggil. Yang ada dalam dirinya hanya rasa bersalah pada Iqbal, yang sudah berusaha membelanya mati-matian.
"Sori Bal... gara-gara gue lo ikutan di skors...sori"
Ivana tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh, ia kembali terisak, bahkan saat Iqbal menoleh, ia tak kuat untuk bicara bahkan satu kata pun.
Melihat beberapa memar dan bekas darah di bajunya karena perkelahian tadi benar-benar memukul psikis nya.
"Maaf..."
Setelahnya Iva merasakan pelukan hangat, hal itu membuatnya makin terisak, karena ia sadar bahwa saat ini hanya Iqbal yang mengerti perasaannya bukan yang lain.
"Gue kecewa sama semua orang, Bal. Kenapa mereka gak ada yang percaya sama gue sama sekali? gue gak paham...emang selama ini gue jahat ya...?"
"Lo gak jahat Va. Yang jahat itu mereka, mereka yang udah nuduh lo sembarangan," Iqbal mengusap punggung Iva pelan. Sekarang ia sama sekali tak merasa menyesal telah memukul Langit—sahabatnya sendiri.
Iva melepas pelukan perlahan, "lo luka Bal. Kita ke RS gimana? atau mau ke apotek dulu ngobatin luka lo?"
"Gak usah Va. Gue gak masalah, sekarang kita pulang aja ya?" ucap Iqbal.
"Tapi lo gimana?"
"Gue oke, ga usah khawatir, kita pulang ya,"
"Maaf ya? lo jadi kena hukuman gara-gara gue, maaf banget Bal..."
Iqbal mengangguk, "gue anterin lo pulang ya? kita bicara lagi nanti kalo lo udah tenang, ya? ntar gua hubungin."
Ivana mengangguk, ia harus segera pulang, ia juga mengiyakan ajakan Iqbal untuk berboncengan.
Surat pemanggilan orang tua sudah ada di tangannya. Mungkin nanti ia akan melihat rupa kecewa orang tuanya, dan omelan dari orang tuanya.
__ADS_1