ATHAYA?

ATHAYA?
46-Sapu Kenangan


__ADS_3

"Nyatanya Iqbal yang selalu ada setiap lo butuh Va," papar Arini tenang.


"Dia emang selalu ada," Ivana membenarkan.


"Terus kenapa gak pacaran sama dia aja?" mendengarnya membuat Iva menggeleng, Iqbal suka padanya? suatu hal yang tak mungkin.


"Gue cuma temenan biasa aja sama dia," terang Iva pelan, sambil membayangkan sosok Iqbal yang bermuka dingin saat menatap dirinya.


"Tapi dia care kan?" tanya Arini sambil mengangkat sebelah alisnya. Ivana diam sebentar lalu menjawab, "wajar, dia wakil OSIS, kalau ada masalah ya dia ngebelain yang bener kan?"


Arini mengangguk samar, "okay," dia membuka tasnya lalu mengeluarkan beberapa buku pelajaran sekolah.


"Kalau ada catatan baru gue kasih tau deh," katanya ramah, Ivana mengangguk, "makasih, Rin."


...--...


Saat hari-hari berlalu di sekolah seolah tak ada sesuatu hal buruk yang terjadi, sosok Mentari yang dulunya seakan tak bisa hidup tanpa Ivana kini berjalan seolah biasanya.


Memang benar kata orang, di dunia ini kita bukan siapapun, mungkin ada saat dimana seseorang membutuhkan kita. Tapi, lihatlah sebentar lagi, tak lama kemudian dia akan perlahan melupakannya.


Bulan dan bintang itu bagai satu kesatuan yang tak bisa dipisah, meski kadang terdapat awan hitam yang menutupi cahaya bintang yang bersinar. Sama saja, awan tak berpengaruh, toh angin akan membawa awan itu pergi kan?


Dan saat awan hitam itu menjatuhkan hujan—selesai memeras segala yang ia pikul, ia jadi cerah kembali lalu perlahan pergi seperti tak terjadi apapun.


Athaya dan Tari semakin dekat, bahkan banyak yang mengira mereka berpacaran, kalau diperhatikan baik-baik sosok Athaya itu adalah pengganti seorang Ivana—yang rela tak bisa bebas demi mendorong kursi rodanya Tari.


Lalu Ivana sendiri? belum ada kata 'putus' dari keduanya, dan tanpa ia sadari ia telah terjebak dalam cinta seorang Athaya, lalu kalau dia memang tak cinta, mengapa ia relakan untuk menanyai kabar Athaya padahal jelas-jelas cowok itu jarang menghubunginya walau hanya pesan singkat?


"Athaya? aku kangen sama kamu," lalu Ivana pura-pura bodoh atas hubungannya dengan Athaya kalau semua baik saja.


"Gue tau kalau Athaya suka sama Tari. Tapi, gue udah terlanjur cinta sama dia," katanya pada Iqbal saat Ivana baru saja mendapat ponsel baru.


"Lo gak cemburu? Va...lo oke kan? lo sendiri ngakuin kalau Athaya suka sama Tari, terus kenapa lo tiba-tiba gini?" jawab Iqbal.


"Gue udah terlalu jatuh cinta, Bal." Ivana memejamkan matanya perlahan.


"Tapi mereka aja udah gak peduli sama lo Va..." ujar Iqbal tak habis pikir.


"Gue belum percaya seratus persen sebelum gue ketemu sama Athaya," Iqbal mengusap wajahnya frustasi, kalau Ivana ada di depannya sekarang mungkin ia sudah menggoncang bahu gadis itu lalu berkata, "sadar Va! jangan terjebak sama cinta!"


Namun, karena ini di telepon jadi dia urungkan, dia menarik nafas panjang, "besok kalo sekolah, lo mau ngapain?" tanya Iqbal.


"Gue mau berduaan sama Athaya, siapa tau dia jatuh cinta lagi sama gue" balasnya.


"Va..."

__ADS_1


"Bal... kenapa semakin gue jauh sama Athaya gue malah makin cinta sama dia ya?" ujarnya lirih.


Saat itu Iqbal hanya diam mendengar celotehan Iva yang menurutnya tak berbobot. Yang ia rasakan hanya sakit hati karena mendengarnya bercerita tentang orang lain.


Perasaan ini tak normal, hubungan Iqbal dengan Athaya bisa dikatakan baik walau tak sepenuhnya.


Katanya 2 minggu lalu.


...--...


"Yes...si Asep hari ini udah selesai skors nya," Damar kegirangan saat memasuki kelas pagi-pagi, ia langsung duduk dengan heboh di samping Don Don


"Seneng ya lo?" Don Don yang ada di sampingnya tersenyum tipis.


"Lo gak kangen si Langit?" tiba-tiba saja senyum Damar yang tadinya cerah menjadi suram.


"Iya, ya...tuh bocah kemana sih?" Don Don tak menjawab gumaman Damar, ia termenung sejenak sebelum suara seorang wanita meneriakinya dari kejauhan.


"Damar! piket!" katanya.


"Ah! males..." suara Damar langsung memelas, cewek itu langsung mengangkat sapu tinggi-tinggi dan menghampiri bangkunya.


"Berdiri kenapa Dam? ah pagi-pagi bosen gue ngedenger suara mak lampir," ujar Don Don malas.


"Ck! Iya iya...sabar, berdiri ini" dengan perasaan dongkol Damar berdiri lalu mengambil sapu yang ada di pojok kelas.


"Halo gaes Welkom tu may mini vlog," Damar mencoba mencairkan suasana setelah beberapa saat hening, "sini, gue aja yang pidio in," Damar merebut paksa ponsel yang dipegang Don Don.


"Halo guys, kita lagi mau tanding nih, ini lah keadaan di ruangan ganti," Vino berujar riang.


"Ayo lah gas, Don Don jadi bolanya aja supaya tetep full team," Damar ikut-ikutan bercanda, "iya guys, aku nanti jadi bolanya ya? Pokoknya kalian semua stay tune tunggu aksi kita, kita pasti menang!" Don Don memekik semangat.


Kamera diarahkan pada wajah Langit yang dihadiahi cengiran lebar dari orang itu. "Halo Langit ganteng disini..." ucapnya sambil memamerkan ototnya yang tak terlalu besar.


Brandon tersenyum tipis mengenang betapa hebohnya saat itu—kala SMA Dharma Bhakti akan bertanding dengan klub basket SMA Nusantara.


Tak terasa air matanya menggenang di pelupuk mata, ia sangat merindukan saat-saat itu, kala semua masih baik-baik saja. Tak seperti sekarang, yang mau kumpul aja susah, bukan karena sempat atau tidaknya. Tapi, gengsi yang terlalu tinggi.


Lalu kemana Langit? dimana bocah kampret dan gila itu, kemana senyum dan tawanya sebulan ini? sama sekali ia tak mendengar ocehan orang itu.


"Au aduh! Don lu ngapain! minggir jangan gini!" Iqbal berujar sambil sedikit menahan tawa.


"Ketawa aja lah Sep, muka lo dah merah tuh," Damar yang memegang kamera ikut mengompori, "Don! lepasin," ujar Iqbal sambil sedikit tertawa dan berusaha melepaskan diri dari Don Don.


"Aaahh! Athaya tolongin gua!" Iqbal mulai memekik dengan mukanya yang sedikit memerah karena digelitiki.

__ADS_1


"Udah Don," Athaya mulai menarik halus Don Don yang menggelitiki Iqbal, "kamu tak akan bisa menahanku hahaha!" Don Don memekik sombong.


"Gelitikin dia balik Ath!" Iqbal memberikannya ide yang langsung dipakai Iqbal maka dengan begitu saja Iqbal langsung sedikit bisa bernafas lega karena tenaga Don Don yang mulai melemah.


"Rasain lo Don!" Iqbal memekik puas saat Don Don memekik geli karena gelitikan Athaya.


Air matanya jatuh, lalu dengan cepat ia mengusap, agar tak ada yang melihatnya.


"Cengeng banget sih gue anjir," makinya pada diri sendiri.


"Kapan kita balik kayak dulu lagi?" gua kangen kita bareng-bareng kayak dulu lagi," suaranya bergetar menahan sesak.


"Don minggir lo, angkat kaki atau gak gue sapu ni-anjir lo kenapa?"


Mata Damar mampu melotot melihat wajah Don Don yang memerah, "lo nangis?" bisik Damar pelan.


Tak ada jawaban dari Don Don, ia melihat arah pandang cowok itu, saat ia menyadari akan suatu hal yang terlihat mustahil—ia baru merasa bersalah, ternyata sekarang hubungan pertemanan mereka tak sedekat dulu.


"Lo nyadar gak sih Dam, kalo kita udah gak kayak dulu lagi?"


Damar menatap sekitar—mengalihkan perhatian.


"Vino sekarang gak seceria dulu lagi, Athaya kalo ketemu kita seakan gak pernah kenal, Iqbal di skors, dan Langit..."


Ia sejenak menjeda, "sebenarnya gue tau alasan Athaya gak lagi deket sama kita Dam, gue tau pasti dia ada rasa bersalah tapi..." Don Don menarik nafas panjang.


"Bahkan sampai sekarang gue memendam rasa penasaran gue, udah coba gue lupain kejadian ini tapi tetep gak bisa," sambungnya.


"Kita selalu bersikap seolah dalam pertemanan kita gak ada masalah apapun, tapi apa? kita malah makin menjauh seolah gak pernah sedekat ini,"


Don Don menutup matanya yang basah karena air mata, ia sudah lelah memendam rasa yang aneh ini, ia rindu...ia rindu teman-temannya dulu, yang selalu ada...yang tak pernah pergi.


"Udah Don, semua pasti baik-baik aja, kalau kita udah sama-sama sadar pasti bakal balik kayak dulu kok. Kita cuma perlu banyak waktu buat mengerti...kalo kita butuh satu sama lain."


Kali ini Damar bersikap bijak, mencoba menghibur Don Don yang tengah rapuh itu, walau ia sepertinya juga merasakan hal sama.


...--...


Mungkin bagi Iva, tatapan itu ia anggap sebagai tatapan selamat datang. Para siswa terlihat tak terlalu senang dengan kehadiran Ivana.


Namun, ia tak peduli. Sama sekali, ia hanya mengharapkan kehadiran Athaya untuk mendengar suaranya yang lembut memanggilnya.


Ia sudah menginjakan kaki di depan kelasnya. Ia tersenyum penuh arti, sudah sebulan ia tak menginjakkan kaki disini, ia rindu...sangat rindu.


"Athaya?" Ia sumringah saat melihat laki-laki itu, walaupun...

__ADS_1


"Arini gue duduk disini ya? kata lo kosong kan waktu bicara di telepon kemarin?" ucapnya ketika melihat Mentari duduk di samping Athaya—di bangkunya.


...--...


__ADS_2