ATHAYA?

ATHAYA?
50- Babak 1 END


__ADS_3

Athaya tak mengatakan apapun pada keduanya. Sebenarnya ia ingin membuktikan ucapan Ivana kemarin bahwa yang ia tuduhkan soal menyukai mentari itu salah besar. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam ia menaruh simpati yang sangat besar terhadap gadis itu.


Saat bel istirahat berbunyi. Ivana dan Arini tertawa bahagia, mereka berjalan dengan bergandeng tangan penuh suka cita.


Sebenarnya banyak yang menyadari keretakan persahabatan Iva dan Tari, terlebih dari teman-teman kelasnya, meski setelah sekian hari terjadi mereka memilih diam dan menikmati berbagai kejadian yang ada.


"Mau gue temenin ke kantin?" lalu dimana letak kesalahan Ivana? bukankah ia benar mengetahui bahwa dibalik sikap lembut Athaya pada Tari terselip rasa cinta yang lebih?


"Gak Ath..." cowok itu dengan santai duduk, melirik sekilas novel yang dibaca Tari.


"Kenapa lo baca novel itu terus sih? dari dulu perasaan gak selesai-selesai, lo pura-pura baca ya?" tanya Athaya menebak yang hampir semua benar.


"Gue baca kok," sahut Tari tanpa melirik balik. Athaya menipiskan bibir—berusaha mencari topik lain.


Tari masih terlihat senyum-senyum, apalagi kalau bukan karena kabar bahwa ia akan bisa berjalan kembali, ia yakin kalau Ivana pasti juga senang mendengarnya.


"Lo mau nolongin gue gak?" Mentari tersenyum sumringah, ia sudah tidak sabar untuk memberi tahu kabar ini. Maka, ia yang akan inisiatif untuk pergi menemuinya ke kantin dan akan mentraktir mereka.


"Tolongin apa?" tanya Athaya, Mentari menatap balik cowok itu sebelum berujar, "nemuin Ivana di kantin," sambungnya.


...--...


Kantin sangat berisik saat ini, terlebih lagi kembali berkumpulnya 'Geng tanpa nama' alias Iqbal dan perintilannya itu.


"Soalnya nama Don Don itu udah melekat banget di lo sumpah!" kata Damar sambil tertawa terbahak-bahak.


"Sekali-kali kek panggil gue Brandon gitu, biar gue kayak orang-orang barat!" ucap Don Don tak terima.


"Jangan ngadi-ngadi lo, nama gue Iqbal aja di panggil Asep," Iqbal ikutan menyelutuk, "cari supir baru, Sep...biar nama lo ganti," Vino menimpali lawakan dari Iqbal.


"Lo aja gimana? jadi sopir pribadi gue?" ujar Iqbal, "heh...sori ya gue orang kaya...udah gak perlu kerja," balas Vino.


Beberapa candaan lainnya coba mereka lontarkan. Padahal di hati mereka tengah sibuk memikirkan dimana Langit sekarang.


Orang itu benar-benar seperti hilang di telan bumi, tak ada kabar sama sekali. Maka dari itu, secara tidak langsung mereka saling melempar candaan agar tak teringat lagi masalah itu.


"Jadi, misi dekati Ivana gimana bro?" Vino mengangkat satu alisnya—mencoba menggoda Iqbal.


"Apaan sih?" Iqbal pura-pura tidak paham perkataan Vino.


"Ck! jangan sok bego lo! lo udah pdkt kan sama dia? ngaku!" Damar ikut mengompori.


"Buat apa gue pdkt. Dia udah punya pacar dan sampai sekarang masih berlanjut. Gue gak mungkin merebut dia dari Athaya. Lagi pula, lo gak lihat effort-nya si Athaya buat dapetin Ivana? dia kayaknya tulus, cuman kayak lagi ada masalah aja," ucap Iqbal panjang lebar.


"Kalo mereka putus, lo mau maju?" Don Don berkata sebelum melahap makanannya.


"Gak mungkin putus, mereka saling cinta," kali ini jawaban Iqbal singkat.


Damar dan lainnya sejenak diam untuk mengangguk-angguk singkat. Setelahnya Damar mendongak, "terus kalo emang udah putus gimana?" lanjutnya.


"Maksa banget sih lo!" kali ini Iqbal membalas dengan jengkel. Setelahnya ia menyelutuk dengan serius.


"Ivana sama Athaya lagi baik-baik aja."


.


.


.


.


"Ivana!"


Satu kantin menoleh pada satu titik, sebelum akhirnya Iqbal dan yang lainnya bangkit dari duduk untuk melihat badan Mentari basah karena tumpahan minuman.


Dan yang membuat seperti itu adalah Ivana—orang yang mereka bicarakan dari tadi.


Beberapa menit lalu...


"Jadi lo mau nemuin Ivana? harus sekarang emang?" tanya Iqbal dengan satu alis yang terangkat. Mentari mengangguk serius sambil tersenyum sumringah, hingga sulit di tolak Athaya.

__ADS_1


Bodoh memang! bukannya ia sekarang sedang mewanti-wanti kedekatannya dengan Tari? lalu mengapa ia menyetujuinya?


Mata bersinar Tari-lah yang mengalahkannya.


Maka dengan begitu saja, mereka langsung meluncur ke kantin untuk menemui Iva yang perasaannya sedang bergejolak itu.


"Lo gak lihat, Ivana?" tanya Tari sambil celingukan setelah sampai di tempat tujuan, Athaya yang posisinya lebih tinggi dari Mentari.


Sekian detik berlalu, Athaya menemukan keberadaannya, ia sedang duduk berdua dengan Arini di salah satu bangku kosong di salah satu kios kantin.


"Tuh dia, mau kesana sekarang?" tanya Athaya ramah lalu dibalas anggukan dari Tari.


"Va...sebentar lagi apa yang kita nanti-nantiin terwujud! gue bakal bisa jalan kayak yang lainnya. Dan untuk masalah kemarin gue udah maafin lo."


Ia sudah menyiapkan kata-kata untuk nanti. Setelah sampai, awalnya ia tak melihat kehadiran Tari dan Athaya. Namun, sorot mata Arini seolah mengatakan ada yang datang di tengah-tengah mereka.


"Va..." gerak-gerik Arini membuat Iva menoleh. Ia reflek menggenggam tangan erat-erat untuk menahan emosi.


"Ini yang lo mau pamerin setelah lo putus sama gue, Ath?" Ivana membatin, lalu ia membuang pandangan dari mereka.


"Va...gue mau ngomong," Mentari memulai. "Gue udah maafin lo soal kemarin," memang agak melenceng dari awal ia memberi tahu pokok pembahasannya. Tari melanjutkan.


"Soal kemaren sama Langit, gue maafin lo, Va..." ulangnya saat tak mendapati jawaban dari Iva.


"Lo...masih mikir gue terlibat?" jawabnya dingin tanpa menoleh.


Athaya yang melihat sempat menggelengkan kepalanya, ia berancang-ancang untuk menjawab. Namun, segera di hentikan oleh Tari.


"Gue gak mau pura-pura lagi, Va. Karena apa yang gue lihat emang begitu. Jadi-"


"Udah gue bilang berkali-kali gue gak ada sangkut pautnya. Lo bodoh apa gimana sih? atau mau sok polos dan baik hati di depan Athaya? iya?" potong Iva sarkas.


"Lo kenapa sih? sedikit-sedikit bawa gue? setidaknya lo noleh sini dan dengerin apa kata Tari. Dia udah baik buat maafin lo, setidaknya hargain lah," Athaya mulai bicara seolah mencerca.


"Lo belain dia?" Ivana belum menoleh.


Athaya kembali menjawab, "Kenapa kalo gue belain dia? setidaknya lo harus sopan sama dia Va...bukan malah kayak gi-"


Byur!


"Ivana!"


"Udah gue bilang ribuan kali kalo gue gak ada hubungan sama masalah ini!" pekiknya sambil menunjuk Tari. Kini satu kantin memandang ke arahnya.


"Iva!" bentak Athaya.


"Apa? mau marah?! harusnya gue yang marah ke lo karena cewek kegatelan ini, dia yang udah hancurin hubungan kita! dan gue berhak marah untuk membela diri gue karena emang gua gak bersalah!" Iva memekik kencang.


"Jangan bawa hubungan!" Athaya maju dan meninggalkan Tari yang sedikit terisak karena itu. "Athaya..." Tari mencoba menahan Athaya namun tak digubris olehnya.


"Jadi ini alasan lo putus sama gue? lo deketin gue cuma mau pacaran sama dia kan?!"


"Nggak!"


"Terus apa?!"


"Lebih baik lo tutup mulut sekarang," peringat Athaya mencoba sabar. Ivana menarik sudut bibirnya, sebelum maju beberapa langkah ke arah Mentari.


"Lo suka nuduh gue kan Tar?" Mentari tak menjawab pertanyaan Ivana. Dia hanya memandang nyalang, "nih..."


Hanya dengan satu gerakan saja, dia mendorong kursi roda Mentari hingga gadis itu jatuh mengenaskan di lantai kantin.


Semua memekik, dua detik setelahnya sebuah tamparan mendarat cepat ke pipi Ivana, Athaya yang sudah kehilangan kesabaran menampar keras Iva, hingga membuat gadis itu terhuyung.


"Hei!" Iqbal melerai cepat kericuhan itu. "Stop!" Ivana meneteskan air matanya. Tak lama setelah itu kembali memekik.


"Kalo lo berniat deketin Tari, kenapa lo bikin gue jatuh cinta sejatuh- jatuhnya ke lo Ath?!" pekiknya. "Lo cukup ngomong dari awal, supaya gue gak berubah jadi orang jahat kayak gini!" sambung Iva.


"Udah Va..." Iqbal berusaha menenangkan.


"Lo udah bikin gue jadi orang gila kek gini, Ath!" Iva memekik kembali.

__ADS_1


"Stop! stop Va, lo bisa kena masalah lagi kalo cara lo kayak gini," Iqbal menangkup pipi Iva cemas, dia takut kalau masalah ini kembali diketahui guru-guru, pasti akan lebih berat dari sebelumnya.


Ivana menjadi tenang beberapa saat, sebelum suara lantang dari luar kantin memekik keras. Kali ini Iqbal seperti tak bisa melakukan apapun untuk membela Ivana. Satu kantin tahu siapa yang memulai terlebih dulu.


Mentari di bantu yang lain kembali duduk di kursi roda. Salah satu guru dengan tegap menghampiri, "siapa yang memulai dulu?" katanya tegas.


Setu kantin kompak menyebut nama Iva, Iqbal benar-benar tak bisa membela, yang ia katakan lewat sorot matanya sebelum gadis itu benar-benar pergi adalah bahwa Iqbal disini sangat mengkhawatirkannya.


Gadis itu dibawa ke ruang kepala untuk kedua kalinya, ia hanya berharap semoga apa yang dikhawatirkannya tak terjadi.


Athaya sejenak melirik ke arah Iqbal. Kali ini ia percaya apa kata Langit. Sepertinya memang Iqbal menyukai Ivana, sorot matanya tak lepas dari gadis itu walau sudah hilang ditelan kerumunan.


"Gue tebak kali ini lo nyesel kasih visi misi OSIS dan peraturan lo itu, Sep." Vino memandang lurus ke depan.


"Apa?"


"Lo lupa visi misi OSIS dan peraturannya?" Vino menjeda sebentar. "Siswa atau siswi yang pernah diskors, apabila melakukan kesalahan yang sama atau diulangi, dia wajib dikeluarkan dari sekolah," sambung Vino.


Iqbal membuang nafas pelan, teringat itu lagi, ia mengacak rambut pelan sebelum Vino kembali melanjutkan, "tenang. Gue bakal dukung lo kok."


...--...


Mentari di bawa ke ruang UKS, ia mengalami beberapa luka di sekitar tangannya, Athaya memandang khawatir, teringat saat Ivana tega mendorong kursi rodanya Tari.


"Lo gak papa kan?" tanya Athaya.


"Lo putus sama Ivana?" pertanyaan Athaya tak ia balas, "lo diam kayak gini malah bikin gue percaya kalo emang bener," sambung Tari.


"Putusnya gue sama dia, itu urusan kami. Jadi lo ga perlu-"


"Urusan gue, karena itu dia nuduh gue kalau gue dalang dibalik ini semua." papar Tari.


"Maaf," Athaya menjawab pelan. Lalu duduk di ranjang dekat Tari. "Gue udah gak ada rasa apapun ke dia. Apalagi dia dorong lo dan ngamuk-ngamuk kayak tadi," sambungnya.


"Lo mau nungguin gue disini?" tanya Tari. "Maksud lo?" Athaya mengernyitkan dahinya.


Mentari menggeleng pelan, "gue pengen ngasih tau ini ke Ivana dulu. Tapi-"


"Tapi apa?"


Tari berdehem, "Gue bakal bisa jalan lagi, Athaya." katanya agak antusias.


"Apa? jalan lagi?" ucapnya tak percaya.


Tari mengangguk, "gue bakal jalani operasi sebentar lagi, Athaya," mendengarnya Athaya berdiri, ia tersenyum senang dengan mata berbinar.


"Selamat, Mentari! lo bakal bisa berjalan normal," Tari merasakan tubuh dan hatinya menghangat akibat pelukan Athaya, dia tersenyum tangannya membalas memeluk.


"Gue ikut seneng Tar..." Athaya belum melepas pelukannya.


"Gue juga Athaya..." harusnya ia mengatakan ini terlebih dulu ke Ivana. Bagaimanapun juga, ia telah melalui segala kesulitan bersama Ivana. Namun, ia tak pernah berprasangka kalau akan jadi seperti ini akhirnya.


Ivana disidang langsung bersama banyak guru disana. Bahkan ketua OSIS dan wakilnya tak bisa berbuat apapun. Kasus ini benar-benar di tangani oleh guru langsung.


Iqbal cemas, "jangan sampai lo dikeluarin gara-gara peraturan yang gue buat, Va..." matanya tak lepas dari pintu itu, ia tiba-tiba seperti menelan ludahnya sendiri—menyesal apa yang telah ia perbuat.


Dan benar saja. Akhirnya, rasa sakit hati Ivana terhadap semua ***** bengek di sekolah ini selesai.


Ia dikeluarkan.


Hal itu disambut kesedihan yang mendalam bagi Iqbal. Ia menatap nanar Ivana saat ia menentang tas nya untuk dibawa pulang terakhir kalinya. Ia tak menerima pembicaraan apapun, bahkan ketika Arini mengajaknya bicara ia hanya memutar badan seolah tak terjadi apapun.


Bagaimana ini? ia seperti kehilangan jalan pulang, maka dari itu dia bertingkah seperti orang ling lung, tetap berdiri tegak walau hatinya mati rasa.


Mungkin ini adalah akhir dari ceritanya dengan Ivana. Mentari...ia tak ingin membela siapapun, bahkan untuk orang yang telah memanggilnya sahabat itu.


Iqbal? mungkin ini terakhirnya ia bertemu Ivana. Satu yang perlu kau ketahui Ivana, Iqbal sangat mencintaimu. Walau tak pernah mengatakan apapun padamu, percayalah lain kali ia akan datang. Pasti. Tandai ucapan ini.


Athaya? lalu mengapa kau sangat memberikan kesan indah kalau ujung-ujungnya akan berakhir juga? kau pikir Ivana main-main atas apa yang ia rasakan? kali ini Iva betulan kecewa!


Hai Mentari! kemana rasa perhatianmu sebagai sahabat? apa yang membuatmu tak percaya lagi? kurang kah perhatian yang diberi Ivana padamu? semoga kau bisa bertemu dengannya lagi. Kali ini dengan julukan sebagai 'wanita sempurna' seorang Mentari dan wanita tak tahu malu bernama 'Ivana Agnesia'

__ADS_1


Selamat tinggal?


...ATHAYA? BABAK 1 END...


__ADS_2