ATHAYA?

ATHAYA?
65- Arini Anastasia Abraham


__ADS_3

Iqbal di hadapkan pada suatu keadaan yang tidak pasti. Ivana mengundangnya juga Damar, Don Don, dan Vino untuk makan malam di rumah. Setelah pertemuannya kemarin saat wisuda Vino menceritakan semua kecuali keingintahuannya Iqbal karena kalau Vino bercerita seperti itu sudah dapat di pastikan kalau kepala Vino bakal benjol detik itu juga.


"Di makan dulu ya? Anggap saja rumah sendiri," kata Iva. Dan seperti yang sudah-sudah hanya Damar dan Don Don yang langsung menyuap makanan ke mulutnya, ketara sekali kalau kelaparan. Sementara Iqbal masih dalam suasana canggung pada Ivana sementara Vino entah melamun memikirkan apa.


"Lo bisa sampai kesini ceritanya bagaimana sih, Bal?" kata Iva lagi mencoba mencairkan suasana.


"Gue mau ketemu sama temen gue yang sama-sama maba. Terus kalau ketemu lo itu gak sengaja, ya gak Vin?"


Vino langsung berpaling dari lamunannya kemudian mengangguk pelan. Rasa gengsi yang tinggi masih menjalar di setiap tubuh Iqbal. Padahal jika di rasa ini adalah suatu kesempatan yang tepat untuk merebut hati Iva setelah di sakiti oleh Athaya setahun lepas. Dari aroma aromanya cewek ini sepertinya juga belum punya pacar.


Vino mengecek ponselnya berkala, tidak ada kabar dari kekasihnya Arini, di telepon tidak nyambung di chat hanya centang satu. Ini sama saja menyiksa Vino namanya, Iqbal yang bahagia ketemu Ivana malah dia yang galau karena tak ada kabar dari Arin.


10 menit bercakap singkat dengan ayah dan ibu Iva yang ikut bergabung, ponsel Vino tiba-tiba berbunyi nyaring, sebuah pesan singkat dan telepon masuk dia melihatnya sekilas dan rupanya itu Arini.


Ia gembira saat itu juga, "Om, tante Vino izin keluar dulu ya mau angkat telefon,"


...--...


Arini mengendarai mobilnya sendiri hingga ke Bandung menyusul Vino. Sampai pada suatu tempat ia berhenti hendak menelfon kekasihnya.


"Halo?"


"Iya, sayang?"


"Kamu posisinya di mana sekarang?"


"Aku di rumah Ivana, ada apa?"


Arini menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan. "Dia masih aman kan?"


Vino agak terdiam, "Dia sehat kok, aman aja,"


"Oh ya udah, Ay. Sering berkabar ya?"


"Iya,"


Telepon terputus dari pihak Arini, semoga saja kekasihnya itu tak mencurigai apapun.


"Huft... Aku khawatir banget sama kamu Vino, kamu terlalu nekat."


Suara musik jazz mengalun pelan. Ia sejenak menutup matanya untuk menikmati keributan di kepalanya.


Ia tahu betul betapa setianya seorang Vino. Karena itu juga dia masih betah berhubungan kasih dengannya. Sejak awal ia bersekolah hingga lulus, tak pernah ada jarak rasa bosan pada Vino, lelaki itu menurutnya sempurna.


Dia kembali membuka matanya, saat suara dering ponsel mengalun menyamai getar jazz yang dia setel, rasa cemas muncul tak lama setelahnya. Ayahnya menelpon.


"Halo Ayah?"


"Di mana, Nak?"


"Arin lagi di luar Yah. Lagi main,"


"Soal Athaya bagaimana?"


Inilah yang Arini takutkan, apabila nama itu disebut, seolah ada suatu beban yang sangat berat ia pikul.


"Arin belum ngomong apapun Yah."


"Belum? Kapan Rin?"

__ADS_1


"Secepatnya Yah,"


"Ayah serius Arini. Dari kemarin kamu ngomong begitu, Ayah masih mentoleransi, Ayah beri waktu tiga hari untuk kamu. Dan Ayah ga pernah berbohong atas apa yang ayah katakan. Juga anaknya yang satu lagi, segera cari, atau ayah akan mengarahkan anggota ayah,"


Telepon mati begitu saja. Ia memukul stir mobil di depannya, agak frustasi dengan keadaan.


Ayahnya menyuruhnya untuk segera menghadapkan Athaya. Sementara di sini ada Iqbal, Ivana dan yang lain masih dalam pengawasan. Ia sebenarnya melakukan ini hanya untuk membuang waktu— melindungi para sahabatnya dari kekejaman ayahnya sendiri. Abraham.


Saking takutnya dia, Arini sampai rela menuju Bandung untuk memastikan keadaan dia. Tapi di tengah jalan dia tiba-tiba berfikir. Bisa saja ada mata-mata ayahnya, karena di sini adalah daerah kuasa ayahnya. Bisa-bisa rencananya berantakan.


Ia harus segera memutar akal.


...--...


"Beri saya waktu Bu," mohon Laras.


"Tidak bisa, Laras. Kamu sudah saya beri waktu panjang, hutang yang kemarin saja belum lunas. Lah ini mau hutang lagi, banyak pula."


Laras hanya bisa menunduk, dirinya benar-benar bingung. Bagaimana bisa tuhan? Tak ada jalan lagi.


"Begini Ras. Saya bisa hutangi kamu, tapi masalahnya omongan kamu itu tidak bisa di pegang. Dari kemarin kamu ngomong ini itu ini itu tapi gak ada hasil. Selain saya pasti juga akan mengatakan hal yang sama,"


"Tidak ada toleransi kali ini. Dan saya beri kamu waktu untuk kesekian kalinya Laras. Secepatnya,"


Kalau sudah begini harus kemana lagi dia mencari hutang. Usaha donatnya pun tak bisa berbuat banyak, suaminya entah pergi kemana.


Ia berjalan seorang diri menyusuri jalan. Pasrah akan keadaan yang ada untuk kesekian kalinya, ia tak tega menyuruh anaknya untuk berhutang kesana kemari, sementara dirinya luntang lantung tak tentu arah.


Tuhan, berikan segera pertolongan.


...--...


Arini kembali tancap gas menuju Jakarta, tepatnya ke rumah Athaya untuk bagaimana caranya bicara, dia akan pikirkan nanti.


Ciiitt...


Jantung Arini terasa berhenti sejenak. Dia menoleh ke belakang, membuka kaca jendela mobil karena menemukan suatu sosok yang membuat dia terasa mati kutu.


Dia baru saja lewat. Arini berani bersumpah kalau itu Langit. Iya! Langit sahabat Vino yang terjerat masalah setahun lalu di SMA Dharma Bhakti.


"Itu Langit? Dia di sini?"


Arini melawan arus, mengacuhkan setiap klakson yang yang ia dengar. Sangat berbahaya! Bahkan nyawanya juga bisa ikut-ikutan terancam karena kembali memasuki area ini.


Beberapa meter jaraknya Langit, Aji dan pak Amar melaju, Arini mencoba menyamai kecepatannya. Namun naas lampu merah dan tertutupnya jalan sebagai pertanda kereta lewat berhasil menghadangnya. Ia kembali memukul stir, ia akan kehilangan jejak.


"Gue gak salah lihat. Dia Langit," gumamnya.


Tak butuh waktu lama hingga mereka sampai di Teram (Tempat Abraham) kalau kata pak Amar. Dengan langkah tegap namun tetap berhati-hati, mereka masuk.


Pak Amar membuka pintu tempat itu dengan kunci yang entah dia dapat dari mana, saat benda itu mulai terbuka, ada sedikit mimik kaget yang di perlihatkan Langit dan Aji.


Pasalnya yang di katakan pak Amar benar. Tak seperti di luar yang terlihat kosong, angker dan tidak berpenghuni lain halnya yang ada di dalam. Segala perabotan ada, di bagian belakang gedung terdapat dapur yang besar dan modern, di tempat mereka berdiri sekarang ada semacam sofa untuk ruang tamu mungkin. Dan di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah meja dan kursi besar, layaknya tahta sebuah kerajaan yang sangat di hormati.


Di sana Langit mengarahkan pandangannya pada satu hal. Banyak foto-foto orang yang tak dia kenal. Miris, tragis, menyedihkan dan membuat nafas Langit naik turun.


Mereka benar-benar psikopat handal.


Penuh darah dan luka. Hancur tak berbentuk bahkan melalui gambar saja seakan-akan Langit mencium bau anyir di sekitarnya.

__ADS_1


"Mereka mati kerena ulah Abraham. Tanpa keadilan."


Pak Amar memberitahu, "Mereka semua?"


Langit bertanya lemah, setelahnya tangan pak Amar mengarah pada satu gambar. Di sana korban terlihat sudah tidak berdaya, hancur walau tubuhnya masih lengkap, matanya melotot seperti menahan sakit, darah menghiasi seluruh tubuh orang itu.


"Dia Rahsya. Ayahmu,"


Entah setruman dari mana yang ia rasa. Melihat orang hancur seperti itu yang notabene adalah ayahnya membuat ia sakit hati. Sangat sakit hati.


"Dia, ayah?"


Tubuh Langit melemas walau tak sampai jatuh, matanya memerah menahan tangis. Bahkan pandangannya untuk melihat gambar itu nyaris hilang karena tertutup air mata. Ia akhirnya menangis.


Tak pernah ia rasakan kasih sayang seorang ayah dan ibu. Saat melihat foto Rahsya yang mandi darah ia teringat ibunya yang sudah tiada terbakar api kala kecelakaan dahulu. Bagaimana bisa ia merasakannya sampai sesakit ini?


Hening. Hanya ada suara tangisan Langit memenuhi ruangan. "Yah... Ma..." Seluruh tubuhnya panas. Bodoh! Kemana saja kau selama ini Langit? Kenapa baru mengetahui sekarang?


Pak Amar menjauh, dia menghadap sebuah loker besar di pojok ruangan. Seperti sudah mengetahui letaknya ia mengambil sebuah maps berwarna coklat. Sejenak dia membaca isinya sebelum di serahkan pada Langit.


Cowok itu kembali berdiri tegak saat pak Amar menghampiri. Dia membuka maps itu, tangisnya pecah kembali saat melihat sebuah foto dirinya juga ayah dan ibunya. Dulu, dulu sekali saat semua tak serumit ini.


Di dalamnya terdapat foto Dina mungkin saat dia masih menjadi gadis. Sebuah surat dengan kata-kata romantis. Dan surat resmi dari polisi.


"Abraham membayar para petinggi itu agar kasusnya tak menjalar kemana-mana dan berhenti. Itu suratnya. Bahkan media-media berita pun melakukan hal yang sama, entah beritanya itu di blokir oleh penyusup atau ancaman, atau malah mungkin suapan uang."


"Dan mereka mengikuti?"


"Keadilan bisa di beli dengan uang, Nak" kata pak Amar.


"Kau tahu? Dulu Abraham sangat mencintai ibumu, dia mengejar-ngejar walau cintanya selalu ditolak, hingga ayahmu dulu yang punya banyak hutang pada Abraham akan di ampuni kalau dia bisa membawa Dina ke pelukan Abraham.


"Saat Dina ditinggalkan ayahmu, dia frustasi. Abraham sudah tidak tertarik dengan orang gila."


"Aku mencintaimu mas, kenapa kamu pergi ninggalin aku sendirian?"


"Mama? Apa mama sudah makan?"


"Sekali ini saja ma, tolong dengerin Langit,"


"Cepat sembuh Ma..."


Putaran memori muncul satu persatu membuatnya meneteskan air matanya lebih banyak lagi hingga mengenai foto. Dia tiba-tiba rindu ibunya, rindu ayahnya padahal melihat wajahnya secara langsung saja tak pernah ia mengingatnya.


"Semuanya sudah aku serahkan padamu, Nak. Entah seperti apa kehidupanku kedepannya nanti, yang penting kamu sudah tahu dan bapak bisa melepaskan beban bapak sekarang.


Arini takut-takut berani untuk mendekat. Itu adalah markas ayahnya. Jangan sampai Abraham tau kalau ia sekarang tidak sedang di Jakarta.


Langit mengusap air matanya, mengembalikan dokumen itu pada pak Amar lalu mengucapkan terima kasih.


Tanpa mengatakan apapun lagi.


Dari tempat yang sangat jauh seseorang memperhatikan. Jari-jarinya di pasangi cincin yang mahal dan langka.


Dia baru mengetahui suatu hal. Rupanya anaknya sendiri juga bisa berkhianat.


"Rik? Ambil foto itu, cari sempel DNA orang bernama Langit itu dan cocokkan dengan darah milik Rahsya." tak lama setelah Abraham mengucapkan itu. Ajudannya langsung pergi menjalankan tugas.


"Arini... Mau bermain-main dengan ayah?" ucapnya dengan senyuman tak bisa di artikan.

__ADS_1


...


...


__ADS_2