ATHAYA?

ATHAYA?
54- Gue Langit


__ADS_3

Sefia, orang biasa memanggilnya Sefi. Gadis penjual kue donat yang sepi peminat. Kata orang dia adalah anak orang miskin. Orang tuanya masih lengkap, ia punya ayah dan ibu. Tapi, ia juga sedikit meragukan fakta itu, ayahnya memang ada tapi tak pernah ia melihatnya bekerja untuk mencukupi kebutuhannya.


Lain halnya dengan sang ibu yang sibuk banting tulang kesana kemari untuk bisa menyekolahkan Sefi. Pergi pagi pulang larut sudah terbiasa bagi ibunya, dan yang bisa ia lakukan sebagai pelajar biasa adalah membantu dengan harapan bisa sedikit mencukupi.


"Mana uang nya buat aku beli rokok?!" pekik Yatno— ayah Sefi, pemandangan yang sudah biasa terjadi, "ya allah pak...ini uangnya kan buat modal besok buat Sefi jualan," ucap Laras– istri Yatno pelan.


"Aku gak peduli, sini uang nya! atau kamu akan menyesal!" pekiknya lagi sambil mencoba merebut uang itu.


"Jangan pak!"


"Aku gak peduli!"


"Uang nya buat modal jualan sama sekolah Sefi,"


"Jangan suruh dia sekolah, nambah beban aja, suruh dia berhenti! Kerja!"


"Gila kamu, Pak!" pekik Laras.


"Jangan melawan kamu!"


"Bapak!" dari arah pintu masuk rumah bambu yang reot itu, Sefi sedikit berlari sambil membawa genggaman uang dua ribuan lusuh.


"Ini uang buat bapak, jangan ambil uang ibu," ia langsung menyodorkan uang yang di dapatnya pada tangan Yatno.


"Segini doang mah kurang!"


"Besok Sefi cari uang lagi Pak, yang lebih banyak lagi buat bapak," ucapnya pelan.


"Janji kamu ya? awas kamu besok gak ngasih duit lagi!"


"Iya pak, Sefi janji!"


Setelah beberapa perdebatan kecil yang terjadi, Yatno pergi dengan senyuman yang cukup sumringah, Sefi langsung memeluk ibunya itu, begitupun sebaliknya.


"Maafkan bapak mu ya, Nak?" lirih Laras.


Sefi mengangguk, "iya buk... besok Sefi coba cari toko-toko deh, buat nambah penghasilan juga,"


Mereka melepaskan pelukan singkat itu, "ibu minta maaf ya? nasib kamu harus seperti ini, maaf ya, Nak." Sefia mengangguk untuk kedua kalinya.


"Sefi janji buk... kelak Sefi bakal jadi orang yang berhasil buat ibu," terang Sefi pelan.


"Aamiin..." ucap Laras haru. Ia tak pernah bohong untuk ingin menjadi orang-orang beruntung seperti yang lain, yang tidak memikirkan masalah ekonomi keluarga seperti dirinya.


Kadang ia iri dengan teman-temannya yang memiliki ponsel bagus, kendaraan bagus, buku-buku baru, alat make-up, baju kekinian, aksesoris mahal dan lainnya.


Bukan salah orang tuanya juga kalau ia hidup dalam lingkungan seperti ini, yang penting baginya adalah dia punya ibu sebagai penyemangatnya.


Suatu saat nanti pasti dia bisa mengubah derajat keluarnya ini.


...--...


"Memang apa yang kamu pengen tahu, Athaya?"

__ADS_1


"Saya hanya ingin tahu kabarnya, Bu. Sudah lama Athaya gak lihat dia,"


"Kalian gak pernah contac- an ya?"


Athaya menggeleng, "nggak pernah lagi Bu."


Saat ini Athaya berada di ruang TU sekolah Dharma Bhakti, coba mencari tahu di mana perginya seorang Ivana yang pernah singgah di hatinya itu.


"Tapi maaf Athaya, untuk itu, kami pihak sekolah tidak ikut bertanggung jawab. Saat Iva dikeluarkan kami sudah benar-benar lepas tangan," kata bu Ida– pengurus TU.


"Berarti pihak sekolah sudah lepas tangan ya, Bu?" Athaya sekali lagi memastikan, bu Ida mengangguk samar, "benar. Kenapa kamu gak tanya keluarganya aja?"


"Masalahnya keluarganya juga udah gak di sini lagi, Bu. Mereka pindah dan gak ada yang tau," papar Athaya.


"Maaf, Athaya. Kami belum bisa membantu kamu,"


"Gak apa apa Bu, maaf sudah merepotkan ibu,"


Pihak sekolah tak tahu. Athaya berjalan sendiri di koridor. Mentari duduk di mobil Athaya menunggu di sana. Sebenarnya Mentari sudah ingin ikut masuk tapi di larang oleh Athaya.


"Gimana tadi? tau kan?"


Mendengarnya hati Athaya sakit, pasti dia sudah berharap banyak dari ini.


"Pihak sekolah gak tahu, Tar."


"Ha? kok bisa gak tau sih?" ucapnya tak percaya.


"Aku juga bingung, nanti ya, Tar. Aku coba nyari lagi," Tari menyenderkan punggungnya di kursi mobil, sambil bersedekap dia menggerutu kesal.


"Gue bingung sama diri gue sendiri, dulu gue benci banget sama Iva. Tapi, kenapa sekarang gue malah nyariin dia?," kata Tari.


"Karena kamu sama dia pernah ada dalam hubungan persahabatan yang sangat kental, Tar. Itu wajar," tutur Athaya tenang.


"Aku masih bingung sama apa yang terjadi, apa semua ini terjadi karena gue ya?" lirih Tari.


Athaya yang mendengarnya nampak terkejut, ia mengarahkan telunjuknya ke mulut Tari, "gak boleh ngomong gitu ya? kita anggap semua ini selesai oke?"


"Nanti aku cari info lagi," sambung Athaya.


...--...


Sebuah perkumpulan remaja sedang nikmat bercanda di sebuah gedung tua di salah satu daerah di kota Bandung.


Motor mereka terparkir rapi di sana, beberapa dari mereka berambut panjang dan bertato, ada yang kurus ada yang berotot, tindik banyak terpasang di telinga dan mulut mereka.


"Lo gak mau cari tempat yang lain apa bos?" seorang berambut kribo membuka obrolan


"Maksud lo apa?" kata orang yang di panggil 'bos' di sana.


"Ah! jangan sok bodoh lo bos, masak sudah hampir setahun kita nongkrong di sini mulu, di kira anak jalanan nanti," balas orang itu.


"Ya emang anak jalanan!"

__ADS_1


Temannya lagi yang dari tadi asyik mengunyah kacang akhirnya menyelutuk. Dia kembali bicara setelah menelan makanannya.


"Bersyukur lo! udah di kasih tempat tinggal, motor, makanan, masih nge bacot aja!"


"Iya, iya. Gak usah ngungkit masa lalu!"


Gerombolan dengan kurang lebih tujuh orang di sana kembali asyik bersenda gurau bersama. Sebenarnya ada lebih dari 30 orang anggota gerombolan itu. Namun, mereka tengah menyebar untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji.


"Kemaren malak dapat berapa lo?" kata satu lagi orang berambut panjang.


"Lima puluh ribu aing" balasnya.


"Cih! segitu doang? pergi ke samping pasar samping perkampungan, ada jalan sempit di situ, malak di situ auto dapat banyak,"


"Nanti gue coba," balasnya.


Setelah sekian detik hening, ada sebuah motor mendekat ke area itu, seseorang muncul dari balik helm setelahnya.


"Woy!" pekik orang itu.


Semua yang ada di sana lantas berdiri, seseorang yang di panggil 'bos' maju paling depan setelahnya.


"Gue minta semua orang yang ada di sini angkat kaki! pergi kalian semua!" pekik orang itu lagi.


Seseorang yang di panggil 'bos' itu menghampiri santai, "siapa lo," tanya orang itu.


"Gue yang mimpin di sini,"


"Kebetulan. Sekarang kalian angkat kaki dari sini, ini wilayah gua!"


"Sejak kapan ini jadi wilayah lo?"


Orang itu diam, "gak ada yang boleh ngusik mereka di sini, termasuk lo!"


Bos itu langsung memukul mentah-mentah orang di hadapannya, sementara dari belakang anggotanya kompak meneriaki— memberi semangat.


"Ampun bang,"


Wajah orang itu membiru, "banci lo! sok-sokan mau ngambil alih tempat ini, tapi begitu aja udah letoy,"


Orang yang datang itu mundur perlahan, lalu membonceng pada temannya yang sudah duluan ketakutan sebelum mencoba.


"Lo gimana sih?" kata temannya yang ada di motor.


"Gue gak berani, batal aja deh,"


"Mana bisa gitu?"


"Lo aja yang lawan, udah gue bilang rombongannya banyak, bisa mati kita di sini,"


"Emangnya dia siapa?" tanyanya lirih.


Orang yang di panggil 'bos' itu mendekat, memegang pundak si pemegang kemudi motor, lalu dengan dingin bicara.

__ADS_1


"Gue Langit."


Langit.


__ADS_2