ATHAYA?

ATHAYA?
43-Memulai Kembali


__ADS_3

Orang tua Ivana dan Iqbal telah masuk ke ruang kepala sekolah sejak 30 menit lalu, sebenarnya mereka menunggu kedatangan wali dari Langit. Namun, mereka sudah menunggu hingga satu jam lamanya tapi tak kunjung ada kedatangan dari wali Langit.


"Ada yang tau siapa yang mewakili Langit disini?" pak Malik berkata sopan.


"Saya tidak tahu pak, setahu saya dia hanya tinggal bersama pembantunya dan kami pun tidak pernah berkunjung." jawab Risa—ibu Ivana.


Pak Malik mengangguk pelan, sepertinya pertemuan kali ini tidak bisa didatangi oleh orang tua sang pelaku utama.


Di sana pak Malik mulai menjelaskan runtutan kejadian yang dialami anak mereka sehingga mereka harus diberi hukuman yaitu skors.


"Tapi saya yakin pak Ivana tak mungkin melakukan hal seperti itu, karena Mentari adalah sahabat baik anak saya, saya yakin sekali semua ini tak ada sangkut pautnya sama anak saya." ujar Risa.


Fahri mengangguk, "saya juga kenal dengan orang tua dari Ivana, kami tau kelakuan anak kami, tapi untuk hal itu saya yakin anak saya tidak melakukannya."


"Semua ada buktinya pak, bu. Anda tadi juga sudah mendengar sendiri, bahkan pelaku utamanya Langit yang mengungkapkan langsung pada pihak sekolah,"


Ibu dan ayah Iva membuang nafas berat. Sepertinya memang mereka harus mengalah, karena seoerti yang dikatakan Ivana kemarin—bahwa mereka tak punya bukti apapun untuk membela diri.


"Dan untuk Iqbal Danial sendiri, anak ibu sudah melakukan kekerasan terhadap Langit temannya, jadi kami pihak sekolah harus menindak tegas kasus ini,"


Orang tua Iqbal menautkan alis kesal, "pak mohon maaf sebelumnya, disini anak saya membela Ivana pak, dan menurut anak saya Ivana tidak mempunyai hubungan apapun dengan kasus ini, bahwa dia telah di fitnah oleh Langit," kata Vito.


"Tidak bisa pak, maaf. Ivana saja sudah dipastikan bersalah, jadi tolong hargai keputusan sekolah ini, jangan sampai masalah ini bocor ke masyarakat atau publik. Iqbal melakukan hal yang sama yaitu kekerasan pak, maka dengan berat hati dia harus ikut di skors," tegas pak Malik.


Beberapa pembelaan sudah dilakukan oleh kedua belah pihak. Namun, tetap saja keputusan tak dapat diganggu gugat, maka dengan begitu saja orang-orang itu pulang dengan harapan hampa bahwa mereka telah kalah.


...--...


Tak seperti biasanya, kantin tak seramai saat Vino masih berhubungan baik dengan teman-temannya. Sekuat apapun Damar dan Don Don membuat ramai, akan tetap terasa sepi.


Seperti sekarang, tak ada lagi topik pembicaraan yang mampu membuat tawa, mereka hanya duduk berhadapan sambil menyantap hidangan masing-masing, sambil berharap semoga Vino bisa bergabung dengan mereka.


"Kayaknya Vino gak jadi kesini deh," Damar membuka suara setelah hening sekian lama.


"Bentaran doang, pasti dia kesini kok, mungkin dia nyamperin ayangnya dulu," sanggah Don Don cepat.


"Gak mungkin dia nyamperin Arini, secara Arini kan sekelas sama Athaya, dan dia juga denger sendiri kalo masalah ini ada hubungannya sama Athaya," ujar Damar kemudian.

__ADS_1


Mereka melanjutkan makannya, beberapa kali Don Don melihat Damar merenung, ia tahu betul anak itu, dia selalu khawatir jika dihadapkan dengan suatu masalah.


Tak terkecuali dirinya, semalaman ia hampir tak bisa tidur karena ini—lebih kepada perasaan tak percaya pada keadaan yang membuat pertemanan mereka renggang.


"Makan dulu kalian?" akhirnya setelah sekian lama Vino datang, ia langsung duduk di samping Don Don sambil membawa segelas es teh kesukaannya.


"Akhirnya lo dateng kesini bro, gue udah ngira kalo lo gak bakal dateng kesini," ujar Damar.


"Ya nggak lah gila! kalian kan temen gue, tadi gue ke toilet sebentar, kenapa emang? kangen gue ya?" Vino mengusap dagunya perlahan.


"Iya," singkat Damar.


"Frontal banget lo ngomongnya," Vino bergidik ngeri, saat ia sudah meneguk es nya Don Don menendang pelan kakinya dibawah.


"Tumben lo minum es doang? kenapa?" tanya Don Don.


"Nggak nafsu makan gue," singkatnya lalu kembali meminum esnya hingga setengah.


"Ke rumah Asep yuk, nanti kalo udah pulang," ajak Damar. Vino mengaduk pelan esnya lalu menyambung, "tapi gue lebih kepikiran buat ke rumah Langit,"


"Langit kayak gitu mungkin karena dia lagi stres, dia mungkin pas waktu itu lagi sakit hati," bela Vino.


"Sakit hati gimana lagi bro? inget...dia hampir ngelecehin anak orang, lo malah ngebela di gini," Damar menautkan alisnya gemas.


"Gue gak ngebela siapapun disini Dam, gue cum-"


"Udah udah kenapa jadi lo berdua sih yang berantem, mereka itu tetep teman kita. Kalo hubungan pertemanan kita udah retak gini kalian gak usah nambah-nambahin retak."


Vino dan Damar diam mendengar ucapan Don Don, benar katanya, tak seharusnya mereka bertengkar untuk masalah sepele begini.


"Gini aja, pulang sekolah kita ke rumah Langit, kita cari orangnya dan kita tanyain atas dasar apa dia ngelakuin itu ke Tari. Nah, abis itu kita tengokin si Asep," usul Don Don.


Keduanya mengangguk setuju, "oke, gitu aja deh." final Vino, dia kembali menyeruput es nya hingga kandas.


Dan tanpa mereka ketahui, Athaya memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia tak berani untuk bergabung setelah membuat kekacauan.


Dia menatap botol air minum di tangannya, satu untuknya dan satu lagi buat Tari, dan beberapa makanan ringan pengganjal perut dari mbak Ratih—yang biasa Tari beli.

__ADS_1


Dia meninggalkan kantin. Saat sampai di kelas dia langsung duduk di bangku Ivana sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari kantin.


"Lo ngapain?" tanya Tari.


"Makanan buat lo, lo pasti laper kan?" jawab Athaya tenang.


"Gue gak laper, lebih baik lo pergi sekarang," ujarnya dingin.


"Gue cuma mau nemenin lo Tar. Plis ya? hargai gue?" ucap Athaya.


Hargai, katanya? lalu bagaimana perasaan Ivana saat tau Athaya lebih peduli pada Tari dibandingkan dirinya? bukankah dia adalah kekasih Ivana?


"Ivana salah, dia gak seharusnya ngelakuin ini ke lo, gue juga kaget pas tau dia kerja sama dengan Langit buat jebak lo Tar, sori." ucap Athaya sambil menunduk.


"Jadi lo percaya sama gue dibanding pacar lo sendiri?" tanya Tari.


"Karena lo yang lebih tau Tar, bukannya lo sendiri yang bilang kalo yang ngunciin lo itu Ivana?"


Nampak keraguan di wajahnya, walaupun ia sudah melihat pasti dari potongan rambut dan rekaman suara itu.


Apakah ia jahat pada Ivana? lalu disebut apa pula kalau Ivana memang melakukan hal itu?


"Makasih Athaya," senyuman nampak jelas di wajah cowok itu, Tari hanya menghargai usaha untuk menghiburnya.


Saat ia sudah meneguk air mineral itu, maniknya kembali kepada Athaya, "apa hubungan lo sama Langit?"


Athaya mengalihkan wajah, "gue gak tau pasti, tapi yang jelas dia ada hubungan sama bokap gue yang udah gak ada,"


Mentari mendengarkan.


"Kemarin gue coba hubungin dia, katanya malam ini dia ngajak ketemuan sama gue, berdua doang," sambungnya.


"Kasih tau dia, kenapa dia tega bikin gue trauma kayak gini, lalu kenapa yang diincer gue?" ucap Tari serius.


"Gue bakal cari tau sampai ke akarnya,"


...--...

__ADS_1


__ADS_2