ATHAYA?

ATHAYA?
31-Ivana dan Hatinya


__ADS_3

Ivana baru saja selesai sarapan ketika Athaya sudah sampai di rumahnya, saat suara motor cowok itu datang ia tersenyum, ia begitu merindukannya.


"Athaya datang, Ma." Ivana bersiap dengan tasnya, menyalami punggung tangan kedua orang tuanya sebelum berlari kecil menuju luar rumah


"Nggak kamu ajak ke dalam dulu, Va? kok langsung pergi?" Risa bertanya sambil berdiri.


"Iya, kamu jangan terlalu buru-buru gitu lah," ayahnya melanjutkan.


"Udah, Pa. kita mau langsung berangkat," Iva agak memekik dari sana tanpa menoleh. Sementara kedua orang tuanya hanya menggeleng heran. Yah, namanya juga anak muda.


"Yuk, Ath" saat Athaya baru saja menginjakkan kaki disana ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Iva dari belakang. Cowok itu sejenak memejamkan mata karena terbius aroma harum dari Iva, segar.


"Lo gak mau ngajak gue ketemu bokap nyokap lo?" tanyanya sambil tersenyum


"Nggak, yuk langsung berangkat," ia merebut helm yang dipegang Athaya lalu memakainya. Athaya menggeleng, harusnya ia juga ikut pamitan pada orang tuanya Iva.


"Ayo, Ath? nunggu apa?" tanyanya saat Athaya tak kunjung menyalakan motor. Sebenarnya ia sedang melihat ke arah rumah—ia melihat kedua orang tua Iva mengangguk memahami. Entah, itulah yang ia lihat.


"Pegangan ya?" Athaya mengingatkan Iva, gadis itu mengangguk sebelum motor itu meninggalkan daerah rumah Ivana.


Mentari duduk di temani novel kesukaannya, menunggu kehadiran Athaya karena ia ingin melihat pr laki-laki itu, ia takut kalau yang ia kerjakan itu salah.


"Ath?" ia berbinar saat Athaya memasuki kelas. Namun, tak lama setelahnya ia melihat pula Iva yang bergandengan tangan dengan Athaya. Agak terkejut sebelum berakhir tersenyum.


"Ivana?" ucapnya berbinar. Iva memeluk erat sahabatnya itu, walau baru dua hari tak masuk, ia sangat merindukan Tari.


"Gue kebelakang ya?" Athaya pamit diri untuk menuju belakang yang hanya di balas anggukan dari Iva.


"Lo udah sehat kan?" tanya Tari. Iva mengangguk senang "udah sehat nih, btw kemarin bahas apa aja,"


Ia masih menginginkan jawaban dari Tari. Tapi, bagaimanapun juga ia tak bisa langsung spontan karena hati Tari itu lembut—itu menurut Iva. Intinya harus hati-hati.


...--...


"Ada kerja kelompok tadi, kita cari tumbuhan sekitar sini ya? kan katanya tumbuhan terserah, iya kan?" Iva membereskan alat tulisnya. Tari hanya mengangguk. Jam istirahat sudah tiba, Athaya melangkah menuju kantin sekolah, tadi ia sempat menawarkan Iva untuk bareng, tapi gadis itu sepertinya ingin menghabiskan waktu dengan Tari.


Untuk menanyakan hal itu.


"Gue mau nanya sesuatu ke lo, Tar. Lo tau kan gue itu orangnya hampang pikiran. Tapi, sori ini lo ngapain ya?" ia tak memakai basa basi apapun, membuka ponsel dan menunjukkan foto itu ke Tari.


Ia tentu terkejut, bagaimana bisa? "Sori, Va. Itu gue pas mau belajar di lab, gue gak nyaman duduknya waktu itu, jadi minta tolong sama Athaya. Lo jangan marah ya?" Tari berkata sungguh-sungguh.


Iva tersenyum, "gak papa gue cuma mau nanya itu, gak papa kok. Santai aja," balas Iva santai walau pikirannya masih sedikit berkecamuk.


"Lo mau ikut ke kantin atau mau disini, mau nitip apa?" tawar Iva.


"Gak deh, gue ikut lo mau beli apa, sori ya? gue tunggu sini," Iva tersenyum saat Tari menyelesaikan kalimatnya.


"Tunggu ya?"

__ADS_1


...--...


Iva lama tak mempermasalahkan hal itu, hubungannya dengan Athaya semakin dekat setelah sebulan lebih mereka jalani. Walau masih terhitung sebentar, itu sudah lebih dari cukup.


Namun, dirinya dibuat tak percaya kembali dengan Athaya, saat ia sudah membuang jauh-jauh tuduhannya terhadap Athaya dan Mentari sebulan lalu, ia kembali melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian yang hampir sama.


"Gue ke toilet bentar ya?" mereka baru saja dari perpustakaan, Iva tersenyum saat Tari mengiyakan pertanyaannya.


Kejadiannya tak begitu lama, karena setelah itu bel tanda pulang berbunyi, Iva dengan langkah tegap kembali pada Tari, ia mengaku sudah dengan cepat berjalan. Namun, sepertinya ia kalah cepat dengan rombongan orang-orang yang ngotot ingin segera pulang.


"Athaya?" Iva menautkan alisnya bingung sebelum perlahan melangkah mundur.


Baru saja ia bersyukur tentang hubungannya dengan Athaya, lalu apa?  ia melihat Athaya memeluk erat seorang Mentari sahabatnya.


Itu sama sekali bukan mimpi, saat kejadian itu berlangsung sangat cepat, ia bahkan tidak tahu seorang Iqbal memperhatikan dirinya dari jauh.


"Gue cuma nenangin Tari yang di bully anak kelas sebelah," itu kata Athaya tadi, saat ia berlari ke toilet, suara langkah Athaya berhenti sebelum terdengar kembali dan berakhir menghilang.


Kali ini ia dan Iqbal bersama di sebuah kafe milik teman mamanya, kawasan yang tak terlalu ramai pengunjung, Iqbal yang mengajaknya kesini.


"Lo gak percaya sama Athaya?" Iqbal bertanya dengan hati-hati. Ivana menggeleng, "gue gak tahu, Bal. Gue mau nunjukin sesuatu ke lo," ia terdiam sejenak sebelum menunjukkan sesuatu.


"Lo dapat foto itu dari mana?" foto sebulan lalu saat Iva sakit. Berusaha keras ia untuk berpura-pura tak peduli, ketika tadi pagi ia lihat dengan sendirinya, seakan perjuangannya mengalihkan kekhawatiran dihancurkan oleh fakta.


"Ada orang yang ngirim ini ke gue. Kejadiannya sebulan lalu pas gue sakit, gue udah berusaha buat nggak peduli. Gue bahkan gak tanya apapun ke Athaya, Bal."


"Lo lebih baik ngomong sama Athaya dulu," sebuah arahan yang sepertinya harus ia lakukan. Atau mungkin Tari dulu?.


"Thanks udah berbagi cerita lo," Iqbal menyampaikan, "gue tau lo deket sama Athaya. Jadi, kayaknya gue lebih nyaman cerita sama lo Bal," saat Iva mengatakan itu, Iqbal merasakan jantungnya yang berdetak dua kali lipat lebih cepat. Ia mengangguk, kembali pada harfiahnya yang dingin—seolah tak peduli.


...--...


Athaya kembali merenung saat panggilannya tak kunjung diangkat oleh Iva, ia hanya ingin meminta maaf untuk kesalahan yang bodoh ini.


Ivana


Kita ketemu di tempat biasa, gue mau ngomong


Saat pesan itu tersampaikan padanya, ia tak ambil pusing lagi untuk mengiyakan tawaran Iva, menurutnya dia cukup dewasa untuk bersikap tenang.


Saat Athaya sudah sampai di tempat yang tak terlalu ramai itu, ia bahkan tak menyadari kehadiran Iqbal yang mengintai dari kejauhan, pun tak tahu kalau ini adalah rencana Iva dan Iqbal.


Mata Iva sembab, ketara sekali habis menangis. Saat kedatangannya ia memeluk Iva dari belakang membuat gadis itu terpaku.


"Maaf, Va. Kejadian tadi itu gak seperti yang kamu bayangin," gaya berbicara Athaya berubah, ia tak pernah menggunakan kata aku-kamu selama mereka berpacaran. Namun, tak menyurutkan niat Iva untuk merasa iba.


"Duduk dulu, Ath." ia duduk di depan Iva, matanya terlihat lelah, jelas sekali merasa kepikiran.


"Aku bakal jelasin soal di sekolah tadi. Va? Mentari di bully karena fisiknya, kamu tau sendiri kalau aku juga punya pengalaman yang pahit soal itu. Jadi aku bawa dia ke kelas-"

__ADS_1


"Dia bisa dorong kursi rodanya sendiri,"


"Suasananya rame, Va. Anak-anak pada rebutan tempat di koridor buat cepet-cepet pulang," pandangan Athaya meyakinkan.


"Gue gak percaya,"


Athaya mengacak rambutnya, "Va denger, aku sayang banget sama kamu, gak mungkin aku ngelakuin apa yang kamu tuduh ke aku, apalagi sama Mentari sahabat kamu sendiri,"


"Justru karena ada Tari gue jadi curiga!" Iva menekan di setiap perkataannya.


"Dia baik, Va. Kamu jangan nyalahin aku kayak gini,"


"Gue gak bakal kayak gini kalo ini terjadi sekali,"


"Apanya yang terjadi sekali?"


"Nih!" ia membuka ponsel cepat dan menunjukkan foto sebulan lalu saat dia sakit. Athaya agak terpaku sebelum kembali melihat wajah sedih Iva.


"Siapa yang ngirim ini?" tanya Athaya dingin.


"Gak peduli siapa yang ngirim, intinya gue bener-bener berterima kasih sama orang yang ngirim ini ke gue. Dan sekarang gue tanya ke lo apa yang terjadi di foto ini," ujar Iva ketus.


"Itu kejadian pas lo sakit, dan gak ada yang peduli sama Tari, jadi aku bantu dia, salah?" Athaya mulai meninggikan suaranya.


"Oh enggak. Gue seneng lo mau bantu. Tapi apa harus pelukan di tempat kayak gini?" Iva menjauhkan ponselnya saat tangan Athaya berusaha mengambilnya.


"Lo apa-apaan sih?" Athaya mulai tersulut.


"Lo yang apa-apaan Ath. Setidaknya lo jujur ke gue masalah ini, bukannya diam! seakan gak ada masalah,"


"Va-"


"Bentar, lo kira gue gak cemburu lo dekat sama Tari, walaupun ada gue disana?" Iva kembali menyimpan ponselnya.


Athaya terdiam, "lo seakan-akan memproritaskan gue tapi nyatanya? nggak sama sekali. Karena apa? Oh, apa karena Mentari orangnya cacat?"


"Iva!" pekik Athaya.


"Sekarang lo bahkan berani bentak gue disini,"


"Karena omongan lo udah keterlaluan,"


Iqbal hanya diam memperhatikan, ia tak ingin ikut campur, hanya melerai kalau-kalau ada sesuatu yang keterlaluan.


Iva menatap tajam mata Athaya sebelum mengambil tasnya dan keluar dengan perasaan sakit hati yang kuat.


Athaya tak mengejar, ini pertama kalinya dia dan Iva berseteru. Iqbal berdiri menyusul Iva tanpa sepengetahuan Athaya. Cowok itu duduk sebentar sebelum melangkahkan kakinya keluar kafe dengan perasaan berkecamuk.


...--...

__ADS_1


__ADS_2