ATHAYA?

ATHAYA?
17-Pagi dan Basket


__ADS_3

"Jangan macam-macam kamu!"


Dina terdiam sepersekian detik mendengar bentakkan dari Rahsya—suaminya


"Aku cuman minta kamu buat tinggal disini aja mas! Apa susahnya?!" Dina memekik keras


"Denger ya! kamu sekarang gak usah ngeharapin apapun dari aku, aku udah nggak suka lagi sama kamu!" Rahsya melangkah hendak keluar rumah


"Mas Rahsya!" Dina menjatuhkan diri sambil memegangi kaki Rahsya kuat, "jangan tinggalin aku sendirian disini, kita harus rawat Langit sama-sama mas, aku nggak mau ditinggal kamu sendirian," ujar Dina sambil menangis


Dari arah dapur, Lina menunduk dalam-dalam, ia gugup dan takut melihat majikannya bertengkar, bahkan tak pernah ia melihat kedua majikannya itu saling mengumbar kemesraan


"Minggir kamu! jangan halangi aku!" Rahsya menghentakkan kakinya berharap cekakan Dina terlepas


Dina memekik, "kalau kamu pergi, aku bakal hilangin Langit dari dunia ini mas,"


Rahsya memandang marah kepada istrinya itu, sebelum menarik tangan Dina agar ia dapat berdiri, "ngomong apa kamu barusan?" ucap Rahsya pelan namun terdengar mengancam


"Aku bakal bunuh Langit, anak kita!"


"Dina!"


Pipi wanita itu memerah saat tangan kasar Rahsya berhasil menamparnya, Dina menunduk merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya, ini adalah perlakuan paling parah dari Rahsya


"Kalau sampai aku tahu anak aku kenapa-napa dan itu semua karena kamu, aku nggak akan segan-segan buat ngelakuin hal yang sama ke kamu!"


Langit adalah anak satu-satunya mereka, Rahsya sangat bahagia dengan kelahiran Langit, namun karena ia memang tak menyukai Dina, Rahsya ingin meninggalkannya tanpa alasan yang jelas


"Setidaknya kamu bilang ke aku dulu, kamu mau kemana ha?!, kemana?!" Dina menghentak-hentakkan tangan Rahsya


Sebelum Rahsya benar-benar pergi, Rahsya sempat melirik ke arah Lina, ia adalah satu-satunya pembantu yang masih setia bersama keluarga Rahsya bahkan sebelum Rahsya menikah dan memiliki anak


Lina yang menyadari tatapan itu hanya menunduk dalam, ia takut dengan tatapan Rahsya saat ia marah seperti ini. Pria itu melepas paksa cekakan tangan Dina lalu dengan angkuh berjalan menuju dapur tempat Lina berdiri


Saat sampai didepannya Lina masih tak berkutik, ia hanya mampu menatap ujung sepatu Rahsya yang agak kusam itu, sepatu yang Lina masih ingat sekali ibunya Rahsya yang memberinya sepatu itu waktu ulang tahunnya yang ke 27 tahun


"Lina?"


"Iya pak?"


"Kayaknya saya nggak perlu lagi bilang apa-apa ke kamu,"

__ADS_1


Lina masih diam


"Kamu tetap tinggal di sini dan rawat Langit sampai dia dewasa," Lina agak terkejut dengan pernyataan itu, sudah bertahun-tahun ia tinggal di keluarga Rahsya, dan saat ini ia diutus untuk menjaga Langit sampai ia tumbuh dewasa


"Iya, pak." Jawab Lina pelan


"Jangan ceritakan ini kepada siapapun, termasuk Langit."


Setelah menamatkan kalimatnya, Rahsya berbalik sambil membawa kopernya, walaupun dari belakang masih ada Dina yang memekik dan menangis kencang agar suaminya itu tak jadi pergi. Dan saat semua sudah selesai Rahsya berhasil pergi dengan mobilnya


Dina terdiam beberapa detik di teras sebelum berlari ke lantai dua dan mengunci diri disana


Itu kejadian 16 tahun lalu.


...--...


"Tumben, Vin? ngajak gue ada apa nih?"


Beberapa hari setelah ia mencurahkan segala isi hatinya pada Arini ia perlahan mulai menyukai gadis itu, dari sekolahpun ia tak sungkan untuk sekedar menyapanya atau bertanya sedikit tentang hari ini


Arini justru sangat senang karena dari sekian banyak orang yang menginginkan dekat dengan Vino ia adalah salah satu orang yang beruntung itu


Dan pagi ini tiba-tiba saja ia mengajak Arini untuk jalan pagi bareng, ia saja sampai heran bisa-bisanya ia luluh dengan Arini hanya karena Arini adalah orang yang mendengarkan ceritanya waktu ia sedang kesusahan


"Lo gak dicuekin sama Tari kan?"


Di taman dekat lapangan basket mereka berhenti sejenak untuk duduk dan sekedar minum dan istirahat


"Nggak sih, ngapain juga gue dicuekin?"


"Ya kan gue dulu ngejar-ngejar dia, tapi sekarang gue mau berhenti karena gue ngerasa aja kalau emang Tari nggak suka sama gue,"


"Lo nggak jadi benci ke Tari kan?"


"Nggak lah, ngapain juga gue benci dia, selama gue suka dia pun kalo gue sok-sok deket dia fine fine aja, gue cuman mastiin aja sih, siapa tau kayak gitu,"


"Mentari itu orangnya baik banget, pantang nyerah dan selalu semangat buat ngejalanin hari-harinya, walaupun gue gak terlalu deket sama dia tapi gue selalu termotivasi,"


Vino menoleh ke arah Arini sebelum gadis itu kembali melanjutkan, "dia selalu semangat dalam segala kondisi yang dia hadapi, gak peduli soal omongan orang-orang yang nganggep dia sepele, gue jadi bersyukur banget bisa kenal dia, dan tentunya makin mensyukuri hidup gue,"


Vino tersenyum simetris dan meneguk kembali air mineralnya, setelahnya ia berdiri karena baru saja dapat ide menarik

__ADS_1


Cowok berkaki jenjang itu berlari ke arah lapangan basket dan mengambil bola basket yang tergeletak disana


"Sombong dikit boleh gak? lo gak minta ajarin basket sama ketua nya langsung?" Vino menaik turunkan alisnya


Arini spontan berdiri dan berlari ke arah Vino lalu merebut bola yang ada di tangan Vino secara tiba-tiba yang membuat Vino agak terkejut


"Ayo rebut kalau bisa," Arini berkata sambil men- dribble bola ditangannya, dengan gerakan semangat Vino mencoba meraih bola dari tangan Arini, walaupun mudah bagi Vino merebut, cowok itu lebih memilih untuk seolah-olah kesusahan merebutnya


"Lemah lo, ketua basket"


"Coba shoot bolanya," bola basket itu dilemparkan Arini ke ring namun malah tidak bisa masuk, Vino tertawa sedikit melihat mimik wajah Arini yang sudah susah-susah melompat tapi malah tak mencetak poin


"Sini gue ajarin," Vino memantul-mantulkan bola basket dengan mudah sambil sedikit meliuk-liuk untuk ia perlihatkan pada Arini, dan sekali loncat bola itu sudah berhasil masuk ke ring dengan mudah


"Wlee...berhasil," Vino sedikit melakukan selebrasi di depan Arini, gadis itu bertepuk tangan keras, dan memuji kehebatan Vino


"Vino keren,"


Pagi itu Arini sampai tak percaya kalau ia bisa sedekat dan seakrab ini dengan sang ketua basket dan OSIS SMA Dharma Bhakti, seolah perjuangannya untuk mendekati Vino sedikit terbayar


...--...


Athaya menenggelamkan wajahnya di bantalnya saat tiba-tiba saja ia bermimpi untuk kesekian kali tentang ayahnya, matanya membuka lebar saat mengetahui bahwa pagi sudah datang hampir menjelang siang


Kenapa ia tak dibangunkan tadi? mamanya pasti sudah menunggunya sarapan di bawah, Athaya sedikit meregangkan tubuhnya yang setengah telanjang, dia memang sering tidur tanpa menggunakan atasan, karena Athaya gak betahan kalau panas dan kedinginan kalau pakai AC!


Dan benar saja saat ia kebawah untuk sarapan, Zahra sudah menunggunya di meja makan. Sepertinya Zahra sedang memikirkan sesuatu, ia terlihat melamun sendirian disana dengan sarapan yang sudah tersaji di depannya


Athaya memeluk Zahra dari belakang seakan menguatkan, begitupun Athaya, dia tadi baru saja bermimpi di temui ayahnya, entah bermimpi apa tadi, ia lupa! tapi yang pasti mimpi itu mampu membuatnya nyaman hingga kesiangan seperti ini


"Mikirin apa ma?" Athaya merasakan sebuah gerakan terkejut saat ia bicara, Zahra terkikik geli saat ia sudah sadar penuh dari lamunannya


"Udah bangun?"


"Kenapa gak bangunin Athaya ma? atau mama sarapan aja dulu nggak usah nungguin Athaya?"


"Iya, mama sengaja nunggu kamu, supaya ada temannya sarapan, lagi pula mama juga gak tega bangunin kamu keliatan capek banget,"


"Nggak lah ma, namanya juga tidur pasti kelihatannya capek, padahal nggak" Athaya terkikik geli dengan candaan yang ia buat sendiri


"Ya udah sarapan dulu, nanti langsung mandi,"

__ADS_1


Ucapan Zahra yang selalu Athaya dengar setiap hari libur.


...--...


__ADS_2