
Arini baru saja turun dari motor Vino yang mengajaknya pergi ke alun-alun kota, keadaan disini ramai, banyak pedagang kaki lima yang berjejeran untuk menjajakan makanannya.
Di bagian barat alun-alun itu, ada pertunjukkan musik kecil, tak sedikit yang menonton—menikmati musik itu sebelum mengisi kaleng biskuit dengan uang pecahan kecil.
"Kita beli makanan dulu kali ya?" Saat setelah memarkirkan motornya, Vino mengajak Arini membeli jagung bakar dan minuman di salah satu kios, mereka duduk di atas rumput tanpa alasan apapun, menikmati malam dengan suasana ramai yang tenang.
"Lo suka suasana kayak gini?" Arini bertanya.
"Suka, kalo lo suka nggak?" Vino membalas tatapan Arini yang setelahnya dijawab anggukan kecil bermakna 'iya'.
"Gue dulu pernah kesini sama orang tua gue, dulu tapi," kata Vino.
"Kalo sekarang?"
"Udah nggak, kan mereka pada sibuk,"
"Iya, gue juga gitu, dulu pas gue di kampung maksudnya, sekarang kalo mau ketemu mereka harus nunggu liburan semester dulu, baru bisa balik kampung," kata Arini sambil mengunyah jagungnya.
"Tapi lo masih sering kabar-kabaran kan sama keluarga lo?"
"Sering sih, sekarang sinyal juga mulai bagus. Tapi, mau gimana lagi? namanya juga kangen,"
"Ortu lo pasti bangga punya anak kayak lo,"
"Kenapa?"
"Lo pinter di semua mapel, juara olim, berbakti banget sama orang tua gak pernah bandel,"
"Semua anak pernah bandel kok, Vin" Arini agak terkekeh, "cuman kadang permintaan orang tua yang dianggap terlalu menekan anaknya, ya kita nggak boleh nyalahin salah satunya sih, tergantung masing-masing juga," sambungnya.
"Gue jadi malu sama lo, nggak kayak lo, gue malah nentang nasihat orang tua mulu, kalo gue dirumah sehari aja gak berantem itu gak pernah,"
"Jangan gitu, kan tadi gue juga udah bilang kan? semua tergantung masing-masing,"
Hening menyelimuti untuk beberapa saat. Arini fokus mengunyah makanannya, sementara Vino fokus pada wajah Arini, ia benar-benar telah melupakan Mentari, yang ada di sampingnya saat ini yang telah melakukannya.
"Maaf ya gue dulu cuek sama lo,"
"Ha? santai aja kali, gue juga minta maaf kalo dulu gue bikin lo nggak nyaman ngejar-ngejar lo, haha...kalo diinget-inget lucu juga ya?"
"Rin? kalo gue mau nebus kesalahan gue dulu lo mau gak?, ya gak seberapa sih, cuman gue berharap banget lo mau,"
"Apa?" Arini membalas tatapan Vino, cowok itu menunduk sejenak lalu berkata tegas.
"Jadi pacar gue ya?"
Arini terpaku untuk beberapa saat, wajahnya memerah malu, ia memalingkan wajah begitu juga Vino yang kini malah menatap lurus ke depan.
"Gue tau ini bodoh. Tapi, ngelihat perhatian lo waktu itu bikin gue tenang, Rin. Nasehat lo yang lo bilsng gak seberapa itu bisa nenangin pikiran gue yang saat itu kalut. Kalo lo mau, gue bakal seneng banget. Tapi, kalau sebaliknya, gue usahain bakal–"
"Oke."
Vino langsung memalingkan wajahnya menghadap Arini, ia menemukan wajah yang memerah malu disana, ia tersenyum, "Arini, hadap sini"
__ADS_1
Saat keduanya bertatap untuk beberapa detik, mereka hanya sadar kalau ternyata mereka berada di satu titik dimana terdapat rasa malu yang diselingi rasa takjub, dan Arini tahu, ini adalah titik balik perjuangannya mendekati sang ketua OSIS paling ngeselin di SMA Dharma Bhakti itu.
Dan saat mereka menemukan diri yang sama-sama terbawa arus kasmaran—mereka tak banyak mengambil kata, hanya helaan nafas dalam dan kata terima kasih yang hangat dan penuh kelegaan.
"Lo makin ganteng kalo malu-malu kayak gitu, tau gak?"
Tawa Arini pecah disusul gelitikan dari tangan Vino, bisa-bisanya Vino dibuat salah tingkah oleh gadis bernama Arini itu.
"Lo juga makin cantik kalau belepotan kayak gitu," Arini menutup mulutnya dengan sekali gerakan, lalu menemukan tangan Vino yang maju menuju mulutnya untuk mengusap beberapa kekacauan itu.
Kali ini, malam dihabiskan di atas rumput alun-alun kota yang sangat ramai.
...--...
"Pak Rahsya waktu itu menikah dengan bu Dina karena sebelumnya nggak tahu kalo bu Dina seorang wanita malam. Dan saat mas Langit lahir, rahasianya terbongkar, mbak hanya tahu soal kejadian malam itu waktu pak Rahsya dan bu Dina bertengkar, selebihnya saya tidak tahu,
"Dan saya waktu itu dapat info dari sopir pribadi pak Rahsya dulu, kalau pak Rahsya pindah ke Semarang buat menemui seseorang, itu saja yang mbak tahu, kabar pak Rahsya kembali ke Jakarta mbak nggak tahu, bahkan ada kabar pak Rahsya meninggal, mbak juga nggak tahu mas Langit,"
"Ivana!"
Dari lorong kelas Langit melambai ke arah Ivana yang hampir sampai di depan kelas. Langit agak sedikit berlari disana untuk menemui Ivana.
"Langit? tumben, ada apa?"
"Lo mau ikut gue sebentar gak?"
"Kemana?"
"Ke taman belakang mau? gak terlalu banyak orang juga disana,"
"Oke deh, kalo lo maunya disana,"
"Bentar, gue balikin tas di kelas dulu gimana?"
"Eh, gak usah deh Va, bentar kok,"
"Gitu ya? oke deh, yuk,"
Langit berjalan berdampingan dengan Ivana, sesekali bertanya kabar pada Langit dan basa-basi seputar rumah dan sekolah.
Tiba di taman yang tak terlalu besar itu—mereka duduk di kursi kayu dibawah pohon yang rindang, suasana masih terlalu pagi, dan jarang juga ada siswa yang sudah kesini pagi-pagi.
"Mau ngomong apa?"
"Nggak, cuma mau bilang makasih soal kemaren nyokap gue, berkat lo sama Athaya, nyokap gue jadi cepet ditemukan,"
"Santai aja kali, gak masalah kok,"
"Gue ngajak kesini cuma mau minta tolong lo buat nyimpen ini," dari saku celananya Langit mengeluarkan sebuah kunci ruangan berwarna silver yang sudah agak berkarat. Ivana mengerutkan dahi sebelum perlahan menerimanya.
"Kunci apa nih?"
"Kamar nyokap gue, Va. Gue minta tolong ya, buat jaga kunci itu, karena setiap hari gue gak mau terus-terusan bolak-balik ke kamar nyokap, itu malah bikin gua susah lupa, Va."
__ADS_1
Ivana menatap kunci itu lekat-lekat, setelahnya Langit melanjutkan "gue bakal seneng banget kalau gue bisa sedikit demi sedikit ngelupain kejadian ini dengan nggak masuk kamarnya terus, nanti kalau gue udah terbiasa, gue ambil kunci itu lagi,"
Ivana tersenyum "oh, ya udah gak apa-apa kok Lang, kalo itu bikin lo terbiasa sama keadaan, gue bakal jaga kunci ini baik-baik,"
"Iya, makasih Va, taruh aja terus di tas lo, supaya nanti nggak ngerepotin lo kalo gue pengen ngambil kunci itu lagi,"
"Iya, gue taruh di tas gue terus," Ivana membuka tas punggungnya lalu meletakkan kunci kamar disana.
"Oh iya, sori sebelumnya, Athaya itu yatim ya?"
"Iya, dia ditinggal bokapnya waktu masih kecil,"
"Hm, turut prihatin gue. Tapi, btw namanya siapa ya?"
"Namanya? duh gue lupa Lang, kalo gak salah namanya ada Kurniawannya gitu,"
Langit menangguk, "karena apa meninggalnya?"
"Dia bilang sih karena serangan jantung, itu kata mamanya"
Langit mengangguk untuk kedua kalinya, lalu mencodongkan tubuhnya kedepan—memikirkan sesuatu.
"Lang?" saat Iva memanggil, Langit tersadar, lalu dengan satu gerakan menoleh, ia berujar "iya? sori Va, gue kadang gak fokus. Btw makasih ya buat kesini, sori juga kalo ngerepotin,"
"Santai, Lang. Kayak sama siapa aja lo, kita kan temen. Oh ya, gue balik kelas dulu ya gak apa apa kan?"
"Oh, iya gak papa, makasih sebelumnya, Va" Ivana mengangguk lalu melenggang pergi meninggalkan Langit yang sendirian disana. Ia senang bisa membantu temannya, ia mengerti perasaan Langit yang ditinggal salah satu tiang penyangga hidupnya. Semoga saja ia bisa secepatnya kembali ceria seperti semula.
...--...
"Tumben baru dateng, Va?" Mentari bertanya saat Ivana baru saja mendaratkan diri ke bangku.
"Iya, agak macet soalnya," bohong Ivana—bukan karena apa-apa, tapi ia hanya ingin menjaga privasi Langit agar hanya ia dan Langit yang tahu.
"Nanti pulang bareng gue ya?" tiba-tiba dari belakang seseorang membisik ke arah telinganya, saat ia menoleh, ia mendapati Athaya yang tersenyum matahari ke arahnya.
"Okey," balasnya singkat, ia kembali ke bangku belakang untuk balik berbincang dengan teman-temannya.
"Lo akrab ya sekarang sama Athaya?"
"Tau gak? tapi jangan bilang siapa-siapa ya?"
"Apa?"
"Gue pacaran sama Athaya," mulut Tari hampir membentuk angka o sempurna, ia tak menyangka ini terjadi, "beneran, Va?"
"Iya, gue seneng banget. Tapi, janji ya jangan bilang siapapun, janji?"
"I-iya, janji"
Ivana berpaling menyapa temannya yang lain saat baru memasuki kelas, Tari melirik ke arah Athaya, apa benar? ia hampir tak percaya, tapi saat dia menemukan wajah Athaya tersenyum manis saat ia melihat ke arah Ivana, ia menyadari, bahwa yang dikatakan itu adalah sebuah fakta.
Dan kali ini, Mentari rasa dirinya kembali pada keterpurukan. Entah karena apa.
__ADS_1