ATHAYA?

ATHAYA?
64- Uang untuk Kekuasaan


__ADS_3

Dalam hal yang selalu di renungi Sefi. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa roda itu berputar. Tidak, roda kehidupan Sefi macet, ia tak pernah lepas dari segala bentuk kekurangan yang terjadi.


Awalnya ia akan menyalahkan tuhan atas apa yang telah menimpanya, lalu untuk apa ia selalu berdoa kalau alurnya akan tetap sama saja.


Andai ia hidup di kalangan orang kaya. Ia tak akan merasakan hal menyedihkan seperti ini. Seperti kotoran yang tak berguna dan tak di butuhkan. Tak ubahnya sampah yang menunggu untuk di hancurkan oleh kaum yang berkuasa.


Dari mana ia mendapatkan uang 50 juta dalam waktu satu minggu sementara ia dan ibunya hanya bisa berjualan, sedangkan ayahnya yang tidak bekerja?


Ayah ibunya bertengkar hebat di ruang tamu. Bukan tak mau melerai hanya saja dia di kunci di sini oleh ayahnya, ia hanya berdoa semoga ayahnya tak melakukan hal macam-macam pada ibu.


"Kamu mas yang seharusnya mikir! Dari mana kita dapat uang lima puluh juta dalam waktu satu minggu saja!" Laras memekik.


"Mereka memerasku Ras. Aku nggak ambil utang sebanyak itu!" balas Yatno.


"Karena memang mereka mengambil keuntungan dari orang seperti kita mas! Orang yang gak punya apa-apa!"


Yatno mundur perlahan. Seperti mulai sadar atas apa yang ia perbuat. Sekarang semua menjadi rumit, karena nyawanya di pertaruhkan- seperti kasus yang sudah-sudah.


"Sekarang apa yang harus kita lakuin?"


"Argh!"


Yanto membanting pintu sebelum keluar dari rumah, "Mau kemana mas?!"


Pertanyaaan dari sang istri tak ia hiraukan. Ia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa menemukan tujuan.


Laras berjalan menuju kamar Sefia membuka kunci kamar yang beruntung tak di bawa suaminya. Saat pintu mulai terbuka hati Laras bak di tusuk ratusan anak panah. Ia tahu ini berat apalagi untuk anak seusia Sefi yang notabene belum wajib untuk mencari nafkah. Takdir malang untukmu Fi.


"Sabar ya, nak. Ibu pasti akan cari jalan keluar,"


Sefi dalam pelukannya tak menjawab apapun. Mungkin sama-sama lelah dan ingin menyerah. Ia sering membayangkan kemungkinan-kemungkinan seandainya saja ia tak di takdirkan seperti ini. Mungkin saja dia sekarang sudah tidur di kasur empuk tanpa memikirkan banyak beban.


...--...


Aji berhenti di suatu rumah sederhana di pinggiran kota. Malam sudah sangat larut dan sepi. Rumah itu pun terlihat gelap sepertinya penghuninya tengah tertidur.


"Lo ngajak gue kemana?"


"Ke rumah pak Amar,"


"Siapa dia?"


"Temennya bokap lo,"


Jantung Langit berdetak lebih cepat, tak tahu karena apa.


"Dari mana lo tahu?"


"Aji nih bos... pinter!"

__ADS_1


Aji agak menyombongkan diri, setelah itu melangkah lebih dekat pada rumah.


"Permisi,"


Aji mengetuk pintu pintu rumah di hadapannya. Langit di belakangnya tampak ragu-ragu karena pemilik rumah itu sepertinya sudah terlelap.


"Permisi,"


"Ji. Dia udah tidur kayaknya,"


Sesaat setelah Langit mengatakan itu terdengar suara langkah seseorang dari balik pintu. Aji mundur dua langkah untuk memberikan ruang. Saat pintu rumah itu terbuka seorang laki-laki berkaos hijau kusam, bercelana pendek dan berjanggut tebal muncul.


"Pak Amar. Ini Aji." kata Aji terlebih dahulu.


"Kamu Aji?" orang bernama Amar mengulang. Ia lalu melirik ke arah Langit sebelum berkata, "Dan dia?"


"Dia Langit pak. Anak dari Rahsya Kurniawan,"


Saat Aji mengatakan itu, Langit seperti melihat suatu tatapan yang berbeda setelah satu detik mereka bertemu. Bukan apa-apa, bahkan sampai sekarang Langit tak tahu alasan si Aji brengsek ini mengajaknya.


"Ayo masuk,"


Lampu temaram menyambut kedatangan mereka berdua, sofa ruang tamu yang sudah lusuh namun tetap apik menjamu Aji dan Langit. Saat mereka duduk netranya memandang ke arah sekitar. Beberapa barang antik pewayangan, seperangkat gamelan, tiga buah keris yang terpajang rapi menghias. Beberapa titik ruang terlihat berdebu mungkin pak Amar tinggal seorang diri.


Satu menit tanpa obrolan antara Aji dan Langit. Pak Amar keluar dari dapur dengan membawa dua buah air mineral kemasan gelas.


Jangan salah. Meskipun rupa Langit seperti berandalan yang tak punya tujuan. Ia masih mempunyai rasa sopan pada orang yang lebih tua. Terbukti dari dia yang tak pernah melawan pada mendiang ibunya walau sering di sakiti hatinya.


"Kalian terlihat berantakan begini, habis dari mana?" tanya pak Amar terlebih dulu.


"Kami habis dari Teram pak," Aji yang menjawab.


Teram? Apa itu? Langit bertanya-tanya dalam hati.


"Bisa bisanya kalian ke sana. Sudah cukup kah mental kalian untuk mesuk ke lumbung kematian itu? Jangan bodoh tenaga kalian belum ada apa-apanya dengan Abraham.


Semakin mereka melanjutkan semakin membuat Langit tak paham. Untung saja Aji melihat mimik wajah kebingungan itu. Sejenak dia menyenggol tangan Langit lalu memberi tahu sesuatu.


"Jadi Lang, tempat itu tadi pak Amar sering sebut sebagai Teram alias 'Tempat Abraham' karena dia dan antek-anteknya setiap malam berada di sana,"


Langit melirik pak Amar.


"Namamu Langit kan? Bapak adalah sahabat ayah mu Rahsya yang sudah meninggal,"


Langit mendengarkan.


"Dulu kami sahabat yang baik. Hanya saja dulu Ayahmu terlilit hutang hingga ratusan juta. Sebenarnya itu bukan masalah besar, karena di daerah kami ada suatu aliansi yang di ketuai oleh Abraham dia itu orang kaya raya yang paling baik di daerah ini.


"Dan begitulah yang terjadi, Rahsya meminjam uang dari si Abraham, tanpa dia ketahui kalau meminjam uang padanya pasti akan rugi banyak, karena Abraham menginginkan bunga yang sangat besar dan tak wajar. Tampa bilang ke pihak berwajib atau siapapun Rahsya coba untuk melawan.

__ADS_1


"Tapi pada akhirnya sia-sia, suatu hari aku ditangkap dengan dirinya, bukan berarti saya terlilit hutang juga, tapi karena saya adalah orang yang paling dekat dengan Rahsya jadi mereka ikut-ikutan menangkap saya.


"Saya kira itu akan menjadi akhir bagi saya melihat dunia. Ternyata kau tau Nak? Abraham kala itu sedang jatuh cinta. Dengan seorang gadis asal Jakarta bernama Dina yang ternyata teman dari Rahsya. Jadi Abraham menginginkan gadis itu ada di pelukannya. Rahsya menyetujui.


"Kami kembali menghirup aroma di pagi hari, kami berangkat ke Jakarta menemui Dina. Hari-hari terasa menyenangkan hingga suatu ketika mereka berdua terjebak dalam kawah cinta, mereka datang tanpa memandang apa dan siapa. Seperti cerita-cerita fiksi mereka akhirnya menjalin hubungan pernikahan tanpa memberitahu Dina atas tujuannya datang ke kota besar itu.


"Abraham akhirnya tahu saat ada kabar bahwa kau lahir Langit. Abraham sudah lama tak mendengar kabar ayahmu dan pujaan hatinya tapi tiba-tiba saja mereka menikah dan punya anak, hati siapa yang tak hancur mendengarnya?


"Rombongan Abraham langsung menuju ibu kota, bapak memberi tahu ayahmu lewat SMS. Dan entah drama apa yang di ciptakan ayahmu, dia akhirnya pergi ke Semarang. Entah untuk ap-"


"Dia pergi ke sana lalu menikah dengan tante Zahra, ibunya Athaya teman saya pak," Langit berujar datar.


Mereka diam sejenak untuk merenung. Lalu pak Amar melanjutkan ceritanya.


"Setelah itu bapak tidak tahu apa yang terjadi, ada kabar malang melintang kalau ibumu mengalami gangguan jiwa karena di tinggalkan oleh Rahsya, dan Abraham sudah tidak sudi memeluk seorang yang di anggap gila,


"Beberapa bulan berlalu. Bapak dapat kabar bahwa Rahsya mati mengenaskan karena di keroyok oleh anggota Abraham. Berita ini sempat beredar karena kematian yang tragis dan tanpa alasan. Tapi setelah itu entah karena apa kasus ini di tutup padahal pelaku pembunuhan belum tertangkap untuk itu Abraham mencoba mengecoh dengan sembunyi-sembunyi,"


"Jadi itu sebabnya gedung itu ditutup? Biar kelihatan ga ada orangnya?" Aji bertanya.


"Iya, padahal di dalam itu semua dokumen masih ada, pun para penghutang,"


"Tapi, kalo seandainya para penghutang itu tau kalau aliansi Abraham ambil untung banyak, kenapa masih nekat hutang di sana?"


Pak Amar melihat ke arah langit-langit rumah, matanya sedikit berkaca-kaca merah. Antara mengantuk atau terharu dengan ceritanya.


"Anak muda... Kalian belum tahu kebutuhan orang dewasa seperti apa,"


Pak Amar bangkit dari duduknya, melihat jajaran keris dan wayang yang berjejer rapi di sana.


"Jadi dewasa tak semudah itu, Nak. Apalagi sekarang orang-orang rela melakukan apapun demi gengsi di masyarakat, tak peduli kalau itu menjerumuskan mereka. Dunia."


Langit melihat salah satu sudut ruangan. Cerita ini tak pernah di bayangkan olehnya, mengapa begitu semenyedihkan ini di hati Langit. Padahal dia sendiripun tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.


Namun, karena di dalam dirinya ada darah seorang Rahsya Kurniawan ia merasakan bagaimana sedihnya.


"Sekarang aliansi itu masih berdiri di sana?" tanya Langit.


Pak Amar berbalik lalu mengangguk, "Hanya waktu malam saat warga sudah terlelap, saat pagi hari tiba mereka pergi lagi entah kemana,"


"Kita harus kesana Ji,"


"Itu yang mau gue katakan,"


Pak Amir duduk lagi di hadapan mereka berdua, "Besok pagi-pagi bapak ajak kalian ke sana, dan kamu Langit, saya juga ingin bicara sama kamu,"


Tatapan pak Amar seakan akan mengintimidasi, di sana Langit menunduk dan menghirup nafas panjang, tiba-tiba jantungnya berdetak keras. Tapi inilah keinginan Langit, agar dia tahu semuanya.


Jam 2 dini hari suara motor menjauh dari arah rumah pak Amar. Langit dan Aji menyiapkan diri untuk esok hari.

__ADS_1


__ADS_2