ATHAYA?

ATHAYA?
12-Halo Kedua


__ADS_3

+62456××××


Tar ini Athaya, boleh di sv?


Mentari yang baru saja membereskan bukunya sehabis belajar langsung menoleh saat menyadari ada pesan masuk. Awalnya dia mengernyitkan dahi karena ada nomor tak dikenal mengirimkannya pesan


Namun setelahnya ia tersenyum senang saat tahu orang itu Athaya, gadis itu segera membalas


^^^Anda^^^


^^^Iya^^^


Gue minta nomor lo dari Arya tadi, ga papa kan?


^^^It's ok, emang ada apa Ath?^^^


Si Arya gak punya no. Iva boleh minta


^^^Ok^^^


^^^Tunggu y^^^


Tari langsung mengirimkan nomor telepon Ivana kemudian setelahnya mendapat balasan berupa ucapan terima kasih dari Athaya


Athaya


Besok datang lebih awal lagi bisa g? mau ngobrol


^^^Boleh^^^


Mentari akan sangat senang sekali kalau Athaya dan Ivana bisa pacaran lagi. Mengingat zaman dulu waktu ia masih SMP itu sangat seru bagi Tari, karena dulu dua orang itu pernah ada hubungan. Tapi, masalahnya diantara keduanya tak tahu sebenarnya yang dijalani hubungan apa sih


Semua berjalan begitu saja saat tiba-tiba Athaya dikabarkan pindah sekolah ke Semarang karena ikut ibunya dinas. Tapi bagaimanapun juga Tari senang karena nanti dia pasti punya teman baru


Tak seperti orang-orang disini yang senang mengata- ngatai fisik Athaya, miris memang, dan kalau saja waktu dulu ia tidak jadi anak ayahnya yang notabene adalah donatur besar sekolah, mungkin nasibnya akan sama seperti Athaya


Dan ia bangga bisa melihat Athaya yang sekarang, lalu dirinya? masih sama menggunakan kursi roda ini. Entah sampai kapan


...--...


Derap langkah kaki Dina terdengar keras, Langit sudah biasa mendengar itu. Dina—ibunya Langit memang sudah biasa pulang pergi dari rumah, sampai tak ada waktu buat anaknya sendiri


Langit yang tengah mengambil sesuatu dari kulkas di lantai dasar menoleh sekilas, mamanya akan pergi lagi malam ini, padahal tadi pagi baru aja pulang ke rumah


"Mau kemana sih, Ma?"


Langit menatap nanar mamanya yang terlihat cantik menggunakan gaun itu, pertanyaan Langit tak digubris sama sekali oleh Dian, wanita itu pergi begitu saja


Sebelum keluar pintu rumah wanita itu berhenti karena ponselnya berdering, Langit memperhatikan seksama dari kejauhan


"Iya, ini aku udah siap sayang,"


Pasti laki-laki kurang ajar yang akan mengajak Dian pergi, Langit tak habis pikir, sudah puluhan kali ia mendengar kata-kata seperti itu, tapi tetap saja rasanya sakit, apalagi ini adalah mamanya sendiri


"Mama mau kemana," kali ini Langit bertindak mengejar Dina. Cowok itu mencekal pergelangan tangan Dina yang kemudian di tepis oleh wanita itu


"Lepasin gak?! saya mau keluar!"


"Mah, ayolah jangan kayak gini terus, Langit bingung ma, Langit nggak tahu harus berbuat gimana lagi supaya mama nggak kayak gini?" ucap Langit ingin putus asa

__ADS_1


"Saya nggak ada urusan apapun ya sama kamu!, asal kamu tau ya saya bekerja kayak gini juga buat biayain kamu hidup!" bentak Dina


"Ya udah kalau gitu mama berhenti aja kerja kayak gini, biar Langit berhenti sekolah aja biar gantiin mama cari kerja yang lebih baik!"


"Jangan atur-atur saya, lebih baik kamu diam atau saya bakal ngelakuin hal yang lebih gila dari ini!"


Suara klakson dari arah luar rumah memberhentikan perdebatan antara Dina dan Langit, saat tau yang datang itu adalah kekasihnya, lantas Dina menarik paksa tangannya dan dengan langkah tegas segera pergi meninggalkan rumah


Pria hidung belang itu sempat keluar mobil sembari mencium kening Dina. Langit memperhatikan dari jendela rumah, yah...laki-laki yang berbeda lagi


Langit sudah berjuta kali mengalami rasa sakit yang sama sejauh ini, entah akan sampai kapan, karena sejak dia kecil hingga sekarang ia tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu


Padahal ia tak meminta lebih, entah dimana ayahnya sekarang ia tak peduli, karena ia hanya ingin tahu pelukan hangat seorang ibu dikala ia sedang terpuruk


"Mas, Langit?"


Mbak Lina memanggilnya dari belakang, ia adalah salah satu pembantu di rumah ini. Mbak Lina tahu semuanya tentang dirinya sejak ia belum lahir sekalipun, sudah ribuan kali pula langit memohon untuk diceritakan awal mula Dina seperti itu. Namun, tak ada jawaban dari mbak Lina


Wanita 40 tahunan itu tetap diam dengan segala fakta di kepalanya


Bahkan air mata Langit sudah habis untuk menangisi kisah hidup tak berguna ini


"Mas Langit makan dulu yuk, mbak udah masakin,"


"Langit gak laper,"


Tak butuh waktu lama setelah ucapannya yang terakhir, cowok itu sudah menaiki tangga dengan perasaan berkecamuk. Lina hanya menatap nanar kepergian Langit, apa yang harus Lina perbuat? ia sangat tidak tega melihat Langit seperti itu


Lina anggap Langit adalah anaknya sendiri, ia yang mengasuhnya sejak kecil sampai sekarang dan akan tetap seperti itu.


"Jangan kasih tau siapapun, bahakan Langit sekalipun,"


...--...


Tak butuh waktu lama setelah ia membuka halaman terakhir novelnya, Athaya dengan tas hitamnya mulai muncul, ia langsung mendaratkan dirinya ke bangku seberang Tari


"Pagi, Tar"


"Pagi, Ath. Jadi hari ini mau tanya apa?"


"Nggak banyak sih, cuman nomer yang kemarin lo kasih ke gue, gue belom berani chat duluan, duh cemen banget gue jadi laki," Athaya berujar sambil sedikit mengacak rambutnya


"Eh, btw kemarin lo dateng sama Iqbal ya? lo udah kenal dulu sama dia berarti?"


"Jadi dia itu anaknya sahabat nyokap gue, terus kemarin dia disuruh nemenin gue ke ruang kepsek. Sebenernya sih disuruh dijemput terus, tapi kan gue sungkan,"


"Ya udah deh bagus kalo gitu,"


Mulut Athaya tertahan saat ingin bertanya lebih lanjut dengan Tari karena dari arah pintu masuk kelas seseorang tiba-tiba datang


Dan orang itu ternyata Ivana, dia agak terdiam sebentar sebelum berujar, "gue ganggu ya?" dengan raut tak enak


"Nggak, sini Va, Athaya mau nanya-nanya nih," ucap Tari sambil mengerlingkan matanya sekejap


Ivana hanya merengut sebal sambil berjalan ke bangkunya, saat Ivana mulai duduk, Athaya mendekatkan bangkunya ke arah Iva


"Dih apa-apaan lo deketan sama gue,"


"Sssttt...Va" Tari sedikit menyenggol tangan Ivana

__ADS_1


"Nggak papa sih Va, gue cuman mau ngomong besok-besok kalau mau belajar mtk kita barengan aja,"


Iva sedikit kaget karena ucapan Athaya, 'pagi-pagi udah di-ulti!' Ivana membatin konyol


"Iya, makasih lagi ya buat yang kemaren," Ivana sedikit mengangguk


"Santai aja, oh iya bentar lagi gue mau tanding basket lawan SMA Nusantara lo pada nonton ya?"


"Ha? pertandingan lawan SMA Nusantara? lo gabung sama timnya Iqbal?" Ivana menatap tak percaya


Athaya mengangguk, "Yoi dong, kenapa lo kaget kalau gue bisa main basket,"


"Halah palingan lo beban aja disana," canda ivana


"Enak aja, gue yang bakalan nge-shoot paling banyak liat aja ntar,"


"Oke, gue tandain muka lo,"


"Paling yang banyak nyetak Iqbal atau Vino, secara kan dia yang paling di idolain di sekolah ini," Ivana kembali berargumen


"Lo gak tau kan kalo yang ngajarin basket Iqbal itu gue, secara kan gue itu temen masa kecilnya Iqbal,"


"Oh ya? sejak kapan?"


"Nggak tau kan lo? rahasia" Athaya langsung melenggang ke bangkunya dengan ekspresi yang ngeselin abis! Ivana dan Tari hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku Athaya,


Penghuni kelas 11 IPA 2 sudah mulai berdatangan ke kelas, dan Ivana pun mulai mencerna matang-matang obrolannya dengan Athaya tadi


Apa dia harus ikut nonton pertandingan itu? karena biasanya kalau ada pertandingan seperti itu dia bukannya nonton tapi malah ngacir ke warungnya mbak Ratih dengan Tari, kan kalau ada acara di sekolah kantin jadi kosong!


"Kita besok nonton ya?" Mentari berkata pelan di samping telinga Iva, lalu setelahnya di angguki Iva, dia juga penasaran bagaimana permainan Athaya di lapangan besok?


...--...


Seandainya Don Don mau bergabung pasti akan seru lagi. Tapi, sebagai ketua tim Vino juga harus berhati-hati, bisa-bisa Don Don malah menjadi beban di tim. Oleh karena itu Don Don lebih memilih untuk menjadi tim hore agar teman-teman nya itu senantiasa semangat


"Ayo semangat man temaaan!!!" teriak Don Don dari pinggir lapangan


"Damar kutukupret semangat ai lov yuuuuu!!"


"Dih najis," dari sana Damar membisik pelan, "Don Don bolanya kempes nih, sini lo ikutan jdi bola tapi ya?"


"****** lo monyet!" Don Don menghardik Damar dari kejauhan, sementara Damar hanya tertawa melihat muka masam Don Don


"Bolanya kempes woy," Damar memekik dari bawah ring", "ganti aja deh ganti," Damar menyarankan


"Ya udah deh. Sep, ambil di ruang olahraga ambil dua sekalian," titah Vino yang dihadiahi tatapan intimidasi dari Iqbal. Namun, meskipun begitu Iqbal tetap berjalan untuk memenuhi perintah sang ketua—mengambil bola basket baru


"Gue aja, Bal. Biar gue yang ambil" setelah menyelesaikan kalimatnya Athaya berlari menuju ruang olahraga yang terletak di samping lapangan,"


Sepanjang perjalanannya menuju sana, Athaya senyum-senyum sendiri, karena lucu sekali, seorang dengan tampang dingin tanpa senyum itu disebut Asep oleh teman-temannya hanya karena supir Iqbal bernama Asep?


Athaya tertawa sendiri waktu mengetahuinya kemarin, untuk Iqbal punya kesabaran setebal kamus bahasa inggris jadi mereka gak perlu khawatir deh


Sebelum memasuki ruangan, netranya tak sengaja melihat sosok cewek yang sedang menunggu sesuatu di samping pos satpam, rupanya Ivana yang sedang menunggu ojek online pesanannya


Dia sedang duduk santai sambil memainkan ponsel dengan earphone di telinganya. Sepertinya sedang asik mendengarkan lagu, bibir Athaya tersenyum tipis besok waktu pertandingan ia harus menciptakan poin sebanyak-banyaknya dan poin itu istimewa untuk dia


Ivana Agnesia

__ADS_1


__ADS_2