
Pagi itu terlihat seperti hari-hari biasa, setelah perseteruan singkat antara Iva dan Tari, pagi ini mereka sudah terlihat ngobrol bersama.
"Ngobrol apa sih?" Athaya menarik kursi untuk bisa duduk dekat Iva, sekedar basa-basi supaya tak ada sesuatu yang terlihat mengganjal karena kejadian kemarin.
"Kepo lo, urusan cewek lo cowok kesana aja main sama Joko," Iva berujar dengan nada bercanda.
Athaya menipiskan mulutnya menanggapi candaan Iva, "tapi aku pengen disini. Gak boleh ya?"
"Enggak. Ini daerah cewek soalnya," Iva kembali menyambung.
"Ya udah gue ikut cowok-cowok aja deh, yang penting di hati Iva ada Athaya," Iva sedikit melotot dengan ucapan Athaya. Pipinya agak memerah dengan guyonan Athaya.
Cowok itu melangkahkan kaki ke belakang kelas sambil tersenyum, Iva kembali bercerita dan bercanda dengan Tari, gadis itu sekarang benar-benar menjaga pandangan dan perkataan dengan Athaya. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
"Nanti kita ke warung mbak Ratih yuk, Va. Udah lama kayaknya kita gak kesana," saran Tari
"Oke, nanti kita kesana. Eh btw ada tugas buat cari tumbuhan ya?" balas Iva.
"Iya, cuman tugas biasa sih, masih lama juga kok ngumpulinnya, tenang aja," respon Tari.
"Ya, yang penting lo sama gue," Tari mengangguk setelah Iva menyelesaikan kalimatnya.
...--...
Sepasang siswa dan siswi tengah menatap serius seseorang di depannya ini, sesaat lagi kejadian besar akan berlangsung.
"Kalian udah dapat bayarannya kan? jadi gue gak mau rencana ini terbongkar, apalagi gagal ditengah-tengah perjalanan," tatapannya seakan menjadi ancaman yang serius bagi kedua siswa-siswi itu.
Lalu mereka mengangguk patuh, sebenarnya tak tega namun sadar bahwa sekolah ini mematok biaya yang besar, atau nanti orang di depannya ini akan melakukan hal yang tak mereka inginkan.
"Lo yakin aja sama kita, kita pasti bisa." siswa bertubuh kurus itu berujar. Tampangnya polos dan diyakini adalah orang yang paling tak dipedulikan oleh siapapun.
Gadis berambut sebahu di sampingnya ikut mengangguk—tanda ia yakin, "kita tunggu waktu yang tepat buat jalaninnya, nanti gue kabarin lo,"
Mereka berpisah saat melihat ke kiri-kanan, waspada kalau-kalau ada mata manusia yang melihat bahkan mendengar obrolan mereka.
...--...
Iva menganggukkan kepalanya semangat, ide dari mentari benar-benar membuka wawasannya.
"Jadi kapan kita mulai kerja kelompoknya?" tanya Iva.
"Terserah lo sih, lo maunya kapan?" tanya Tari balik.
"Lusa aja kali ya?" Iva memberi saran.
"Gitu juga boleh," Mentari mengangguk setuju. Di kelas sedang tidak banyak orang, beberapa ada yang keluar kelas karena para guru sedang melakukan rapat, jadi mereka bisa bebas keluar masuk tanpa gangguan apapun.
Di lain tempat misal, saat Vino dan gengnya memilih untuk menghabiskan waktu di ruang OSIS untuk mempersiapkan beberapa kepantingan hasil rapat kemarin.
Tak banyak yang ikut hanya Don Don, Damar, Langit, Vino dan tentu saja Iqbal. Siapa lagi kalau bukan mereka?
"Jadi sejak kejadian lo jemput Ivana itu Athaya nggak hubungin lo lagi?" Vino menyelutuk.
Iqbal tak menjawab, hanya membalas dengan 'hm' semata. Damar ikut-ikutan nimbrung, "ya nggak pake 'sejak' sih, orang baru aja kemaren,"
__ADS_1
"Iya tuh, gue juga lihat Iva sama Tari baikan, emang ya...yang namanya udah sahabatan bertahun-tahun susah buat misahin," Langit berkomentar.
Don Don merengut, "jangan sampe ya kita pisah gara-gara cewek," sontak saja celetukan dari Don Don merebut atensi mereka.
Cowok agak gempal itu memang suka benar kalau ngomong, jangan seperti sekarang, hanya karena Iqbal yang menjemput Iva di rumahnya malah pertemanannya dengan Athaya yang rusak.
"Eits...tapi tenang Sep, gue kagak lagi nyindir lo kok. Lo hebat banget ya? gentle banget pagi-pagi jemput Ivana yang lagi marahan sama cowoknya," Don Don segera menarik ucapannya yang terlihat ambigu untuk Iqbal.
"Gak, gue gak ngerasa," balas Iqbal santai.
Saat sedang asyik mengobrol, dari arah pintu masuk, sosok Athaya muncul. Ia menoleh ke arah teman-temannya sambil tersenyum tipis.
"Athaya? kemana aja lo gak pernah kumpul sama kita-kita," Vino membuka obrolan.
"Iya, Vin. Sori kemaren tugas numpuk banget. Btw gue boleh pinjam Iqbal bentar gak?" ujar Athaya ramah.
"Ada apa emang?" Iqbal membalas dengan tenang. "Bisa ikut gue dulu?" ajak Athaya.
"Bawa aja Ath. Urusan OSIS mah ada nih ketuanya, Vinooooo...ya nggak Vin?" Vino menatap tajam ke arah Don Don, tau saja dia sedang nganggur.
"Bisa," Iqbal keluar menemui Athaya, mereka tak keluar jauh, hanya mengambil tempat di depan ruang OSIS.
"Makasih soal kemarin," ucap Athaya.
Dari arah dalam Don Don, Langit, Damar, dan Vino menguping. Kepo apa yang sebenarnya terjadi. Apa mereka akan sinis-sinisan? hantam-hantaman? Atau malah maaf-maafan? kita lihat saja...
"Makasih buat apa?" Iqbal memasukkan tangannya di saku celana.
"Karena lo jemput Ivana kemaren, lo pastiin dia gak kenapa-napa," jawabnya.
"Jujur Bal, gue sempet cemburu kemaren. Tapi, akhir-akhir ini gue sedang dilanda masalah sama Ivana dan gue harusnya sadar, kehadiran lo kemaren bawa Iva berangkat sekolah bareng lo itu udah paling aman,"
"Iya, kalo lo ada apa-apa jangan sungkan buat minta bantuan ke gue," Iqbal menyarankan.
"Pasti." ucap Athaya mantap.
"Tapi gue minta tolong ke lo Ath, jaga Iva baik-baik. Percaya sama dia, jarang ada laki-laki yang bisa dekat dia, jadi jangan bikin dia trauma karena itu, selain pacar anggap dia sahabat lo," Iqbal berkata tulus.
...--...
"Ivana, lo dicariin bu Yuni di ruang guru," seorang cowok tinggi kurus memanggil Iva yang sedang berbincang dengan Tari.
"Saya? kenapa?" Iva yang tak terlalu mengenal cowok itu akhirnya berdiri.
"Ivana Agnesia, kelas 11 IPA 2 kan? lo dipanggil bu Yuni di ruang guru,"
"Loh bukannya guru-guru lagi pada rapat ya?"
"Mereka rapatnya diruang kepala sekolah, lo tadi disuruh nunggu di ruang guru," ucap cowok itu balik.
"Sana Va. Takut kalau ada yang penting," Mentari menyarankan.
"Ya udah gue kesana," Ivana berdiri, "di ruang guru kan?" Ia mendekati cowok kurus itu, "iya, disuruh nunggu bentar,"
cowok itu kembali meyakinkan, "oke, makasih ya?"
__ADS_1
Cowok itu mengangguk sekilas sebelum ikut menghilang bersama Ivana, Tari sendirian, hanya ada beberapa orang disana. Ia merogoh tas punggungnya, mencari novel untuk menghabiskan waktu.
...--...
"Gue tunggu disini kali ya?" Ivana duduk di sofa ruang guru, suasana ruangan itu sepi karena para guru melakukan rapat di ruang kepsek. Ia mengayunkan kakinya—mencari kesibukan.
Beberapa menit berlalu bu Yuni tak kunjung datang, ia menoleh ke jam dinding, lama juga...
Reza namanya, cowok kurus berkulit sawo matang yang ditugaskan Langit untuk menjebak Iva, tugasnya kurang satu dan ia yakin kalau ia akan berhasil melakukannya.
Reza kembali mendatangi kelas Tari setelah beberapa menit berlalu. Saat ia melihat kesana Tari masih dalam posisi yang sama—membaca novel.
"Lo Mentari kan? ditunggu Ivana di gudang belakang sekolah, cari tumbuhan buat bahan penelitian." ucap Reza.
...--...
"Wah, gue lupa...gue ada janji sama teman sekelas gue. Gue duluan ya cuy," Langit berujar setelah menatap jam tangannya.
"Ya udah sono, jangan ganggu kita yang lagi cari informasi," ujar Don Don.
"Oke gue pergi dulu ya?" ucapnya hanya dibalas anggukan oleh mereka.
...--...
Setelah Tari memutuskan untuk keluar, Reza terlebih dahulu melihat ke arah sekitar—mencari celah untuk mengambil ponsel Iva yang ia yakin sekali ada di dalam tas.
Sekali lagi, ia perlu melakukan finalisasi agar ini terlihat lebih realistis, karena inilah yang diinginkan Langit—membuatnya sangat realistis agar dia lebih percaya.
Ia segera keluar kelas ketika berhasil mendapatkan ponsel Iva, rapat guru belum selesai hingga membuatnya leluasa melakukan pekerjaan ini.
"Iva dimana ya? masa dia nyuruh gue buat pergi ke gudang belakang?" Tari bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa gue balik aja ya? gue juga kan gak kenal sama tuh orang,"
Ting!
Sebelum dia benar-benar berbalik untuk kembali ke kelas, pesan singkat masuk, "Tar? gue tunggu lo di gudang belakang sekolah ya? kita cari tumbuhan buat tugas kelompok,"
Pesan itu dibalas dengan ucapan setuju dari Iva, sepertinya iya. Tapi, buat apa Iva menyuruhnya untuk ke gudang belakang sekolah jika di luar sana banyak?
Tari kesusahan saat akan melewati jalan berkerikil disana, ia kembali melihat ponsel, ingin mengetik balasan untuk Ivana kalau ia tak bisa menggerakkan kursi rodanya kesana.
Namun, ia sedikit melonjak ketika dari belakang Langit mendorong kursi rodanya, "Langit? lo mau bawa gue kemana?"
Langit diam sebelum Tari kembali bertanya, "Lang? serius lo mau kemana?"
"Bukannya lo disuruh Iva buat kesini ya?"
"Iya, tapi-"
"Sssttt...ikut gue aja,"
Siang itu tak ada yang tahu apa yang akan diperbuat Langit.
...--...
__ADS_1