
Seorang perempuan berambut pendek tengah menatap orang-orang di depannya serius. Benar-benar tak ada yang ia lakukan untuk satu tahun belakangan ini.
Harusnya ia adalah sosok yang ramah, murah senyum pada setiap orang yang ia kenal dan ia jumpai. Namun, seakan-akan jiwa Ivana lenyap entah kemana. Ia trauma atas apa yang telah ia lewati untuk satu tahun belakangan ini.
Ia masih bisa bersyukur karena dia tidak turun kelas di sekolah barunya di Bandung. Sekarang ia menginjak kelas 12 dan masih belum menemukan teman dekat, meski begitu itu poin pertama yang patut ia syukuri.
Hari-harinya dilalui dengan berat. Teman-temannya itu baik, walau tak banyak yang mengajak bicara Ivana. Tetapi dia masih bisa bersyukur—setidaknya dia tidak ditolak untuk menjadi teman kelompok—poin kedua.
"Kita ke kantin yuk, udah laper banget nih," kata salah seorang teman di sana. "yuk lah," tak hanya satu, bahkan ada rombongan di sana yang membalas pertanyaan singkat itu. Lalu mereka pergi untuk memuaskan dahaga mereka di kantin sekolah SMA Bina Bangsa.
"Gue boleh ikut gak?" dan untuk pertanyaan yang mampu ia ucapkan di hati itu, ia rasa teman-temannya tak keberatan untuk menyetujuinya walaupun ia yakin langkahnya akan ketinggalan jauh di belakang mereka.
Apa kabar sekolah SMA Dharma Bhakti? apakah ia dan kasus konyolnya itu masih di ingat hingga sekarang? apa kabar Arini, apa kabar Gina, dan apa kabar... Tari?
Ivana menggeleng pelan, ia sudah benar-benar memutus kontak ia dan teman-temannya di sana. Orang itu bertekad akan jadi orang lebih baik lagi di Bandung.
Ivana membuka buku pelajaran Bahasa Indonesia-nya lalu memulai membaca bacaan pendek di sana.
...--...
Jam sekolah berlalu begitu lambat, Ivana langsung mengemasi barang-barangnya dan segera keluar dari kelas. Dia sudah tak bicara pada apapun itu, saat teman-temannya bergegas dengan suka cita, ia hanya memendam.
Ya, setidaknya tak seperti orang itu. Seseorang yang sangat mirip dengannya, selalu dirundung oleh teman-temannya , dia kelas 12 juga, namanya Sefia sering di panggil Sefi. Sangat persis dengan dirinya sekarang, rambut pendek di bawah telinga, dengan tubuh kurus yang agak pucat.
Tapi mengapa Ivana tak diperlakukan serupa seperti orang itu? padahal Ivana di sini tergolong anak baru dan lebih rawan kena bully. Butuh beberapa hari Iva memikirnya dan suatu hari dia mengetahui sesuatu yang cukup menyakitkan.
Harta di atas segalanya.
Orang itu tak se-kaya dirinya. Itu poin ketiga yang harus ia syukuri. Tak salah orang mengatakan kalau lebih baik menderita di atas tumpukan uang dari pada menderita di atas tumpukan kepedihan ekonomi.
Ivana mengalihkan pandangannya— tak mau ikut campur dengan urusan mereka.
Dan sampai sekarang setelah kejadian dirinya di fitnah oleh Langit— karena dia mengakui itu pada Iqbal, katanya sebelum dia pergi bahwa Ivana memang tidak bersalah. Dan sialnya Langit tak memberi tahu kabar itu pada warga Dharma Bhakti, sehingga mungkin saat ini publik sana masih berfikiran buruk terhadapnya.
...--...
__ADS_1
Tak banyak yang dilakukan Athaya setelah hari kelulusannya, beberapa saat lalu saat dia lolos PTN dan menyelesaikan segala urusannya di SMA Dharma Bhakti dia menimang apa yang dikatakan Mentari.
"Jadi...kita mau cari dia kemana, keluarganya dia juga pindah ikut Ivana, kita gak bisa tanya siapapun," kata Athaya pada saat siang jelang sore setelah mereka menghabiskan waktu berdua.
"Info dari manapun bisa kita cari, Ath. Dari guru sekolah mungkin saja bisa, masa Ivana gak ngasih tau sekolah pindahannya ke guru," Tari mencari argumen.
"Bisa aja gak dikasih tau kan?" Athaya membalas santai. Mentari menyuap sepotong kecil waffle ke mulutnya dan mengunyah pelan.
"Tapi kalo kamu maunya begitu, ayo kita cari tau. Aku bakal cari-cari info juga," Mentari tersenyum senang mendengar pernyataan Athaya. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke Athaya dan membuat cowok itu mengernyitkan dahi, "makasih pacar,"
Mendengarnya Athaya tersenyum malu, pipinya bersemu merah, lalu dengan gaya yang sama dia menatap manik Tari lembut, "sama-sama pacarku," balasnya manis.
Mereka melanjutkan menikmati hidangannya, sesekali mengobrol ringan— membahas tentang hari ini.
...--...
Iqbal menarik nafas dalam-dalam seraya menatap salah satu kontak di ponselnya.
"Apa gue hubungin Vino aja ya? nanti dia cemburu lagi kalo gue chat pacarnya," orang itu memang mudah overthingking padahal kalau dipikir-pikir tidak mungkin kan kalau sebuah chat bisa dikatakan langsung selingkuh?
"Gue telpon Vino aja kali ya?" Iqbal menimang sebentar, "ah! ngapain gue izin dia, emang sih Arini pacarnya, tapi kan gue juga temennya kan? lagi pula gue juga gak nikung," Iqbal coba menenangkan dirinya sendiri.
"Apa Bal?"
"Gue mau tanya soal Iva," pesan kembali terkirim, lagi-lagi ia kembali melihat isi chatnya barusan, "gue terlalu to the point gak sih?" ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Gue gak tau soal Ivana,"
Mendapat balasan itu ada rasa kecewa yang cukup besar, apa benar dia tidak tahu? bukankah mereka teman dekat? mustahil kalau seorang Arini tak tahu.
Iqbal kembali mengetik, kali ini dengan keyakinan hati yang penuh, "lo beneran gak tahu? tolong Ar, lo satu-satunya harapan gue, lo temen dekatnya dia kan?, kasih tau gue Ar,"
Iqbal benar-benar menaruh harapan terakhir pada Arini, entah mengapa sejak penyerahan medali tadi pagi dia teringat Ivana, gadis itu...Iqbal sampai tak fokus apapun tadi pagi. Harusnya...harusnya dia juga berada di tengah-tengah angkatan kami. Tapi...
Matanya memerah, Iqbal menarik nafas panjang berusaha tenang. Beberapa detik setelahnya sebuah panggilan masuk, rupanya dari Arini, ia segera menjawab.
__ADS_1
"Halo, Ar?" sapa Iqbal dulu.
"Halo, Bal? kenapa? lo gak percaya sama gue ya?"
"Gue cuman gak yakin. Secara lo itu temen dekatnya dia, jadi tolong lo kasih tau gue, Ar. Gue aja," katanya.
Suaranya memelas seiring Arini yang sedang berfikir keras di sana. Arini berdiri dari duduknya dan menuju balkon rumah lalu kembali bicara.
"Seberapa pengen tahu lo tentang Ivana?"
"Gue benar-benar pengen tahu. Tolong gue kali ini aja,"
"Lo kangen sama dia? masih cinta?"
Iqbal diam sebentar, tiba-tiba dirinya gugup. Saat dia siap untuk menjawab, Arini kembali menyambung.
"Gue bakal kasih tau lo, gue tau rasanya rindu banget sama seseorang yang jauh. Tapi, bukan di sini ya Bal?" katanya.
"Lalu...di mana?"
"Kita ketemuan besok,"
"Lo ngajak Vino kan? gue gak enak sama dia,"
"Nggak, kita gak ngajak siapapun, bahkan Vino,"
"Tapi, dia-"
"Lo mau ketemu Ivana gak?"
"Iya."
Dan dengan begitu saja, Iqbal langsung menurut. "Oke, kemana kita ketemu?" sambung Iqbal.
Arini terdiam sebentar, "besok ya? gue kasih tau, lo tenang aja," papar Arini.
__ADS_1
"Makasih, Rin," ucap Iqbal tenang. Arini memutuskan sabungan teleponnya. Iqbal bernafas lega, "akhirnya..." penantiannya tak akan sia-sia, dia sangat merindukan Ivana, kasihan dia. Di tuduh banyak pihak dan manusia, padahal seseorang berambut sebahu itu setianya minta ampun.
Namun, benar kata orang-orang. Jangan terlalu baik, atau kita akan diperlakukan semena-mena oleh orang.