ATHAYA?

ATHAYA?
57- Info Penting


__ADS_3

"Kamu mau jalan-jalan gak?"


Saat mereka duduk di sebuah kafe sederhana di kawasan taman kota, Athaya langsung menanyakan hal itu, Tari sedikit mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba?


"Bukannya ini udah jalan-jalan ya?" jawab Tari.


"Maksudku jalan-jalan sambil membawa misi,"


"Misi apa emang?"


Mungkin Athaya terlalu memutar-mutar percakapan yang singkat ini, seandainya Athaya langsung mengatakan keinginannya untuk mencari Ivana, apakah Tari akan percaya?


Namun, bukankah dari kemarin-kemarin Tari sudah menanyakan hal itu berulang kali, bahkan sempat membuat cowok itu bingung, dengan cara apa lagi supaya Iva ada di depan mereka kembali.


"Kamu percaya gak? kalau selama ini Iva ada di Bandung?"


Tari sedikit melebarkan matanya, "serius?"


Athaya membuang nafas pelan, "aku belum pasti, tau gak? kemarin ibunya Iqbal dateng ke rumah, tau gak ibunya ngomong apa? katanya Iqbal mau ketemu sama temen barunya yang sama-sama maba di Bandung,"


"Iya, terus?"


Percakapan mereka berhenti sesaat setelah datang seorang pelayan untuk mengantar pesanan mereka yang sebelumnya di pesan keduanya.


"Iqbal gak se- effort itu kan kalo punya temen baru?"


Tari menyeruput iced coffee pesanannya sambil mengangguk, "aku curiga kalo sebenernya yang di temui itu Iva, bukan temennya itu. Dia bohong."


Tari meletakkan gelas kembali ke tempatnya lalu membalas serius tatapan Athaya padanya, "kenapa kamu yakin banget kalo yang di temui itu Ivana?"


"Karena aku yakin banget dia gak mungkin sampai segitunya ke temen baru,"


"Iqbal tau dari mana kalau Iva di sana?"


Dua-duanya diam, memang benar selama ini Iqbal selalu diam seakan-akan tak peduli dengan keberadaan Iva, lalu agak mengejutkan tiba-tiba dia pergi dengan embel-embel menemui teman barunya padahal itu Iva.


"Sebaiknya kita cari tahu dulu," ujar Athaya.


"Kita langsung aja," sahut Tari cepat.


"Ha?"


"Langsung cari Iva, besok,"


"Kamu serius?"


Tari mengangguk, "aku bener-bener pengen lihat dia Ath, setidaknya sebentar sampai aku minta maaf ke dia. Walaupun yang aku dapet nanti kekecewaan sekali pun,"


"Nanti aku izin," balas Athaya.


Setelah itu dalam pikiran Athaya hanya ada pertanyaan bagaimana caranya dia membuktikan omongannya itu di tengah-tengah luasnya kota Bandung.


Apakah yang ia katakan itu benar atau tidak, caranya satu yaitu ia memang harus bertanya pada Iqbal. Tapi, bagaimana? satu tahun ini bahakan ia tak pernah menemukan dirinya berbicara pada cowok itu.


Intinya jangan sampai Tari kecewa dengan kabar yang di peroleh nya ini, kalaupun kabar itu tidak benar.


...--...


No Asep-Asep


...You added Don Don...


...You added Damar...


Damar


Apaan nih?

__ADS_1


Don Don


Vin?


^^^Asep jangan di masukin sini ya co^^^


Don Don


Kenape?


^^^Kalo ada apa-apa kita tukeran info di sini^^^


Damar


Emang kenapa dah, yang jelas lah


^^^Gue minta besok kalian siapin motor, gue mau ajak kalian pergi jauh^^^


Don Don


Asikk jalan-jalan kita Dam


Damar


Tumben Vin, mau di ajak jalan-jalan apa lo jadiin tumbal nih?


Don Don


Tumbal apaan Dam?


Damar


Tumbal proyek, bodi lu kan kek kebo


Don Don


Damar


-Ing. Gak sekalian aja sih


^^^Udah. Pokoknya besok jam 7 kalian dah sampe depan rumah gue^^^


Damar


Asep gak lo ajak?


^^^Jangan banyak nanya^^^


Damar


Dih!!


Setelah selesai dengan antek-anteknya, Vino beralih ke roomchat lain


^^^Gue kesana besok, 2 jam lah nyampe^^^


Roy


oke, nanti gue kasih tau di sana


...--...


Senandung suara Sefia terdengar bersahutan dengan angin sepoi yang berhembus di pagi hari, cuaca mendung itu masih terlihat saja, padahal sang Surya sudah merangkak naik.


Kali ini Sefi akan pergi ke warung berikutnya, sepedanya yang berwarna merah muda ini memang sudah agak rusak, terkadang Sefia harus membenarkan letak rantai yang keluar dari jalurnya, stang sepedanya yang tiba-tiba merosot, bahkan tempat duduknya yang kadang juga ikut merosot. Pun, rem sepedanya yang blong.


Ini adalah sepeda pemberian ibunya saat beliau mendapatkan gaji pertamanya di pabrik garmen sebagai kuli panggul, jarang memang, itupun gaji tak seberapa. Namun, yang membuat Safi bangga adalah, perempuan. Ya! walaupun ini sepeda bekas dari yang terbekas tapi ibunya itu lebih dari sosok wonder women tokoh pahlawan dari Amerika itu.

__ADS_1


Sefia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya," hmmm... andai cuaca gini terus, pasti aku berangkat sekolah gak keringetan,"


Dari arah berlawanan darinya, sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi, ia sempat was-was karena motor itu sangat mepet ke arahnya, karena memang jalan yang dilaluinya kebetulan kecil.


"eh...awas Bang!"


Yang berkendara seperti melamun, lalu dengan sekali sentuhan agak keras sepeda itu beserta motor yang di tunggangi pengendara itu terguling.


Beruntung tuhan masih memihak pada Sefia, walaupun donatnya berceceran di tanah, ia tak menemukan luka yang serius di sana.


"Aduh mbak, maaf,"


Pemuda itu, yang masih mengenakan helm tetap menanyai Sefia di tengah dia juga yang masih tertimpa bodi motor.


"Bang? hati-hati kalau bawa motor," ucap Sefia meringis. Cowok itu perlahan bangkit, lalu melepas helm yang syukurnya masih menempel di kepalanya.


"Maaf mbak,"


Cowok itu menolong Sefia pelan, dia benar-benar merasa bersalah sekarang,. Matanya mengedar ke sekitar gadis itu, rupanya perbuatannya tadi membuat makanan yang di bawanya hancur.


"Mbak maaf makanannya hancur,"


Raut wajah Sefi sedih, bagaimana ini? dia bisa rugi banyak, apa yang harus ia antar ke warung itu untuk menambah pendapatan lagi?


"Mbak, saya ganti uangnya," cowok itu meraih dompetnya dan mengeluarkan lembaran uang kertas.


"Bang, ga usah,"


"Mbak harus terima, saya bisa merasa bersalah nanti,"


"Nggak perlu Bang,"


"Tapi saya maksa, mbak gak butuh uang kah?"


Tiba-tiba saja ia terpikirkan dengan perdebatannya kemarin dengan sang ayah. Ia kembali melihat donatnya yang berceceran, tak mungkin ia memunguti itu satu-satu, mereka sudah bercampur dengan tanah.


"Ini Mbak," pemuda itu kembali menyodorkan uangnya.


Sefi ragu-ragu menerimanya sebelum tangan cowok itu meraih tangan Sefia dan memberikannya dengan sangat mudah.


"Maaf ya, sekali lagi,"


"Makasih Bang,"


Kemudian cowok itu kembali pada motornya, menyalakannya sebelum pergi kembali. Sefi di sana masih mematung, sesekali menatap uang pemberian cowok itu, kebanyakan. Lalu dia tersenyum, semoga ia bisa ketemu lagi, supaya uang lebihnya dapat ia kembalikan.


Langit menyumpah serapah Aji dari balik helm-nya, badannya terutama bagian punggung masih sakit karena peristiwa tadi. Bisa-bisanya dia ikut kemauan Aji untuk ikut maps ke jalan yang katanya cepat sampai itu.


"Bocah setan!"


Kalau dia tadi ikut instingnya dengan masih mengarah ke jalan besar mungkin dia tidak sesial ini. Dari saku celananya seseorang menelpon, pucuk dicinta. Ternyata itu Aji.


"Bangsat lo!" umpat Langit pada Aji ketika telepon itu saling menyambung.


"Apa sih bos?"


"Lo kalo ngasih arah itu yang bener jing!"


"Maaf bos. Aji kira itu arah paling cepet. Eh, taunya cepet menyesatkan,"


"Gue lagi gak ngelawak!"


"Iya bos sori sori," Aji agak memelankan nada bicaranya ketika mendengar bosnya itu menaikkan nada suara.


"Gini bos, maaf maaf ya? bos bisa aja lurus di sana ada jalan lagi kok, cuma ya... agak sulit buat ngelewatinnya. Atau bos ini deh, puter arah ikut jalan besar aja, nan-"


Telepon itu langsung di matikan dari pihak Langit, cowok itu bergegas memutar arah, segera ingin bertemu sosok Aji dan mengarahkan pukulan tepat pada jidatnya yang lebar itu. Semoga saja tidak meleset!

__ADS_1


__ADS_2