
Mata Athaya sedikit memerah malam ini, tentu saja karena perjuangannya mencari tahu soal Ivana yang menghilang bagai di telan bumi itu.
Selain itu dia juga kasihan pada Mentari, mungkin akhir-akhir ini dia sedang dilanda rasa cemas dan bersalah karena kejadian tempo lalu yang belum menemukan titik terang.
Ia punya banyak teman yang mungkin bisa di hubungi untuk menemukannya, ia tahu kalau Iva tak jauh dari sini. Tapi, di mana?
Athaya mengucek matanya malas, layar ponselnya yang menerangi penglihatannya ia padamkan, tangannya reflek menggaruk kepala, mencoba menenangkan pikiran.
Dua detik setelahnya, suara notifikasi ponsel berbunyi, "udah dapat Ath?" itu dari Tari.
Athaya mengambil alih posisi tengkurap sebelum menekan ikon panggilan untuk menghubungi Tari.
"Halo?"
"Gimana?"
"Belum ada balasan dari temen-temenku, besok ya? kalau udah ada balasan aku pasti langsung kasih tau kamu, secepatnya,"
Tari berdiri dari kursi belajarnya, lalu mendudukkan diri di ranjang, "kenapa ya Ath?" tanyanya.
"Apanya yang kenapa?"
"Padahal pas dulu Iva pergi gue ngerasa gak kehilangan sama sekali. Tapi, kenapa akhir-akhir ini aku sering kepikiran sama dia dan pengen ketemu?"
"..."
"Kamu gak kangen sama dia?"
"... Kangen,"
"Bagaimanapun juga, kamu pernah ada di hati dia, Athaya,"
"Kamu gak marah?"
"Nggak, emang bener begitu kan? kamu ngejar-ngejar dia tapi gak pernah di bales,"
"Kok kamu tiba-tiba gitu sih, haha..."
"Ya kan... bener,"
"Kamu lucu banget sih, Mentari,"
Di sana Mentari tersenyum manis, sambil membayangkan wajah sumringah Athaya ketika mengatakan kalimat itu.
"Kamu udah makan?" tanya Athaya.
"Udah, kamu?"
"Udah juga,"
"Kamu dulu pernah bawain aku makanan yang pedes itu,"
"Apa?"
__ADS_1
"Yang ada kerupuk basah,"
"Haha... seblak sama baso cuanki. Orang mana kamu gak tau makanan itu?" kikik Athaya.
"Yee tau aku, maksudnya-"
"Bawain lagi?"
"Cenayang kamu?"
Mereka lalu tertawa bersama dalam sambungan telepon itu, seketika Athaya merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Dia punya Mentari.
...--...
Langit menghisap rokok dalam genggaman jari tengah dan telunjuknya, rambut lelaki itu sudah tidak rapi seperti dulu lagi, sekarang ia lebih nyaman dengan rambutnya yang panjang.
Menghabiskan sisa harta orang tuanya yang telah pergi. Langit sendirian, ia pergi ke kota besar itu dan memanggil setiap anak remaja yang terlantar di jalanan.
Memberikan mereka semua apa yang mereka butuhkan, motor yang paling mahal di antara semua kebutuhan mereka. Ada 30 orang yang berada dalam kubu Langit. Cowok itu bukan akan membuat sebuah geng motor atau apalah itu, melainkan mengalihkan perhatiannya sedikit demi sedikit dari kebisingan yang menjalar di otaknya tanpa henti.
Sekarang uang yang ada padanya tak cukup banyak untuk melayani mereka yang malas-malasan, maka dari itu mereka memanfaatkan peluang wajah mereka yang seperti preman dan bela diri untuk memeras orang-orang secara acak di setiap daerah.
"Nyebat terus bos" kata seorang anak dari belakang.
"Anak-anak udah pada balik?" kata Langit. Orang bernama Aji itu melirik sebentar, "beberapa, sebagian masih pada nyari,"
Langit mengangguk, menghisap kembali rokoknya, "soal orang tua lo itu, belum ada kepastian?" tanya Aji. Langit menggeleng, "gue pengen jadi orang yang lebih tenang dari ini dulu,"
Perkataan Aji barusan sedikit menampar Langit. Namun, ia berusaha untuk tenang. Di depan Aji, ia memasang wajah tak nyaman hingga membuat Aji sedikit menarik omongannya.
"Maaf bos, bukan gitu... Aji cuma mau ngingetin aja, soalnya kayaknya Aji tahu kasus itu," jawab Aji.
"Dari mana?"
"Dulu di sini ada suatu perusahaan atau perkumpulan gitu bos... ya Aji gak tau nyebutnya apaan. Tapi, kejadian kayak seseorang yang terbunuh secara tiba-tiba itu sering terjadi dan pihak berwajib seakan gak mau ikut campur gitu,"
Langit agak sedikit menimang sebentar, "kenapa lo ngasih tau baru sekarang!" Langit agak meninggikan suaranya. Aji berdecak pelan sambil memalingkan wajahnya, "Aji sebenernya pengen ngasih tau, cuma lo kayaknya udah nyaman sama dunia yang kayak gini. Jadi Aji nunggu aja saat malam kayak gini,"
"Kenapa malam?" tanya Langit.
"Bos! biasanya orang overthingking itu kan malam hari, kali aja lo kepikiran lagi sama keluarga lo!"
Langit menghisap kembali rokoknya, tiba-tiba saja ia teringat keluarganya yang telah tiada itu. Langit berdiri dari duduknya, "suruh anak-anak beli makan,"
Mendengarnya lantas Aji mengangguk patuh, Langit langsung menuju suatu kamar yang memang di sediakan khusus di sana. Tangannya lincah mencari sebuah barang yang ia simpan baik-baik.
Koran yang pernah ia temukan berada di lemari gudang milik orang tuanya. Perkataan Aji barusan sedikit membuka wawasannya, "gue harus tau tujuan gue kesini,"
Ia kembali memikirkan kisah hidupnya yang terkesan berantakan ini. Tak pernah ia bayangkan. Langit bahkan tahu, ia bukan tipikal orang yang doyan bertengkar dan mencari keributan. Ia punya hati yang lembut, sampai sekarang.
SEORANG PRIA TEWAS DIKEROYOK OLEH SEKELOMPOK ORANG ASAL BANDUNG DAN BELUM DI TEMUKAN PELAKUNYA, POLISI : KAMI TUTUP KASUSNYA.
Langit menyimpan kembali Korang lusuh itu, sekarang ia akan melakukan banyak tindakan. Ia yakin, walau hidupnya seakan sudah sedikit membaik. Tapi, bukan seperti ini kebaikan yang ia impikan.
__ADS_1
...--...
"Jadi, temen baru kamu itu pengennya kamu jemput gitu, Bal?"
"Iya, Ma..."
Sekarang Iqbal tengah membereskan beberapa potong pakaiannya ke dalam tas. Ia tak bilang kalau akan pergi ke Bandung untuk mencari keberadaan Iva, karena ia tahu pasti orang tuanya tak akan mengizinkan jika soal itu.
"Siapa emang orang itu?" tanya Anggi.
"Temen Iqbal Ma... kenalan Iqbal baru, dari grup maba," jawab Iqbal sedikit lelah.
"Cewek ya?"
"Kenapa sih ma, setiap kali Iqbal mau kemana-mana mama ngiranya Iqbal ketemuan sama cewek?" ucap Iqbal sambil tetap membereskan bajunya.
"Ya kamu itu aneh, bujang ganteng tapi gak punya gandengan, jomblo terus," ledek Anggi.
"Belum waktunya Ma. Ntar kalo udah waktunya juga Iqbal nyari kok," balas Iqbal.
"Hmm... terserah kamu deh, yang penting kamu di sana hati-hati, ya?" ucap Anggi sambil mengelus surai Iqbal pelan.
"Iya Ma... Iqbal udah gede,"
"Iqbal? kenapa sekarang Athaya gak pernah kesini?"
Gerakannya reflek berhenti ketika nama Athaya disebut— salah satu yang Iqbal khawatirkan, ia takut kalau permasalahannya ini sampai pada telinga orang tuanya.
"Mungkin Athaya sibuk Ma,"
"Dia belum selesai pertukaran pelajarnya?"
"Dari yang iqbal denger sih, dia pindah sini, nggak tau deh,"
"Loh? emang bisa gitu ya?"
"Mungkin bisa," jawab Iqbal singkat.
"Emang kamu gak ada ngomong gitu sama dia. Kan kamu wakil OSIS dulu, gak ngurusin hal soal begitu ya?"
"Nggak semua Iqbal yang ngurus Ma... OSIS di Dharma Bhakti bukan cuma Iqbal loh,"
"Hmm... iya juga sih. Ya udah deh besok lah kapan-kapan mama ke rumahnya,"
"Ngapain?" Iqbal menoleh.
"Menjaga tali silaturahmi agar tidak terputus. Kamu pake nanya lagi, udah! nanti kalo selesai kebawah ya? kita makan malam bareng, mama mau nungguin papa pulang,"
Anggi berbalik keluar. Sekarang ini Iqbal hanya berharap, semoga saja Athaya tidak berbicara aneh-aneh soal hubungan mereka yang jelas-jelas sudah retak ini. Apalagi kalau sampai mamanya tahu ia menyukai gadis yang ia benci yakni Ivana.
Nanti saat dia sudah berangkat, masa bodoh akan tinggal di mana, kalau perlu dia akan telusuri di mana letak sekolah dengan seragam merah marun itu dan menemukan sosok Ivana.
Ivana? Iqbal rindu.
__ADS_1