
Saat Iqbal dan Langit digiring di ruang kepala, ada beberapa siswi yang menghampiri Arini, Dara, Iva dan Tari. Mereka secara bersamaan menanyakan apa yang terjadi.
Mungkin apa yang dimaksud Langit untuk memecah mereka sudah terlaksana. Di tengah gempuran pertanyaan, mereka berjalan dengan tujuan sendiri-sendiri.
Ivana terlebih dulu memandang ke arah Athaya—berharap orang itu akan pergi padanya dan berkata, "kamu gak papa?" lalu memeluknya, "jangan sedih, aku ada disini," atau, "aku percaya sama kamu, kamu gak akan melakukan hal kayak gitu. Iya kan, Va?"
Namun, saat dia berjalan menjauh tanpa mengucap satu kata pun, ia hanya menemukan dirinya yang seakan dijauhi oleh semua. Banyak yang menanyai kabarnya, namun tak ada yang membuatnya baik saat ini.
"Tari? lo gak papa kan?" salah satu siswi bertanya.
"Ada kejadian apa sih?" sahut yang lain.
Masing-masing dari mereka tak ada yang menjawab, hanya diam dengan perasaan yang campur aduk. Sebelum rombongan Vino benar-benar pergi, cowok itu terlebih dahulu menghampiri Arini—mengecek keadaan semoga kekasihnya itu baik-baik saja.
"Ayo Ra, kita pergi dari sini," sambil mengulurkan tangan pada Dara, Damar mengajak. Begitupun Vino yang melakukan hal yang sama.
Tari sudah terduduk di kursi rodanya, beberapa orang mulai mendorongnya, dan yang lain lagi berjalan beriringan dengan Ivana—pergi meninggalkan tempat itu.
...--...
"Ada masalah apa sebenarnya?" pak Malik—kepala sekolah di sana bertanya.
"Langit mau ngelecehin Mentari pak," Iqbal menjawab cepat. Langit menoleh beberapa detik ke arah Iqbal sebelum dia sendiri berujar, "pak? bapak kurang nangkap satu orang lagi pak. Namanya Ivana, teman sekelas Tari."
Setelah mengucapkan kalimatnya, Iqbal sempat tersulut emosi, secara emosional ia kembali menarik krah baju yang di kenakan oleh Langit.
"Ngomong apa lo barusan?" ucapnya dingin tapi tegas.
"Iqbal! berhenti! atau bapak hukum kamu lebih berat," dengan berat hati ia menghentikan cengkeramannya, pak Malik kembali duduk setelah tadi sempat berdiri.
"Bukannya kalian itu temenan ya? kenapa bisa-bisanya kalian tiba-tiba bertengkar kayak gini? kalau ada masalah harus kalian selesaikan baik-baik,"
Mereka masih diam mendengarkan.
"Kamu juga Iqbal, kamu disini punya jabatan wakil ketua OSIS, bisa-bisanya kamu malah terlibat perkelahian," omel pak Malik.
"Saya gak mulai duluan kalau orang ini gak cari gara-gara duluan pak," bantah Iqbal.
"Jangan cuma gue yang lo salahin, inget Iva juga terlibat disini," saat Iqbal mendengar nada ancaman, ia sempat melirik dan menemukan ekspresi wajah Langit yang terlihat angkuh.
Iqbal mengerti, ia harus berhati-hati dalam bicara, karena semua pasti terjadi salah paham, apalagi disini Ivana yang ia yakin tak bersalah juga terlibat.
"Benar kamu melecehkan Tari, Langit?" tanya pak Malik.
__ADS_1
"Tidak pak," jawabnya singkat.
"Gak usah bohong lo," lugas Iqbal.
"Diam Iqbal, saya lagi gak bicara sama kamu," pak Malik memberi peringatan pada Iqbal yang langsung dipatuhinya.
"Tapi saya dapat laporan dari anak-anak kalau kamu mau melakukan pelecehan terhadap Mentari,"
Langit terlebih dahulu membuang nafas sebelum berbicara, ia harus melakukan ini se-detil mungkin.
"Iya pak, sebenarnya ini rencana saya dan Ivana Agnesia, saya berkerja sama dengan dia untuk membawa Tari ke gudang belakang sekolah dan saya suruh untuk mengunci Tari dari luar,"
"Bacot lo-" sebuah tinju lagi-lagi keluar dari Iqbal, dia ingin muntah dengan segala omong kosong yang dilontarkan Langit.
Terjadi adegan saling pukul sebelum mereka kembali dipisahkan oleh guru-guru disana.
"Gua lebih tau setan! siapa lo mau ngebelain Ivana? lo gak ada hubungan apapun sama dia, jadi gak usah berusaha ngelindungin dia!" peringat Langit.
"cukup! cukup kalian!" pekik pak Malik, mereka berdua kembali duduk di kursi sana.
"Pak Hendra? panggilkan Ivana dan Mentari," titah pak Malik pada salah satu karyawan disana.
"Saya panggilkan mereka supaya ada kejelasan," ujar pak Malik setelah karyawan tadi beranjak pergi.
"Tidak usah membela Iqbal. Kita cari akar masalahnya disini setelah mereka hadir," pak Malik mencoba tenang.
...--...
"Coba kamu jujur sama aku," sampai di kelas Athaya langsung menghentikan langkah Iva yang hendak duduk di bangkunya.
"Apa yang perlu gue jelasin ke lo, Ath?" jawabnya. Ia menatap tajam mata Athaya. "Apa lo mau sekalian gak percaya sama gue?" sambungnya.
"Aku percaya sama kamu Va, tapi lihat bukti yang ada, itu semua menjurus ke arah lo," ujar Athaya.
"Perkataan lo barusan nunjukin kalo lo gak sepenuhnya percaya sama gue,"
"Apasih-"
"Plis Ath, gue cuman mau dukungan dari lo. Tolong bantu gue supaya orang-orang pada percaya kalo gue gak ada sangkut pautnya sama masalah ini,"
Athaya tak berkutik, keadaan kelas tak sedang sepi, kebanyakan dari mereka mengikuti Iqbal dan Langit yang dipanggil ke ruang kepsek, begitu juga dengan mereka yang meminta kejelasan dari Vino, Arini dan lainnya. Sisanya mengantar Tari ke UKS karena gadis itu mengalami sedikit luka.
"Kapan kamu dikasih kunci itu dari Langit?" Athaya mencoba bersikap tenang.
__ADS_1
"Dulu udah gak terlalu lama, katanya itu kunci kamar nyokapnya, dan dia bilang kalau dia trauma...pengen berdamai dulu dengan kondisi, makannya dia nitipin kunci itu ke gue, supaya dia gak pikiran terus," jelasnya.
"Ath dengerin gue gak mau debat apapun disini, tolong percaya sama gue ya?"
Disana Athaya terduduk, pikirannya perlahan terbawa ketika Langit menunjukkan rekaman suara itu—juga fotonya, dia agak ragu namun juga percaya.
"Lo percaya sama gue kan?" Ivana bertanya lagi, kali ini dengan suara bergetar.
Ia sudah takut, pasti setelah ini ia akan terkena masalah besar, karena ini bukanlah masalah sepele, kasus ini akan mencoreng nama baiknya dan sekolah, lalu kalau terjadi masalah nanti, bagaimana ia menjelaskan ke orang tuanya.
"Lo gak percaya sama gue?" ia kembali bertanya—lesu.
"Tapi lo yakin? suara di rekaman itu lo?"
Ivana berpaling—mengacak rambutnya frustasi, ternyata yang ia rasakan benar—kekasihnya itu tak mempercayainya.
"Kenapa sih Ath...siapa yang harus gue percaya sekarang?...kamu sayang kan sama aku?"
Nada bicaranya berubah, Athaya sempat melirik kasihan. Namun, tetap saja, kalau memang Ivana terlibat, apalagi karena kejadian beberapa hari lalu itu, memang keterlaluan.
"Lo suka kan sama Mentari," Athaya mendongak, lalu berdiri perlahan, "kenapa lo tiba-tiba bahas Tari?"
"Oh jelas...dari cara lo tadi bersikap aja udah berubah,"
"Wajar gue kayak gitu,Va. Dia hampir dilecehin,"
"Kalo gue kayak gitu apa lo bakal ngelakuin hal yang sama?"
"Oh iya jelas dong"
"Oh ya? kalo seandainya Tari yang diposisi gue, lo gimana? inget ya, Langit ngelakuin hal kayak gini, juga ada sangkut pautnya sama keluarga lo,"
Cowok itu menarik nafas berat, "gak usah bahas keluarga,"
Ivana mundur beberapa langkah, saat punggungnya sudah terhadang tembok, ia meluruh—menangisi apa yang terjadi.
"Kalo lo nuduh gue kayak gitu, Va. Gue juga gak mau ini terjadi, lo gak seharusnya ngomong kayak gitu, itu malah makin memperjelas kalo lo emang ada sangkut pautnya," ucap cowok itu dingin.
"Sangkut paut apa?! apa yang bikin lo segitu percayanya sama Langit dari pada sama gua Ath? lo kenapa kayak gini sih?"
Cowok itu mendudukkan diri di lantai kelas, mencerna perlahan beberapa kejadian yang ada, dia hanya mencoba berfikir tenang. Dari tadi emosinya sudah meluap-luap, jangan sampai Ivana kena sasarannya.
Saat suasana hening dan hanya terdengar beberapa suara dari luar. Suara langkah terdengar perlahan menghampiri, sesaat setelahnya seseorang muncul, membuat keduanya mendongak bersamaan.
__ADS_1
"Ivana, ikut saya ke ruang kepala sekolah."