ATHAYA?

ATHAYA?
67- Segalanya tentang Athaya Langit


__ADS_3

Saat malam semakin larut, maka semakin jelas pula obrolan ketiganya, Langit duduk paling pinggir di samping Athaya, sambil menyalakan rokoknya yang entah sudah habis berapa hari ini.


"Apa yang buat kalian sampe sini?" Langit membuka obrolan malam itu.


"Ada urusan yang bikin kita kesini. Tapi, gak tau... Gue pikir gue salah,"


Gonggongan anjing saling menyahut seiring pelannya suara kendaraan yang melintas, mungkin sudah habis malam ini. Mentari memeluk erat jaket milik Athaya karena rasa dingin yang kian menusuk.


"Kenapa lo mikir gitu?" kata Langit.


"Sebenarnya gue kesini karena Iqbal,"


Langit menoleh, Iqbal? "Kenapa sama dia?"


"Beberapa hari lalu, nyokapnya dia datang ke rumah, dia cerita kalau Iqbal pergi ke sini buat ketemu sama temen barunya,"


Ia membuang nafas pelan, "Gue yakin lo tau banget sifat Iqbal, secara lo itu sahabatan sama dia cukup lama. Jadi nyokapnya ngomong kalau dia meu ketemu sama temennya yang baru, tapi saat gue pikir-pikir lagi gak mungkin Iqbal se- effort itu buat temen barunya. Dan gak tau kenapa gue kepikiran Ivana,"


"Ivana?"


Athaya mengangguk, "Gue curiga dia di sini,"


Langit terdengar terkikik geli mendengar ucapan Athaya, cowok itu membenarkan letak duduknya sebelum menyela.


"Kalo emang Ivana di sini, gue pasti udah tau kabarnya, dan gue gak pernah lihat dia berkeliaran di sekitar sini," Langit menghisap rokok kembali.


"Jangan bodoh, Bandung itu luas," tegas Athaya.


"Gue cuma mau mastiin aja, nomor gue di blok sama dia, Iva juga,"


Awalnya Mentari hanya ingin mendengarkan, tapi setelah sepatah dua latah kata dan namanya di sebut ia menjadi tergugah untuk bertanya satu pertanyaan penting.


"Lang?"


Yang di panggil menoleh sekilas tanpa menjawab, "Gue butuh penjelasan lo atas apa yang lo bilang setahun lalu itu,"


Langit membisu, ia kembali menatap jalanan kosong di depannya, apa malam ini sebaiknya dia bercerita saja?


Tapi apakah mereka mau percaya? Dilihat dari Athaya yang terlihat masa bodoh dengan kejadian yang menimpa, Langit malas kalau panjang lebar ia bercerita hanya berakhir helaan nafas tak peduli dari Athaya.


Tapi bagaimanapun juga, Rahsya itu...


"Athaya? Lo masih peduli atau nggak sama Rahsya?"


Athaya menoleh, "Maksudnya?"


"Lo harus ikut gue besok,"


"Di mana?"


"Lo sekarang gak perlu tahu, terserah lo mau ngajak Tari atau nggak, karena itu juga ada hubungannya sama kejadian gue waktu itu, Tari..."


Athaya menoleh pada Tari lalu kembali pada Langit, "Gue ikut lo," singkatnya.

__ADS_1


"Besok temui gue di sini. Pagi."


Tanpa menunggu balasan dari Athaya dan Tari ia berdiri, menuju motornya terparkir agak jauh darinya. Mereka berdua juga tak berniat memanggil, dilihat dari wajah Langit yang lelah. Bahkan awalnya mereka tak menyadari itu Langit. Karena memang seperti dua orang yang berbeda.


"Maaf aku nanya gitu, Ath. Aku masih penasaran," Mentari berujar. Athaya hanya mengangguk sekilas lalu mengajaknya kembali ke mobil.


"Kenapa gue tiba-tiba di keroyok sama orang-orang itu?" batin Langit saat dia dalam perjalanan.


...--...


Kemarin...


"Cari Athaya dan bawa kehadapan Ayah sekarang! Atau biar ayah suruh ajudan ayah yang melaksanakan!"


Arini berlari sejadi-jadinya saat ia menerima pesan singkat dari sang ayah. Dia membalasnya cepat, akan membawa segera Athaya ke kota itu.


"Gue harus cepet-cepet kesana sebelum ajudan ayah datang. Lebih baik gue yang ketemu terlebih dahulu ketimbang mereka,"


Ia segera tancap gas membelah jalanan yang ramai, otaknya tak bisa bekerja secara normal karena dirundung rasa panik. Di tambah kala setengah perjalanan berlangsung, sebuah telepon masuk dan memperlihatkan nama 'Ayah' di sana.


Lantas Arini memukul stir nya keras lalu mengangkat sambungan itu.


"Halo Yah?"


"Kamu di mana?"


"Habis main Yah, ini Arin langsung pergi ke rumah Athaya,"


"Arin? Kali ini Ayah gak main-main, kamu jangan coba-coba berbohong pada ayah,"


"Ayah tunggu kabar itu,"


Telepon di matikan oleh kedua belah pihak. Ia tancap gas semakin dalam berharap tak ada anak buah Abraham datang terlebih dahulu dari pada dirinya.


...--...


Sesuai janjinya, mereka berkumpul untuk mendengarkan bagaimana Langit bercerita, tanpa ba-bi-bu yang panjang, Langit hanya mengatakan "Ikut gue, kalo ada yang ngikutin kita kasih tau gue,"


Athaya membawa serta Tari karena bagaimanapun juga dia ikut merasakan keanehan yang terjadi semenjak setahun lalu itu. Dari tadi gadis itu pun hanya diam, tak berkomentar apapun, tak biasanya Mentari begini.


Tidak, gadis itu hanya memikirkan sebuah fakta baru yang mungkin membuatnya tertegun, apa mungkin yang dia kira-kira selama ini itu benar? Walau tak nampak kasat mata tapi dia peduli.


Hening.


Langit berhenti di tepi jalan yang tak terlalu ramai, dia turun dari motornya lalu menghampiri mobil Athaya. Dia mengetuk kaca mobil terlebih dahulu sebelum berbicara.


"Taruh mobil lo di sini, biar kalo ada apa-apa gak ribet," katanya.


Athaya tak berkomentar apapun setelah Langit berbalik, ia menurut lalu turun menunggu kelanjutan Langit.


"Ayo ikut gue,"


Kaki mereka menapaki jalur yang tak terlalu besar pun kecil, kanan kiri ditumbuhi rumput dan ilalang serta semak belukar yang tak terawat. Hanya suara langkah mereka yang terdengar.

__ADS_1


Athaya dan Tari tak tahu menahu soal dimana Langit membawa mereka sekarang. Gedung yang tua dan usang seperti tak terawat, namun anehnya menyimpan jutaan rahasia.


Langit membuka pintu menggunakan kunci yang di beri pak Amar. Saat pintu itu terbuka keterkejutan nampak jelas di wajah pasangan kekasih itu. Tempat mewah seperti ini tapi luarnya tak terawat!


Ia pertama menuju tempat foto itu, persis seperti reaksi Langit, mereka terlihat terkejut dengan nafas naik turun, dada Tari terasa sesak segera ia mengarahkan pandangan pada benda lain, tak ingin melihatnya lebih jelas lagi.


"Ini tempat apa Lang?!" Tari sedikit memekik dengan nafas naik turun.


Tak ada sahutan dari cowok itu, ia perlahan mendekat, menunjukkan satu foto yang terpajang di sebelah kanan mereka berdiri.


"Ath? Lo pernah lihat wajah bokap lo gak?"


Athaya menoleh, "Lewat foto," katanya tenang. Langit menunjukkan foto yang sama seperti kemarin ditunjukkan pak Amar, dia memandang wajah Langit dan foto bergantian.


"Apa yang lo rasain saat lihat foto itu?" tanya Langit.


Athaya terdiam sejenak, "Kasihan Lang," Langit bertanya lagi, "Hanya itu?"


Athaya memandangnya lagi, "Maksud lo apa ngajak kita kesini sebenarnya?"


Setelah ia berkata begitu, mata Langit memerah entah karena apa, kembali memandang tubuh hancur di gambar lalu dia berbalik menuju loker-loker berjejer rapi di sana. Mengambil satu map coklat lalu membukanya.


"Ini surat polisi, dan ini..." ucap Langit.


"Ini..." Athaya menggantungkan ucapannya, "...Foto gue waktu kecil," Tari maju untuk melihat juga. Athaya merasakan perasaan yang janggal seperti sesuatu kebenaran yang mencoba menerobos masuk pikirannya.


"Dia Rahsya, bokap lo,"


Mungkin cowok itu masih mencerna satu persatu kata yang di lontarkan Langit, tak sampai di situ, Langit kembali menunjukkan gambar lain.


"Ini gue dan mendiang nyokap sama Rahsya juga," kata Langit.


"Jadi..."


"Ath? Rahsya emang brengsek, itu awal yang gue rasain, dari perjalanan hidupnya pun bener-bener bajingan, tapi seorang anak yang punya hubungan darah sama dia... Sejahat dan sebrengsek apapun pasti tersentuh hatinya,"


Athaya mendongak membalas tatapan Langit.


"Lo adek gue Ath... Dari Rahsya si brengsek itu," ucap Langit pelan.


Mata Athaya ikut memerah, "Dia..."


"Dia ninggalin nyokap gue buat pindah ke Semarang buat nikahin nyokap lo. Karena... Di sini, markas Abraham, kita ada di tempat musuh yang udah bunuh ayah kita Ath,"


Athaya menatap lamat foto itu, "Papa..." Hatinya hancur kemudian, ikut menangis bersamaan dengan tubuhnya yang menghangat karena pelukan Langit.


"Lo adek gue Ath... Adek gue..." Langit terisak. Sementara itu berlangsung Mentari tersenyum lamat atas apa yang dia lihat sekarang. Ternyata memang benar! Apa yang di pikirkan akhir-akhir ini benar.


Athaya membalas pelukan Langit, ia tak tahu harus berucap apa, dirinya cukup terkejut dengan kenyataan yang ada, sesenggukan saling bersahut pada ruangan sunyi Abraham.


Mentari harap ini akan menjadi jalan baru, dan membuka semua satu persatu.


Di mana Iva? Kenapa ia hampir di lecehkan oleh Langit? Apa hubungannya dengan Abraham? Dan siapa Abraham itu?

__ADS_1


Pelan-pelan saja.


__ADS_2