
Hanya perasaan bersalah yang memenuhi otak Athaya dari tadi, karena kejadian yang tak ia sengaja dengan Tari, ia takut kalau-kalau ini akan menimbulkan konflik antara dirinya dan Ivana.
Walau bagaimanapun juga, Athaya memastikan tak ada yang melihat kejadian tadi.
"Athaya?" hingga ia tak sadar bahwa dari tadi guru kimia itu memanggil namanya.
"Mikirin apa, Athaya?"
"Nggak bu, maaf." jawabnya sopan
Di depan tabung reaksi, Mentari merenung sendiri, walau dalam hati yang paling dalam ia mengakui sejak hari pertama ia bertemu Athaya terdapat kekaguman sendiri.
Rasanya seperti ada dalam ketenangan yang tak ia temui dalam diri siapapun.
Tapi dia milik Ivana.
Kalimat yang ia harap akan terus terpaku dalam ingatannya jika ia sedang dalam situasi seperti ini.
Jam ke-3 dan ke-4 selesai, itu tandanya waktu untuk istirahat, tanpa basa basi lagi, Athaya mengumpulkan bukunya dan menarik diri dari laboratorium sana.
Ia melirik ke arah Tari, gadis itu berhasil mengalahkan atensinya, saat melihatnya kesusahan untuk keluar dari kelas dimana tak seorang pun melirik ke arahnya, jiwa gentle nya berkoar.
"Sini gue bantu," ucapnya pada Tari.
"Gak usah Athaya," tolak Tari dan berusaha mengambil buku yang dipegang Athaya.
"Gak apa-apa biar gue bantu, sini" lama kelamaan Tari menurut, membiarkan tangan-tangan Athaya mengambil alih, dengan canggungnya ia pasrah saat kursi roda itu didorong olehnya.
...--...
"Sep? lo kira bener gak sih kalo Athaya tega ke Ivana?"
"Gak tau gue,"
"Kalo iya kasihan Ivana-nya sih, masa ditikung sama sahabat sendiri," setelah mengucapkan kalimatnya, Vino sedikit mendelik, "sama ya kayak lo? ditikung sama Athaya".
Iqbal menyadari, iya juga ya?, sebelum menggeleng pelan dan berdiri dari duduknya, apa yang ia pikirkan?.
"Udah lah, gak usah ikut masalah orang lain, bukan urusan kita," Iqbal melangkah meninggalkan Vino.
"Ah! yang bener lo?" Vino menyusul dari belakang, "ntar kalo ada apa-apa sama Ivana gimana? yakin gak mau ikut urusan? haha..." sambung Vino.
Iqbal hanya berdecak kecil, ditangannya ia memegang kertas hasil rapat bersama anggota OSIS tadi. Saat ini para siswa-siswi sudah jam istirahat, jadi koridor sedikit agak ramai.
...--...
Don Don mengibaskan tangannya di depan wajah, tadi AC kelasnya tiba-tiba mati begitu juga kipasnya, membuatnya dan Damar seperti ikan asin yang tengah dijemur dibawah terik matahari.
"Tumben gak ada orang disini?" Damar mengawali.
"Gak ada orang mata lo buta? kiri kanan lo apa kalo bukan orang? setan?" Don Don melotot.
"Iya, nih kanan gue setan" Damar melirik ke arah kanannya yang ditempati Don Don membuat cowok itu melengos, tau aja kelakuannya kayak setan!.
"Dor!"
"Eh, ayam..ayam..ayam.." Langit datang dari belakang mengejutkan Don Don, ia tertawa riang melihat reaksi dari Don Don karena perbuatannya.
"Langit, emang beneran setan lo ya,"
"Sori bro, tumben cuma lo berdua, yang lain mana?".
"Gak tau, intinya gue mau protes ke ketua OSIS itu soal AC sama kipas kelas gue yang mati, berasa jadi ikan asin gue,".
Baru saja kalimat itu dilontarkan, Vino yang diikuti oleh Iqbal dibelakangnya mendekat, mengambil tempat duduk di samping Don Don.
"Apa kabar bro?" sapa Vino ramah.
"Gak, kagak baik gue, jahat lo Vin, bisa-bisanya AC kelas gue mati, intinya gue mau abis istirahat tuh AC bisa hidup lagi," Don Don mengeluarkan segala unek-unek nya.
"Apa yang mati?" tanya Iqbal saat sampai disana.
"Sep! AC kelas gue mati, intinya hari ini juga harus udah nyala lagi," Damar mewakili.
__ADS_1
"Besok,"
"Hah? besok? beneran keburu jadi ikan asin gue,"
"Lo tau proses gak? biar besok tukang servis AC kesini, hari ini pake AC alami aja, udah gede jangan alay," ujar Vino.
Don Don dan Damar melengos, sebelum kembali melirik kertas yang dipegang Iqbal.
"Apaan tuh, Sep?".
Iqbal menjauhkan kertasnya, "kepo."
...--...
Athaya pergi ke belakang sekolah, duduk ngemper di sana, saat ia membuka ponselnya—ternyata benar, dari kemarin Ivana mencoba menghubungi nya, Athaya tersenyum kecut, semoga gadis itu tak marah padanya.
Athaya mengarahkan ponselnya ke telinga, sedikit nada berdengung sebelum suara serak khas seorang yang baru bangun tidur terdengar.
"Hay, Iva...maaf baru bisa ngabarin," Athaya menyapa.
"Ini Athaya ya?"
"Iya, pacar kamu yang ganteng itu," Athaya cekikikan di akhir kata.
"Oh, masih inget gue ternyata?"
"Ya iyalah masih, sori ya? udah bikin lo sakit,"
"Kok gitu?"
"Iya, kan gara-gara gue yang boncengin lo pas hujan-hujan itu lo jadi sakit, harusnya lo naik go-car aja biar aman,"
"Nggak gitu, gue juga seneng kok diboncengi sama lo,"
Athaya tersenyum sekilas disana, "nanti pulang sekolah gue ke rumah lo ya?"
"Nggak papa emang?"
"Terserah lo, lo kesini aja gue udah seneng," mendengarnya Athaya sangat senang sekali, setelah sekian lama ia menginginkan Ivana menjadi kekasihnya sekarang terwujud.
"Oke, nanti gue kesana ya? lo istirahat dulu, dah tutup telponnya,"
"Oke,makasih. Athaya"
Dibalik rasa cemas yang menghantuinya, terselip rasa bahagia mendengar suara Iva, cewek itu berani membuatnya berubah.
...--...
"Athaya?"
Saat akan kembali ke tempat duduknya Tari memanggil, Athaya menoleh dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa?"
"Tadi kan pas kimia disuruh kerja kelompok, gue boleh kan gabung di lo?"
"Oh, iya gak apa-apa ntar gue tanya Arya ya? eh, tapi bukannya lo sama Iva ya?"
"Iya, tapi kalo gabung ke lo nggak masalah kan?"
Athaya mengangguk, "gak papa," Mentari tersenyum hangat untuk jawaban itu, saat ia sudah selesai dengan urusannya Athaya berbalik untuk kembali ke mejanya.
...--...
Ivana merasakan sesuatu yang hangat dari telapak tangannya, bukan demamnya yang panas, melainkan sentuhan hangat dari seseorang yang berhasil membuatnya terbangun
Saat matanya terbuka, wajah seseorang menyapu penglihatannya. Ia tersenyum, sepertinya sekolah sudah pulang dan Athaya disini menjenguknya.
"Jangan bangun," Athaya reflek berdiri saat Ivana mengambil ancang-ancang untuk bangun, saat Athaya melarangnya, Iva kembali di posisi nya begitupun Athaya.
"Tangan lo masih panas banget,"
"Namanya, juga sakit" cowok itu tersenyum tipis, masih ada sedikit rasa bersalah yang hinggap, hingga tangannya yang dalam genggaman itu diarahkan ke pipi Iva yang panas.
__ADS_1
"Lo udah minum obat kan?"
"Udah, gimana sekolahnya?"
"Kayak biasanya, cuman gak ada cewek yang biasa gue ganggu karena lo gak masuk,"
"Enak aja lo," Iva menarik bibirnya ke atas, jujur saja kepalanya masih terasa pusing, badannya pun terasa sangat lelah, terasa dingin walaupun badannya telah ditutupi oleh selimut tebal.
"Gue bawa buah, lo makan ya?"
Iva menggeleng, "gue udah makan banyak tadi, disuruh mama,"
"Tadi kan disuruh mama, sekarang gue yang suruh,"
Ia tetap menggeleng, penyakit ngeyelnya kumat lagi sepertinya, "nanti juga gue makan kok, Ath" cowok itu membuang nafas berat, lalu membaringkan kepalanya ke ranjang yang dibuat rebahan oleh Iva.
"Tari hari ini gimana?"
Ia baru saja diserang perasaan bersalah kembali, saat ia mengingat kejadiannya dengan Tari, yang ia rasa—terlalu dekat itu, meski sekali lagi ia rasa tak ada yang melihatnya.
"Dia baik-baik aja," Athaya masih dalam posisi yang sama. Namun, kali ini ia sambil menatap wajah kekasihnya.
"Dia gak kesusahan kan?" tanya Iva lagi.
"Iva, jangan bahas Tari, tau gak? gue kangen banget sama lo, jadi jangan bahas apapun oke? lo merem istirahat lagi,"
Iva memandang langit-langit kamarnya, ada sesuatu yang patut ia bicarakan, sepertinya tidak sekarang, karena ia tahu kondisinya yang tidak memungkinkan dan sepertinya Athaya pun tak ingin membahas itu.
"Gue sayang banget sama lo, Va. Sori tadi gue mungkin ngelukai perasaan lo. Tapi, gue takut kalo harus kehilangan lo," Athaya hanya mampu berbicara pada dirinya sendiri, kata itu tak mampu keluar dari mulutnya.
Ia semakin menggenggam erat tangan Iva yang terasa panas, "kalo gue pegang gini, lo ngerasa hangat gak?"
Iva melirik Athaya, "anget banget, ceritain dong keseruan di sekolah tadi, gue pengen denger,"
Athaya mencium punggung tangan Iva, meski agak terkejut dengan perlakuan itu, tapi Iva mencoba buat tetap tenang. Athaya menceritakan beberapa keseruan di sekolah tadi.
Mulai dari kerja kelompok, keterkejutan Joko karena Arini sekarang resmi jadi pacar Vino—yang mana Iva juga terkejut karena itu, kerecehan Arya, Saga dan teman-temannya. Kecuali, kejadian yang menimpanya dengan Tari pagi tadi.
Iva terlelap mendengar cerita Athaya, cowok itu merebahkan kepalanya lagi ke ranjang, ikut terlelap beberapa saat sebelum terbangun kembali dengan suasana yang sepertinya sudah mulai petang.
Ia melepas genggaman eratnya dengan Iva, mengambil tas sebelum mengecup singkat dahi Iva yang panas, ia harap Iva tak menyadari tindakannya, karena Athaya berani jamin, kalau Ivana sudah sehat ia akan memukuli Athaya menggunakan novelnya dengan wajah yang memerah malu.
Ia turun ke lantai dasar—menemukan Risa dan Fahri yang tengah berada di ruang tamu, Athaya menaikkan tasnya yang melorot dan kebawah dengan perasaan deg-degan.
"Athaya? udah ngobrol sama Iva?" Risa berkata ramah.
"Udah tante,"
"Kamu paksa aja Iva buat makan banyak, dia orangnya ngeyel kalo dikasih tau orang,"
"Sama om, dikasih tau Athaya juga ngeyel," Athaya nyengir setelah mengatakan kalimatnya.
Pasangan itu menggeleng pasrah, "memang ya, kalau udah ngeyel di bilangin kayak apapun ya tetep ngeyel,"
Athaya kembali tersenyum, sebelum pamit pulang, "Athaya pamit dulu ya om, tante udah sore,"
"Iya, hati-hati Athaya, makasih udah datang, lain kali kesini lagi gak papa kok,"
"Iya, Athaya anggap rumah sendiri saja ya,"
Athaya mengangguk patuh mendengar penuturan mereka, setelahnya menarik diri dari sana.
...--...
Padahal Ivana ingin sekali bertanya soal foto itu.
Beberapa jam sebelum kedatangan Athaya, sebuah foto masuk dengan nomor yang asing, ia sempat terkejut untuk beberapa saat, karena foto itu menunjukkan Athaya dan Mentari sahabatnya tengah berpelukan di depan ruang laboratorium.
Melihatnya membuat Iva menarik nafas dalam-dalam, ia takut bertanya pada Athaya maupun Tari. Ia rasa itu suatu hal yang kebetulan, ia tak ingin mengambil keputusan tanpa mendengarkan argumen dari siapapun.
Walau di hati kecilnya, ratusan pertanyaan menjalar—semakin membuatnya pusing tentang siapa yang harus ia percaya. Athaya begitu baik, begitu juga Tari. Mereka adalah sosok yang Iva rasa beruntung bertemu mereka.
Lain kali ia akan tanya.
__ADS_1