
Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tak baik. Ivana berpura-pura mengambil buku dan membolak-balik halaman itu seolah sedang melakukan hal yang penting.
Athaya yang melihatnya agak sedikit kaget, sementara Mentari menyenderkan punggungnya di kursi roda, sedikit takut.
"Hai Va," Athaya terlebih dahulu menyapanya, matanya yang cerah menatap lembut netra Ivana yang membuat gadis itu sedikit tergugah hatinya untuk terpaku.
"Hai, Ath..." balasnya, cowok itu tersenyum singkat, ia hampir membalasnya saat itu juga. Namun, dia tiba-tiba teringat perkataan Langit yang membuatnya memutuskan kontak mata pada Athaya.
"Gue butuh penjelasan dari lo," katanya.
"Penjelasan apa?" entah kenapa saat Athaya berbicara begitu, ia menjadi sedikit jengkel, apakah ia tak tahu apa yang sedang Iva bahas?
"Soal Langit," Athaya memutar bola matanya lalu berjalan menuju bangku belakang, "kenapa lo menghindar" kata Ivana.
"Gak usah bahas itu," dan dengan begitu saja Ivana yang awalnya santai menjadi betulan jengkel, "karena lo gue di fitnah sana-sini tau gak?" Ivana sedikit melotot.
"Jadi lo nyalahin gue?" Athaya membalas tatapan Ivana. "Kita baru ketemu hari ini Va, jangan gitu,"
Ivana membuang pandangan, "lo udah dari kapan sebelahan sama Mentari?" tanya Iva.
Athaya menyipitkan mata, "lo udah minta maaf sama dia? lo hampir bikin dia celaka,"
"Jadi selama ini lo masih mikir kalo gue ada kaitannya sama ini?"
Tidak! ia beberapa hari yang lalu baru saja disadarkan Langit masalah itu, ia hanya...ingin membela Mentari, entah karena alasan apa.
"Gue gak nyangka sama lo Ath, gue kira lo udah gak nuduh gue yang macem-macem, ternyata apa?" Ivana menjeda ucapannya, "lo masih belain dia?"
"Va?" Athaya agak memekik ketika Ivana berlalu kembali ke bangku samping Arini, suaranya itu perlahan membuat orang-orang di kelas menatap bingung.
Athaya menunduk canggung ketika itu, lalu ia perlahan kembali ke bangkunya sendiri, meninggalkan Mentari sendiri—ia masih mementingkan perasaan Ivana sebagai pacar.
Athaya mengambil tas nya yang ada di samping Tari, "maaf, Tar." katanya pelan.
Mentari melirik melalui ekor matanya, ia tak membalas apapun. Lalu tiba-tiba saja ia merasa sendiri kembali, ketika tak lagi ada perhatian dari Ivana dan Athaya padanya.
"Athaya pergi ke bangkunya sendiri," Arini membisik pelan, Ivana tersenyum, ternyata Athaya masih memikirkan perasaannya.
"Lo gak mau nyamperin Tari?" Arini berkata pelan, "gue gak mau berurusan sama dia lagi, Ar. Setelah banyak yang gue lakukan buat dia, dan teganya dia nge-fitnah gue seakan gue emang bersalah,"
Entah didengar Tari atau tidak, rasanya Ivana puas dengan kata-kata itu. Ia benar-benar tak peduli, kita lihat saja nanti...jika ia tak punya perhatian darinya bahkan Athaya, apa dia yakin akan bisa bertahan sendiri?
...--...
__ADS_1
"Aseeeeep!" wajah Iqbal memerah malu ketika dengan hebohnya Damar memekikkan nama itu di tengah-tengah kantin yang ramai.
"Gue terharu..." Don Don mengusap pipinya seakan sedang terharu. Sudah sebulan ini ia tak melihat Iqbal memakai baju sekolah, rasanya senang sekali mereka bisa berkumpul bersama lagi.
"Tambah seger lu di rumah ya Sep," kata Vino bercanda. Iqbal mendaratkan bokongnya ke kursi kantin, kali ini ia senang, agak sedikit terharu.
"Gue kayak orang lagi pertama kali masuk sekolah sumpah," kata Iqbal. Karena memang dari tadi banyak siswi yang menyapanya haru.
"Derita jadi orang ganteng ya Sep?" Vino mencoba menggoda Iqbal yang langsung dibalas tatapan tajam olehnya.
"Lo udah ketemu Athaya belum?" tanya Damar pelan, Iqbal menggeleng—tanda belum bertemu.
"Hah? seriusan lo? dari sebulan itu sampe sekarang kah?" tanya Don Don hampir tak percaya, Iqbal mengiyakan memang dia belum menghubungi Athaya sama sekali.
"Dia juga gak mencoba buat menghubungi gue," jawab Iqbal akhirnya.
"Kayak orang pacaran lo tau gak? gengsi nya kegedean," papar Vino.
"Yah, kek nggak tau Asep aja lo, contoh itu Ivana, sampe sekarang gak menemukan titik terang," Don Don meminum es nya hingga tandas.
"Eh btw mereka masih pacaran kah?" pertanyaan itu sudah lama berdiam di pikiran Damar. Ia kepo sekali, apakah karena kejadian itu mereka putus atau ma-
"Gimana? setelah lo putus sama Dara langsung mau lanjut nge-gebet Ivana lo?"
Damar nyengir, "Nggak, Sep...jangan gitu lah, gue malah jadi inget lo mukulin si Langit kayak orang kesurupan,"
Duk!
"Aduh! lo ngapain mukul gue anjir, sakit..." alhasil pertanyaan barusan mendapat timpukan keras dari Don Don.
Cowok itu nyengir ke arah Iqbal sebelum akhirnya Damar minta maaf, "sori Bal...jangan marah ya?"
"Nggak, gue cuma mikir lagi, kayaknya gue harus datangin rumah dia lagi buat minta maaf. Kalo dipikir-pikir kayak gini gak ada dia sunyi," kata Iqbal membenarkan.
"Bener Sep. Gue udah mau ngomong ini dari tadi cuman takut ngerusak suasana aja, gue ngerasa kayak semua udah beda...gak kayak dulu,"
Sejenak mereka berfikir untuk apa mereka berteman selama ini, apakah untuk menjadikan seseorang diantara mereka asing? mungkin terlalu lebay untuk dijadikan alasan mengapa mereka murung untuk beberapa hari belakangan. Tapi, percayalah dibalik rasa marah seorang Iqbal, ia menaruh rasa kasihan dan penyesalan mendalam.
Mungkin ia sedang diserang tekanan batin yang tinggi dalam dirinya dibalik senyum ramah dan sikapnya yang selalu norak dan cengengesan itu.
...--...
"Ternyata dia nggak dikeluarin ya?"
__ADS_1
"Iya, kerja sama dengan orang asing buat ngelecehin sahabatnya sendiri,"
"Emang gak punya urat malu. Langit aja dikeluarin masak dia enggak sih?"
Kalau Ivana tak punya tata krama mungkin ia sudah menyumpal mulut bau orang-orang itu dengan kaus kaki milik Joko yang tak pernah dicuci itu.
"Gak usah lo dengerin," kata Arini, ia mengajak Ivana untuk santai di taman sekolah, karena ia tahu kalau di kantin pasti banyak yang mencaci Ivana dengan kata-kata tak suka.
"Mentari sakit hati gak ya?" ucap Iva tanpa sadar.
"Lo yang sakit jiwa! masih lo khawatirin dia ya? padahal jelas-jelas dia gak percaya sama omongan lo," balas Arini jengkel.
"Nggak, gue cuma kepikiran sejenak." Ivana berhenti sebentar. "Gue mau nyamperin Athaya," ucapnya bersemangat lalu dengan riang beranjak dari duduknya.
"Eh eh eh mau kemana lo?"
"Nyamperin Athaya," dia berujar lalu pergi.
Tak sampai sepuluh langkah, ia berhenti, seperti yang sudah-sudah saat dia kembali kesini, lagi-lagi ia berdua dengan Mentari.
"Kayaknya dia lagi sweet sama Athaya deh," dia tak sengaja melihat siluet keduanya baru pulang dari kantin samping parkiran yang tak terlalu ramai itu.
"Padahal Mentari gak suka jajan disana," kata Iva pelan.
Arini berdiri memposisikan diri bersama Ivana—tanpa mengatakan apapun. "gue gak boleh kalah,"
Ia tak jadi kembali pada Arini, akhirnya ia menghampiri Mentari dan Athaya di sana, Arini hanya melihat dari kejauhan.
"Hai Ath?" sapa Iva dulu. Keduanya diam, mungkin menunggu Iva melanjutkan omongannya.
"Kita ke kantin yuk, Ath?" kata Iva menatap keduanya.
"Tapi, dia gimana?" dan dengan polosnya Athaya melirik ke arah Tari dengan bicara seperti itu. Ivana memutar bola mata malas, "yang jadi pacar lo itu aku atau dia?"
Athaya diam, "kamu, Va" sekarang Iva akan memposisikan dirinya sebaik mungkin dengan mencintai Athaya setulus hati, ia menggenggam erat-erat tangan cowok itu lalu mengajaknya pergi ke kantin.
"Aku ada hak buat ngelarang lo jauhin Mentari kan?" tanya Iva sambil menghadap jalanan depan.
"Tapi lo gak kasihan sama dia?" Ivana menoleh dengan alis bertaut, "kasihan? lebih kasihan dia atau aku yang rela di skors atas kesalahan yang gak aku perbuat Ath?" Iva tiba-tiba memandang serius.
"Oke, maaf Va, aku emang agak diluar kendali, sori ya?" hati Iva menghangat saat tanpa aba-aba Athaya memeluknya, sontak jantung Iva berdebar tak karuan.
"Ivana? apa yang terjadi sama kamu sampai-sampai kamu jadi begitu peduli sama aku begini?" ucapnya sungguh dalam hati. Dan ia janji akan membalas hal yang sama
__ADS_1
Janji?