ATHAYA?

ATHAYA?
48- Pergi


__ADS_3

SEORANG PRIA TEWAS DIKEROYOK OLEH SEKELOMPOK ORANG ASAL BANDUNG DAN BELUM DI TEMUKAN PELAKUNYA, POLISI : KAMI TUTUP KASUSNYA.


Saat tangannya membuka koran-koran lama yang usang dan berdebu, di salah satu surat kabar itu dia menemukan sesuatu.


Tak ada salahnya Langit membongkar isi lemari di gudang rumahnya yang sudah lama terkunci itu, dan dengan begitu saja ia jadi tahu sesuatu yang ganjil.


Dia membaca berita itu—sedetail mungkin, tak salah! orang yang dikeroyok sekelompok orang asal Bandung itu Rahsya—ayahnya.


"Apa bener Rahsya dibunuh oleh kelompok orang yang pernah make mama?"


Nyatanya, setelah ia kembali bertanya pada temannya itu, tak ada seorangpun pria hidung belang yang berasal dari kota itu. Lalu? siapa yang dimaksud disini?


Ia kembali membuka beberapa surat kabar yang telah usang di sana, lalu ia menemukan lagi.


KELOMPOK PENIPU YANG TAWARKAN KEUNTUNGAN PADA KORBANNYA HINGGA MEMINTA TUMBAL NYAWA, BANYAK KORBAN BERJATUHAN.


Janjikan keuntungan yang berlipat ganda, perkumpulan rahasia ini mampu memeras ratusan orang korban hingga berakhir terbunuh dengan sadis.


"Apa mama gak pernah baca ini? atau dia gak tau?" tanyanya pada diri sendiri.


"Apa mungkin?" Langit menutup koran-koran itu lalu beranjak berdiri. Namun, ia tak sengaja menyenggol kotak hitam disana dan berakhir mengeluarkan beberapa barang, ia menelisik, sebuah foto ia temukan.


Seorang lelaki muda dengan seorang bayi perempuan di gendongannya.


Ia membalik foto itu.


Bandung, 12 April 2005


"Ada yang gak beres," setelah mengatakan hal itu, ia kembali melakukan hal sama, setelah menyimpannya dengan cukup baik ia keluar kamar lalu menguncinya.


Otaknya coba mencerna apa yang ia temukan barusan, sebelum ia kembali mengurung diri di kamarnya.


...--...


"Mau pulang bareng?" setelah mapel terakhir berlalu, Athaya dengan tas yang menggantung di pundaknya menghampiri.


Gadis itu mengangguk cepat mendengar tawarannya. Ia membereskan buku terlebih dahulu, orang-orang dikelasnya satu persatu sudah keluar kelas.


Tak seperti sebelumnya, kini Tari benar-benar melakukannya sendiri—berjalan menggunakan kursi rodanya secara mandiri. Hal itu sedikit membuat Athaya melirik walau hanya sekilas.


"Yuk, Ath?" sebenarnya Ivana tau arah lirikan itu. Ia buru-buru beranjak pergi sebelum suara Mentari memotong langkahnya.


"Va?" yang dipanggil berhenti tapi tidak menoleh—tanda ia mau sedikit mendengarkan. "gue pengen ngomong penting sama lo?"


Pegangannya pada Athaya merenggang lalu ia berbalik siap mendengarkan, "lo bisa pergi dulu gak Athaya? ini urusan gue sama Iva,"


Cowok itu menoleh ke keduanya, lalu perlahan mundur dan pergi, "aku tunggu di parkiran, Va." katanya sebelum benar-benar pergi.


Ivana duduk di meja sampingnya, "kalo lo gak suka kedekatan gue sama Athaya, lo gak usah nyuruh-nyuruh Langit buat ngelakuin macem-macem ke gue," kata Tari.


Ivana menaikkan sebelah alisnya, "gue tau lo mau bahas itu. Kenapa sih lo gak percaya kalau bukan gue pelakunya?"


Mentari menatap lurus ke arahnya, "lo gak tau seberapa traumanya gue sekarang, Va?" suaranya bergetar, "gue hampir di lecehin, dan yang bikin gue kaget ternyata lo juga terlibat disini-"


"Plis Tar, kita pernah sahabatan lama...gue sebenernya juga gak bisa kayak gini, tapi apa? segitunya lo suka sama Athaya sampai-sampai lo nuduh gue sembarangan?" suara Iva ikut bergetar.


"Kenapa lo jadi bawa-bawa Athaya?" katanya tak terima.


"Lo pikir gue buta? dari tatapan lo aja ngisyaratin kayak gitu, lo nuduh gue macem-macem supaya dia ilfil sama gue kan?"


"Jaga omongan lo, Va! gue gak pernah kayak gitu,"


"Banyak buktinya! kenapa lo gak nolak dideketin dia padahal jelas-jelas Athaya milik gue?!"


"Dia cuma bantuin gue!" jawab Tari.


"Nggak, lo cinta sama Athaya kan?"


Perkataan itu sedikit membungkam Mentari, "Va-"


"Jawab jujur, Tar!"


"Kalo gue suka sama Athaya kenapa, Va? bukannya lo gak suka sama dia ya?!" ucap Mentari sedikit membentak.


"Dia udah berulang kali deketin lo tapi apa? lo berusaha ngehindar! bahkan lo gak ada usaha apa-apa kalo lo emang suka sama Athaya! yang selama ini jadi tempatnya curhat itu gue, Va! bukan lo!"

__ADS_1


Usahanya untuk tidak menangis di hadapan Mentari gagal, ia mengusap air matanya tegas lalu menjawab, "jadi selama ini Athaya gak pernah sekalipun hubungin gue karena ada lo ya?" katanya.


"Jelas, Va! karena cuma gue yang selalu ada setiap dia butuh perhatian, bukan lo" kali ini suaranya melemah.


"Oh...kalian saling suka ya?" kata Iva. Lalu ia kembali mengusap air matanya yang membanjiri pipi. Kemudian pergi tanpa berkata apapun.


Lalu untuk apa Athaya menjadikannya pacar kalau hanya untuk ini?


...--...


"Udah?" Athaya menyipitkan matanya saat kehadiran Ivana, karena cuaca sedang sangat terik.


"Pulang yuk?" saat itu dipikiran Ivana hanya ada kata putus, baginya hubungan hambar ini tak membawa apapun baginya.


"Jalan-jalan yuk?" ia mengatakannya dengan senyum sumringah yang sangat cerah. Ivana kembali terpaku, dan tanpa sadar mengangguk mengiyakan.


Mentari mengamati dari kejauhan, lalu seketika melirik kakinya yang tak berdaya apa-apa. Ia menangisi kesendiriannya. Lalu apakah ini salahnya? salahnya karena mencintai Athaya? lagi pula ia sendiri yang melihat Ivana-lah yang menguncinya di gudang itu bersama Langit.


"Gue benci sama lo, Va. Gue benci," papar Tari tegas di setiap katanya.


...--...


Mungkin ini adalah titik baliknya Ivana mencintai Athaya, perlakuan cowok itu padanya benar-benar membuatnya gila dan ingin terus bersama Athaya.


Ia membuka ponselnya, hatinya berbunga-bunga sekarang. Selang beberapa detik setelah wi-fi  rumahnya tersambung sebuah pesan muncul, rupanya dari Iqbal—3 jam lalu.


"Gimana hari pertama sekolah?" Ivana membalasnya santai, "sangat oke!". Ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, membayangkan tadi ia diajak Athaya untuk melihat-lihat kebun binatang, makan-makanan enak dan sesuatu yang lainnya.


"Makasih hari ini, Athaya. Aku sayang sama kamu," katanya pada diri sendiri.


Sementara di lain waktu Vino, Damar, Don Don dan Iqbal tengah berkumpul, mereka membicarakan perihal rencananya ke rumah Langit—untuk ke dua kalinya.


"Kalo gerbangnya masih ditutup kita dobrak aja, apa susahnya sih?" kata Don Don puas.


"Lo kira itu sopan ha? main dobrak-dobrak rumah orang lagi," Vino tak setuju.


"Ya mau gimana lagi? nungguin sampe kebuka?" Don Don menaikkan satu alisnya heran.


Benar saja!


"Anjir ini jam berapa ***?! lama amat tuh orang buka gerbang," Don Don protes saat mereka sudah menunggu Langit lebih dari 2 jam.


"Ya emang dari tadi gak keluar!" Don Don sedikit memekik.


"Gak keluar karena dari tadi lo berisik banget monyet!" Damar ikutan nimbrung.


"Kemana ya dia, kita kesana?" tanya Iqbal yang langsung dibalas anggukan tajam dari Damar—anak itu memang sudah sangat tidak sabar.


"Ya udah ayo!"


"Eitt..."


"Bentar!"


"Apaan?"


"Lihat tuh,"


Mereka kembali merapatkan punggungnya di pohon pinggir rumah langit, terlihat jelas cowok itu membawa sebuah tas besar entah berisi apa, lalu dia bersiap menaiki motor dan segera pergi.


Dari sana terlihat Lina yang sedang menahan isakan, menatap nanar kepergian Langit. Hal itu sontak membuat Vino mengernyitkan dahi, lalu dengan cepat menghampiri.


"Vin! mau kemana?!" pekikan dari Iqbal tak ia hiraukan, ia langsung menghampiri Lina yang terlihat sedih di sana.


"Mbak? Langit mau kemana ya?" disela ia bertanya Iqbal dan yang lainnya mengambil motor masing-masing—segera menyusul Vino.


"Mas Vino? tolong cegah mas Langit...dia mau pergi gak tau kemana mas," kata Lina sambil menangis,


Vino tambah bingung dibuatnya, "memangnya Langit mau pergi kemana mbak?" tanyanya lagi.


Lina menggeleng, "mbak gak tau, mas...dia gak bilang apa-apa tolong susul dia dan bilang kalau gak usah pergi, disini banyak yang sayang sama dia,"


Vino membuang nafas singkat. "Ada apa Vin?" pertanyaan Damar tak langsung di jawab Vino. Ia memutar otak, berusaha berfikir tenang sebelum akhirnya membonceng pada Damar yang membuat orang itu bingung.


"Mau ngapain lo?" tanya Damar kaget.

__ADS_1


"Susul Langit!" jawab Vino cepat. Maka dengan begitu saja Damar langsung menyalakan motornya cepat dan langsung mengejar jejak Langit.


Mereka ber-empat melaju dengan kecepatan tinggi, "emang ada apa Vin?" tanya Damar agak keras karena tertutup suara angin.


"Dia mau pergi! gak tau kemana!" jawab Vino tak kalah kencang.


Setelah beberapa detik melaju, akhirnya mereka menemukan Langit, "itu bukan sih?" tanya Damar memastikan.


"Iya, iya itu...Langit!"


"Lang! berhenti!" Vino dan yang lainnya memekik, sementara Langit langsung menyadari, dia menengok ke spionnya lalu segera melaju lebih cepat.


"Berhenti Lang!" Iqbal ikut memekik.


Mereka kejar-kejaran untuk waktu yang tak singkat. Saat Damar sudah berada tepat di samping motor Langit, Vino memekik.


"Lo mau kemana Lang?!"


"Bukan urusan lo!"


"Berhenti dulu, tolong Lang! berhenti!" Vino memekik pasrah.


"Gak bisa, gue harus cepetan pergi!"


Motornya sedikit melaju lebih cepat. Tak lama kemudian dari belakang Iqbal melaju dengan kecepatan penuh, lalu dengan sedikit mengambil resiko dia menghambat laju motor Langit.


Beruntung usahanya tak gagal, motor Langit langsung berhenti saat itu juga, membuat sang pemilik terdiam kaku. Sebelum akhirnya turun dari motor.


"Lo mau kemana?" tanya Vino cepat. Kini mereka berlima berhadapan, saling melempar pandangan satu sama lain.


"Gue mau pergi," kata Langit.


"Kemana? rumah lo disini, lo mau pergi ke mana kocak?!" Don Don menyahut.


"Gue ga-"


"Maaf," kali ini Iqbal betulan menyesali perbuatannya, ucapan Langit berhenti, ia memeluk Langit erat sebagai sahabat, ia menepuk-nepuk pundak cowok itu.


"Gue udah keterlaluan kemaren Lang, sori," mata Iqbal memerah, Langit membalas pelukan cowok itu, lalu perlahan mengangguk.


Vino maju dua langkah, "maafin kita yang kurang perhatian sama lo Lang, gue tau lo sedih tapi tolong tetap bertahan disini," kata Vino.


"Gue gak bisa lagi" kata Langit ketika pelukannya dengan Iqbal terlepas. "Gue bukan terbaik yang kalian punya, gue cuma biang kerok disini. Pembawa masalah," sambungnya.


"Eh gue sumpel mulut lo pake kaki ya? dimana Langit yang gue kenal? Langit yang gue kenal gak lemah kayak gini, lo siapa ha? bawa Langit yang dulu kesini lagi!" entah mengapa Langit menjadi terharu dengan ucapan Don Don barusan.


Mata Don Don memerah, sebentar lagi menangis, "setidaknya lo kasih tau gue lo mau kemana, supaya kita bisa cari lo pas kita kangen," katanya sambil terisak.


"Lang, kita udah maafin lo kok. Plis balik lagi kerumah," Damar ikutan maju.


"Gak bisa," jawab Langit lemah.


"Lang, gue gak pernah nangis karena apapun ya? dan sekarang gue mohon sama lo buat ngasih tau kita apa yang sebenarnya terjadi... kita disini sahabatan lama, lo jangan kayak gini," terdapat nada sangat memohon di setiap kalimat yang dilontarkan Iqbal.


Cowok itu meneteskan air matanya, antara masih merasa bersalah dan tak rela, "atau lo mau balas dendam ke gue? pukul gue Lang, kalo itu bikin lo seneng, tapi tolong...jangan jadi semu kayak gini, kami bingung," sambung Iqbal.


Langit membuang nafas panjang, "Kalian konyol, kenapa jadi begini dah?" Langit terkekeh dalam tangis, "gue gak kemana-mana, cuma mau pergi sebentar, gue gak bakal mati kok,"


"Tapi kemana?" Don Don bertanya.


"Gue gak bisa kasih tau. Intinya...cukup segini dulu, gak usah cari-cari gue lagi, kalian lelaki gak pantes nangis kayak gini," jawab Langit.


"Tapi-" Vino mencoba mencegah.


"Udah Vin. Lo gak sendiri disini...ada mereka, tolong jangan jadi kayak anak kecil gini. Gue minta maaf semua...gue kemaren kelewatan, dan sekarang gue malu sama diri gue sendiri. Habis ini lo semua pada pulang, jangan ikutin gue," kata Langit.


Semua diam.


"Don? kurang-kurangin makan ya? biar cepet dapet cewek lo, jangan kayak si Asep," Iqbal memeluk Don Don disana, lelaki itu membalasnya, "jangan gitu lo," balas Don Don.


"Dam? makasih ya lo sering traktir gue makan, karena lo gue gak kurus-kurus banget, hehe..." dia juga memeluk cowok itu.


"Sep? sori kemaren ya?" Langit menghampiri Iqbal, "jangan nangis gara-gara gue, ntar wibawa lo jadi ilang," Langit menepuk pundak Iqbal, "semoga sukses dapet Ivana, sampein ke dia ya kalo gue nyesel udah nuduh dia," Iqbal mengusap air matanya, lalu membalas pelukan Langit.


"Buat lo Vin, makasih. Karena lo gue punya teman-teman yang baik kayak lo sama mereka. Pertahanin cewek lo ya? jaga dia, jangan kayak gue," kali ini Vino yang memeluk terlebih dulu, tangisnya pecah di pundak Langit.

__ADS_1


Ia adalah salah satu yang paling dekat dengan Vino, bahkan dibanding Iqbal sendiri yang sekelas dengannya.


"Jangan cari gue lagi," kata Langit untuk terakhir kalinya.


__ADS_2