ATHAYA?

ATHAYA?
63- Abraham


__ADS_3

Malam harinya Athaya pergi tanpa memberi tahu Mentari. Pun gadis itu juga terlihat lelah karena seharian mencari keberadaan Ivana yang tak kunjung ada kabar.


Kondisi jalan terpantau ramai lancar, banyak pedagang kaki lima yang berjualan. Athaya tak punya dasar kenapa dia pergi malam malam begini, ia hanya butuh ketenangan.


Jika sekarang ia menelpon ibunya untuk menanyakan hal itu untuk kesekian kalinya, apakah itu hal buruk? Tapi sumpah! Ia tak pernah sememikirkan sampai begini.


Walau tak banyak yang ia tahu.


Andaikata ia melakukan penelusuran tentang hal ini.


Tapi di mana awalnya? Di mana tempatnya?


Siapa orangnya?


Ayah, Athaya butuh jawaban.


...-- ...


Masih tentang hari kelulusan


Sefia berlari dengan semangat menuju rumah, ia berjanji pada ibunya setelah ia menerima uang pembelian dari Ivana ia akan langsung memberinya pada ibu. Dan ibu pasti senang sekali.


Dandanannya mungkin sudah luntur, ia tak mengambil perias yang handal untuk hari wisudanya. Bahkan jika tak di paksa ibu mungkin ia akan pergi ke tempat wisuda dengan riasan wajah seperti sekolah. Hanya bedak dan gincu tipis.


Ia memelankan larinya saat melihat rumahnya terkunci. Ia kembali berlari memanggil siapapun namun nihil. Tak ada orang di dalam.


Kakinya sakit karena keterbatasan gerak. Ia masuk lewat pintu belakang, ternyata tidak di kunci. Suasana rumah kayu yang sederhana itu gelap dan sepi sampai akhirnya dia menemukan sakelar lampu. Ia terpaku untuk beberapa saat, rumahnya begitu berantakan dan kotor, seperti habis di bongkar seseorang.


Ia mencoba tenang, masuk kamar untuk mengganti pakaiannya, sebelum menemukan sebuah kartu nama.


Ia melihat kartu nama itu dengan seksama. Pupil matanya mengecil melihat apa yang dia lihat. Tidak mungkin.


Ayah... ia pernah memikirkan hal ini. Untuk itu menjadi orang miskin adalah suatu hal yang menyebalkan untuk diterima. Ia harus tunduk dan patuh pada siapapun yang memiliki kuasa.


Ayah... bukankan Sefia pernah bicara padamu, jangan percaya omongan palsu, mereka condong menipu, kalau sudah begini akan susah untuk menyelesaikannya.


Ayah... sudah Sefia peringatkan jangan macam-macam dengan perkumpulan Abraham


Ia mengantongi di saku celananya, pikirannya sudah tidak karuan, sama dengan situasi saat ini ayah ibunya tak tahu kemana dan dia menemukan suatu kartu nama yang sangat ia kenali dan sangat ia hindari.


Lalu pada satu waktu dia teringat sebuah koran yang dia baca sekian hari lalu.


PERKUMPULAN YANG DI KETUAI ABRAHAM MASIH BEROPERASI HINGGA SEKARANG? BANYAK KORBAN BARU!


DI DUGA TERJEBAK HUTANG! ORANG INI DI TEMUKAN TEWAS DENGAN LUKA DI SEKUJUR TUBUH! ABRAHAM MASIH DI SINI?


...--...


Langit hanya duduk termenung di lantai teras depan basecamp sibuk memikirkan kemungkinan yang sudah lama terjadi.


Dirinya tak mendapat kabar apapun lagi, tapi Aji akan tetap mencari tahu. Langit menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan tenang.


"Tempat apa ya yang di kasih tau Aji itu?"


Ia lalu berdiri, membuang putung rokoknya di sembarang tempat, sebelum itu ia memekik ke belakang memberi tahu teman-temannya kalau ia akan pergi sebentar.


"Fer! Jaga basecamp gua mau pergi dulu,"


...--...


Sefi berlari dengan sekuat tenaga menuju alamat yang ada di kartu nama itu. Ia tahu betul siapa dan apa perkumpulan yang di ketuai oleh Abraham.


Ia bukan soal geng motor, aliansi lebih tepatnya, menggoda orang orang yang sedang terpuruk kesusahan untuk di bantu dalam hal anggaran. Awalnya di iming imingi dengan penuh kerendahan hati tapi ujung ujungnya di jebak dengan bunga yang begitu tinggi atau di suruh melakukan hal hal tertentu kalau gagal nyawa taruhannya.


Sefi menangis tiba-tiba takut kemungkinan buruk akan terjadi. Meski begitu ia tetap berlari di trotoar hingga tiga detik setelahnya sebuah motor mengiringnya dari samping.

__ADS_1


"Mbak hati-hati!"


Bruk!


Ia terjatuh karena menerobos sebuah tiang dalam ketidaksadarannya, pengendara motor itu memarkirkan motornya sebelum menghampiri Sefi.


"Nggak papa mbak?"


Sefi mendongak, rupanya dia adalah pria yang sama seperti kemarin mereka bertemu.


"Bang, ini abang yang kemarin kan ya?"


"Iya, mbak kalo jalan hati-hati,"


"Bang, boleh bantu saya lagi? Sekali aja Bang?"


"Bantuin apa mbak?"


"Ke alamat ini mas, tolong..."


Wajah Sefia khawatir bercampur panik saat mengucapnya sementara di sana Langit juga kebingungan karena dia sendiri pun memiliki urusan yang tak kalah pentingnya.


Namun, saat netranya melihat betapa kacaunya gadis itu hari ini, dengan pakaian kotor bekas terjatuh dan riasan yang luntur karena mungkin sudah lama dan berkeringat. Ia mengurungkan niat untuk mencari Aji. Lagipula kasusnya juga masih samar.


Langit melihat alamat itu, mungkin tak jauh dari sini.


Atau...


Itu alamat yang sama seperti yang di perlihatkan Aji.


"Nama mbak siapa?"


"Sefia,"


Sefia menaiki motor milik Langit, dalam perjalanan malam itu Sefia sedikit lega, setelah berjam-jam dia berlari akhirnya ada yang mau menolong.


Langit. Nama yang bagus.


...--...


Suasana tegang menjalar di setiap sudut bangunan. Siapa sangka bangunan yang diyakini telah kosong dan terbengkalai kini menjadi sebuah markas kedua untuk aliansi yang di pimpin Ambraham.


Mereka berdiri sejak 20 tahun lalu. Ayah dan Ibu Sefi mungkin sekarang ada dalam kesulitan, suatu hal yang tak pernah di katakan oleh Yatno sebagai kepala keluarga. Bahwa dia telah berhutang pada sebuah aliansi yang sangat kejam.


"Dalam satu minggu saya akan membayarnya pak. Saya janji," Yatno menangis tersedu-sedu. Perawakannya yang kurus kering tak membuat semua orang di ruangan sana merasa kasihan.


"Pak tolong maafkan suami saya. Saya janji pak akan segera membayar semua hutang yang suami saya lakukan. Saya janji," kini Laras— ibunya merintih. Memohon dengan sangat.


"Kalian gak pernah belajar dari sebelumnya atau bagaimana? Kalian tidak lihat korban-korban yang jatuh karena mereka telat membayar hutang-hutang mereka?!" salah satu anak buah memekik.


"Iya... iya... tolong maafkan kami. Bebaskan kami, dalam waktu dekat ini kami akan membayar semua. Saya janji!"


Dari arah ruangan yang ada di pojok bangunan. Seseorang pria tua jangkung keluar dengan setelan kemeja putih sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Hutangmu sudah puluhan juta,"


Yatno dan Laras seakan tak punya keberanian kembali mendengar suara bariton itu. Mereka hanya terus menunduk sambil menangis sesenggukan. Tak tahu jika ajalnya akan menjemput malam ini juga.


"Bicaralah. Saya tidak menyuruhmu diam,"


"Maaf... tuan Abraham kami akan bayar semua hutang-hutang itu..." kata Laras.


"Kenapa saya harus percaya?"


"Tolong kami tuan. Kali ini kami janji untuk tidak menghilang saat sudah waktunya kami membayar,"

__ADS_1


Suasana hening.


Tiba-tiba suara tembakan dari alat yang di pegang Abraham menyala. Sengaja tak ia arahkan ke Laras dan Yatno, hanya untuk menggertak saja.


"Ampun...ampun pak," Laras merintih keras sambil bersujud.


Tidak ada jawaban dari Abraham.


"...kami melakukan semua ini untuk keberlangsungan hidup kami pak... kami punya anak yang harus kami sekolahkan... jadi... tolong beri kami waktu,"


"Bapak! Ibu!"


Semua menoleh ke sumber suara. Sefia yang entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh menghampiri kedua orang tuanya yang memohon ampun. Jujur, Sefi tidak tega melihatnya.


"...Nak, maafkan ibu," ucap Laras. Sefia tak membalas. "Ibu gak tau kalau bapak berhutang banyak nak..."


Hal yang dia lihat sudah jelas. Seperti apa yang dia takutkan. Dengan segala sisa tenaga dan keberanian yang dia punya. Ia menyatukan tangan memohon ampun. "Tolong jangan sakiti orang tua saya,"


Abraham mendekat, "Kamu anak Yatno?" tanyanya dingin.


Sefi mengangguk, "Saya janji akan mengembalikan semua uang bapak. Kalau saya tidak bisa anda bisa menghabisi hidup saya. Saya jan-"


"Tidak! Kami tak akan ada yang mati. Tolong beri kami kesempatan pak. Kami janji."


Mata Abraham menelusur sisi wajah Sefia. Ia kembali mendekat ke arah Sefia hingga membuat gadis itu memundurkan wajahnya.


"Saya beri kesempatan satu minggu,"


Mereka bertiga tersenyum lega. Entah apa yang akan terjadi mereka siap. Walau entah bagaimana caranya uang puluhan juta akan terkumpul dalam waktu sebentar saja.


"Pergi kalian. Jangan laporkan siapapun atau tahu akibatnya."


10 menit lalu


"Di sini tempatnya?"


"Makasih bang,"


Sefia tak mengatakan apapun lagi. Pun dengan Langit. Ia sibuk menelusuri tempat yang pernah ia kunjungi itu. Di luar terlihat sepi hampir tak ada kehidupan namun ia tak tahu bagaimana dalamnya.


Ia henda melangkah lebih jauh. Namun, tarikan dari seseorang membuatnya terkejut ia hampir berteriak sebelum melihat wajah Aji.


"Bos di sini?"


"Aji?"


Langit kembali menatap bangunan itu, ia kembali berdiri dan melangkah sebelum kembali di sadarkan oleh Aji.


"Mau kemana bos?"


"Ke dalam gue harus tau apa yang terjadi sebenarnya,"


"Bos, kalau bos kedalam sama aja bos bunuh diri! Gak akan menyelesaikan masalah!"


Ia mendudukkan diri pasrah. "Ada apa di dalam,"


"Bos. Gue berhari-hari gak pulang karena ini. Dan jangan sampai bos ngehancurin semua apa yang sudah Aji rencanain,"


"Apa memang yang lo rencanain?"


"Aji udah ketemu orangnya bos! Dia bakal cerita apa yang terjadi sebenarnya,"


Tiga orang berbaju lusuh keluar tak lama setelah Aji menyelesaikan kalimatnya. Mereka menunduk untuk bersembunyi. Sepertinya Sefi dan kedua orang tuanya.


Apa yang terjadi dengan mereka? Kenapa dia juga ada urusan dengan sesuatu yang ada di balik gedung itu?

__ADS_1


__ADS_2