
Arini menatap dirinya sendiri di cermin panjang rumahnya, memandang dirinya sendiri di cermin sebelum mengikat rambutnya ke belakang. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, biasanya ia akan nyerocos sendiri kalau Vino tengah menunjukkan perhatiannya tapi ini malah berbeda
"Kok gue malah deg degan gini ya? aneh!" Arini mendudukkan diri di tepi ranjangnya
"Haduh, Arini... Arini, dulu aja pengen banget di notice Vino eh pas udah beneran di notice malah ngerasa deg degan, mau lo apa sih?"
Arini tinggal sendirian di kostan nya, orang tuanya berada jauh dikampung, Arini termasuk orang yang pintar, karena itulah ia mendapat beasiswa di SMA Dharma Bhakti dan mengharuskannya nge-kos di kota
Suara motor mengalihkan atensinya, pikirannya mengarah pada kedatangan Vino yang terlihat membuka helm nya sebelum akhirnya turun dari motor untuk mengetuk pintu kos Arini
Melihatnya, Arini tak tinggal diam, ia langsung tancap gas mengambil tasnya dan menyambut Vino disana
Saat pintu itu terbuka, mata Vino terpana melihat Arini, gadis itu terlihat natural walau hanya mengenakkan celana dan kaos oblong biasa, "Vino?"
Setelah tersadar, cowok itu langsung menggandeng tangan Arini untuk langsung menaiki motornya—menuju lokasi tujuan
...--...
Saat yang sama ketika Tari mendudukkan dirinya ke kasur untuk sekedar rebahan santai, Iva mengiriminya pesan singkat menanyai ketersediaan dirinya untuk mendengar celotehan Ivana satu jam ke depan alias curhat!
Ivana
Kayak g pernah curhat sama gue lo!
Saat pesan itu terkirim, suara ringtone mulai memenuhi kamar Tari, dengan cepat ia menggeser panggilan itu ke log hijau sebelum Ivana terdengar merengek dari seberang
"Kenapa?" tanya Tari malas
"Tar, gue kenapa deh,"
"Loh kok tanya gue, lo kenapa emang? diajak pacaran Athaya?"
"Ah lo mah! serius napa?!"
"Gue mah serius lo nya aja yang kebanyakan ngerengek, udah ada apa cepet,"
"Gue takut,"
"Sama?"
"Athaya," mendengar jawaban sahabatnya itu Tari segera menutup mulutnya karena ingin sekali tertawa, emang apa yang ditakutkan dari bocah kemarin sore itu? Athaya gak gigit kan?
"Lo ketawa kan?" Ivana mulai menebak keadaan Tari yang tidak dibalas apapun oleh sahabatnya itu
"Ya lo lagian kocak! apa coba yang lo takutin dari Athaya, dia orangnya baik kok, yakin gak bakal gigit," Tari merubah posisinya menjadi tengkurap
"Kayak, dia itu auranya beda, dulu gue kan pernah nolak dia, takutnya dia malah ngelakuin hal-hal yang aneh,"
"Maksudnya marah ke lo gitu? gak ada hubungannya kali Va, selama ini Athaya ketemu lo dia friendly kok, gak pernah kekerasan,"
"Lo gak tau kan seremnya dia pas lagi marah, dulu waktu SMP gue coba nolak baik-baik aja gue dikata-katain, mana mukanya serem anjir, sekarang? udah dewasa pasti serem lagi,"
__ADS_1
"Enggak Va! percaya deh sama gue, dia itu orangnya tulus kok, gue malah seneng kalo gue tiba-tiba punya kakak ipar kayak Athaya,"
"Dih! apaan sih lo?, gak jalur!"
"Jadian bisa kali ya?"
"Lo aja sono"
"Orang dia sukanya ke lo. Va? bisa gak jadi manusia itu yang lumrah-lumrah aja, orang kayak gimanapun kalau lihat Athaya itu bawaannya adem, tentrem kakel aja ada yang suka tuh,"
"Siapa?" tanya Ivana cepat
"Kan, kan, kan. Apa gue bilang, lo cemburu kan kalo dia dekat sama seseorang," Tari mencoba meledek Ivana sebelum kembali melanjutkan, "lo itu sebenarnya suka tapi hati lo seakan-akan gak suka sama dia, udahlah akuin aja, Athaya masih suka lo, dan gue yakin dia sekarang lagi cari cara supaya bisa deketin lo lagi, gak apa-apa kalo itu masih tahap wajar,"
Tanggapan Tari ditutup suara hembusan nafasnya, inilah ribetnya seorang Ivana apabila sedang dilanda kebingungan, mau tapi malu plus ditambah embel-embel ge-er, jelas gak maju-maju Ivana!
...--...
Saat Vino dan Arini duduk di bibir pantai, matahari mulai tenggelam, membuat mata siapa saja melihatnya di sapu keindahan matahari terbenam dari sang pencipta
Banyak pasangan muda-mudi tak kurang juga anak-anak dan keluarga mereka ikut menyoraki tenggelamnya durya dari ufuk barat
Pantai itu hanya segelintir orang yang datang, selain faktor yang kurang strategis pun juga lokasinya yang masih banyak renovasi, supaya pengunjung nyaman
"Lo gak mau cerita masalah hidup lo ke gue," Arini menoleh dan menemukan wajah Vino yang diselimuti cahaya matahari terbenam mamenatap lurus ke depan
"Gue gak apa apa kok?"
"Ya kan emang bener gue gak kenapa-napa," setelah Arini mengakhiri kalimatnya Vino membalas menoleh ke Arini, saat hening menyelimuti untuk beberapa saat dan keduanya hanyut dalam ketenangan
"Lo beda ya? kalo disekolah gak kayak gini, lo kalo disekolah kelihatan kayak-"
"Bar-bar gitu?"
Vino tersenyum sebelum Arini melanjutkan, "lo juga gitu, kalo disekolah sok cool tapi kalo disini kelihatan kalem banget,"
Keduanya menatap matahari yang mulai tenggelam kembali
"Berarti?" Vino bertanya tanpa menoleh
"Topeng kita tebal," Arini agak tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya, "kita kok jadi menye-menye gini ya?" Vino ikut tertawa
"Gak tau, kebawa suasana,"
"Gue gak ada masalah apapun, kalo ada masalah bawa santai aja ntar juga kelar sendiri,"
"Bener juga ya?"
"Terus lo ngajakin gue kayak gini mau ngapain?" Vino agak terpaku saat menyadari tujuannya, biasanya ia tak segugup ini, percaya lah! Vino itu adalah rajanya para buaya yang anehnya masih disukai oleh para kaum hawa walaupun sering disakiti, termasuk Arini contohnya
Ya! Arini memang bodoh, tapi dirinya lebih bodoh kalau harus berjalan tanpa tujuan seperti ini, alias...
__ADS_1
"Gue pengen..." Vino berhenti
"Pengen?" tanya Arini
"Arini lo mau-"
Ucapan Vino terhenti ketika dari arah berlawanan darinya seorang cowok dengan kaos hijau toska yang sepertinya Vino tahu itu siapa
Orang itu terlihat berbicara dengan seseorang, serius. Tapi, apa benar itu dia?
"Apa Vin?"
Vino melirik ke arah Arini lalu kembali memandang pria berbaju hijau toska itu, hingga membuat Arini ikut melirik dan langsung berfikir sama dengan Vino
"Itu bukannya Langit?" Vino tambah yakin saat Arini menyebut namanya, "dia ngapain kesini?". Karena jujur saja, ia tak pernah melihat Langit pergi ke manapun sendirian, karena dia pernah mengakui kalau dia tak punya teman manapun kecuali Vino, Damar, Don Don dan Iqbal, bahkan teman sekelasnya sekalipun
"Gue samperin kali ya?" Vino mulai ancang-ancang untuk berdiri namun tangannya ditahan Arini, "kalau kata gue gak usah deh Vin, kayaknya dia lagi ngomong serius juga,"
Vino kembali duduk sebelum matanya perlahan beralih, "lo ngomong apa tadi?" Vino menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal, ia jadi gagu. "Besok aja deh, Rin. Udah mau maghrib,"
Setelah mendengarnya Arini langsung mengangguk sebelum akhirnya ikut Vino berdiri, entahlah, sepertinya ada yang harus Vino selesaikan, apalagi melihat Langit yang sedang berbicara serius tadi
Mungkin selama ini ia kurang terbuka pada teman-temannya
Vino menggandeng erat tangan Arini hingga membuat gadis itu bergetar kecil, ketenangan di hati kembali menyelimuti, padahal ia tahu kalau Vino tak mungkin menyukainya kan?
...--...
Jantung Iqbal berdebar tak karuan saat ia berhasil menghubungi Ivana lewat chat singkat, pasalnya ia memberanikan diri setelah membiarkan pikirannya berkecamuk untuk beberapa menit
^^^Anda^^^
^^^Ini nomer Iqbal, save ya?^^^
Oke
Hanya itu saja, tapi mampu membuat jantungnya tak aman, sungguh Iqbal termasuk golongan 5 orang paling lebay sedunia
"Udah gitu doang nih?" Iqbal bertanya pada dirinya sendiri, lalu kembali menggigit kukunya untuk kesekian kali
"Anj-" Iqbal mengacak rambut frustasi, "apa sih yang bikin gue suka banget sama lo, Ivana?"
Ia mendekati jendela, "gue suka sama lo, tapi gue terlalu pengecut untuk ngungkapin, tapi gue juga gak mau sebodoh itu untuk nyalahin Athaya yang udah berhasil deketin lo duluan,"
"Gue terlalu cemburu dengan kedekatan lo sama Athaya, tapi untuk orang kek gue yang gak punya hubungan apapun ke lo juga gak bisa ngelarang,"
"Gue benci diri gue yang terlalu pengecut ini. Va,"
Sore itu Iqbal mencoba menenangkan dirinya sendiri melalui omong kosong yang efemeral
...--...
__ADS_1