
Dulu ia pernah membaca sebuah fakta di salah satu artikel bahwa seseorang hanya membutuhkan waktu hanya 0,25 detik untuk jatuh cinta, awalnya ia sempat menolak sebuah fakta itu
Namun hari ini, ketika datanglah seseorang yang dulu pernah mengajaknya menjalin cinta monyet abal-abal itu datang dengan suatu gerakan pasti menyerahkan kunci mobil yang entah kenapa bisa sampai ditangannya
Dengan proposi tubuh yang menurutnya ingin Ivana validasi karena tiba-tiba saja datang dengan senyuman miring seakan-akan berkata bahwa 'woy liat gue, Athaya sekarang berubah'
Tapi apa benar itu dia?
Ivana mengucek matanya pelan sebelum berakhir menggolekkan kembali kepalanya di meja untuk tidur, pasalnya dia kemarin malam tidur agak larut hanya untuk membandingkan dan mencari foto zaman SMP nya Athaya dengan foto reunian kemarin
"Pagi-pagi udah tidur aja Lo" Tari menepuk pinggangnya agak keras hingga membuat Iva sedikit kaget
"Apa sih Tar, ngantuk"
"Tumben tumbenan nih bocah, nggak tidur Lo semalem?"
"Bentaran doang"
Ah sudahlah! Mengajak Ivana ngobrol saat dia sedang ngantuk adalah sebuah bahaya besar, bisa-bisa dia dibentak nanti karena badmood
Tari lebih memilih untuk kembali membuka pr kimia yang diberikan pak Edi seminggu kemarin barangkali ada yang salah
Di tempat yang sama Damar dengan satu tupperware yang bertengger manis di tangannya terlihat sedang memperhatikan Tari dari jendela depan kelas Tari, sambil terus melafalkan jampi-jampi semoga saja bekal berisi nasi dan sayur mayur ini dapat meluluhkannya
"Haduh neng, rajin banget sih belajarnya, pasti nanti kalau punya anak, anaknya pinter nurun ke ibunya dan gantengnya nurun dari bapaknya yaitu gue" ucapnya sendiri dengan mata berbinar
Kelas masih sepi, hanya ada segelintir orang yang terlihat lalu lalang di koridor dan pastinya itu adalah suatu yang menguntungkan bagi Damar, yah walaupun ada Iva yang akan jadi obat nyamuknya nanti, tapi tak apalah kelihatannya juga dia lagi tidur
"Hay Tariiii" sapa Damar
"Eh Damar?" jawab Tari sambil mengalihkan pandangannya dari buku
"Hehe...iya nih biar bang Dam kasih pantun dulu ya"
Damar menghirup nafas dalam-dalam sebelum kembali berbicara
"Jalan-jalan di kota tua
Eh ada Mentari muncul dari barat
Lah pas udah panik ternyata bukan
Rupanya yang muncul mentari kamu"
"Agak nggak nyambung ya" Tari membalas tak enak
"Iya nggak nyambung dong, karena yang nyambung kan cinta bang Dam ke Tarii" sambung Damar sambil cekikikan
Tari hanya meringis kecil tak enak hati apalagi dengan terang-terangan Damar memberi finger heart padanya yang hanya di balas senyuman tipis ala Tari sebelum Tari membuka suara hanya untuk mengucap terima kasih, Damar kembali berseru di hadapannya
"Tari gak ada jawaban dari pantun bang Dam tadi?"
"Maaf Dam gue gak bisa pantun"
"Iya kan kamu bisanya mencintaiku, iya kan?"
BRAK!
__ADS_1
"Ngapain lo kesini?" Tiba-tiba saja Vino, entah datang dari mana menggebrak meja Tari hingga semua isi kelas hanya beberapa orang itu mengarah padanya
"Oemji Vino!"
Arini datang dengan menenteng sebuah botol minum, karena dia adalah salah satu fans berat Vino, ia tahu betul hari ini dia ada jam olahraga
"Hari ini Vino olahraga ya? Hehe nih Arini bawain Vino minuman yang sekali teguk bisa menyegarkan jasmani dan rohaninya Vino plus ada manis-manisnya"
"Nggak deh ntar aja" Vino berusaha menolak
"Yahh, tapi ini kan khusus buat kamuu"
"Tuh Vin jangan dicueki, terima" Damar mengompor
"Enggak ah! Orang gue kesini mau nyamperin Tari, minggir sono!"
"Dih! Apa-apaan, elo yang minggir dateng-dateng bukannya salam malah bikin ribut"
"Lo ngelawan gue, eh inget ya gue disini adalah ketua OSIS denger? O-Es-I-eS OSIS, atau mau gue hukum lo keliling lapangan sana?"
"Nggak ada, nggak ada lo tuh OSIS abal-abal visi misi aja nggak ada yang lo lakuin tuh!"
"Wah wah wah bocah nggak bener nih, mau nantangin gue Lo?!" Vino mulai menanggalkan tasnya untuk siap war dengan Damar
"Apa lo?! Berani lo sama gue? mau gue pentung sama tupperware ratusan juta ini? Ha?"
"Brisik woy! Kalo ribut jangan di sini diluar sana! Noh di lapangan luas!"
Kan! Apa Tari bilang? Kalau Iva yang lagi mode singa ngantuk bangun, pasti habis sudah kelas ini
"Dengerin tuh!"
"Elu pada pergi sekarang atau mau gue gampar lo" Ivana mulai tersulit emosinya
"Va udah sabar, istghfar jangan emosi"
"Oke, berhubung lo bestienya ayang Tari, gua nurut tapi, dihabisin ya bekalnya, tupperware nya gak usah balikin, bang Dam orangnya kaya kok"
Damar memberikan bekal makan tadi dengan muka cengengesan
"Alah gitu doang, besok lihat gue bawain makanan yang enak buat kamu Tar"
"Dasar iri!"
Saat Vino mulai menenteng tasnya dan hendak keluar kelas, dengan gerakan kilat Arini menahan tangan Vino dan dengan senyum sumringah Arini memberikan botol minum itu yang sayangnya hanya diterima dengan muka judesnya sebelum berakhir ke luar kelas dengan hati yang bete abis!
"Aaaahhhhh...Ya ampun Vino ganteng banget sih, nggak bisa ngebayangin kalau nanti udah punya anak pasti mereka cantik dan ganteng lucu juga sih pasti" Arini mengibaskan rambutnya meninggalkan bangku Tari
"Terus lo mau apa masih disini?"
Damar melirik ke arah Iva sebelum akhirnya membuat lambang hati pada kedua tangannya
"Nggak lo usir aja mereka"
"Nggak enak hati"
"Tar, jadi orang itu jangan nggak enakan, kalau emang lo nggak suka bilang gak suka, ntar malah mereka seenaknya sama lo"
__ADS_1
"Iya, tapi kan mereka nggak macem-macem sama gue, lagian lucu tau kalau mereka lagi berantem itu"
Ivana membuang mukanya ke sembarang arah sebelum Tari kembali berujar
"Mau sarapan lagi?" Ucapnya sambil membuka bekal makan yang diberikan Damar tadi
...--...
Pagi-pagi sekali Athaya sudah berada di salah satu TPU di sana yang menjadi tempat ayahnya dimakamkan
"Ayah? Bahkan sekali pun Athaya gak pernah lihat wajah ayah secara langsung, dan Athaya seneng banget kadang ayah mampir di mimpi Athaya buat sekedar tanya kabar,
"Tapi Athaya rasa ada yang aneh Yah, kenapa ya? apa ada sesuatu yang Athaya nggak tau? atau sengaja mama tutupi dari Athaya?"
"Semoga ayah tenang di sana, Athaya hebat loh Yah, Athaya baru aja dipilih jadi peserta pertukaran pelajar, haha ya iyalah kan orang tuanya pada pinter,
"Besok Athaya mulai sekolah Yah, semoga saja gak kayak yang kemaren-kemaren ya?"
Athaya berdiri setelah membersihkan rerumputan yang ada di sekitar makan sang ayah, setelahnya ia menabur bunga yang ia bawa dan sejenak berdoa, semoga di kedepannya tak ada lagi yang seperti dulu, dulu
...--...
Kelas olahraga sudah dimulai dari sejam yang lalu, materi hari ini adalah teknik bola besar bagian basket, dari lapangan sana kelas IPA 1 sudah berkumpul untuk istirahat namun tidak buat Vino dan Iqbal, mereka lebih memilih untuk lanjut berlatih karena minggu depan mereka akan melawan sekolah sebelah
"Sep? jujur nih ya, lo yakin gak sama orang yang bakal ikut di tim kita nanti?" Ucapnya sambil men dribble bola
"Yakin aja lah," ucapnya singkat
"Sep! serius lah gue udah bingung nih, lu tau kan ketikan masyarakat Dharma Bhakti kalau ngejek gimana?"
"Iyaa."
"Lu mah gitu diajak diskusi malah ngremehin"
"Ngapain juga gue ngremehin? Katanya lo mau percaya sama gue? basi lo!"
Iqbal melakukan shooting yang langsung bisa mencetak angka disana lalu setelahnya menghampiri Vino yang berjarak beberapa langkah dari tempat Iqbal berdiri
"Percaya sama gue, dia itu bisa segalanya tapi karena fisiknya yang gak ideal dia sering di rundung waktu sekolah dan berakhir pindah sekolah, dan soal omongan lo tadi, sori Vin jangan bawa-bawa masalah fisik, apalagi kalau lo bahas waktu dia udah kesini, karena omongan orang walau hanya 5 detik akan berpengaruh sampai dia mati sekalipun"
Mendengar penuturan dari Iqbal membuatnya tertunduk sebentar, mungkin perkataannya tadi agak menyinggung perasaan Iqbal
"Sori udah ngeraguin lo Sep, omongan gue emang akhir-akhir ini sering ngelantur, oke, gua percaya sama elu" Damar menepuk pundak sahabatnya itu dua kali sebelum kembali menyambung
"Latihan lagi yuk?"
"Nggak deh, lebih baik kita langsung ganti" ucap Iqbal sambil mengambil bola basket yang tadinya dipegang Vino
"Kenapa? Kita butuh latihan loh Sep buat pertandingan besok"
"Jangan sekarang, Lo gak nyadar dari tadi kita dilihatin cewek-cewek di lantai dua" Iqbal berujar sebelum akhirnya pergi
Vino mendongak ke arah yang di tunjuk Iqbal tadi dan benar saja gerombolan cewek-cewek dengan masing-masing di tangannya memegang ponsel yang sepertinya sedang memotret atau bahkan merekam kegiatannya dengan Iqbal tadi
"Sialan, mana HP nya mata tiga semua lagi!"
Vino langsung lari menyusul Iqbal, memang anak kelas 10 itu meresahkan dan brutal kalau terus-terusan begini bisa-bisa Vino jadi viral nanti
__ADS_1
...--...